Jumat, 10 Februari 2017

Pemain Baru Semen Rebut 9% Pangsa Pasar Domestik

Pemain baru semen atau sering disebut new comers sejak 2015-2016 telah merebut sekitar 8%-9% pangsa pasar (market share) domestik, menurut perhitungan tim riset Duniaindustri.com. Dengan mengandalkan sistem distribusi yang dekat dengan pabrik serta diskon harga yang cenderung tinggi, pangsa pasar pemain baru semen mulai tumbuh dan membuat persaingan di pasar domestik lebih ketat.

Pemain baru semen itu antara lain Semen Merah Putih (Wilmar Group) di Banten, Jawa Barat, Anhui Conch Cement (Tiongkok) di Kalimantan Selatan, Jui Shin Indonesia di Jawa Barat, Semen Jawa (Siam Cement Group) di Sukabumi, dan Semen Bima di Banyumas. Mengantisipasi hal itu, pemain lama semen juga menyiapkan ekspansi untuk mempertahankan pangsa pasar.

Kondisi tersebut memicu persaingan pasar yang makin ketat seiring dengan perlambatan permintaan pasar sepanjang 2016. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia (ASI) yang dikutip duniaindustri.com,
realisasi penjualan semen di Indonesia cenderung stagnan sepanjang 2016 mencapai 62 juta ton, dibanding 2015 sebesar 61,99 juta ton.

Sejumlah daerah yang terindikasi menjadi lahan pertempuran persaingan pasar antara pemain baru vs pemain lama cenderung menunjukkan penurunan permintaan. Sebut saja, pasar semen di dua daerah, yakni Kalimantan dan DKI Jakarta, anjlok paling dalam sepanjang 2016. Sepanjang tahun lalu, pasar semen di Kalimantan anjlok 12,3% menjadi 4,19 juta ton dan pasar semen di Jakarta terkoreksi -10,6% menjadi 4,77 juta ton dibanding 2015.

Sementara Sulawesi menjadi primadona baru pasar semen di Indonesia karena mampu mencetak pertumbuhan 13,2% menjadi 5,44 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 4,8 juta ton. Pasar semen di Pulau Jawa secara total turun -2,1% menjadi 33,74 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 34,45 juta ton, antara lain akibat penurunan di Jakarta (-10,6%), Banten (-9,2%), dan Jawa Barat (-6,3%). Jawa Tengah menjadi satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang masih mencatatkan pertumbuhan penjualan semen di atas 5%, tepatnya 6,2% menjadi 7,79 juta ton pada 2016.

Jika penjualan semen domestik cenderung stagnan, berbeda halnya dengan ekspor. Ekspor klinker tumbuh fantastis sebesar 141,1% menjadi 1,07 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 445 ribu ton, sementara ekspor semen turun tipis -5,8% menjadi 528 ribu ton tahun lalu.

Selain menurunkan permintaan di sejumlah daerah, persaingan antara pemain baru semen vs pemain lama semen juga memangkas harga jual, sebagai dampak lanjutan kompetisi pasar. Strategi penurunan harga juga dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar dari serbuan pemain baru.

Pada kuartal IV 2016, harga semen cenderung turun sekitar 7%-11% yang dipengaruhi persaingan ketat di sejumlah daerah terutama di dekat lokasi pabrik pemain baru. Harga semen produksi Semen Indonesia turun 7,7%, Tiga Roda milik Indocement turun 7,3%, dan Holcim turun 6,2%. Harga semen para pemain baru, seperti Siam Cement Group (SCG), Semen Merah Putih, Semen Bima, dan Garuda, juga turun dengan besaran lebih besar. Perinciannya, harga semen kantong seberat 50 kilogram (kg) turun 11% atau Rp 6.000-7.000 dan ukuran 40 kg mencapai 10% atau Rp 5.000.

Kelebihan Pasokan
Kementerian Perindustrian mengestimasi kelebihan pasokan semen di Indonesia pada 2018 naik menjadi 38% dari kapasitas nasional, cenderung meningkat dari level 37% pada 2016. Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, kelebihan pasokan semen terjadi karena pertumbuhan kapasitas produksi melampaui kebutuhan dalam negeri.

