Mau tahu pusat keuangan dunia berada di mana? Ternyata kota tersibuk di dunia sangat kental dengan pusat keuangan dunia. Simak ceritanya di bawah ini.
Singapura menggeser posisi Hongkong sebagai pusat keuangan terbesar ketiga di dunia, berdasarkan survei lembaga riset yang berbasis di London, Z/Yen Group. Peringkat negara kecil di Asia Tenggara itu berada di bawah London dan New York, serta dua poin di atas Hong Kong dalam laporan Indeks Pusat Keuangan Global, yang dipublikasikan website perusahaan tersebut.
Indeks tersebut, yang memiliki skala seribu poin, didasarkan pada survei terhadap 2.520 jasa keuangan professional, menurut Z/Yen Group. Peringkat tersebut merefleksikan bidang kompetitif utama seperti lingkungan bisnis, pengembangan sektor keuangan dan infrastruktur dari 86 kota di seluruh dunia yang di-cover dalam survei itu.
Sementara, Tokyo menempati posisi kelima dan Zurich setingkat di bawahnya, menurut indeks tersebut. Z/Yen Group kali pertama mempublikasikan survei ini pada Maret 2007.
Data resmi terbaru menyebutkan, Singapura tertinggal dari Hong Kong dalam hal total dana kelolaan. Aset yang dimiliki industri pengelolaan dana Singapura melonjak 30 persen menjadi S$2,36 triliun (US$1,75 triliun) pada 2014, angka terakhir yang tersedia, menurut Monetary Authority of Singapore.
Sedangkan di Hong Kong mencapai HK$17,7 triliun (US$ 2,3 triliun) pada tahun itu, menurut Securities and Futures Commission setempat.
Pemodal Indonesia
Sementara itu, jumlah investor saham di Indonesia sepanjang 2015 mengalami pertumbuhan 19% dari 364.465 orang per akhir Desember 2014 menjadi 433.607 orang per 28 Desember 2015, menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kewajiban penerapan kepemilikan single investor identification (SID) diterapkan di pasar modal pada 2012.
Direktur Utama KSEI Margeret M. Tang dalam siaran persnya menjelaskan, peningkatan jumlah investor tersebut merupakan hasil dari upaya yang telah dilakukan KSEI, dengan dukungan dan kerjasama yang baik dari OJK, BEI, KPEI, Perusahaan Efek, akademisi maupun emiten. Margaret menambahkan, program kerjasama dengan perusahaan efek dan emiten serta akademisi akan kembali digencarkan di tahun mendatang karena program seperti ini efektif menarik minat masyarakat untuk mengenal investasi di pasar modal. Program yang dijalankan mencakup pembukaan rekening efek yang dilanjutkan dengan sesi edukasi, khususnya mengenai Fasilitas AKSes.
Sejalan dengan peningkatan jumlah investor, KSEI selaku Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, melakukan serangkaian pengembangan infrastruktur untuk mendukung efisiensi bisnis operasional para pelaku di pasar modal. KSEI berhasil menyelesaikan salah satu milestone pasar modal Indonesia, yaitu fasilitas penyelesaian transaksi dana melalui sistem Bank Indonesia (BI-RTGS) yang memungkinkan Pemegang Rekening KSEI untuk melakukan penyelesaian dana secara lebih mudah dan cepat, karena menggunakan sistem bank sentral yang lebih terpusat.
Pengukuhan kerjasama untuk menambah jumlah Bank Administrator Rekening Dana Nasabah (Bank RDN) dari sebelumnya 6 bank menjadi 9 bank, termasuk bank syariah, merupakan langkah konkrit yang dilakukan KSEI untuk semakin mempermudah proses transaksi efek, sekaligus memperluas jaringan pasar modal dalam rangka menuju AKSes Financial Hub. “Apabila memang perlu dan memungkinkan, tidak tertutup kemungkinan jika KSEI akan menambah kembali jumlah bank RDN, agar sinergi pasar modal dan jaringan perbankan semakin luas, dimana kami harapkan kedepannya pembelian produk-produk pasar modal, seperti pembelian saham IPO dan reksadana dapat dilakukan melalui jaringan perbankan antara lain ATM, internet banking dan sebagainya,” kata Margeret.
Sinergi KSEI dengan infrastruktur Bank RDN ini dikembangkan melalui jaringan ATM, internet banking dan mobile banking, dengan demikian ke depannya investor dapat melakukan instruksi penarikan dana RDN, instruksi pembelian/penjualan unit penyertaan reksadana, pembelian IPO, dan lainnya.
Jumlah efek yang tercatat di C-BEST sampai dengan tanggal 28 Desember 2015 naik menjadi 1.335, dibanding tahun sebelumnya yaitu 1.249. Namun, total aset menurun 7% dibanding tahun sebelumnya, dari Rp 3.198,03 triliun menjadi Rp 2.984,76 triliun. Penurunan ini sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Walaupun terjadi penurunan aset, namun terjadi peningkatan frekuensi penyelesaian transaksi Efek dan instruksi harian.
Sampai dengan akhir tahun 2015, KSEI mencatat peningkatan frekuensi penyelesaian transaksi Efek sebesar 14% dari 3.100.600 (Januari – Desember 2014), dibandingkan dengan periode yang sama tahun ini yang mencapai 3.533.898 (Januari-28 Desember 2015). Rata-rata instruksi harian juga meningkat sekitar 14% dari 12.812 instruksi menjadi 14.543 (Januari-28 Desember 2015) instruksi dibanding periode yang sama tahun lalu.
Total saham yang tercatat di C-BEST sampai dengan tanggal 28 Desember 2015 masih didominasi kepemilikan investor asing. Secara presentasi, komposisi kepemilikan lokal maupun asing tidak mengalami perubahan namun secara nilai keduanya mengalami penurunan akibat penurunan IHSG. Investor lokal semakin mendominasi kepemilikan Obligasi Korporasi dan Sukuk.
Berdasarkan data yang tercatat di C-BEST per tanggal 28 Desember 2015, persentase kepemilikan investor lokal naik menjadi 93% dari sebelumnya 91%. Secara nilai, terdapat peningkatan baik pada kepemilikan investor asing maupun lokal.(*)
Sumber: di sini
Jumat, 08 April 2016
Rabu, 06 April 2016
Ternyata Perusahaan Menara Telekomunikasi di Indonesia Tumbuh Paling Tinggi
Perusahaan menara telekomunikasi di Indonesia dan India dinilai paling berkembang di Asia. Menurut penilaian lembaga pemeringkat utang global Moody`s, perusahaan menara telekomunikasi di kedua negara tersebut diperkirakan menikmati pertumbuhan pendapatan 8%-10% secara tahunan dalam dua tahun ke depan.
"Kami perkirakan pertumbuhan berlanjut di kedua pasar (Indonesia dan India) seiring langkah operator telekomunikasi di kedua negara membangun dan memperkuat teknologi 3G dan 4G. Mereka (para operator) akan mencari menara untuk disewa dan sekaligus menjual menara yang mereka punya," kata analis Moody`s, Nidhi Dhruv, Selasa (5/4).
Dhruv menjelaskan, langkah merger dan akuisisi serta konsolidasi industri telekomunikasi di kedua negara masih memungkinkan dalam dua tiga tahun ke depan. Para operator akan menjual menara yang dimiliki dan menggunakan dana penjualan untuk belanja modal dan mengurangi utang. Dalam hitungan kasar, masih menguntungkan bagi operator untuk menyewa ketimbang memiliki menara sendiri.
Dalam sebuah laporan terbarunya, Moody mengatakan perusahaan menara India memiliki skala lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan perusahaan sejenis di Indonesia. India, yang memiliki populasi dan pelanggan mobile yang jauh lebih besar, memiliki lebih dari lima kali jumlah menara di Indonesia. Namun, operator menara di Indonesia dimiliki secara independen yang lebih umum, karena peraturan yang lebih mendukung.
