Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO ini menampilkan perbandingan populasi, PDB per kapita, konsumsi minyak, di Indonesia, AS, China, Eropa, dan Rusia. Selain itu, dijabarkan 100 produk turunan CPO serta kapasitas produksi pengolahan, fractionation, dan modifikasi produk turunan CPO sejak 2011-2013. Ditampilkan juga kapasitas produksi oleokimia (fatty alcohol dan fatty acid) periode 2004-2015, kapasitas produksi biodiesel 2006-2013, proyeksi investasi hingga US$ 2,7 miliar, regulasi mandatori biodiesel. Ekspor CPO juga ditampilkan secara mendetail, dari mulai ekspor CPO, ekspor biodiesel, serta komparasinya dengan kebutuhan domestik periode 2009-2013. Data yang terdiri atas 20 halaman ini dibuat oleh Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan diolah duniaindustri.com.
Data ini juga menjabarkan peta persebaran industri biodiesel Indonesia periode 2014-2016. Pada 2014, total kapasitas industri biodiesel di Indonesia mencapai 4,99 juta ton atau setara 5,67 juta kiloliter, dengan perincian Riau dan Kepri 2,61 juta ton, Jawa Bagian Timur 1,57 juta ton, Jawa Bagian Barat 364 ribu ton, dan daerah lain-lain 233 ribu ton. Terdapat 17 pemain skala besar di antaranya PT Wilmar Bioenergy Indonesia di Riau dengan kapasitas 1,3 juta ton per tahun, PT Musim Mas di Medan dengan kapasitas 235 ribu ton per tahun, PT Eterindo Whanatama Gresik dengan kapasitas 80 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik (1,3 juta ton per tahun), PT Sumi Asih Oleochem di Bekasi (100 ribu ton per tahun), PT Darmex Biofuels di Cikarang (150 ribu ton per tahun), dan lainnya, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik.
Pada 2015, terjadi penambahan kapasitas biodiesel sebesar 2,32 juta ton per tahun sehingga total kapasitas nasional naik menjadi 7,32 juta ton. Terdapat 11 pemain skala besar yang melakukan penambahan kapasitas pada 2015 antara lain PT Oleokimia Sejahtera Mas di Dumai dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun, PT Darmex Biofuels di Dumai sebesar 410.500 ribu ton per tahun, PT Indo Biofuels Energy di Kalbar (100 ribu ton/tahun), PT Permata Hijau Palm Oleo di Medan (140 ribu ton/tahun), PT Nusa Energy di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Bits Energy di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Multi Biofuel Indonesia di Sulut (160 ribu ton/tahun).
Data ini juga dilengkapi dengan proyeksi produksi CPO Indonesia pada 2016 sebesar 35 juta ton, tumbuh 9,3% dibanding proyeksi tahun ini 32 juta ton, menurut data United State Department of Agriculture (USDA). Kenaikan tersebut akan mendorong peningkatan produksi CPO global sebesar 5,96% menjadi 65,1 juta ton pada 2016 dibanding proyeksi tahun ini 61,44 juta ton.
Dengan demikian, produksi CPO Indonesia tahun depan diperkirakan menyumbang 53,7% dari total produksi CPO global. Sementara Malaysia, produsen CPO terbesar kedua setelah Indonesia, diperkirakan memproduksi CPO sebanyak 21 juta ton pada 2016, dengan kontribusi 32,25% terhadap pasar global.
Selain itu, ditampilkan data proyeksi harga CPO dunia pada 2016, pengaruh El-Nino dan sentimen program biodiesel. Serta, dampaknya terhadap perkembangan ekspor dan tren permintaan global.
Juga ditampilkan cakupan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dengan komposisi provinsi terbesar berdasarkan kebun sawit. Luas lahan kebun kelapa sawit di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 11,4 juta hektare, dengan komposisi 5,9 juta hektare lahan swasta, 4,7 juta hektare lahan rakyat, dan 0,8 juta hektare lahan BUMN.
Di sisi lain, ditampilkan juga tren investasi di sektor hulu dan sektor hilir industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam lima tahun terakhir, insentif investasi yang disiapkan pemerintah, serta proyeksi tren ke depan. Tidak ketinggalan, dipaparkan kawasan industri khusus industri kelapa sawit yang sedang dibangun pemerintah, target 2030, dan tren mata rantai industri sawit modern.
Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik purchase, klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Sumber: di sini
Rabu, 09 Maret 2016
Selasa, 08 Maret 2016
Inilah Penguasa Bisnis Mi Instan di Indonesia
Indofood Group melalui anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), masih menguasai pasar mi instan di Indonesia, meski persaingan di sektor tersebut makin ketat. Dengan kapasitas produksi mi instan lebih dari 15 miliar bungkus per tahun, Indomie yang diproduksi Indofood CBP menguasai pangsa pasar mi instan nasional sebesar 69,6% pada 2007 dan kemudian naik menjadi 75,2% di 2011 dan terakhir sebesar 74%, menurut riset duniaindustri.com.
Di semester I 2015, laporan keuangan Indofood CBP menunjukkan, penjualan segmen mi instan naik 6,17% menjadi Rp 10,93 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan mi instan itu ikut mendorong penjualan konsolidasi perseroan tumbuh 6,63% menjadi Rp 16,55 triliun pada periode yang sama.