“Persaingan industri semen akan semakin ketat, mengingat kapasitas produksi semen di Indonesia pada 2018 diperkirakan mencapai 106,3 juta ton, atau melebihi 38% dari kebutuhan nasional sebesar 66,2 juta ton,” ujar Achmad Sigit.

Menurut dia, perkiraan kelebihan pasokan semen pada 2018 lebih tinggi dibanding 2016. Tahun lalu, kapasitas produksi semen di Indonesia sebesar 95,5 juta ton, atau telah melebihi kebutuhan dalam negeri sebesar 60 juta ton. “Jadi ada selisih 35,5 juta ton atau 37% dari kapasitas yang merupakan kelebihan pasokan,” paparnya.

Duniaindustri.com menilai kelebihan pasokan semen itu terjadi seiring dengan gencarnya investasi pabrik baru baik dari pemain existing maupun pemain baru (new comer). Sementara pertumbuhan kebutuhan semen di Indonesia justru melambat akibat tekanan perlambatan ekonomi nasional serta stagnansi industri properti dan konstruksi.

Kelebihan pasokan semen sekitar 38% dari kapasitas 2018 terpaut cukup jauh dari posisi 2015 yang hanya oversupply sebesar 24% dari total kapasitas nasional, menurut perhitungan duniaindustri.com.(*)

* Untuk mengetahui pangsa pasar pemain baru semen secara detail, segera hubungi tim riset duniaindustri.com atau gunakan fitur detektif industri guna memperoleh jasa market intelligence sesuai kebutuhan Anda.

Sumber: di sini
** Butuh riset pasar dan data industri spesifik, klik di sini

Kamis, 09 Februari 2017

Inilah Tren Penjualan Semen hingga Akhir 2016

Pasar semen di dua daerah, yakni Kalimantan dan DKI Jakarta, anjlok paling dalam sepanjang 2016, menurut data Asosiasi Semen Indonesia (ASI). Sepanjang tahun lalu, pasar semen di Kalimantan anjlok 12,3% menjadi 4,19 juta ton dan pasar semen di Jakarta terkoreksi -10,6% menjadi 4,77 juta ton dibanding 2015.

Berdasarkan data ASI yang dikutip duniaindustri.com, penurunan penjualan semen di dua daerah tersebut membuat pasar semen di Indonesia cenderung stagnan sepanjang 2016 mencapai 62 juta ton, dibanding 2015 sebesar 61,99 juta ton. Sementara Sulawesi menjadi primadona baru pasar semen di Indonesia karena mampu mencetak pertumbuhan 13,2% menjadi 5,44 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 4,8 juta ton.

Pasar semen di Pulau Jawa secara total turun -2,1% menjadi 33,74 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 34,45 juta ton, antara lain akibat penurunan di Jakarta (-10,6%), Banten (-9,2%), dan Jawa Barat (-6,3%). Jawa Tengah menjadi satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang masih mencatatkan pertumbuhan penjualan semen di atas 5%, tepatnya 6,2% menjadi 7,79 juta ton pada 2016.

Jika penjualan semen domestik cenderung stagnan, berbeda halnya dengan ekspor. Ekspor klinker tumbuh fantastis sebesar 141,1% menjadi 1,07 juta ton pada 2016 dibanding 2015 sebesar 445 ribu ton, sementara ekspor semen turun tipis -5,8% menjadi 528 ribu ton tahun lalu.

Kementerian Perindustrian mengestimasi kelebihan pasokan semen di Indonesia pada 2018 naik menjadi 38% dari kapasitas nasional, cenderung meningkat dari level 37% pada 2016. Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, kelebihan pasokan semen terjadi karena pertumbuhan kapasitas produksi melampaui kebutuhan dalam negeri.