"Berbeda dengan perusahaan Indonesia, perusahaan menara India memiliki metrik operasi kuat dan neraca tetapi profitabilitas yang lebih rendah," kata Dhruv.
Sementara itu, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), emiten menara telekomunikasi, melalui TBG Global Pte Ltd kembali menjajaki penerbitan surat utang (notes) hingga sebesar US$ 500 juta atau setara Rp 6,6 triliun tahun ini. Sebelumnya, perseroan sempat membatalkan rencana tersebut karena kondisi pasar yang tidak kondusif.
Direktur Keuangan Tower Bersama Helmy Yusman Santoso mengatakan, perseroan akan meminta persetujuan rencana penerbitan notes pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 11 Mei 2016. Dengan persetujuan tersebut, perseroan bisa lebih cepat, jika ingin mengeksekusi penerbitan.
“Waktu persis rilisnya belum ditetapkan. Kami akan lihat terlebih dahulu kebutuhan dana ekspansi dan pelunasan (refinancing) utang. Notes ini bisa menjadi salah satu sumber pendanaan,” jelas Helmy.
Adapun notes US$ 500 juta akan jatuh tempo pada 2025. Bunga surat utang tersebut maksimal 8% per tahun. Penetapan bunga tersebut berdasarkan berlakunya tingkat suku bunga di pasar, yang merupakan beban bunga yang dapat mendukung kegiatan operasional perseroan. Pembayaran bunga akan dilakukan setiap enam bulan atau periode lain yang disetujui para pihak.
Skema transaksi penerbitan ini adalah TBG Global bakal menggunakan hasil penerbitan notes untuk pemberian pinjaman dan penyertaan modal pada Tower Bersama Singapore Pte Ltd (TBS). Selanjutnya, TBS akan memberikan fasilitas pinjaman antar perusahaan kepada Tower Bersama.(*)
Baca selengkapnya di sini
"Kami perkirakan pertumbuhan berlanjut di kedua pasar (Indonesia dan India) seiring langkah operator telekomunikasi di kedua negara membangun dan memperkuat teknologi 3G dan 4G. Mereka (para operator) akan mencari menara untuk disewa dan sekaligus menjual menara yang mereka punya," kata analis Moody`s, Nidhi Dhruv, Selasa (5/4).
Dhruv menjelaskan, langkah merger dan akuisisi serta konsolidasi industri telekomunikasi di kedua negara masih memungkinkan dalam dua tiga tahun ke depan. Para operator akan menjual menara yang dimiliki dan menggunakan dana penjualan untuk belanja modal dan mengurangi utang. Dalam hitungan kasar, masih menguntungkan bagi operator untuk menyewa ketimbang memiliki menara sendiri.
Dalam sebuah laporan terbarunya, Moody mengatakan perusahaan menara India memiliki skala lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan perusahaan sejenis di Indonesia. India, yang memiliki populasi dan pelanggan mobile yang jauh lebih besar, memiliki lebih dari lima kali jumlah menara di Indonesia. Namun, operator menara di Indonesia dimiliki secara independen yang lebih umum, karena peraturan yang lebih mendukung.
"Berbeda dengan perusahaan Indonesia, perusahaan menara India memiliki metrik operasi kuat dan neraca tetapi profitabilitas yang lebih rendah," kata Dhruv.
Sementara itu, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), emiten menara telekomunikasi, melalui TBG Global Pte Ltd kembali menjajaki penerbitan surat utang (notes) hingga sebesar US$ 500 juta atau setara Rp 6,6 triliun tahun ini. Sebelumnya, perseroan sempat membatalkan rencana tersebut karena kondisi pasar yang tidak kondusif.
Direktur Keuangan Tower Bersama Helmy Yusman Santoso mengatakan, perseroan akan meminta persetujuan rencana penerbitan notes pada rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) pada 11 Mei 2016. Dengan persetujuan tersebut, perseroan bisa lebih cepat, jika ingin mengeksekusi penerbitan.
“Waktu persis rilisnya belum ditetapkan. Kami akan lihat terlebih dahulu kebutuhan dana ekspansi dan pelunasan (refinancing) utang. Notes ini bisa menjadi salah satu sumber pendanaan,” jelas Helmy.
Adapun notes US$ 500 juta akan jatuh tempo pada 2025. Bunga surat utang tersebut maksimal 8% per tahun. Penetapan bunga tersebut berdasarkan berlakunya tingkat suku bunga di pasar, yang merupakan beban bunga yang dapat mendukung kegiatan operasional perseroan. Pembayaran bunga akan dilakukan setiap enam bulan atau periode lain yang disetujui para pihak.
Skema transaksi penerbitan ini adalah TBG Global bakal menggunakan hasil penerbitan notes untuk pemberian pinjaman dan penyertaan modal pada Tower Bersama Singapore Pte Ltd (TBS). Selanjutnya, TBS akan memberikan fasilitas pinjaman antar perusahaan kepada Tower Bersama.(*)
Baca selengkapnya di sini
Selasa, 05 April 2016
Indonesia Company Investment Analysis: PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) didirikan pada 2001, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan perdagangan minyak dan gas (migas). Perusahaan memiliki area produksi di 10 blok yang tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Izin eksplorasi yang dimiliki berkisar antara 20 tahun - 50 tahun. Per Juni 2012, Energi Mega Persada memproduksi 14,96 juta barel migas, sehingga cadangan terbukti per Juni 2012 tersisa 1,9 miliar barel.
INDUSTRY OUTLOOK: OIL AND NATURAL GAS
Oil
Menurut International Energy Agency, permintaan minyak dunia diperkirakan tumbuh 0,9% pada tahun ini dan tahun 2013. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3% pada 2012 dan 3,6% ditahun 2013, total permintaan minyak dunia diperkirakan rata-rata 89,8 juta barel per hari pada tahun 2012 dan 90,6 juta barel per hari pada tahun 2013.
Permintaan minyak dunia pada kuartal II 2012 tumbuh 1,4% secara tahunan. Jepang merupakan negara yang permintaannya tumbuh paling tinggi sebesar 10% karena pembangkit listrik bersumber energi nuklir diganti dengan minyak.
Sebesar 60% dari konsumsi minyak dunia digunakan oleh sektor transportasi. Harga minyak yang tergolong tinggi membuat sektor di luar transportasi menggunakan sumber energi lain.
Minyak yang digunakan untuk transportasi lebih banyak diolah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Di Asia, salah satu negara pengguna BBM terbesar adalah Malaysia dan Indonesia. Permintaan BBM di kedua negara tersebut biasanya meningkat tajam selama hari raya idul fitri.
Di Indonesia, kebutuhan BBM per hari mencapai 1,3 juta kiloliter akibat populasi penduduk yang sangat besar dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi. Selama Agustus 2012, pertumbuhan kendaraan bermotor Indonesia mencapai 23,1%.
Di sisi lain realisasi produksi minyak di Indonesia pada kuartal II 2012 adalah 870 ribu barel per hari, turun dibanding kuartal sebelumnya. Penurunan produksi disebabkan oleh penghentian produksi (planned shutdown) yang dialami beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dalam rangka instalasi baru dan perbaikan peralatan.
Ketidakmampuan produksi dalam negeri mengharuskan Indonesia impor minyak dari negara lain. Akibatnya, dalam laporan neraca pembayaran kuartal II 2012 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, terjadi defisit neraca perdagangan migas Indonesia sebesar US$ 0,06 miliar.
Natural Gas
Gas alam merupakan energi alternatif menarik untuk sumber energi baru karena lebih efisien dan beremisi rendah. Di pasar Amerika terjadi kelebihan gas alam sehingga harganya menjadi lebih rendah.
