Industri perkebunan kelapa sawit Indonesia memiliki peranan penting
di dunia mengingat negeri ini merupakan produsen dan eksportir minyak
sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Untuk mengetahui
seluk-beluk industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia,
duniaindustri.com menghimpun sedikitnya 16 riset dan data industri perkebunan kelapa sawit.
Mari simak ulasannya di bawah ini:
1) Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit (Tren Persaingan Market Leader)
2) Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017
3) Data Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
4) Outlook Industri CPO 2016
5) Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015
6) Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
7) Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
8) Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia
9) Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
10) Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
11) Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
12) Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
13) Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
14) Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
15) Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
16) Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
Berikut ini uraian singkat dari masing-masing data di atas:
1) Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit 2005-2015 ini
menampilkan riset eksklusif, data, analisis, dan outlook industri
minyak goreng sawit di Indonesia, dari mulai tren produksi, tren
investasi, peningkatan kapasitas produksi, para pemain besar, persebaran
lokasi pabrik, tren market leader (pemimpin pasar berdasarkan merek dan
berdasarkan kapasitas produksi), serta berbagai informasi lain seperti
regulasi dan target 2030.
Di halaman 7 dipaparkan dalam
chart tentang peta penyebaran pabrik minyak goreng di Indonesia.
Sumatera Utara menjadi daerah dengan populasi pabrik minyak goreng
terbesar di Indonesia, mencakup 30,46% dari total jumlah pabrik minyak
goreng di negeri ini. Disusul Riau dengan 24,83%.
Pada
halaman 8, dipaparkan tren produksi minyak sawit goreng yang tumbuh 80%
dari 2011 ke 2014. Data tersebut dilengkapi dengan tren investasi, tren
pertumbuhan produksi, konsumsi, serta ekspor minyak goreng sawit
periode 2011-2017 (estimasi) pada halaman (9-10).
Duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait
pangsa pasar produsen minyak goreng sawit berdasarkan kapasitas
terpasang untuk periode 2013 dan 2015, lengkap dengan masing-masing
kapasitas 5 pemain terbesar (halaman 11-13). Sementara pada halaman
14-15, duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait tren perubahan
pangsa pasar merek minyak goreng periode 2005-2015.(*)
2) Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017 ini
menampilkan data, analisis, dan outlook industri oleokimia (fatty acid,
fatty alcohol, minyak goreng) serta biodiesel di Indonesia, dari mulai
tren produksi, tren investasi, peningkatan kapasitas produksi, para
pemain besar, persebaran lokasi pabrik, tren ekspor, impor, serapan
tenaga kerja, serta berbagai informasi lain seperti regulasi dan target
2030.
Riset ini dimulai dengan tren kenaikan kapasitas
produksi yang signifikan pada empat industri, yakni refinery
(fraksionasi) atau minyak goreng, fatty acid, fatty alcohol, dan methyl
ester (biodiesel). (halaman 2)
Pada
2014 dan 2015 terjadi peningkatan investasi yang signifikan di industri
oleokimia dan biodiesel hingga Rp 24 triliun yang mendorong kapasitas
produksi nasional tumbuh rata-rata 55% (minyak goreng 80%, fatty acid
47%, fatty alcohol 85%, dan methyl ester atau biodiesel 66%).
Duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset tren produksi stearic
acid, glycerine, fatty acid, dan fatty alcohol dari 1995-2016. (halaman
3)
Data tersebut kemudian dianalisis lebih mendalam
pada halaman 4. Demikian juga pada halaman 5 dibuat riset khusus terkait
tren produksi biodiesel di Indonesia periode 2011-2016.
Untuk memperkuat riset tersebut, duniaindustri.com menampilkan
persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di Indonesia, terutama
untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk akhir. Fokus
persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera Utara. Total
kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599 juta ton per
tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas dengan
kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per tahun, PT
Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan peta
lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.(*)
3) Data Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016 ini
menampilkan persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di
Indonesia, terutama untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk
akhir. Fokus persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera
Utara. Total kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599
juta ton per tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas
dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per
tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan
peta lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.
Data ini
juga menjabarkan peta persebaran industri biodiesel Indonesia periode
2014-2016. Pada 2014, total kapasitas industri biodiesel di Indonesia
mencapai 4,99 juta ton atau setara 5,67 juta kiloliter, dengan perincian
Riau dan Kepri 2,61 juta ton, Jawa Bagian Timur 1,57 juta ton, Jawa
Bagian Barat 364 ribu ton, dan daerah lain-lain 233 ribu ton. Terdapat
17 pemain skala besar di antaranya PT Wilmar Bioenergy Indonesia di Riau
dengan kapasitas 1,3 juta ton per tahun, PT Musim Mas di Medan dengan
kapasitas 235 ribu ton per tahun, PT Eterindo Whanatama Gresik dengan
kapasitas 80 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik
(1,3 juta ton per tahun), PT Sumi Asih Oleochem di Bekasi (100 ribu ton
per tahun), PT Darmex Biofuels di Cikarang (150 ribu ton per tahun), dan
lainnya, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik.