Persaingan industri semen akan semakin ketat, mengingat kapasitas produksi semen di Indonesia pada 2018 diperkirakan mencapai 106,3 juta ton, atau melebihi 38% dari kebutuhan nasional sebesar 66,2 juta ton,” ujar Achmad Sigit, di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, perkiraan kelebihan pasokan semen pada 2018 lebih tinggi dibanding 2016. Tahun lalu, kapasitas produksi semen di Indonesia sebesar 95,5 juta ton, atau telah melebihi kebutuhan dalam negeri sebesar 60 juta ton. “Jadi ada selisih 35,5 juta ton atau 37% dari kapasitas yang merupakan kelebihan pasokan,” paparnya.

Duniaindustri.com menilai kelebihan pasokan semen itu terjadi seiring dengan gencarnya investasi pabrik baru baik dari pemain existing maupun pemain baru (new comer). Sementara pertumbuhan kebutuhan semen di Indonesia justru melambat akibat tekanan perlambatan ekonomi nasional serta stagnansi industri properti dan konstruksi.

Kelebihan pasokan semen sekitar 38% dari kapasitas 2018 terpaut cukup jauh dari posisi 2015 yang hanya oversupply sebesar 24% dari total kapasitas nasional, menurut perhitungan duniaindustri.com.(*)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, klik di sini
** Mau request data ekspor-impor, data spesifik, atau survei pasar, klik di sini

Rabu, 08 Februari 2017

11 Kumpulan Data di Bidang Infrastruktur, Energi, dan Telekomunikasi


Indonesia sebagai negara berkembang sangat membutuhkan pembangunan di bidang infrastruktur utama, seperti infrastruktur fisik, logistik, transportasi, energi, dan telekomunikasi. Karena itu, tidak heran titik fokus pemerintah saat ini masih berkutat pada sektor-sektor tersebut.

Untuk membedah data-data di sektor-sektor tersebut, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 11 data dan riset terkait pertumbuhan, titik fokus, dan korelasi tiga sektor tersebut terhadap pertumbuhan industri di negeri ini. Mari simak ulasannya berikut ini:

1) Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik)
2) Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan)
3) Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019
4) Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019
5) Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
6) Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
7) Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
8) Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
9) Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia
10) Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
11) Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia

Berikut penjelasan detail dan outline per halaman:

A) Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) ini dirilis Februari 2017 menampilkan data, outlook, proyeksi, estimasi, dan tren produksi energi di Indonesia serta kebutuhan energi di sektor industri periode 2015-2050. Data ini bermanfaat bagi para pelaku industri, investor, pengusaha di sektor energi, akademisi, pemilik perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) ini dimulai dengan dengan pemaparan outlook ekonomi Indonesia 2017 pada halaman 2-4. Perekonomian Indonesia pada 2017 diestimasi tumbuh 5,1% dengan sejumlah tantangan baik dari dalam maupun luar negeri seperti kesenjangan infrastruktur antar daerah serta perlambatan perekonomian China. Pada halaman 5, ditampilkan tren pertumbuhan ekonomi nasional periode 2015-2017, beserta sejumlah komponen utama seperti target nilai tukar rupiah, inflasi, dan lifting migas.

Pada halaman 6 ditampilkan highlight kondisi energi di Indonesia. Ketergantungan bahan bakar fosil masing tinggi. Bauran energi di Indonesia dapat diklasifikasi minyak bumi (46%), batubara (26%), gas bumi (23%), serta energi baru dan terbarukan (EBT) (5%).

Pada halaman 7 dijabarkan kondisi konsumsi listrik per kapita di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Konsumsi listrik per kapita di Indonesia lebih rendah dibanding Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dilanjutkan dengan pembahasan energi sebagai modal pembangunan negara pada halaman 8-10.

Potensi minyak mentah Indonesia 2015-2050 ditampilkan pada halaman 11, disusul potensi produksi batubara Indonesia 2015-2050 ditampilkan pada halaman 12. Potensi batubara Indonesia 2015-2050 itu dilengkapi dengan porsi ekspor, dan porsi domestik terutama untuk kebutuhan industri, pembangkit, dan gasifikasi.

Khusus untuk gas dibahas pada halaman 13, terutama produksi gas LPG 2015-2050, total kebutuhan di Indonesia dan proyeksi impor hingga 2050. Lebih khusus lagi, pembahasan energi sebagai bahan baku dan bahan penunjang industri ditampilkan pada halaman 15, terutama untuk gas, bahan bakar minyak (BBM), liquid petroleum gas (LPG), batubara, bahan bakar nabati (BBN), biomassa, dan listrik terkait kebutuhan industri periode 2015-2050.