Pertumbuhan konsumsi gas alam merupakan yang tercepat dibanding sumber energi lain. Menurut International Energy Outlook, rata-rata pertumbuhan diperkirakan mencapai 1,6% per tahun selama tahun 2008-2035. Pertumbuhan konsumsi gas negara non OECD (OECD: Organization for Economic Cooperation and Development) lebih tinggi daripada negara OECD.
Gas akan terus menjadi bahan bakar yang banyak dipilih oleh negara-negara di dunia. Sebagian besar akan digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik dan sektor industri. Sebagian lagi gas dijadikan sebagai bahan bakar transportasi.
Di Indonesia, penggunaan energi gas alam mulai dilakukan melalui program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Hal ini merupakan cara pemerintah untuk mengantisipasi habisnya cadangan minyak.
Menurut World Energy Report 2011, Indonesia masih memiliki cadangan gas sebesar 3,1 triliun meter kubik. Cadangan tersebut dapat digunakan hingga 40 tahun. Sementara cadangan minyak tersisa 4,2 miliar barel yang ditaksir bisa habis dalam delapan tahun.
ENERGI MEGA PERSADA’S BUSINESS MODEL
Energi Mega Persada yang tergabung dalam Group Bakrie & Brother bergerak dalam bidang eksplorasi dan perdagangan minyak dan gas. Melalui entitas anak, Energi Mega melakukan kegiatan eksplorasi di Kepulauan Kangean provinsi Jawa Timur, Riau, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Laut Timor Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat.
Area produksi Energi Mega terbagi dalam 10 blok yang memiliki izin eksplorasi antara 20 tahun - 50 tahun. Luas wilayah eksplorasi minyak dan gas bumi lebih dari 28.000 km2. Total cadangan terbukti dari 10 blok tersebut per Juni 2012 adalah 1,9 miliar barrel.
Energi Mega Persada membukukan pendapatan sebesar US$ 465,1 juta hingga kuartal III-2015 atau lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 603 juta. Adapun laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan mencapai US$ 236 juta.
Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan bahwa penjualan, EBITDA, dan produksi perseroan per kuartal tahun ini cukup konsisten. Namun, perseroan masih mencatat rugi bersih sebesar US$ 40 juta. “Alasan utama kerugian bersih adalah beban penyusutan yang cukup tinggi,” ungkap Imam dalam keterangan resmi.
Hingga kuartal III-2015, Energi Mega memproduksikan 11.138 barel minyak per hari dan 214 juta kubik gas kaki per hari. Catatan tersebut dibukukan dari cadangan terbukti dan terukur yang dimiliki sebesar 12,6 juta barel minyak dan 851 miliar kaki kubik gas, berdasarkan hak partisipasi. Saat ini, Energi Mega mengoperasikan 12 proyek minyak dan gas (migas) di Indonesia dan Mozambik, Afrika.
Baru-baru ini dikabarkan tiga investor potensial dari Eropa dan Afrika berminat mengakuisisi sebagian hak partisipasi Energi Mega di Blok Buzi, Mozambik. Energi Mega menawarkan hak partisipasi hingga 50%.
Saat ini, Energi Mega menguasai 75% hak partisipasi di Blok Buzi. Sedangkan sisanya 25% dimiliki oleh Pemerintah Mozambik dan Empressa Nacional de Hidrocarbonetos (ENH). Jika Energi Mega merealisasikan pelepasan hingga 50%, kepemilikan perseroan akan berkurang menjadi 25%. Per Juni 2015, akumulasi biaya eksplorasi Blok Buzi mencapai US$ 185,66 juta.
Produksi minyak dan gas selama Juni 2012 sebesar 14,96 juta barel, naik 325% dibanding periode Juni 2011. Produksi yang meningkat signifikan dikarenakan pada akhir Desember 2011 Energi Mega Persada mengakuisisi 100% Blok Offshore North West Java (ONWJ) dari CNOOC ONWJ Ltd, perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak mentah dan gas.
Per Juni 2012, Blok ONWJ memiliki cadangan terbukti sebesar 116,32 ribu barel. Blok ONWJ juga merupakan kontributor terbesar terhadap produksi Energi Mega Persada pada semester I 2012.
Pertumbuhan penjualan minyak semester I 2012 sebesar 116%, lebih rendah dari pertumbuhan penjualan gas yang mencapai 247%. Program konversi minyak ke gas yang dilakukan pemerintah berdampak pada kenaikan permintaan gas. Kontribusi penjualan minyak pada semester I 2012 terhadap pendapatan Energi kemudian turun menjadi 69,3%, dibanding posisi 2011.
Sejumlah 59% minyak dan gas yang diproduksi dijual ke pasar ekspor. Kontribusi penjualan ekspor semester I 2012 meningkat 10% dibanding semester I tahun lalu. Sejumlah 41% hasil produksi dijual kepada pasar domestik. Pelanggan domestik yang kontribusinya paling besar adalah PT Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara. Penjualan kepada pelanggan domestik dilakukan dengan kontrak jual beli gas.
Berakhirnya kontrak bisa berdasarkan telah habisnya waktu kontrak atau kuota minyak dan gas yang disepakati, tergantung mana yang lebih dahulu terjadi.
FINANCIAL HIGHLIGHT
Pertumbuhan pendapatan Energi Mega Persada pada semester I 2012 lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada semester I 2011. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas serta peningkatan rata-rata produksi harian, pasca akuisisi blok ONWJ dan blok Kangean. Pendapatan Energi Mega Persada pada semester I 2012 secara tahunan tumbuh 144,4% menjadi US$ 241,8 juta.
Saat laba lain alami kenaikan, laba bersih Energi Mega Persada semester I 2012 secara tahunan turun 20,9% menjadi US$ 1,2 juta, menunjukkan bahwa kontribusi anak usaha Energi yang besar terhadap kinerja konsolidasi Energi. Kenaikan beban keuangan 186% menjadi penyebab utama penurunan laba bersih. Dibandingkan semester I 2011, laba bersih Energi Mega Persada turun 20,9% menjadi US$ 1,2 juta.
Meskipun pendapatan naik signifikan, tingkat profitabilitas Energi Mega Persada rata-rata menurun. Perusahaan tidak mampu mentransmisikan kenaikan beban pokok ke dalam harga jual minyak dan gas, seperti kenaikan beban penunjang produksi yang naik hingga 374%. Sementara harga jual minyak dan gas masing-masing hanya naik 5% dan 17%.
Tingkat imbal hasil Energi Mega Persada yang tercermin dari Return on Equity (ROE) dan Return on Aset (ROA) tergolong rendah. Secara tahunan, tingkat imbal hasil untuk pemegang saham (ROE) dan tingkat imbal hasil aset (ROA) pada semester I 2012 masing-masing hanya sebesar 0,19% dan 0,06%.
ROA dan ROE yang sangat kecil dikarenakan terdapat 3 blok yang tidak beroperasi. Ketiganya memiliki cadangan yang cukup besar, totalnya sebanyak 1,6 miliar barel. Blok yang tidak beroperasi tersebut memperbesar beban penyusutan, namun belum mampu berkontribusi terhadap pendapatan.
Energi Mega juga memiliki tingkat likuiditas yang rendah dibanding emiten minyak dan gas lain. Rasio kas yang menunjukkan kemampuan kas memenuhi kewajiban lancar hanya sebesar 0,01 kali pada semester I 2012.
Sementara itu, rasio solvabilitas berada dalam posisi yang tinggi per Juni 2012. Rasio utang terhadap ekuitas tercatat berada di level 2,02 kali. Sedangkan utang berbunga yang naik hingga 77% menyebabkan rasio penggunaan utang berbunga naik 57 basis poin menjadi 1,28 kali.