Pada
2015, terjadi penambahan kapasitas biodiesel sebesar 2,32 juta ton per
tahun sehingga total kapasitas nasional naik menjadi 7,32 juta ton.
Terdapat 11 pemain skala besar yang melakukan penambahan kapasitas pada
2015 antara lain PT Oleokimia Sejahtera Mas di Dumai dengan kapasitas
500 ribu ton per tahun, PT Darmex Biofuels di Dumai sebesar 410.500 ribu
ton per tahun, PT Indo Biofuels Energy di Kalbar (100 ribu ton/tahun),
PT Permata Hijau Palm Oleo di Medan (140 ribu ton/tahun), PT Nusa Energy
di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Bits Energy di Kaltim (100 ribu
ton/tahun), PT Multi Biofuel Indonesia di Sulut (160 ribu ton/tahun).
(*)
4) Outlook Industri CPO 2016 menampilkan
proyeksi produksi CPO Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia pada
2016. Produksi CPO Indonesia pada 2016 diestimasi mencapai 35 juta ton,
tumbuh 9,3% dibanding proyeksi tahun ini 32 juta ton, menurut data
United State Department of Agriculture (USDA). Kenaikan tersebut akan
mendorong peningkatan produksi CPO global sebesar 5,96% menjadi 65,1
juta ton pada 2016 dibanding proyeksi tahun ini 61,44 juta ton.
Dengan
demikian, produksi CPO Indonesia tahun depan diperkirakan menyumbang
53,7% dari total produksi CPO global. Sementara Malaysia, produsen CPO
terbesar kedua setelah Indonesia, diperkirakan memproduksi CPO sebanyak
21 juta ton pada 2016, dengan kontribusi 32,25% terhadap pasar global.
Selain
itu, ditampilkan data proyeksi harga CPO dunia pada 2016, pengaruh
El-Nino dan sentimen program biodiesel. Serta, dampaknya terhadap
perkembangan ekspor dan tren permintaan global.
Juga
ditampilkan cakupan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dengan
komposisi provinsi terbesar berdasarkan kebun sawit. Luas lahan kebun
kelapa sawit di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 11,4 juta
hektare, dengan komposisi 5,9 juta hektare lahan swasta, 4,7 juta
hektare lahan rakyat, dan 0,8 juta hektare lahan BUMN.
Di
sisi lain, ditampilkan juga tren investasi di sektor hulu dan sektor
hilir industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam lima tahun
terakhir, insentif investasi yang disiapkan pemerintah, serta proyeksi
tren ke depan. Tidak ketinggalan, dipaparkan kawasan industri khusus
industri kelapa sawit yang sedang dibangun pemerintah, target 2030, dan
tren mata rantai industri sawit modern.
Data sebanyak
21 halaman ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di
Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait, serta asosiasi industri,
diolah duniaindustri.com.(*)
5) Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015 ini
menampilkan realisasi investasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia
2010-2015, baik PMA maupun PMDN, tren yang terjadi, serta dampaknya
terhadap produksi CPO nasional. Selain itu, dijabarkan insentif dan
posisi investasi perkebunan sawit dalam prioritas pemerintah.
Rata-rata
pertumbuhan realisasi PMA industri minyak sawit dalam 5 (lima) tahun
terakhir sebesar 140%, sedangkan perkebunan kelapa sawit sebesar 15%.
Rata-rata pertumbuhan realisasi PMDN industri minyak sawit dalam 5
(lima) tahun terakhir sebesar 145%, sedangkan perkebunan kelapa sawit
sebesar 1,3%.
Untuk menopang pertumbuhan investasi,
pemerintah akan membangun 8 kawasan ekonomi khusus di industri
pengolahan kelapa sawit. Delapan KEK itu tersebut di Maloy Batuta
(557,34 hektare), Palu, Bitung, Morotai, Sei Mangkei, Tanjung Lesung,
dan Mandalika. Serta diulas bagaimana upaya pemerintah untuk
menyederhanakan perizinan di sektor perkebunan kelapa sawit.
Data berjumlah
12 halaman ini berguna bagi investor, pemodal kelapa sawit, marketing,
peneliti dan periset, akademisi, praktisi, dan regulator. Data ini
berasal dari asosiasi industri, BKPM, BPS, dan diolah duniaindustri.com.
(*)
6) Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015 ini
menampilkan luas lahan perkebunan sawit tahun 2014 sebesar 10,9 juta
hektare. Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan merupakan provinsi dengan
lahan sawit terluas. Sekitar 51,6% dari 10,9 juta hektar lahan sawit di
Indonesia dimiliki oleh perusahaan perkebunan swasta (besar), dan 41.5%
dimiliki oleh perkebunan rakyat.