Indofood CBP Sukses Makmur merupakan perusahaan yang menerima penggabungan empat perusahaan di bawah Salim Group. Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo Primanusantara, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi. Proses penggabungan empat perusahaan itu dimulai pada September 2009 dan tuntas 17 Maret 2010.
Indofood CBP sendiri memproduksi mi instan dengan sejumlah merek andalan seperti Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie, dan Pop Bihun.
Namun, sejak 2003 dominasi Indofood di pasar mi instan mulai mengalami penurunan dengan hadirnya Mie Sedap milik PT Sayap Mas Utama, anak usaha Wings Group. Penurunan pangsa Indofood di mi instan terlihat pada 2002 pangsa pasanya 90%, kemudian menurun menjadi 75% pada 2003, dan pada 2007 sekitar 73,7% dengan menggabungkan pangsa Indomie, Supermie, Sarimi, dan Pop Mie.
Pada 2005, PT Indofood Sukses Makmur sempat menguasai sekitar 78% pangsa pasar mie instan di Indonesia. Dominasi pangsa pasar tersebut berkurang dari sebelumnya hampir 90% seiring dengan desakan KPPU agar persaingan harga yang lebih sehat. Apalagi, beberapa pendatang baru dalam bisnis mie cepat saji ini pun mulai bermunculan.
Sempat ditarik oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Taiwan ternyata tidak memengaruhi pangsa Indomie maupun Indofood. Perbedaan standar yang ditetapkan di Indonesia dan Taiwan soal penggunaan pengawet Nipagin atau Methyl p-hydroxybenzoate merupakan hal yang umum terjadi sehingga terjadi perbedaan penerapan Codex Alimentarius Commission (CAC) oleh masing-masing negara. melihat hal tersebut, peningkatan penjualan Indomie diyakini akan kembali naik.
Dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, dominasi produk-produk Indofood Grup (Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie) di pasar mie instan diprediksi masih akan sulit dipatahkan. Sebab, perusahaan pelopor mie instan dan terbesar di dunia itu sudah memiliki brand equity dan cocok dikonsumsi di Indonesia.
Meski begitu, persaingan bisnis mie instan masih akan berkembang karena produsen lain juga melihat peluang besar di sektor usaha ini. Industri mie instan yang memiliki nilai pasar cukup besar pada 2008 lalu diperkirakan mampu menembus Rp15 triliun menarik minat beberapa pemain Industri mie instan yang memiliki nilai pasar cukup besar pada 2008 lalu diperkirakan mampu menembus Rp 15 triliun menarik minat beberapa pemain di luar Grup Indofood dan Grup Wings. Angka ini jelas membuat banyak perusahaan tertarik untuk ikut bersaing di pasar mie instan.
Diketahui, sejak lima tahun terakhir pasar mie instan hanya menjadi arena pertarungan antara Indomie (Grup Indofood) dengan Mie Sedaap (Grup Wings). Keduanya menguasai sekitar 93% dari seluruh pasar mi instan di Indonesia. Sementara sisanya dikuasai sejumlah pemain kecil dalam industri tersebut.
Para kompetitor yang berjumlah lebih dari 84 perusahaan siap menggerus ceruk pasar Indomie. Mie Sedaap belakangan sangat agresif melakukan penetrasi pasar guna merebut porsi Indomie. Alhasil, meski baru muncul pada Mei 2003 Mie Sedaap yang diproduksi PT Sayap Mas Utama (grup Wingsfood) kini berhasil meraih 23,0% pangsa pasar dan membayangi Indomie di posisi kedua.(*)
Sumber: di sini
Di semester I 2015, laporan keuangan Indofood CBP menunjukkan, penjualan segmen mi instan naik 6,17% menjadi Rp 10,93 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan penjualan mi instan itu ikut mendorong penjualan konsolidasi perseroan tumbuh 6,63% menjadi Rp 16,55 triliun pada periode yang sama.
Indofood CBP Sukses Makmur merupakan perusahaan yang menerima penggabungan empat perusahaan di bawah Salim Group. Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo Primanusantara, PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi. Proses penggabungan empat perusahaan itu dimulai pada September 2009 dan tuntas 17 Maret 2010.
Indofood CBP sendiri memproduksi mi instan dengan sejumlah merek andalan seperti Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie, dan Pop Bihun.
Namun, sejak 2003 dominasi Indofood di pasar mi instan mulai mengalami penurunan dengan hadirnya Mie Sedap milik PT Sayap Mas Utama, anak usaha Wings Group. Penurunan pangsa Indofood di mi instan terlihat pada 2002 pangsa pasanya 90%, kemudian menurun menjadi 75% pada 2003, dan pada 2007 sekitar 73,7% dengan menggabungkan pangsa Indomie, Supermie, Sarimi, dan Pop Mie.
Pada 2005, PT Indofood Sukses Makmur sempat menguasai sekitar 78% pangsa pasar mie instan di Indonesia. Dominasi pangsa pasar tersebut berkurang dari sebelumnya hampir 90% seiring dengan desakan KPPU agar persaingan harga yang lebih sehat. Apalagi, beberapa pendatang baru dalam bisnis mie cepat saji ini pun mulai bermunculan.