Energi mencatat kenaikan arus kas defisit senilai US$ 4,6 juta pada semester I 2012, dibanding periode yang sama tahun lalu yang mengalami defisit sebesar US$ 4 juta. Arus kas defisit yang lebih tinggi karena Energi Mega melakukan penambahan aset minyak bumi dan gas. Energi Mega beroperasi dengan modal kerja negatif.(*)
Baca selengkapnya di sini
INDUSTRY OUTLOOK: OIL AND NATURAL GAS
Oil
Menurut International Energy Agency, permintaan minyak dunia diperkirakan tumbuh 0,9% pada tahun ini dan tahun 2013. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,3% pada 2012 dan 3,6% ditahun 2013, total permintaan minyak dunia diperkirakan rata-rata 89,8 juta barel per hari pada tahun 2012 dan 90,6 juta barel per hari pada tahun 2013.
Permintaan minyak dunia pada kuartal II 2012 tumbuh 1,4% secara tahunan. Jepang merupakan negara yang permintaannya tumbuh paling tinggi sebesar 10% karena pembangkit listrik bersumber energi nuklir diganti dengan minyak.
Sebesar 60% dari konsumsi minyak dunia digunakan oleh sektor transportasi. Harga minyak yang tergolong tinggi membuat sektor di luar transportasi menggunakan sumber energi lain.
Minyak yang digunakan untuk transportasi lebih banyak diolah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Di Asia, salah satu negara pengguna BBM terbesar adalah Malaysia dan Indonesia. Permintaan BBM di kedua negara tersebut biasanya meningkat tajam selama hari raya idul fitri.
Di Indonesia, kebutuhan BBM per hari mencapai 1,3 juta kiloliter akibat populasi penduduk yang sangat besar dan pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi. Selama Agustus 2012, pertumbuhan kendaraan bermotor Indonesia mencapai 23,1%.
Di sisi lain realisasi produksi minyak di Indonesia pada kuartal II 2012 adalah 870 ribu barel per hari, turun dibanding kuartal sebelumnya. Penurunan produksi disebabkan oleh penghentian produksi (planned shutdown) yang dialami beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) dalam rangka instalasi baru dan perbaikan peralatan.
Ketidakmampuan produksi dalam negeri mengharuskan Indonesia impor minyak dari negara lain. Akibatnya, dalam laporan neraca pembayaran kuartal II 2012 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, terjadi defisit neraca perdagangan migas Indonesia sebesar US$ 0,06 miliar.
Natural Gas
Gas alam merupakan energi alternatif menarik untuk sumber energi baru karena lebih efisien dan beremisi rendah. Di pasar Amerika terjadi kelebihan gas alam sehingga harganya menjadi lebih rendah.
Pertumbuhan konsumsi gas alam merupakan yang tercepat dibanding sumber energi lain. Menurut International Energy Outlook, rata-rata pertumbuhan diperkirakan mencapai 1,6% per tahun selama tahun 2008-2035. Pertumbuhan konsumsi gas negara non OECD (OECD: Organization for Economic Cooperation and Development) lebih tinggi daripada negara OECD.
Gas akan terus menjadi bahan bakar yang banyak dipilih oleh negara-negara di dunia. Sebagian besar akan digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik dan sektor industri. Sebagian lagi gas dijadikan sebagai bahan bakar transportasi.
Di Indonesia, penggunaan energi gas alam mulai dilakukan melalui program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Hal ini merupakan cara pemerintah untuk mengantisipasi habisnya cadangan minyak.
Menurut World Energy Report 2011, Indonesia masih memiliki cadangan gas sebesar 3,1 triliun meter kubik. Cadangan tersebut dapat digunakan hingga 40 tahun. Sementara cadangan minyak tersisa 4,2 miliar barel yang ditaksir bisa habis dalam delapan tahun.
ENERGI MEGA PERSADA’S BUSINESS MODEL
Energi Mega Persada yang tergabung dalam Group Bakrie & Brother bergerak dalam bidang eksplorasi dan perdagangan minyak dan gas. Melalui entitas anak, Energi Mega melakukan kegiatan eksplorasi di Kepulauan Kangean provinsi Jawa Timur, Riau, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Laut Timor Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Barat.
Area produksi Energi Mega terbagi dalam 10 blok yang memiliki izin eksplorasi antara 20 tahun - 50 tahun. Luas wilayah eksplorasi minyak dan gas bumi lebih dari 28.000 km2. Total cadangan terbukti dari 10 blok tersebut per Juni 2012 adalah 1,9 miliar barrel.
Energi Mega Persada membukukan pendapatan sebesar US$ 465,1 juta hingga kuartal III-2015 atau lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$ 603 juta. Adapun laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan mencapai US$ 236 juta.
Direktur Utama Energi Mega Persada Imam Agustino mengatakan bahwa penjualan, EBITDA, dan produksi perseroan per kuartal tahun ini cukup konsisten. Namun, perseroan masih mencatat rugi bersih sebesar US$ 40 juta. “Alasan utama kerugian bersih adalah beban penyusutan yang cukup tinggi,” ungkap Imam dalam keterangan resmi.
Hingga kuartal III-2015, Energi Mega memproduksikan 11.138 barel minyak per hari dan 214 juta kubik gas kaki per hari. Catatan tersebut dibukukan dari cadangan terbukti dan terukur yang dimiliki sebesar 12,6 juta barel minyak dan 851 miliar kaki kubik gas, berdasarkan hak partisipasi. Saat ini, Energi Mega mengoperasikan 12 proyek minyak dan gas (migas) di Indonesia dan Mozambik, Afrika.
Baru-baru ini dikabarkan tiga investor potensial dari Eropa dan Afrika berminat mengakuisisi sebagian hak partisipasi Energi Mega di Blok Buzi, Mozambik. Energi Mega menawarkan hak partisipasi hingga 50%.
Saat ini, Energi Mega menguasai 75% hak partisipasi di Blok Buzi. Sedangkan sisanya 25% dimiliki oleh Pemerintah Mozambik dan Empressa Nacional de Hidrocarbonetos (ENH). Jika Energi Mega merealisasikan pelepasan hingga 50%, kepemilikan perseroan akan berkurang menjadi 25%. Per Juni 2015, akumulasi biaya eksplorasi Blok Buzi mencapai US$ 185,66 juta.
Produksi minyak dan gas selama Juni 2012 sebesar 14,96 juta barel, naik 325% dibanding periode Juni 2011. Produksi yang meningkat signifikan dikarenakan pada akhir Desember 2011 Energi Mega Persada mengakuisisi 100% Blok Offshore North West Java (ONWJ) dari CNOOC ONWJ Ltd, perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak mentah dan gas.
Per Juni 2012, Blok ONWJ memiliki cadangan terbukti sebesar 116,32 ribu barel. Blok ONWJ juga merupakan kontributor terbesar terhadap produksi Energi Mega Persada pada semester I 2012.
Pertumbuhan penjualan minyak semester I 2012 sebesar 116%, lebih rendah dari pertumbuhan penjualan gas yang mencapai 247%. Program konversi minyak ke gas yang dilakukan pemerintah berdampak pada kenaikan permintaan gas. Kontribusi penjualan minyak pada semester I 2012 terhadap pendapatan Energi kemudian turun menjadi 69,3%, dibanding posisi 2011.
Sejumlah 59% minyak dan gas yang diproduksi dijual ke pasar ekspor. Kontribusi penjualan ekspor semester I 2012 meningkat 10% dibanding semester I tahun lalu. Sejumlah 41% hasil produksi dijual kepada pasar domestik. Pelanggan domestik yang kontribusinya paling besar adalah PT Pertamina dan PT Perusahaan Listrik Negara. Penjualan kepada pelanggan domestik dilakukan dengan kontrak jual beli gas.