Produktivitas CPO
perkebunan rakyat dan BUMN menunjukkan tren penurunan dari tahun
2009-2014, sementara perusahaan perkebunan swasta justru meningkat.
Produktivitas CPO perkebunan rakyat juga 20% lebih rendah dibandingkan
perusahaan swasta.
Produktivitas CPO rakyat pada tahun
2014 hanya sebesar 2,3 ton/ha, atau 20% di bawah produktivitas CPO
perusahaan perkebunan swasta. Dengan asumsi harga CPO sebesar US$
550/ton, peningkatan produktivitas CPO rakyat dari 2,3 ton/ha menjadi
2,9 ton/ha akan memberikan tambahan kesejahteraan sebesar US$ 1 milyar
kepada seluruh petani.
Selain itu, data ini menampilkan
kondisi perekonomian Indonesia 2015, mata utang rupiah yang melemah
terhadap dolar AS, posisi utang luar negeri Indonesia, perbedaan krisis
ekonomi 1997 dengan kondisi saat ini. Data ini diperoleh dari sumber
terkemuka, regulator, BPS, diolah duniaindustri.com. (*)
7) Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi ini
menampilkan luas area kebun sawit di Indonesia 2011-2015, produksi CPO
nasional 2011-2015, serta produktivitas kebun rakyat. Selain itu,
ditampilkan juga pohon industri pengolahan CPO, baik yang sudah
diproduksi di Indonesia maupun belum diproduksi. Juga dipaparkan
peningkatan nilai tambah dari CPO, CPKO, minyak goreng, margarine,
biodiesel FAME, confectionaries, fatty acid, fatty alcohol, surfaktan,
kosmetik. Serta dijelaskan skema pemberian insentif investasi di sektor
ini, seperti tax allowance, tax holiday, pembebasan bea masuk mesin,
restrukturisasi bea keluar, dan lainnya. Dampak dari program hilirisasi;
ragam Produk Hilir pada Tahun 2011 hanya 54 Jenis, berkembang menjadi
149 jenis pada awal tahun 2014 dan diperkirakan meningkat menjadi 169
jenis pada Tahun 2015. Juga ditampilkan persebaran investasi di industri
oleokimia (masing-masing perusahaan dan kapasitasnya), industri
biodiesel, serta proyeksi tambahan kapasitas biodiesel hingga 2015.
Sebaran
investasi industri oleokimia antara lain PT Musim Mas, PT Soci Mas, PT
Domba Mas, PT Flora Sawita, PT Sumi Asih, PT Ecogreen, PT Wilmar Nabati.
Sementara sebaran investasi industri biodiesel antara lain PT Darmex
Biofuels, PT Nusa Energy, PT Indo Biofuels Energy, PT Bits Energy, PT
Multi Biofuels, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Oleokimia Sejahtera Mas,
dan PT Wilmar Bioenergy Indonesia. Data berjumlah 18 halaman ini berasal
dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia,
Asosiasi Produsen Oleokimia, Gapki serta sejumlah produsen CPO terbesar
di Indonesia. (*)
8) Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia ini
menampilkan sejak 2012 Indonesia menjadi produsen minyak sawit mentah
(crude palm oil/CPO) terbesar dunia dan ditargetkan pada 2030 Indonesia
menjadi produsen terbesar dunia untuk oleofood, bio-oleokimia,
bio-energi, bio-lubricant, bio-surfactant, bio-detergent. Juga,
ditampilkan tren data produksi CPO Indonesia sejak 1980-2012/2013,
dengan dukungan jumlah perusahaan perkebunan sawit mencapai 1.320
perusahaan, 74 industri minyak goreng, 46 industri margarin shortening,
44 industri detergen dan sabun, 37 industri oleokimia, dan 20 industri
biodiesel. Dengan devisa ekspor yang besar mencapai US$ 21,3 miliar pada
2012, penerimaan negara dari bea keluar juga terus meningkat menjadi Rp
79,4 triliun di 2012. Pangsa pasar CPO Indonesia di dunia juga terus
naik dari 22% pada 1990, menjadi 30% pada 2000, dan 48% pada 2010.