Sempat ditarik oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Taiwan ternyata tidak memengaruhi pangsa Indomie maupun Indofood. Perbedaan standar yang ditetapkan di Indonesia dan Taiwan soal penggunaan pengawet Nipagin atau Methyl p-hydroxybenzoate merupakan hal yang umum terjadi sehingga terjadi perbedaan penerapan Codex Alimentarius Commission (CAC) oleh masing-masing negara. melihat hal tersebut, peningkatan penjualan Indomie diyakini akan kembali naik.
Dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan, dominasi produk-produk Indofood Grup (Indomie, Supermi, Sarimi, Sakura, Pop Mie) di pasar mie instan diprediksi masih akan sulit dipatahkan. Sebab, perusahaan pelopor mie instan dan terbesar di dunia itu sudah memiliki brand equity dan cocok dikonsumsi di Indonesia.
Meski begitu, persaingan bisnis mie instan masih akan berkembang karena produsen lain juga melihat peluang besar di sektor usaha ini. Industri mie instan yang memiliki nilai pasar cukup besar pada 2008 lalu diperkirakan mampu menembus Rp15 triliun menarik minat beberapa pemain Industri mie instan yang memiliki nilai pasar cukup besar pada 2008 lalu diperkirakan mampu menembus Rp 15 triliun menarik minat beberapa pemain di luar Grup Indofood dan Grup Wings. Angka ini jelas membuat banyak perusahaan tertarik untuk ikut bersaing di pasar mie instan.
Diketahui, sejak lima tahun terakhir pasar mie instan hanya menjadi arena pertarungan antara Indomie (Grup Indofood) dengan Mie Sedaap (Grup Wings). Keduanya menguasai sekitar 93% dari seluruh pasar mi instan di Indonesia. Sementara sisanya dikuasai sejumlah pemain kecil dalam industri tersebut.
Para kompetitor yang berjumlah lebih dari 84 perusahaan siap menggerus ceruk pasar Indomie. Mie Sedaap belakangan sangat agresif melakukan penetrasi pasar guna merebut porsi Indomie. Alhasil, meski baru muncul pada Mei 2003 Mie Sedaap yang diproduksi PT Sayap Mas Utama (grup Wingsfood) kini berhasil meraih 23,0% pangsa pasar dan membayangi Indomie di posisi kedua.(*)
Sumber: di sini
Minggu, 06 Maret 2016
Persaingan Harga Semen Berpotensi Terjadi di Pulau Jawa dan Kalimantan
Persaingan industri semen terutama untuk sejumlah merek semen di Pulau Jawa dan Kalimantan diperkirakan makin memanas seiring kehadiran pemain-pemain baru, menurut riset duniaindustri.com. Munculnya pemain-pemain baru berpotensi menggerus pangsa pasar pemain existing.
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pasar semen di Pulau Jawa pada 2015 mencapai 33,69 juta ton, turun 0,1% dibanding 2014 sebesar 33,73 juta ton. Pasar semen di Pulau Jawa berkontribusi 55,74% dari total pasar semen di Indonesia. Dari jumlah itu, pasar semen terbesar di Pulau Jawa terletak di Jawa Barat sebesar 8,93 juta ton atau setara 26,5% dari total pasar semen di Pulau Jawa. Setelah Jawa Barat, pasar semen terbesar kedua yakni Jawa Timur sebesar 8,1 juta ton, Jawa Tengah 7,12 juta ton, Jakarta 5,3 juta ton, Banten 3,28 juta ton, dan Yogyakarta 940 ribu ton.
Sementara pasar semen di Kalimantan pada 2015 mencapai 4,06 juta ton, atau setara 6,7% dari total pasar semen di Indonesia.
Tahun ini sejumlah pemain baru akan merealisasikan pabrik baru dan mulai merambah pasar terutama di Pulau Jawa dan Kalimantan. Sebut saja, Semen Garuda, Semen Merah Putih, Semen Puger, Semen Bima, Semen Jawa akan meramaikan pasar semen di Pulau Jawa. Sementara Semen Conch akan memperketat persaingan semen di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan kompilasi data duniaindustri.com, Pulau Jawa saat ini dikuasai dua produsen semen besar, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan pangsa pasar masing-masing sekitar 38,8% dan 37%. Begitu juga di Pulau Kalimantan, Semen Indonesia dan Indocement menguasai pangsa pasar masing-masing sekitar 51,6% dan 27,9%.
Kehadiran pemain-pemain baru akan terus memanaskan kompetisi pasar dengan pemain existing, mengingat skala ekonomi dan perang harga dimungkinkan terjadi. Pemain baru diperkirakan menggencarkan promosi dan diskon harga terutama di daerah dekat pabrik. Hal itu tentu harus diantisipasi pemain-pemain existing.
Proyeksi 2016
Konsumsi semen di Indonesia pada 2016 diestimasi tumbuh 7% seiring perbaikan penyerapan anggaran pemerintah serta ekspektasi pemulihan perekonomian nasional menjadi 5,2% tahun depan, menurut analisis Credit Suisse. Harga jual rata-rata semen diprediksi naik 4% pada 2016, setelah cenderung flat pada 2015, karena persaingan makin ketat dengan adanya pemain baru.