Berakhirnya kontrak bisa berdasarkan telah habisnya waktu kontrak atau kuota minyak dan gas yang disepakati, tergantung mana yang lebih dahulu terjadi.
FINANCIAL HIGHLIGHT
Pertumbuhan pendapatan Energi Mega Persada pada semester I 2012 lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada semester I 2011. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan harga jual minyak dan gas serta peningkatan rata-rata produksi harian, pasca akuisisi blok ONWJ dan blok Kangean. Pendapatan Energi Mega Persada pada semester I 2012 secara tahunan tumbuh 144,4% menjadi US$ 241,8 juta.
Saat laba lain alami kenaikan, laba bersih Energi Mega Persada semester I 2012 secara tahunan turun 20,9% menjadi US$ 1,2 juta, menunjukkan bahwa kontribusi anak usaha Energi yang besar terhadap kinerja konsolidasi Energi. Kenaikan beban keuangan 186% menjadi penyebab utama penurunan laba bersih. Dibandingkan semester I 2011, laba bersih Energi Mega Persada turun 20,9% menjadi US$ 1,2 juta.
Meskipun pendapatan naik signifikan, tingkat profitabilitas Energi Mega Persada rata-rata menurun. Perusahaan tidak mampu mentransmisikan kenaikan beban pokok ke dalam harga jual minyak dan gas, seperti kenaikan beban penunjang produksi yang naik hingga 374%. Sementara harga jual minyak dan gas masing-masing hanya naik 5% dan 17%.
Tingkat imbal hasil Energi Mega Persada yang tercermin dari Return on Equity (ROE) dan Return on Aset (ROA) tergolong rendah. Secara tahunan, tingkat imbal hasil untuk pemegang saham (ROE) dan tingkat imbal hasil aset (ROA) pada semester I 2012 masing-masing hanya sebesar 0,19% dan 0,06%.
ROA dan ROE yang sangat kecil dikarenakan terdapat 3 blok yang tidak beroperasi. Ketiganya memiliki cadangan yang cukup besar, totalnya sebanyak 1,6 miliar barel. Blok yang tidak beroperasi tersebut memperbesar beban penyusutan, namun belum mampu berkontribusi terhadap pendapatan.
Energi Mega juga memiliki tingkat likuiditas yang rendah dibanding emiten minyak dan gas lain. Rasio kas yang menunjukkan kemampuan kas memenuhi kewajiban lancar hanya sebesar 0,01 kali pada semester I 2012.
Sementara itu, rasio solvabilitas berada dalam posisi yang tinggi per Juni 2012. Rasio utang terhadap ekuitas tercatat berada di level 2,02 kali. Sedangkan utang berbunga yang naik hingga 77% menyebabkan rasio penggunaan utang berbunga naik 57 basis poin menjadi 1,28 kali.
Energi mencatat kenaikan arus kas defisit senilai US$ 4,6 juta pada semester I 2012, dibanding periode yang sama tahun lalu yang mengalami defisit sebesar US$ 4 juta. Arus kas defisit yang lebih tinggi karena Energi Mega melakukan penambahan aset minyak bumi dan gas. Energi Mega beroperasi dengan modal kerja negatif.(*)
Baca selengkapnya di sini
Minggu, 03 April 2016
Wow Omzet Penjualan Mobil Diestimasi Rp 121,5 Triliun
Nilai omzet penjualan mobil di Indonesia diestimasi mencapai Rp 121,5 triliun pada tahun lalu, menurut riset duniaindustri.com. Nilai omzet penjualan industri mobil di Indonesia dihitung berdasarkan total penjualan mobil pada 2015 dikalikan rata-rata harga jual mobil di negeri ini.
Menurut riset data duniaindustri.com, harga jual rata-rata mobil di Indonesia sepanjang tahun lalu diperkirakan Rp 120 juta/unit, dilihat dari harga terendah mobil yang dipasarkan di negeri ini. Sementara total penjualan mobil di Indonesia pada 2015 turun 16% menjadi 1.013 ribu unit dibandingkan realisasi 2014 sebesar 1.208 ribu unit, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Penurunan penjualan mobil itu disebabkan perlambatan ekonomi nasional, fluktuasi kurs rupiah, dan kejatuhan harga komoditas dunia yang menyebabkan pelemahan daya beli konsumen lokal.
Realisasi penjualan mobil pada 2015 masih di bawah tahun 2012 sebesar 1.116 ribu unit. “Merosotnya penjualan mobil nasional diakibatkan karena kondisi perekonomian nasional tidak stabil,” kata Marketing dan Cr Div Head PT Astra International, Daihatsu Sales Operation, Hendrayadi Lastio.
Meski menurun, produsen mobil mulai optimistis dengan perbaikan di 2016 seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) serta penurunan suku bunga. Namun, produsen masih berhati-hati dengan kondisi makro dan sentimen eksternal untuk menentukan target penjualan mobil pada 2016.
CEO PT Astra International Tbk (ASII) Prijono Sugiarto menjelaskan tahun 2016 sepertinya tidak akan jauh berbeda dari 2015.
Sementara Ketua Umum Gaikindo Sudirman MR menilai, pihaknya memperkirakan penjualan mobil pada 2016 sekitar 950 ribu unit sampai 1 juta unit, perkiraan sementara.
Toyota masih merajai pasar industri mobil di Indonesia dengan pangsa 32%, disusul Daihatsu 17%, Honda 15%, Suzuki 12%, Mitsubishi 11%, Nissan 3%, Isuzu 2%, dan produsen lain 8%. “Penurunan market membuat market share Daihatsu mencapai 16,6%, naik dari realisasi 2014 sebesar 15,3%. Awal tahun lalu, kami targetkan market share Daihatsu di pasar mobil nasional hanya 15%,” papar Hendrayadi.
Meski penjualan mobil menurun pada 2015, Indonesia masih dipandang pasar potensial oleh prinsipal mobil asing. Dengan PDB per kapita sekitar US$ 3.660, rasio kepemilikan mobil di Indonesia mencapai 43 unit per 1.000 penduduk.(*)
Sumber: di sini
Menurut riset data duniaindustri.com, harga jual rata-rata mobil di Indonesia sepanjang tahun lalu diperkirakan Rp 120 juta/unit, dilihat dari harga terendah mobil yang dipasarkan di negeri ini. Sementara total penjualan mobil di Indonesia pada 2015 turun 16% menjadi 1.013 ribu unit dibandingkan realisasi 2014 sebesar 1.208 ribu unit, menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Penurunan penjualan mobil itu disebabkan perlambatan ekonomi nasional, fluktuasi kurs rupiah, dan kejatuhan harga komoditas dunia yang menyebabkan pelemahan daya beli konsumen lokal.
Realisasi penjualan mobil pada 2015 masih di bawah tahun 2012 sebesar 1.116 ribu unit. “Merosotnya penjualan mobil nasional diakibatkan karena kondisi perekonomian nasional tidak stabil,” kata Marketing dan Cr Div Head PT Astra International, Daihatsu Sales Operation, Hendrayadi Lastio.
Meski menurun, produsen mobil mulai optimistis dengan perbaikan di 2016 seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) serta penurunan suku bunga. Namun, produsen masih berhati-hati dengan kondisi makro dan sentimen eksternal untuk menentukan target penjualan mobil pada 2016.
CEO PT Astra International Tbk (ASII) Prijono Sugiarto menjelaskan tahun 2016 sepertinya tidak akan jauh berbeda dari 2015.
Sementara Ketua Umum Gaikindo Sudirman MR menilai, pihaknya memperkirakan penjualan mobil pada 2016 sekitar 950 ribu unit sampai 1 juta unit, perkiraan sementara.