Selain itu, dipaparkan data perbandingan produktivitas minyak nabati di
dunia dengan keunggulan CPO sebesar 4,27 ton/hektare. Data sebanyak 38
halaman ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia
(Gapki) dan diolah duniaindustri.com. (*)
9) Data Outlook Pasar Minyak Nabati China ini
menampilkan impor soybean China terus meningkat dari 10.000 ribu ton
pada 1996 menjadi 65.000 ribu ton pada 2013/2014. China mulai defisit
soybean sejak 2003 karena produksi domestiknya tidak mencukupi
kebutuhan. Impor soybean China terus meningkat seperti kereta yang sulit
berhenti. Juga ditampilkan komposisi impor soybean China yang dilakukan
BUMN, swasta, dan perusahaan multinasional. Selain itu, dipaparkan
impor palm oil China dari sejumlah negara, terutama Indonesia. Impor
China untuk komoditas olein, stearin, dan PKO asal Indonesia
masing-masing sebesar 63%, 47%, dan 30%. Juga ditunjukkan tren impor
bulanan China untuk komoditas olein periode 2008-2013. Jumlah impor palm
oil China pada 2011/2012 mencapai 5.859 ribu ton, naik menjadi 6.589
ribu ton pada 2012/2013, dan diprediksi naik lagi menjadi 6.600 ribu ton
pada 2013/2014. Data sebanyak 25 halaman ini berasal dari makalah Jeffery (Jianfei) XU, Dongling Grain & Oil Co Ltd dan diolah duniaindustri.com. (*)
10) Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia ini
menampilkan teori perubahan iklim (climate change) termasuk peningkatan
emisi karbon di Indonesia, yang salah satunya disebabkan deforestasi
sekitar 13 juta hektare per tahun. Meski demikian, sektor perkebunan di
Indonesia mampu menghasilkan biodiesel sebagai salah satu alternatif
bahan bakar yang dapat diperbaharui. Data sebanyak 56 halaman ini
berasal dari makalah Dr. Edvin Aldrian APU, Director of the Center for
Climate Change and Air Quality Meteorology Climatology and Geophysics
Agency (BMKG) IPCC Working Group 1 AR 5 Lead Author dan diolah duniaindustri.com. (*)
11) Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia ini
menampilkan strategi pengembangan dua komoditas utama Indonesia, yakni
kelapa sawit dan batubara, dikaitkan dengan Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Di antaranya
ditampilkan tulang punggung pengembangan industri minyak sawit mentah
(CPO) di empat daerah, yakni Sei Mangkei, Dumai, Kalimantan Barat, dan
Kalimantan Timur. Pengembangan industri hilir CPO di Sei Mankei karena
PT Unilever Indonesia dan Ferrostaal telah berinvestasi US$ 1 miliar.
Sedangkan pengembangan industri batubara diarahkan ke Sumatera Selatan
yang menyimpan 39% dari cadangan batubara nasional, sekitar 18,13 miliar
ton. Selain itu, ditampilkan 56 proyek MP3EI senilai US$ 29 miliar yang
diperinci per proyek, skema pendanaan, dan kaitannya dengan program
pemerintah. Data yang terdiri atas 21 halaman microsoft powerpoint ini
dibuat oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (KP3EI) dan diolah duniaindustri.com. (*)
12) Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama ini
menampilkan tren harga dari minyak nabati utama (sawit, soybean, dan
lainnya) periode 2008-2013. Selain itu ditampilkan data tujuan ekspor
CPO Indonesia ke dunia, antara lain India 47%, Malaysia 14%, dan
lainnya. Juga dibahas kendala dan tantangan industri CPO di Indonesia
serta perbandingan dengan soybean, meliputi impor soybean Indonesia,
harga soybean, produksi soybean dunia. Data yang terdiri atas 20 halaman
microsoft powerpoint ini dibuat oleh lembaga riset, dan praktisi
pertanian. (*)
13) Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga ini
menampilkan perbandingan produksi dan ekspor CPO di Indonesia
2008-2018. Selain itu, outlook produksi minyak mentah Indonesia
2009-2020 yang menampilkan potensi penurunan produksi, sementara
kebutuhan naik 4%-5% per tahun. Di 2020, impor minyak mentah Indonesia
bisa mencapai 1 juta barel per hari. Karena itu, Indonesia harus
mendiversifikasi produksi energi. Bagaimana caranya? Produksi biodiesel
mesti ditambah. Juga ditampilkan data skenario pengubahan minyak mentah
ke biodiesel. Data ini juga menggambarkan skenario untuk memproduksi 100
ribu barel minyak mentah diperlukan 5,25 juta ton CPO per tahun atau
5,8 juta kiloliter biodiesel dari 1 juta hektare lahan dan 1,57 juta
pekerja. Data yang terdiri atas 18 halaman microsoft powerpoint ini
dibuat oleh pelaku usaha dan produsen biodiesel dan diolah duniaindustri.com. (*)
14) Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO ini
menampilkan perbandingan populasi, PDB per kapita, konsumsi minyak, di
Indonesia, AS, China, Eropa, dan Rusia. Selain itu, dijabarkan 100
produk turunan CPO serta kapasitas produksi pengolahan, fractionation,
dan modifikasi produk turunan CPO sejak 2011-2013. Ditampilkan juga
kapasitas produksi oleokimia (fatty alcohol dan fatty acid) periode
2004-201, kapasitas produksi biodiesel 2006-2013, proyeksi investasi
hingga US$ 2,7 miliar, regulasi mandatori biodiesel. Ekspor CPO juga
ditampilkan secara mendetail, dari mulai ekspor CPO, ekspor biodiesel,
serta komparasinya dengan kebutuhan domestik periode 2009-2013. Data
yang terdiri atas 20 halaman ini dibuat oleh Asosiasi Produsen Biofuel
Indonesia (Aprobi) dan diolah duniaindustri.com. (*)
15) Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor ini
menampilkan peranan industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO)
dalam struktur ekspor nasional, seiring terjadinya defisit neraca
perdagangan yang melemahkan rupiah terhadap dolar AS. Data yang berisi 9
halaman ini dilengkapi tabel dan grafis perkembangan nilai ekspor dan
volume ekspor CPO serta produk turunannya dalam sepuluh tahun terakhir.