Dengan proyeksi seperti itu, konsumsi semen di Indonesia pada 2016 diestimasi mencapai 64,8 juta ton, tumbuh 7% dibanding proyeksi 2015 sebesar 60,6 juta ton. Konsumsi semen di Indonesia pada tahun ini diprediksi hanya tumbuh 1,1% menjadi 60,6 juta ton, dibanding realisasi tahun lalu 59,9 juta ton. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menjelaskan tahun ini diperkirakan terjadi kesenjangan antara kapasitas dan konsumsi nasional.
Dengan adanya penambahan kapasitas dari sejumlah pemain existing dan munculnya pemain baru di industri ini, kapasitas semen nasional tahun ini diprediksi mencapai 79,8 juta ton, meningkat 9,7% dibanding tahun lalu 72,7 juta ton. Dengan demikian, diperkirakan terjadi kelebihan pasokan sekitar 24% atau setara 19,2 juta ton tahun ini.
Berdasarkan data ASI, pertumbuhan konsumsi semen mulai melambat sejak 2011 yang mencapai puncak pertumbuhan dengan catatan pertumbuhan pasar 17,7% secara tahunan. Setelah itu, pasar semen Indonesia pada 2012 tumbuh melambat menjadi 14,5%, dan terus melambat menjadi 5,5% pada 2013, 3,3% pada 2014, dan 2% pada 2015.(*)
Sumber: di sini
Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI), pasar semen di Pulau Jawa pada 2015 mencapai 33,69 juta ton, turun 0,1% dibanding 2014 sebesar 33,73 juta ton. Pasar semen di Pulau Jawa berkontribusi 55,74% dari total pasar semen di Indonesia. Dari jumlah itu, pasar semen terbesar di Pulau Jawa terletak di Jawa Barat sebesar 8,93 juta ton atau setara 26,5% dari total pasar semen di Pulau Jawa. Setelah Jawa Barat, pasar semen terbesar kedua yakni Jawa Timur sebesar 8,1 juta ton, Jawa Tengah 7,12 juta ton, Jakarta 5,3 juta ton, Banten 3,28 juta ton, dan Yogyakarta 940 ribu ton.
Sementara pasar semen di Kalimantan pada 2015 mencapai 4,06 juta ton, atau setara 6,7% dari total pasar semen di Indonesia.
Tahun ini sejumlah pemain baru akan merealisasikan pabrik baru dan mulai merambah pasar terutama di Pulau Jawa dan Kalimantan. Sebut saja, Semen Garuda, Semen Merah Putih, Semen Puger, Semen Bima, Semen Jawa akan meramaikan pasar semen di Pulau Jawa. Sementara Semen Conch akan memperketat persaingan semen di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan kompilasi data duniaindustri.com, Pulau Jawa saat ini dikuasai dua produsen semen besar, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dengan pangsa pasar masing-masing sekitar 38,8% dan 37%. Begitu juga di Pulau Kalimantan, Semen Indonesia dan Indocement menguasai pangsa pasar masing-masing sekitar 51,6% dan 27,9%.
Kehadiran pemain-pemain baru akan terus memanaskan kompetisi pasar dengan pemain existing, mengingat skala ekonomi dan perang harga dimungkinkan terjadi. Pemain baru diperkirakan menggencarkan promosi dan diskon harga terutama di daerah dekat pabrik. Hal itu tentu harus diantisipasi pemain-pemain existing.
Proyeksi 2016
Konsumsi semen di Indonesia pada 2016 diestimasi tumbuh 7% seiring perbaikan penyerapan anggaran pemerintah serta ekspektasi pemulihan perekonomian nasional menjadi 5,2% tahun depan, menurut analisis Credit Suisse. Harga jual rata-rata semen diprediksi naik 4% pada 2016, setelah cenderung flat pada 2015, karena persaingan makin ketat dengan adanya pemain baru.
Dengan proyeksi seperti itu, konsumsi semen di Indonesia pada 2016 diestimasi mencapai 64,8 juta ton, tumbuh 7% dibanding proyeksi 2015 sebesar 60,6 juta ton. Konsumsi semen di Indonesia pada tahun ini diprediksi hanya tumbuh 1,1% menjadi 60,6 juta ton, dibanding realisasi tahun lalu 59,9 juta ton. Data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menjelaskan tahun ini diperkirakan terjadi kesenjangan antara kapasitas dan konsumsi nasional.
Dengan adanya penambahan kapasitas dari sejumlah pemain existing dan munculnya pemain baru di industri ini, kapasitas semen nasional tahun ini diprediksi mencapai 79,8 juta ton, meningkat 9,7% dibanding tahun lalu 72,7 juta ton. Dengan demikian, diperkirakan terjadi kelebihan pasokan sekitar 24% atau setara 19,2 juta ton tahun ini.
Berdasarkan data ASI, pertumbuhan konsumsi semen mulai melambat sejak 2011 yang mencapai puncak pertumbuhan dengan catatan pertumbuhan pasar 17,7% secara tahunan. Setelah itu, pasar semen Indonesia pada 2012 tumbuh melambat menjadi 14,5%, dan terus melambat menjadi 5,5% pada 2013, 3,3% pada 2014, dan 2% pada 2015.(*)
Sumber: di sini
Sabtu, 05 Maret 2016
Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017
Riset Peta Persaingan
Industri Semen 2015-2017 (pemain existing versus pemain baru) ini
menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara
komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri semendi Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain baru di
industri ini sejak 2015-2017, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar
lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, hingga analisis prediksi
persaingan pangsa pasar pemain baru dan pemain existing, serta prospek dan
tantangan industi ini ke depan.