Toyota masih merajai pasar industri mobil di Indonesia dengan pangsa 32%, disusul Daihatsu 17%, Honda 15%, Suzuki 12%, Mitsubishi 11%, Nissan 3%, Isuzu 2%, dan produsen lain 8%. “Penurunan market membuat market share Daihatsu mencapai 16,6%, naik dari realisasi 2014 sebesar 15,3%. Awal tahun lalu, kami targetkan market share Daihatsu di pasar mobil nasional hanya 15%,” papar Hendrayadi.
Meski penjualan mobil menurun pada 2015, Indonesia masih dipandang pasar potensial oleh prinsipal mobil asing. Dengan PDB per kapita sekitar US$ 3.660, rasio kepemilikan mobil di Indonesia mencapai 43 unit per 1.000 penduduk.(*)
Sumber: di sini
Inilah Tren Akuisisi di Industri Otomotif
Tren akuisisi di industri otomotif Indonesia dalam lima tahun terakhir cukup tinggi untuk menopang pertumbuhan kinerja keuangan dan pangsa pasar. Duniaindustri.com mencatat sedikitnya 14 aksi akuisisi terjadi di sektor industri ini.
Aksi akuisisi terbaru dilakukan oleh PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) yang membeli 25,8% saham PT SKF Indonesia, produsen bearing, dari Aktieboleget SKF, perusahaan asal Swedia, senilai Rp 67,1 miliar. Dengan pembelian saham itu, kepemilikan saham Astra Otoparts di SKF Indonesia bertambah menjadi 40% dari sebelumnya 14,2%.
“Perseroan telah menandatangani perjanjian jual beli kepemilikan 25,8% saham, sehingga kepemilikan saham perseroan di SKF Indonesia akan meningkat menjadi 40% dari kepemilikan saat ini 14,2%. Sedangkan kepemilikan SKF Swedia turun menjadi 60% dari sebelumnya 85,8%,” kata Hugeng Gozali, Direktur Astra Otoparts dalam keterangan tertulis.
SKF Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Astra Otoparts dan Aktieboleget SKF. Pembelian saham tersebut antara lain bertujuan untuk meningkatkan kerjasama bisnis perseroan dengan SKF terkait pengembangan bisnis bearing di pasar domestik dan internasional. “Selain itu, untuk peningkatan produktivitas operasional dan pemasaran SKF Indonesia,” ujar Hugeng dalam keterangan tertulis.
Sebelum mengakuisisi SKF Indonesia, Astra Otoparts juga mengakuisisi 51% saham PT Pakoakuina dengan membeli sebagian saham milik pemegang saham minoritas dan mengambil saham baru yang dikeluarkan oleh PT Pakoakuina senilai Rp700 miliar.
Bersama Grup Pakoakuina, Astra Otoparts merambah bisnis komponen otomotif baru yaitu produk wheel rim untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Produksi dilakukan di pabrik Sunter seluas 3,8 hektare dan pabrik Karawang seluas 14,5 hektare dengan kapasitas produksi 7,4 juta unit per tahun. Pakoakuina merupakan anak perusahaan Grup Triputra yang bergerak di usaha komponen otomotif wheel rim baik untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Sedangkan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mengakuisisi mayoritas saham dua perusahaan komponen otomotif, yaitu 99,1% saham PT Prapat Tunggal Cipta senilai Rp 50,6 miliar dan 98,5% saham PT Selamat Sempurna Perkasa senilai Rp 44,9 miliar. “Sumber pendanaan akuisisi sebagian berasal dari cash flow dan pinjaman bank,” kata Ang Andry Pribadi, Corporate Secretary Selamat Sampurna.
Dia menjelaskan akuisisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan integrasi vertikal dalam bisnis perusahaan (vertical integration of business). Prapat Tunggal Cipta merupakan distributor tunggal perseroan yang bergerak dalam lingkup kegiatan utama perdagangan, pembangunan, perindustrian, pertambangan, transportasi, dan perbengkelan.
PT Indospring Tbk (INDS) juga melakukan akuisisi 99% saham PT Sinar Indra Nusa, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi spare parts otomotif khususnya pegas untuk pasar after market. Dalam transaksi jual beli saham tersebut, perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 3,96 miliar atas pembelian 99% saham Sinar Indra Nusa.(*)
Baca selengkapnya di sini
Aksi akuisisi terbaru dilakukan oleh PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) yang membeli 25,8% saham PT SKF Indonesia, produsen bearing, dari Aktieboleget SKF, perusahaan asal Swedia, senilai Rp 67,1 miliar. Dengan pembelian saham itu, kepemilikan saham Astra Otoparts di SKF Indonesia bertambah menjadi 40% dari sebelumnya 14,2%.
“Perseroan telah menandatangani perjanjian jual beli kepemilikan 25,8% saham, sehingga kepemilikan saham perseroan di SKF Indonesia akan meningkat menjadi 40% dari kepemilikan saat ini 14,2%. Sedangkan kepemilikan SKF Swedia turun menjadi 60% dari sebelumnya 85,8%,” kata Hugeng Gozali, Direktur Astra Otoparts dalam keterangan tertulis.
SKF Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Astra Otoparts dan Aktieboleget SKF. Pembelian saham tersebut antara lain bertujuan untuk meningkatkan kerjasama bisnis perseroan dengan SKF terkait pengembangan bisnis bearing di pasar domestik dan internasional. “Selain itu, untuk peningkatan produktivitas operasional dan pemasaran SKF Indonesia,” ujar Hugeng dalam keterangan tertulis.
Sebelum mengakuisisi SKF Indonesia, Astra Otoparts juga mengakuisisi 51% saham PT Pakoakuina dengan membeli sebagian saham milik pemegang saham minoritas dan mengambil saham baru yang dikeluarkan oleh PT Pakoakuina senilai Rp700 miliar.
Bersama Grup Pakoakuina, Astra Otoparts merambah bisnis komponen otomotif baru yaitu produk wheel rim untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Produksi dilakukan di pabrik Sunter seluas 3,8 hektare dan pabrik Karawang seluas 14,5 hektare dengan kapasitas produksi 7,4 juta unit per tahun. Pakoakuina merupakan anak perusahaan Grup Triputra yang bergerak di usaha komponen otomotif wheel rim baik untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Sedangkan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mengakuisisi mayoritas saham dua perusahaan komponen otomotif, yaitu 99,1% saham PT Prapat Tunggal Cipta senilai Rp 50,6 miliar dan 98,5% saham PT Selamat Sempurna Perkasa senilai Rp 44,9 miliar. “Sumber pendanaan akuisisi sebagian berasal dari cash flow dan pinjaman bank,” kata Ang Andry Pribadi, Corporate Secretary Selamat Sampurna.
Dia menjelaskan akuisisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan integrasi vertikal dalam bisnis perusahaan (vertical integration of business). Prapat Tunggal Cipta merupakan distributor tunggal perseroan yang bergerak dalam lingkup kegiatan utama perdagangan, pembangunan, perindustrian, pertambangan, transportasi, dan perbengkelan.
PT Indospring Tbk (INDS) juga melakukan akuisisi 99% saham PT Sinar Indra Nusa, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi spare parts otomotif khususnya pegas untuk pasar after market. Dalam transaksi jual beli saham tersebut, perseroan mengalokasikan investasi sebesar Rp 3,96 miliar atas pembelian 99% saham Sinar Indra Nusa.(*)
Baca selengkapnya di sini
Inilah Jumlah Populasi Sepeda Motor di Indonesia
Jumlah populasi sepeda motor di Indonesia hingga akhir 2015 diperkirakan mencapai 93,25 juta unit, menurut riset dan kompilasi data duniaindustri.com. Tingginya jumlah populasi sepeda motor tersebut sejalan dengan tingkat rasio kepemilikan yang mencapai 140 unit per 1.000 penduduk.