Data ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki),
BPS, dan Bank Indonesia. (*)
16) Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE ini
berisi tren volume dan nilai ekspor CPO dan produk turunannya, tarif
bea keluar, harga patokan ekspor, harga Rotterdam per bulan selama dua
tahun terakhir. (*)
Sumber: di sini
Lihat database lengkap, klik di sini
* Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
** Butuh Content Provider Berkualitas, klik di sini
Senin, 29 Agustus 2016
Bahan Market Intelligence Industri Farmasi, Obat, dan Kesehatan
Industri farmasi memiliki peranan tersendiri bagi kehidupan manusia, karena berhubungan dengan kesehatan. Untuk masyarakat modern, posisi kesehatan dalam kehidupan telah meningkat seiring makin tingginya kesadaran akan hidup sehat.
Guna melihat seluk beluk industri farmasi, termasuk tren pertumbuhan, pangsa pasar, serta market intelligence, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 7 data dan riset khusus di industri farmasi Indonesia dari berbagai rentang waktu. Simak ulasannya berikut ini.
1) Riset dan analisis eksklusif farmasi di Indonesia ini menampilkan data, outlook, riset eksklusif terkait seluruh informasi mengenai industri farmasi di Indonesia, serta riset dan analisis pasar obat bebas (over the counter/OTC), obat generik, dan obat herbal. Riset eksklusif ini mengulas mulai dari tren investasi baru farmasi di Indonesia mulai 2014-2016 (analisis pemain baru), pergerakan pangsa pasar obat bebas dan obat herbal, tren pertumbuhan obat generik dengan program Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2016-2019, pertumbuhan pasar obat di Indonesia, analisis persaingan pasar obat generik vs obat bebas (over the counter/OTC), market leader obat bebas, daftar obat bebas, analisis obat bebas per segmen, tren pertumbuhan obat herbal, komparasi perbandingan kekuatan pemasok pemain obat bebas, dan daftar obat paling laku di pasaran.
Riset eksklusif ini dimulai dari tren investasi baru di industri farmasi di Indonesia 2014-2016 dan analisis pemain baru (halaman 2-5). Kemudian pangsa pasar obat bebas 2015 masing-masing pemain dan tren pergerakannya periode 2011-2015 (halaman 6-8).
Beranjak ke obat generik, riset eksklusif ini mencermati tren pertumbuhan obat generik dikaitkan dengan tren pertumbuhan pasar obat secara total di Indonesia 2010-2019 (halaman 9-11). Juga ditampilkan, pengaruh program SJSN Kesehatan terhadap pertumbuhan obat generik yang terus meningkat dari 6,9% pada 2011 menjadi 9,3% pada 2015 terhadap total pasar obat di Indonesia (halaman 12-14) serta estimasi 2016-2019 (halaman 15).
Pertumbuhan obat generik itu dikhawatirkan dapat menekan pangsa pasar segmen obat bebas (halaman 16-17). Pada halaman 18-36 merupakan intisari riset eksklusif ini yang mengulas tren pergerakan market leader obat bebas per merek untuk segmen obat antasida, obat anti-diare, obat batuk, obat sakit kepala, serta obat batuk dan flu. Juga diulas daftar merek obat bebas yang bersaing di pasar obat Indonesia. Sejumlah merek obat bebas yang menjadi market leader antara lain Promag (obat antasida), Neo Entrostop (obat anti-diare), Komix (obat batuk), Bodrex (obat sakit kepala), Bodrex Flu dan Batuk (obat batuk dan flu).
Pada halaman 37-47, ditampilkan tren pertumbuhan obat herbal mulai 2000-2015 serta tren pergerakan market leader Sido Muncul. Serta, analisis pertumbuhan obat herbal dan penetrasi Sido Muncul terhadap peta persaingan obat di Indonesia, terutama obat bebas.
Pada halaman 48-59, ditampilkan komparasi kekuatan pemasok (supplier) dari empat produsen farmasi terbesar di Indonesia, serta analisis kekuatan pemasok terhadap bahan baku serta bahan penolong lainnya. Pada halaman 61-62, ditampilkan top 7 obat bebas paling laku di pasaran Indonesia serta analisis persaingan.