Data ini dimulai dengan
menampilkan highlights industri semen sejak 2014-2016, mencakup kapasitas
terpasang, kapasitas produksi, pertumbuhan pasar semen domestik, utilisasi
pabrik semen domestik, serta konsumsi domestik, ekspor, dan impor. Kapasitas
domestik pada 2015 dengan 9 pemain mencapai 80,4 juta ton. Tambahan kapasitas
dari 4 pemain baru pada 2016 sebesar 8,7 juta ton menjadi 89,7 juta ton. (halaman
2)
Pada halaman 3 ditampilkan chart
(infografik) terkait lokasi pabrik-pabrik pemain baru dan pemain existing di
industri semen. Data itu dijabarkan kembali pada halaman 4 dengan tabel yang
lengkap terkait kapasitas terpasang pemain existing semen periode 2013-2017,
terkait ekspansi pemain existing, nilai investasi, kapasitas tambahan,
kapasitas terpasang, dan jenis proyek. Di samping itu, juga dijabarkan pemain
baru 2013-2017 lengkap dengan lokasi pabrik, kapasitas terpasang, nilai
investasi, tahapan operasional, serta mitra usaha dan jenis proyek.
Di halaman 4 ditampilkan trenpertumbuhan konsumsi semen domestik dan pangsa pasar pemain-pemain existing
periode 2014-2015 per daerah. Dengan hadirnya pemain baru yang membangun pabrik
baru, peta persaingan akan makin ketat seperti ditampilkan pada halaman 5-6.
Persaingan pangsa pasar semen di Pulau Jawa ditampilkan lebih detail pada
halaman 7. Di halaman 8-13 ditampilkan profil singkat pemain-pemain baru di
industri semen Indonesia, mencakup nama perusahaan, merek semen, tahun berdiri,
kapasitas produksi per tahun, hingga jaringan distribusi.
Di halaman 14-18,
duniaindustri.com secara eksklusif membuat kajian atau analisis independenterkait peta persaingan dan proyeksi pangsa pasar per daerah, serta strategi
pasar dari pemain baru. Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan akan menjadi fokus
persaingan pangsa pasar semen antara pemain baru versus pemain existing.
Di halaman 19 ditampilkan proyeksi
pertumbuhan permintaan domestik, kapasitas produksi, kapasitas terpasang, serta
pergerakan laju perekonomian Indonesia periode 2014-2019. Di halaman 20-21
dijabarkan segmentasi pasar semen nasional serta tren konsumsi semen per kapita
di Indonesia.
Riset Peta PersainganIndustri Semen 2015-2017 sebanyak 23 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com
dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi
Semen Indonesia (ASI), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di
Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com
yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data
disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan
proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi
form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang
disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Baca selengkapnya di sini
Rabu, 02 Maret 2016
Membedah Industri Oli Pelumas dengan 10 Big Player
Industri oli pelumas meski hanya bersifat hilir dari migas, ternyata menawarkan potensi bisnis yang besar. Lihat saja, omzet industri ini pada 2013 mencapai Rp 7 triliun. Wow, tidak heran 10 big player makin agresif bertarung untuk memperebutkan kue pasar di industri ini.
Ingin tahu lebih lanjut data-data di industri ini. Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri oli pelumas di Indonesia, mencakup highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, ukuran pasar (market size) industri oli pelumas, hingga pangsa pasar pemain lokal dan perusahaan internasional (multi national company/MNC), serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.
Data ini dimulai dengan menampilkan highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016. (halaman 2-5) PT Pertamina Lubricants–anak usaha PT Pertamina (Persero) di bisnis pelumas–pernah menguasai pangsa pasar oli nasional sebesar 90% sebelum 1997. Pada masa itu, penjualan oli masih diatur oleh Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 tahun 1988 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas Serta Penanganan Oli Bekas yang memberikan hak monopoli kepada Pertamina.Namun, hak monopoli tersebut kemudian dicabut melalui Keppres 21 tahun 2001 tentang Pelayanan Penyediaan Pelumas, yang memperbolehkan adanya pemain baru di pasar pelumas.
Di halaman 6-9, duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset terkait persaingan pasar di bisnis oli pelumas di Indonesia. Peta persaingan itu dijabarkan dalam chart (infografik) terkait pangsa pasar 10 pemain utama di industri ini. Selain itu ditampilkan perkembangan pangsa pasar periode 2007, 2011, dan 2015. Tidak ketinggalan ditampilkan estimasi penjualan oli pelumas masing-masing pemain disertai pangsa pasarnya.
Pada halaman 10-14, duniaindustri.com secara eksklusif membuat analisis peta persaingan yang terjadi di industri ini, perkembangan pemain baru sejak 2003, serta kabar terbaru investasi dan ekspansi dari sejumlah market leader di industri ini.