Jumlah tersebut merupakan hasil penambahan penjualan tahun ini yang diperkirakan sekitar 6,5 juta unit hingga 7 juta unit dengan total populasi menurut data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berdasarkan data terbaru, Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia mencatat, ada 86,253 juta unit sepeda motor di seluruh Indonesia pada April 2014, naik 11% dari tahun sebelumnya 77,755 juta unit.
Sepanjang 10 bulan (Januari-Oktober) 2015, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor di Indonesia mencapai 5,42 juta unit, turun -19,4% dibanding periode yang sama tahun lalu 6,72 juta unit. Merek Honda besutan PT Astra Honda Motor masih merajai industri sepeda motor di Indonesia, dengan pangsa pasar 68% hingga kuartal III 2015. Disusul, Yamaha dengan pangsa pasar 28%, Suzuki 2%, Kawasaki 2%, dan sisanya produsen lain.
Pada Oktober 2015, penjualan merek Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS turun signifikan secara tahunan, dengan rata-rata penurunan di atas 30%, akibat pelemahan daya beli konsumen lokal. Penurunan tersebut melampaui pelemahan secara industri, mengingat penjualan secara nasional hanya turun 10,8% pada Oktober 2015 secara tahunan.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang diterima duniaindustri.com, penjualan Yamaha–pemegang pangsa pasar terbesar kedua seteah Honda–turun -31% menjadi 131.463 unit pada Oktober 2015 dibanding bulan yang sama tahun au 190.618 unit. Secara bulanan, penjualan Yamaha juga turun -16,8% menjadi 131.463 unit pada Oktober 2015 dibanding September tahun ini 158.101 unit.
Penjualan motor Suzuki anjlok lebih dalam, turun -57,9% pada Oktober 2015 menjadi 7.242 unit dibanding bulan yang sama tahun lalu 17.195 unit. Secara bulanan, penjualan Suzuki turun -20% menjadi 7.242 unit pada Oktober 2015 dibanding September tahun ini 9.050 unit.
Demikian juga penjualan motor Kawasaki turun -30,4% secara tahunan (year on year) dan -1,4% secara bulanan menjadi 10.105 unit pada Oktober 2015 dibanding 14.514 unit pada Oktober 2014 dan 10.251 unit pada September 2015. Penjualan Kawasaki pada Oktober 2015 melampaui Suzuki, sehingga bertengger di posisi ketiga.
Penjualan TVS tercatat turun terparah, -84,3% secara tahunan dan -47,1% secara bulanan, pada Oktober 2015 menjadi 128 unit dibanding 817 pada Oktober 2014 dan 242 unit pada September 2015.
Sedangkan market leader Honda justru mencatatkan pertumbuhan positif, naik 0,3% secara tahunan dan 6,7% secara bulanan, menjadi 453.944 unit pada Oktober 2015 dibanding 452.508 unit pada Oktober 2014 dan 425.458 unit pada September 2015.
Pemain Baru
Meski penjualan otomotif (mobil dan motor) terkoreksi cukup dalam, pelaku industri otomotif masih tetap optimis kondisi akan berubah seiring peningkatan daya beli masyarakat ke depan. Untuk itu, Desainbagus Group melalui lini usaha autokilap.com (salon mobil panggilan) merilis Vitrooz, merek coating suite untuk bodi, kaca, ban, velg dan interior mobil.
Vitrooz mencakup crystal coating untuk paint (body mobil) dengan daya anti gores 9H. Lapisan layer nano coating di atas crystal coating berguna untuk mempertahankan fungsinya seperti melindungi dari scratch, anti oksidasi, anti UV, anti api, hujan, oli, lebih mudah dibersihkan dan mempertahankan kilap mobil Anda sampai tahunan.
Dengan harga yang kompetitif, Desainbagus Group meyakini merek baru ini dapat diterima pasar dan menjadi salah satu produk alternatif perawatan mobil dan motor.(*)
Sumber: klik di sini
Jumlah tersebut merupakan hasil penambahan penjualan tahun ini yang diperkirakan sekitar 6,5 juta unit hingga 7 juta unit dengan total populasi menurut data Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Berdasarkan data terbaru, Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia mencatat, ada 86,253 juta unit sepeda motor di seluruh Indonesia pada April 2014, naik 11% dari tahun sebelumnya 77,755 juta unit.
Sepanjang 10 bulan (Januari-Oktober) 2015, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor di Indonesia mencapai 5,42 juta unit, turun -19,4% dibanding periode yang sama tahun lalu 6,72 juta unit. Merek Honda besutan PT Astra Honda Motor masih merajai industri sepeda motor di Indonesia, dengan pangsa pasar 68% hingga kuartal III 2015. Disusul, Yamaha dengan pangsa pasar 28%, Suzuki 2%, Kawasaki 2%, dan sisanya produsen lain.
Pada Oktober 2015, penjualan merek Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan TVS turun signifikan secara tahunan, dengan rata-rata penurunan di atas 30%, akibat pelemahan daya beli konsumen lokal. Penurunan tersebut melampaui pelemahan secara industri, mengingat penjualan secara nasional hanya turun 10,8% pada Oktober 2015 secara tahunan.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang diterima duniaindustri.com, penjualan Yamaha–pemegang pangsa pasar terbesar kedua seteah Honda–turun -31% menjadi 131.463 unit pada Oktober 2015 dibanding bulan yang sama tahun au 190.618 unit. Secara bulanan, penjualan Yamaha juga turun -16,8% menjadi 131.463 unit pada Oktober 2015 dibanding September tahun ini 158.101 unit.
Penjualan motor Suzuki anjlok lebih dalam, turun -57,9% pada Oktober 2015 menjadi 7.242 unit dibanding bulan yang sama tahun lalu 17.195 unit. Secara bulanan, penjualan Suzuki turun -20% menjadi 7.242 unit pada Oktober 2015 dibanding September tahun ini 9.050 unit.
Demikian juga penjualan motor Kawasaki turun -30,4% secara tahunan (year on year) dan -1,4% secara bulanan menjadi 10.105 unit pada Oktober 2015 dibanding 14.514 unit pada Oktober 2014 dan 10.251 unit pada September 2015. Penjualan Kawasaki pada Oktober 2015 melampaui Suzuki, sehingga bertengger di posisi ketiga.
Penjualan TVS tercatat turun terparah, -84,3% secara tahunan dan -47,1% secara bulanan, pada Oktober 2015 menjadi 128 unit dibanding 817 pada Oktober 2014 dan 242 unit pada September 2015.
Sedangkan market leader Honda justru mencatatkan pertumbuhan positif, naik 0,3% secara tahunan dan 6,7% secara bulanan, menjadi 453.944 unit pada Oktober 2015 dibanding 452.508 unit pada Oktober 2014 dan 425.458 unit pada September 2015.
Pemain Baru
Meski penjualan otomotif (mobil dan motor) terkoreksi cukup dalam, pelaku industri otomotif masih tetap optimis kondisi akan berubah seiring peningkatan daya beli masyarakat ke depan. Untuk itu, Desainbagus Group melalui lini usaha autokilap.com (salon mobil panggilan) merilis Vitrooz, merek coating suite untuk bodi, kaca, ban, velg dan interior mobil.
Vitrooz mencakup crystal coating untuk paint (body mobil) dengan daya anti gores 9H. Lapisan layer nano coating di atas crystal coating berguna untuk mempertahankan fungsinya seperti melindungi dari scratch, anti oksidasi, anti UV, anti api, hujan, oli, lebih mudah dibersihkan dan mempertahankan kilap mobil Anda sampai tahunan.