Riset eksklusif ini sebanyak 62 halaman ini berasal dari Kementerian Kesehatan, BPS, WHO dan Bank Dunia, GP Farmasi, International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG), sejumlah perusahaan farmasi di Indonesia, dan diolah duniaindustri.com.
2) Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat Herbal ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri farmasi di Indonesia, serta riset dan analisis pasar obat bebas (over the counter/OTC), obat generik, dan obat herbal. Riset ini mengulas mulai dari tren pertumbuhan pasar farmasi di Asia Pasifik (Asia Pacific healthcare market), tren pertumbuhan pasar farmasi Indonesia, pengaruh BPJS Kesehatan, tren pasar obat generik, market leader obat generik, market leader obat bebas, dan tren pasar obat herbal.
Pada halaman 2 ditampilkan ekonomi Indonesia secara garis besar, mulai dari pertumbuhan PDB 2014-2019 (est), jumlah konsumen kelas menengah, dan pasar industri consumer goods pada 2030. Pada halaman 3, ditampilkan grafis pasar farmasi di Asia Pasifik 2011-2015.
Sementara pasar industri farmasi Indonesia 2010-2014, rasio belanja kesehatan terhadap PDB, segmentasi pasar farmasi nasional, dan roadmap program Jaminan Kesehatan Nasional ditampilkan pada halaman 4. Data tersebut dilanjutkan pada halaman 5, duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait proyeksi pasar farmasi Indonesia 2015-2019, tingkat pertumbuhannya, dan komparasi dengan pertumbuhan ekonomi nasional periode yang sama.
Kemudian, data tersebut dikomparasi dengan perbandingan pertumbuhan pasar farmasi (healthcare expenditure) di ASEAN pada halaman 6.
Memasuki pembahasan yang lebih fokus, pada halaman 7 ditampilkan top 20 pemain farmasi terbesar di Indonesia berdasarkan nilai penjualan dan market share, serta pertumbuhannya. Data tersebut dikomparasi dengan flasback pasar obat resep 2011, lengkap dengan 10 pemain utama.
Di halaman 9, ditampilkan top 20 pemain utama obat generik di Indonesia beserta nilai penjualan, market share, dan perubahan peringkat pada 2014-2015. Disusul di halaman 10, ditampilkan top 20 pemain utama obat bebas (OTC) di Indonesia beserta nilai penjualan, market share, dan perubahan peringkat pada 2014-2015.
Menginjak pada halaman 11-13, Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat Herbal ini menampilkan persaingan pangsa pasar obat bebas di Indonesia, nilai pasar obat bebas, serta tren perubahan pangsa pasar pemain utama di segmen obat bebas 2011-2015.
Sedangkan di halaman 14-18, diulas mengenai obat generik, tren pertumbuhan pasar obat generik ditopang program Jamkesnas, dan analisis persaingan obat generik terhadap obat bebas.
Pada halaman 19-35 merupakan intisari dari riset ini, yang menampilkan ulasan cukup mendalam terkait perkembangan obat bebas di Indonesia. Dimulai dari daftar merek obat bebas yang beredar di pasaran, market leader obat antasida, obat anti-diare, obat flu, obat batuk, serta obat batuk dan flu. Bagian intisari riset ini juga dilengkapi analisis masing-masing segmen obat bebas dan perkembangan market leader di masing-masing segmen.
Pada halaman 36-42 ditampilkan tren pertumbuhan obat herbal, market leader obat herbal, kinerja keuangan market leader, serta strategi bersaingnya ke depan.
Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat Herbal sebanyak 43 halaman ini berasal dari Kementerian Kesehatan, BPS, WHO dan Bank Dunia, GP Farmasi, International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG), sejumlah perusahaan farmasi di Indonesia, dan diolah duniaindustri.com.(*)
3) Data dan Outlook Industri Farmasi 2010-2019 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri farmasi di Indonesia, mulai dari tren pertumbuhan pasar farmasi secara global (global healthcare market), tren permintaan/demand pasar global, tren pasar farmasi dan alat kesehatan di Asia Pasifik (mulai dari farmasi dan bioteknologi, alat medis, medical imaging, diagnostik, dan healthcare IT), hingga produsen farmasi terbesar di Indonesia, strategi ekspansi ke depan, serta kinerja keuangan para pemain farmasi di negeri ini.
Khusus terkait pasar farmasi Indonesia, data ini menampilkan belanja kesehatan terhadap PDB, pasar industri farmasi nasional, roadmap program Jaminan Kesehatan nasional (JKN), serta segmentasi pasar farmasi nasional. Duniaindustri.com membuat riset terkait proyeksi pertumbuhan pasar farmasi nasional periode 2015 hingga 2019, persentase pertumbuhannya, dan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Juga ditampilkan belanja kesehatan per kapita Indonesia dan negara-negara di ASEAN. Indonesia merupakan negara dengan persentase healthcare terhadap PDB yang relatif rendah di antara negara Asia Tenggara, mencerminkan potensi pertumbuhan yang menarik.