Di halaman 15 ditampilkan nilai pasar (market size) industri oli pelumas di Indonesia periode 2013-2016 (forecast) serta neraca perdagangan (ekspor-impor) di industri ini. Selain itu, di halaman 16, ditampilkan tren permintaan (demand) di pasar lokal pada periode 2011-2016 serta pertumbuhannya, dilengkapi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data ini dilengkapi penetrasi populasi otomotif (motor dan mobil) di Indonesia yang menjadi konsumen terbesar oli pelumas. Di halaman 18, ditampilkan prospek (peluang) dan kendala di industri oli pelumas di Indonesia.
Data dan analisis industri oli pelumas sebanyak 19 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, BPS, WHO dan Bank Dunia, Kementerian ESDM, dan sejumlah perusahaan oli pelumas di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Sumber selengkapnya di sini
Ingin tahu lebih lanjut data-data di industri ini. Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri oli pelumas di Indonesia, mencakup highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, ukuran pasar (market size) industri oli pelumas, hingga pangsa pasar pemain lokal dan perusahaan internasional (multi national company/MNC), serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.
Data ini dimulai dengan menampilkan highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016. (halaman 2-5) PT Pertamina Lubricants–anak usaha PT Pertamina (Persero) di bisnis pelumas–pernah menguasai pangsa pasar oli nasional sebesar 90% sebelum 1997. Pada masa itu, penjualan oli masih diatur oleh Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 tahun 1988 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas Serta Penanganan Oli Bekas yang memberikan hak monopoli kepada Pertamina.Namun, hak monopoli tersebut kemudian dicabut melalui Keppres 21 tahun 2001 tentang Pelayanan Penyediaan Pelumas, yang memperbolehkan adanya pemain baru di pasar pelumas.
Di halaman 6-9, duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset terkait persaingan pasar di bisnis oli pelumas di Indonesia. Peta persaingan itu dijabarkan dalam chart (infografik) terkait pangsa pasar 10 pemain utama di industri ini. Selain itu ditampilkan perkembangan pangsa pasar periode 2007, 2011, dan 2015. Tidak ketinggalan ditampilkan estimasi penjualan oli pelumas masing-masing pemain disertai pangsa pasarnya.
Pada halaman 10-14, duniaindustri.com secara eksklusif membuat analisis peta persaingan yang terjadi di industri ini, perkembangan pemain baru sejak 2003, serta kabar terbaru investasi dan ekspansi dari sejumlah market leader di industri ini.
Di halaman 15 ditampilkan nilai pasar (market size) industri oli pelumas di Indonesia periode 2013-2016 (forecast) serta neraca perdagangan (ekspor-impor) di industri ini. Selain itu, di halaman 16, ditampilkan tren permintaan (demand) di pasar lokal pada periode 2011-2016 serta pertumbuhannya, dilengkapi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data ini dilengkapi penetrasi populasi otomotif (motor dan mobil) di Indonesia yang menjadi konsumen terbesar oli pelumas. Di halaman 18, ditampilkan prospek (peluang) dan kendala di industri oli pelumas di Indonesia.
Data dan analisis industri oli pelumas sebanyak 19 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, BPS, WHO dan Bank Dunia, Kementerian ESDM, dan sejumlah perusahaan oli pelumas di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)
Sumber selengkapnya di sini
Selasa, 01 Maret 2016
Membedah raksasa telekomunikasi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) merupakan perusahaan konglomerasi telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan jumlah pelanggan, pendapatan dan kapitalisasi pasar terbesar di industri. Telkom memiliki 129,8 juta pelanggan di Indonesia, pendapatan senilai Rp 71 triliun pada 2011, dan kapitalisasi pasar mencapai Rp 180 triliun.
Telco Industry Outlook
Tren industri telekomunikasi Indonesia saat ini lebih didominasi oleh layanan telepon seluler. Sejalan dengan tren yang berkembang di dunia, saat ini industri seluler Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibanding telepon tidak bergerak (fixed line). Hal ini salah satunya dikarenakan teknologi telepon seluler memiliki cakupan yang lebih luas, serta waktu yang lebih singkat untuk membangun infrastruktur yang diperlukan.
Pasar seluler Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India berdasarkan jumlah pelanggan komunikasi seluler. Per 31 Desember 2010, jumlah kartu SIM yang beredar di Indonesia diperkirakan mencapai 236,7 juta kartu, atau setara dengan 97,3% penetrasi jumlah penduduk Indonesia, meski jumlah pengguna telepon seluler baru 57,9% dari jumlah penduduk.
Pengguna kartu SIM yang besar jumlahnya, kemudian peluang penggunaan telepon seluler yang lebih besar kedepannya menjadi pasar prospektif bagi operator seluler, seperti Telkom. Saat ini tercatat terdapat 11 operator baik GSM maupun CDMA yang beroperasi di pasar Indonesia. Jumlah tersebut lebih besar dibanding dengan pasar lain di Asia, kecuali India.
Banyaknya pemain menyebabkan ketatnya persaingan dalam industri. Pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue Per User-ARPU) industri seluler Indonesia terus mengalami penurunan. ARPU menurun dari US$ 4,65 pada 2008 menjadi US$ 3,88 pada 2010 akibat perang tarif dalam layanan suara maupun sms akibat ketatnya persaingan.