Dengan harga yang kompetitif, Desainbagus Group meyakini merek baru ini dapat diterima pasar dan menjadi salah satu produk alternatif perawatan mobil dan motor.(*)
Sumber: klik di sini
Jumat, 01 April 2016
Tren Perusahaan Investasi Tumbuh Pesat di Indonesia
Indonesia memang menjadi surga bagi investasi. Lihat saja, perusahaan-perusahaan investasi di negeri ini tumbuh pesat dan meraup profit jika dikelola dengan benar. Ambil contoh, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (kode saham: SRTG), emiten perusahaan investasi ternama di Indonesia, membukukan kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sebesar 48% menjadi Rp 923 miliar. Kenaikan laba tersebut terutama didorong oleh realisasi dari valuasi investasi sebesar Rp 1,1 triliun dari PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dimana di tahun 2015 telah menjadi perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Presiden Direktur Saratoga, Michael WP Soeryadjaya mengatakan kondisi makro ekonomi mempengaruhi bisnis perusahaan investasi, namun dengan strategi diversifikasi yang tepat dan manajemen yang teruji dan solid dengan didukung oleh fundamental bisnis dari perusahaan investasi yang kuat, Saratoga mampu mengatasi hambatan dan mengidentifikasi peluang investasi yang menarik.
Saratoga menerima lebih dari 100 peluang investasi sepanjang 2015. “Keputusan investasi yang dilakukan selama 2015 telah melalui proses yang detail dan sangat selektif. Kami optimis investasi tersebut akan semakin memperkuat portofolio Saratoga, menciptakan sinergi dan mampu menjaga bisnis perusahaan tumbuh secara berkelanjutan,” jelas Michael dalam keterangan tertulis.
Michael menambahkan Saratoga agresif dalam melihat peluang investasi baru, di samping menjaga tingkat disiplin yang ketat yang akan mengarahkan Perseroan menjadi lebih baik. Pada 2015 terdapat lebih dari 100 proposal penawaran dari berbagi peluang investasi yang masuk dimana sebanyak 39 di antaranya sampai tahap due dilligence dan menetapkan 3 investasi baru senilai Rp 300 miliar.
Saratoga mengakuisisi saham PT Agra Energi Indonesia, sebuah Perusahaan yang melakukan tahap awal eksplorasi minyak & gas yang berfokus pada eksplorasi aset dan laut dalam di Indonesia Timur.
Melalui akuisisi terhadap saham PT Batu Hitam Perkasa, Saratoga mempunyai kepemilikan di Paiton Energy, salah satu IPP terbesar di Indonesia. Perusahaan ini mengoperasikan dua unit pembangkit listrik: unit 7/8 dan unit 3 dengan kapasitas total pembangkit 2.035MW dan merupakan bagian dari Paiton Power Station yang melayani jaringan listrik Jawa-Bali.
Aktivitas investasi ketiga dilakukan pada Heyokha Investment, sebuah perusahaan investasi yang memungkinkan Saratoga untuk memperluas kemampuan dalam berinvestasi di ekuitas publik dan swasta.
Untuk mendukung kegiatan investasi, Perseroan berhasil menerbitkan Exchangeable Bond senilai US$ 100 juta dengan skema PUT 3 (Penawaran Umum Terbatas) tenor 5 tahun dan kurs tetap (fixed rate) sebesar 3% per tahun (dengan yield to maturity sebesar 3.75%). Transaksi ini menandai pencapaian penting sebagai Perusahaan pertama di Indonesia yang masuk ke dalam pasar obligasi yang terkait surat utang berbasis ekuitas (equity-linked) sejak 2010.
Exchangeable Bond (EB) tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan Saratoga untuk menggali sumber-sumber pendanaan yang bervariasi sambil mengelola efektivitas biaya dan utang, namun juga sebagai inisiatif Saratoga dalam membuktikan bahwa model bisnisnya mampu memonetisasi dan membiayai investasinya. Ini menjadi kunci dari model operasi investasi aktif Saratoga.
Direktur Keuangan Saratoga Jerry Ngo menambahkan, sumber pendapatan selama 2015 juga berasal dari pendapatan dividen empat perusahaan investasi yakni Adaro, MPM, TWU, dan NRC sebesar Rp 191 miliar.(*)
Baca selengkapnya di sini
Presiden Direktur Saratoga, Michael WP Soeryadjaya mengatakan kondisi makro ekonomi mempengaruhi bisnis perusahaan investasi, namun dengan strategi diversifikasi yang tepat dan manajemen yang teruji dan solid dengan didukung oleh fundamental bisnis dari perusahaan investasi yang kuat, Saratoga mampu mengatasi hambatan dan mengidentifikasi peluang investasi yang menarik.
Saratoga menerima lebih dari 100 peluang investasi sepanjang 2015. “Keputusan investasi yang dilakukan selama 2015 telah melalui proses yang detail dan sangat selektif. Kami optimis investasi tersebut akan semakin memperkuat portofolio Saratoga, menciptakan sinergi dan mampu menjaga bisnis perusahaan tumbuh secara berkelanjutan,” jelas Michael dalam keterangan tertulis.
Michael menambahkan Saratoga agresif dalam melihat peluang investasi baru, di samping menjaga tingkat disiplin yang ketat yang akan mengarahkan Perseroan menjadi lebih baik. Pada 2015 terdapat lebih dari 100 proposal penawaran dari berbagi peluang investasi yang masuk dimana sebanyak 39 di antaranya sampai tahap due dilligence dan menetapkan 3 investasi baru senilai Rp 300 miliar.
Saratoga mengakuisisi saham PT Agra Energi Indonesia, sebuah Perusahaan yang melakukan tahap awal eksplorasi minyak & gas yang berfokus pada eksplorasi aset dan laut dalam di Indonesia Timur.
Melalui akuisisi terhadap saham PT Batu Hitam Perkasa, Saratoga mempunyai kepemilikan di Paiton Energy, salah satu IPP terbesar di Indonesia. Perusahaan ini mengoperasikan dua unit pembangkit listrik: unit 7/8 dan unit 3 dengan kapasitas total pembangkit 2.035MW dan merupakan bagian dari Paiton Power Station yang melayani jaringan listrik Jawa-Bali.
Aktivitas investasi ketiga dilakukan pada Heyokha Investment, sebuah perusahaan investasi yang memungkinkan Saratoga untuk memperluas kemampuan dalam berinvestasi di ekuitas publik dan swasta.
Untuk mendukung kegiatan investasi, Perseroan berhasil menerbitkan Exchangeable Bond senilai US$ 100 juta dengan skema PUT 3 (Penawaran Umum Terbatas) tenor 5 tahun dan kurs tetap (fixed rate) sebesar 3% per tahun (dengan yield to maturity sebesar 3.75%). Transaksi ini menandai pencapaian penting sebagai Perusahaan pertama di Indonesia yang masuk ke dalam pasar obligasi yang terkait surat utang berbasis ekuitas (equity-linked) sejak 2010.
Exchangeable Bond (EB) tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan Saratoga untuk menggali sumber-sumber pendanaan yang bervariasi sambil mengelola efektivitas biaya dan utang, namun juga sebagai inisiatif Saratoga dalam membuktikan bahwa model bisnisnya mampu memonetisasi dan membiayai investasinya. Ini menjadi kunci dari model operasi investasi aktif Saratoga.
Direktur Keuangan Saratoga Jerry Ngo menambahkan, sumber pendapatan selama 2015 juga berasal dari pendapatan dividen empat perusahaan investasi yakni Adaro, MPM, TWU, dan NRC sebesar Rp 191 miliar.(*)
Baca selengkapnya di sini
Langganan:
Postingan (Atom)