Pada halaman 10-15 ditampilkan secara detail dengan chart yang menarik tren pertumbuhan pasar farmasi nasional, segmentasinya (ethical branded dan unbranded generic), serta pertumbuhan pasar, serta rasio antara produsen lokal dan produsen asing (MNC).
Pada halaman 16-22, ditampilkan peta pasar pemimpin pasar (market leader) di segmen pasar farmasi, obat resep, obat bebas (OTC), dan obat generik, serta perubahan peta persaingan dalam empat tahun terakhir serta nilai penjualan per perusahaan (sales value). Di halaman 23 ditampilkan regulasi-regulasi baru yang diterapkan pemerintah di industri farmasi nasional.
Mulai halaman 24-42, secara khusus ditampilkan market leader di industri farmasi Indonesia dan sejumlah pemain besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC), dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF). Dikupas secara detail, komposisi lini usaha per perusahaan, jaringan distribusi, strategi ekspansi, pangsa pasar per produk, serta kinerja keuangan.
Data sebanyak 42 halaman ini berasal dari Kementerian Kesehatan, BPS, WHO dan Bank Dunia, GP Farmasi, International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG), sejumlah perusahaan farmasi di Indonesia, dan diolah duniaindustri.com.
4) Data Komprehensif Industri Farmasi Indonesia (Periode Lima Tahun Terakhir) ini menampilkan pasar farmasi secara utuh, dari mulai tren nilai belanja produk kesehatan, populasi masyarakat yang dijamin asuransi, pertumbuhan segmen konsumen farmasi (masyarakat kelas bawah, kelas berkembang, kelas menengah, dan kelas atas), pasar segmen obat bebas dan obat resep, penguasaan pasar produsen obat asing dan lokal, pangsa pasar produsen obat resep terbesar, dan outlook ke depan sebagai dampak adanya program Sistem Jaminan Sosial Nasional. Data berisi 16 halaman ini disusun oleh International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG), GP Farmasi, dikompilasi oleh duniaindustri.com.
5) Data Top 20 Produsen Obat Generik di Indonesia ini menggambarkan nilai penjualan, pangsa pasar, dan pertumbuhan 20 pemain obat generik di Indonesia, antara lain PT Indofarma Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Hexpharm Jaya, PT Dexa Medica.
6) Data Pasar Farmasi di Asia Pasifik ini mencakup pertumbuhan nilai pasar farmasi di Asia Pasifik meliputi negara China, Jepang, India, Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea, Australia periode 2010-2015.
7) Data Belanja Alat Kesehatan di Indonesia ini mencakup nilai belanja alat kesehatan periode 2010-2014, yang terbagi menjadi private consumptions dan healthcare expenditure.(*)
Sumber: di sini
* Cari data yang lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
Selasa, 23 Agustus 2016
Petani Kelapa Sawit Terbesar di Dunia Berada di Indonesia
Sekitar 2.700 petani sawit swadaya di Sumatera Selatan dengan luas lahan yang dikelola mencapai 5.500 hektare mendapatkan sertifikasi RSPO pada 16 Juni 2016. Pencapaian ini menjadikan mereka kelompok petani kelapa sawit swadaya terbesar di dunia yang mendapat sertifikat berkelanjutan dari RSPO.
Kelompok petani itu diberi dukungan dari Wilmar International Limited melalui anak perusahaan PT Tania Selatan, dan bantuan pendanaan dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Smallholder Support Fund,
Jeremy Goon, Chief Sustainability Officer Wilmar, menyatakan upaya untuk mendukung beberapa petani sawit kebun plasma dan memastikan kesadaran mereka terhadap industri kelapa sawit yang berkelanjutan merupakan tantangan tersendiri. “Namun karena menanamkan kesadaran tersebut adalah jantung dari pendekatan Wilmar untuk membantu petani kecil menuju pembangunan berkelanjutan, kami mengambil tantangan tersebut dengan pandangan dan pengembangan model rantai nilai berkelanjutan yang inklusif serta dapat direplikasi dan ditingkatkan di daerah lain di seluruh dunia," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Para petani sawit yang terbagi dalam tujuh koperasi tingkat desa itu tergabung dalam perhimpunan ‘Sapta Tunggal Mandiri’ (STM) dan memproduksi total sekitar 92.000 metrik ton tandan buah segar bersertifikat. Empat dari tujuh koperasi yang tergabung dalam perhimpunan tersebut sebelumnya merupakan petani plasma binaan pabrik kelapa sawit PT Tania Selatan milik grup Wilmar. Sementara, penjualan produk sawit bersertifikat dari perhimpunan Sapta Tunggal Mandiri (STM) akan dilakukan melalui salah satu model rantai pasok RSPO, yakni mass balance.
“Kami bangga dengan prestasi Sapta Tunggal Mandiri. Melalui keberhasilan ini kita lebih percaya diri untuk memajukan banyak petani Indonesia lainnya di kemudian hari,” kata Jeremy Goon.