Mengatasi persaingan yang ketat, industri seluler berusaha mencari sumber pendapatan baru, salah satunya dari layanan data seluler. Selama periode 2008-2010 pendapatan layanan data seluler mencatat pertumbuhan 16,8% compounded annual growth rate (CAGR), jauh lebih tinggi dari pertumbuhan layanan suara seluler yang sebesar 7,8%.
Telekomunikasi Indonesia’s Business Model
Telkom merupakan konglomerasi telekomunikasi karena luasnya cakupan bisnis yang dimiliki. Berdasarkan kegiatan bisnis, Telkom memiliki lima bisnis utama yakni telepon (mencakup telepon tidak bergerak dan telepon seluler), internet dan data, interkoneksi, jaringan, serta jasa telekomunikasi lainnya.
Telkom yang memulai bisnisnya dari segmen telepon tidak bergerak, berada dalam posisi monopolistik dengan tidak adanya pemain lain yang lebih dominan dalam industri. Namun, tren penggunaan telepon tetap (fixed line) relatif menurun karena terus meningkatnya preferensi penggunaan teknologi seluler untuk komunikasi.
Bisnis layanan seluler Telkom dilakukan melalui anak usaha, Telkomsel yang juga merupakan operator seluler terbesar di Indonesia. Telkomsel pada 2011 memiliki 107 juta pelanggan, setara dengan 42,9% total pelanggan seluler Indonesia. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat pesaing terdekatnya, PT Indosat (ISAT) dengan penguasaan pangsa pasar 20,7%.
Segmen internet dan data merupakan segmen yang memberikan kontribusi pendapatan yang semakin besar. Tahun 2012 Telkom menargetkan pendapatan dari segmen data dapat mengkontribusikan 20%-25% pendapatan Telkom tahun ini meningkat dari 15% pada 2011.
Selain segmen telepon, serta segmen internet dan data, Telkom juga menawarkan jasa interkoneksi, baik untuk domestik, transit, maupun internaisonal. Telkom juga menyewakan jaringan, seperti jaringan sirkit dan menyewakan transporder satelit.
Pada jasa telekomunikasi lainnya, Telkom menawarkan customer premise equipment dan terminal, menawarkan TV berbayar, dan melakukan penjualan modem.
Telkom merupakan salah satu dari dua operator telekomunikasi yang mengoperasikan satelit sendiri, sehingga menjadi keunggulan tersendiri bagi Telkom dibanding operator lain yang harus menyewa transponder satelit untuk kebutuhan operasional.(*)
Sumber selengkapnya di sini
Telco Industry Outlook
Tren industri telekomunikasi Indonesia saat ini lebih didominasi oleh layanan telepon seluler. Sejalan dengan tren yang berkembang di dunia, saat ini industri seluler Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dibanding telepon tidak bergerak (fixed line). Hal ini salah satunya dikarenakan teknologi telepon seluler memiliki cakupan yang lebih luas, serta waktu yang lebih singkat untuk membangun infrastruktur yang diperlukan.
Pasar seluler Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di dunia, setelah China dan India berdasarkan jumlah pelanggan komunikasi seluler. Per 31 Desember 2010, jumlah kartu SIM yang beredar di Indonesia diperkirakan mencapai 236,7 juta kartu, atau setara dengan 97,3% penetrasi jumlah penduduk Indonesia, meski jumlah pengguna telepon seluler baru 57,9% dari jumlah penduduk.
Pengguna kartu SIM yang besar jumlahnya, kemudian peluang penggunaan telepon seluler yang lebih besar kedepannya menjadi pasar prospektif bagi operator seluler, seperti Telkom. Saat ini tercatat terdapat 11 operator baik GSM maupun CDMA yang beroperasi di pasar Indonesia. Jumlah tersebut lebih besar dibanding dengan pasar lain di Asia, kecuali India.
Banyaknya pemain menyebabkan ketatnya persaingan dalam industri. Pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue Per User-ARPU) industri seluler Indonesia terus mengalami penurunan. ARPU menurun dari US$ 4,65 pada 2008 menjadi US$ 3,88 pada 2010 akibat perang tarif dalam layanan suara maupun sms akibat ketatnya persaingan.
Mengatasi persaingan yang ketat, industri seluler berusaha mencari sumber pendapatan baru, salah satunya dari layanan data seluler. Selama periode 2008-2010 pendapatan layanan data seluler mencatat pertumbuhan 16,8% compounded annual growth rate (CAGR), jauh lebih tinggi dari pertumbuhan layanan suara seluler yang sebesar 7,8%.
Telekomunikasi Indonesia’s Business Model
Telkom merupakan konglomerasi telekomunikasi karena luasnya cakupan bisnis yang dimiliki. Berdasarkan kegiatan bisnis, Telkom memiliki lima bisnis utama yakni telepon (mencakup telepon tidak bergerak dan telepon seluler), internet dan data, interkoneksi, jaringan, serta jasa telekomunikasi lainnya.
Telkom yang memulai bisnisnya dari segmen telepon tidak bergerak, berada dalam posisi monopolistik dengan tidak adanya pemain lain yang lebih dominan dalam industri. Namun, tren penggunaan telepon tetap (fixed line) relatif menurun karena terus meningkatnya preferensi penggunaan teknologi seluler untuk komunikasi.
Bisnis layanan seluler Telkom dilakukan melalui anak usaha, Telkomsel yang juga merupakan operator seluler terbesar di Indonesia. Telkomsel pada 2011 memiliki 107 juta pelanggan, setara dengan 42,9% total pelanggan seluler Indonesia. Jumlah ini lebih dari dua kali lipat pesaing terdekatnya, PT Indosat (ISAT) dengan penguasaan pangsa pasar 20,7%.
Segmen internet dan data merupakan segmen yang memberikan kontribusi pendapatan yang semakin besar. Tahun 2012 Telkom menargetkan pendapatan dari segmen data dapat mengkontribusikan 20%-25% pendapatan Telkom tahun ini meningkat dari 15% pada 2011.
Selain segmen telepon, serta segmen internet dan data, Telkom juga menawarkan jasa interkoneksi, baik untuk domestik, transit, maupun internaisonal. Telkom juga menyewakan jaringan, seperti jaringan sirkit dan menyewakan transporder satelit.
Pada jasa telekomunikasi lainnya, Telkom menawarkan customer premise equipment dan terminal, menawarkan TV berbayar, dan melakukan penjualan modem.
Telkom merupakan salah satu dari dua operator telekomunikasi yang mengoperasikan satelit sendiri, sehingga menjadi keunggulan tersendiri bagi Telkom dibanding operator lain yang harus menyewa transponder satelit untuk kebutuhan operasional.(*)
Sumber selengkapnya di sini
Peta Industri Pulp dan Kertas Dunia Terus Bergeser

Industri pulp Indonesia menduduki peringkat 9 dunia dan industri kertas berada di peringkat 6 dunia. Khusus di Asia, industri pulp dan kertas nasional menempati peringkat ke-3, menurut data duniaindustri.com dari Kementerian Perindustrian.Peta industri pulp dan kertas dunia terus bergeser dari negara-negara di Amerika Utara dan Scandinavia (Eropa Utara) ke Asia termasuk Indonesia, negara-negara Asia Timur dan Amerika Latin.
“Kombinasi pergeseran dan prediksi kenaikan kebutuhan kertas dunia dari 394 juta ton menjadi 490 juta ton pada 2020, memberi peluang bagi kita untuk mengembangkan industri pulp dan kertas,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam siaran pers kunjungannya ke pabrik OKI Pulp & Paper, di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan.
“Dengan beroperasi pabrik PT OKI nanti, saya berharap industri pulp kita melompat naik ke ranking 6 dari posisi sembilan dunia,” kata Saleh.
Pabrik dan infrastruktur seluas 1.700 hektare ini memiliki kapasitas produksi sebesar 2 juta ton pulp dan 500 ribu ton kertas tisu per tahun. Mayoritas produksi akan diekspor dengan porsi pulp 80 persen dan kertas 95 persen. “Investasi kami sebesar Rp 40 triliun dan ekspor produk berpotensi menyumbang devisa US$ 1,5 miliar per tahun,” kata Direktur OKI Pulp & Paper Suhendra Wiriadinata.
Kebutuhan bahan baku akasia pabrik ini akan dipasok dari lahan hutan tanaman industri (HTI) seluas 472 ribu hektare yang berada di Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin. “Kami harapkan pabrik beroperasi pada kuartal 3 tahun ini,” ujar Managing Director Sinar Mas, G Sulistiyanto.
Guna mendukung investasi tersebut, PT OKI mendapat fasilitas kemudahan impor barang modal dan penghapusan pajak badan dalam waktu tertentu (tax holiday) selama 8 tahun melalui KMK No. 803/KMK.010/2015.
Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengatakan, pengembangan industri pulp dan kertas nasional dilakukan dengan pendekatan klaster industri, dengan inti industri kertas dan lokus pengembangannya di Pulau Jawa. “Sedangkan industri pulp diarahkan ke luar Pulau Jawa, khususnya Sumatera, Kalimantan dan Papua,” ujarnya.
Kemenperin, kata Panggah, mendorong pengembangan industri pulp yang terpadu dengan Hutan Tanaman Industri (HTI), terutama diarahkan ke kawasan timur Indonesia dengan harus memenuhi kaidah-kaidah pelestarian lingkungan. Pengembangan industri ini dirangsang dengan pemberian insentif melalui Tax Holiday ataupun Tax Allowance.
Saleh mengatakan, meskipun perekonomian dunia 2016 diperkirakan cenderung stagnan, industri pulp dan kertas nasional diprediksi akan tetap tumbuh sebesar 3-4 persen. “Produk pulp dan kertas merupakan salah satu komoditas yang akan terus dikonsumsi seiring dengan tumbuhnya populasi penduduk dunia,” ujarnya.
Kebutuhan kertas dunia diperkirakan akan tumbuh sebesar rata-rata 2,1 persen per tahun. Sedangkan kapasitas terpasang industri pulp dan kertas nasional masing-masing sebesar 7,932 juta ton/tahun pulp dan 12,986 juta ton/tahun kertas, dengan jumlah industri sebanyak 81 industri.
Ekspor pulp dan kertas masing-masing sebesar 3,5 juta ton pulp dengan nilai sebesar US$ 1,72 miliar dan 4,35 juta ton kertas dengan nilai sebesar US$ 3,74 miliar.(*)
Sumber: di sini
Langganan:
Postingan (Atom)