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dibentuk pada 2004 dengan tujuan mempromosikan pertumbuhan dan penggunaan produk kelapa sawit berkelanjutan melalui standar global yang kredibel. RSPO adalah asosiasi non-profit yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor di sepanjang industri minyak kelapa sawit, yakni pekebun kelapa sawit, pengolah atau penjual minyak kelapa sawit, produsen barang untuk konsumen, peritel, bank dan investor, LSM konservasi lingkungan dan LSM sosial untuk mengembangkan dan mengimplementasikan standar global untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan.
Representasi multi-pemangku kepentingan tersebut tercermin dalam struktur kepemimpinan RSPO. Kursi di Dewan Eksekutif dan Kelompok Kerja dialokasikan untuk setiap sektor tersebut. Melalui cara ini, RSPO menghidupkan filosofi "meja bundar" yakni dengan memberikan hak yang sama kepada setiap kelompok pemangku kepentingan untuk membawa agenda kelompok ke atas meja, memfasilitasi para pihak yang secara tradisional berseberangan dan merupakan pesaing bisnis untuk bekerja sama mencapai tujuan bersama dan membuat keputusan dengan mufakat.
Wilmar yang merupakan anggota aktif dari RSPO sejak 2005 berkomitmen untuk mengembangkan secara inklusif rantai pasokan berkelanjutan yang mencakup petani sawit swadaya di Indonesia. Seperti halnya di Indonesia, Wilmar juga berupaya meningkatkan produksi CSPO (Certified Sustainable Palm Oil/minyak sawit berkelanjutan bersertifikat) yang dihasilkan oleh petani sawit swadaya di Malaysia.
Wilmar International Limited yang berdiri sejak 1991 merupakan grup agribisnis terkemuka di Asia. Wilmar berada dalam daftar perusahaan besar berdasarkan kapitalisasi pasar di Pasar Saham Singapura.
Wilmar menerapkan sistem agribisnis terpadu yang mencakup seluruh rantai bisnis komoditas pertanian, dari mulai budidaya, pengolahan, hingga merchandising untuk pembuatan berbagai produk pertanian dunia. Wilmar Group memiliki lebih dari 500 pabrik dan jaringan distribusi yang luas meliputi China, India, Indonesia, dan 50 negara lainnya. Wilmar Group memiliki 92.000 karyawan di seluruh dunia.
Bagi Wilmar Group dan RSPO, peran petani swadaya menjadi penting untuk industri kelapa sawit karena petani swadaya berkontribusi sekitar 40% dari total produksi minyak sawit dunia. Selama bertahun-tahun, berbagai pemangku kepentingan di industri minyak sawit telah berupaya mencari cara untuk membantu kelompok pemangku kepentingan dengan mengadopsi pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan sehingga para petani juga dapat menikmati pendapatan serta kualitas hidup yang lebih baik dari hasil penjualan ekspor kelapa sawit yang bersertifikat dan berkelanjutan.
Amin Rohmad, salah satu petani swadaya bersertifikat dan juga manajer kelompok STM, mengatakan para petani swadaya senang dan bangga bisa dianugerahi sertifikasi RSPO. “Kemampuan untuk menghasilkan TBS yang berkelanjutan tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan kami, tetapi juga membantu menghubungkan kita di Sumatera Selatan ke pasar global,” ujarnya.
Dengan diraihnya RSPO, lanjut dia, hal ini menunjukkan bahwa petani swadaya mampu memenuhi standar keberlanjutan internasional jika diberi dukungan yang memadai. “Kami juga bangga untuk mewakili Provinsi Sumatera Selatan dan Indonesia," jelasnya.
Julia Majail, Smallholder Programmer Manager RSPO, menambahkan semakin banyak petani plasma mencapai tingkat kemandirian yang memungkinkan mereka untuk menjadi petani mandiri. Hal ini sangat penting bagi perusahaan seperti Wilmar, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan pemerintah untuk terus mempromosikan dan membangun kapasitas setiap petani untuk dapat mencapai sertifikasi RSPO. “Melalui sertifikasi RSPO ini, maka petani swadaya dapat meningkatkan hasil usaha mereka, meningkatkan keuntungan, mendapatkan akses ke pasar internasional dan pada saat yang sama melindungi lingkungan melalui penerapan praktek-praktek pertanian yang ramah lingkungan," kata Julia Majail.
Hingga kini, RSPO telah membantu 113.673 petani sawit untuk mendapat sertifikat dan memfasilitasi kemitraan antara petani kecil, LSM dan sektor swasta. Total lahan petani kelapa sawit yang telah mendapat sertifikasi RSPO adalah 263,371 hektare.(*)
Sumber: di sini
* Butuh data industri atau riset persaingan pasar, klik di sini
Langganan:
Postingan (Atom)