Selain sektor industri, ditampilkan juga kebutuhan energi untuk sektor transportasi terutama untuk BBG (gas), bahan bakar minyak (BBM), BBN, dan listrik.

Pada halaman 17, ditampilkan komparasi kebutuhan energi untuk industri pada 2025 dan 2050. Kebutuhan energi itu mencakup gas bumi, LPG, syngas, BBM, batubara, BBN, energi terbarukan, dan listrik. Pembahasan itu kemudian di-breakdown lebih spesifik pada gas bumi di halaman 18.
Pada halaman 19-27, ditampilkan proyeksi konsumsi energi di sektor sejumlah sektor mencakup industri, transportasi, rumah tangga, komersial, dan lainnya serta analisisnya.

Kemudian, data ini menampilkan highlights khusus untuk perkembangan energi listrik dan proyeksi kebutuhan industri mulai halaman 28-54. Dimulai dari sistem kelistrikan nasional 2015-2016 dengan menampilkan kapasitas terpasang pembangkit (per segmen), panjang jaringan transmisi listrik, konsumsi tenaga listrik, panjang jaringan distribusi, serta konsumsi listrik per kapita dan konsumsi listrik per golongan. (halaman 35)

Perkembangan subsidi listrik dan bauran BBM serta komposisi penjualan listrik 2016 ditampilkan pada halaman 36. Pada halaman 37, ditampilkan perkembangan biaya (cost), tarif, dan subsidi listrik periode 2003-2016. Wilayah usaha penyediaan tenaga listrik dari 24 badan usaha ditampilkan dengan infografis yang menarik pada halaman 38. Data tersebut diperkuat dengan rasio elektrifikasi negara-negara ASEAN (halaman 39).

Sedangkan komparasi rasio elektrifikasi Indonesia per daerah ditampilkan pada halaman 40, lengkap dengan tren nasional periode 2010-2019. Terdapat empat daerah di Indonesia yang rasio elektrifikasi-nya di bawah 70%.

Pada halaman 41, ditampilkan infografis sistem kelistrikan nasional dengan data kapasitas terpasang tiap daerah, status pasokan listrik per daerah, serta cadangan pasokan listrik per daerah dan secara nasional. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan listrik, konsumsi listrik, elastisitas, kebutuhan tambahan kapasitas periode 2015-2034. (halaman 42)

Selanjutnya, pada halaman 43 ditampilkan kebutuhan pengembangan pasokan listrik periode 2015-2034 dibagi sistem non-PLN, independent power producer (IPP), PLN dan PLN system, serta total kebutuhan tambahan. Pada halaman 44 ditampilkan bauran energi primer dan bauran energi pembangkit listrik dengan patokan realisasi 2013-2014 dan target 2025.

Pada halaman 46, dipaparkan proyeksi kebutuhan tenaga listrik 2016-2025 per pulau di Indonesia. Pada halaman 49-50, ditampilkan porsi tambahan kapasitas pembangkit per jenis pembangkit 2015-2025. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan bahan bakar per jenis pembangkit periode 2016-2025, dibagi dalam empat bahan bakar yakni gas, batubara, biomass, dan panas bumi. (halaman 48-50)

Sementara kebutuhan tambahan jaringan transmisi listrik periode 2016-2025 ditampilkan per golongan pada halaman 50. Kebutuhan tambahan gardu induk per golongan periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 51. Tren kebutuhan tambahan jaringan dan trafo distribusi periode 2016-2025 dipaparkan dalam infografis yang menarik pada halaman 52. Sedangkan kebutuhan investasi dari mulai distribusi, penyaluran, dan pembangkit periode 2016-2025 dipaparkan pada halaman 53. Proyeksi biaya pokok penyediaan listrik untuk periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 54.

Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) sebanyak 55 halaman ini berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dewan Energi Nasional (DEN), Kementerian Perindustrian, BPS, WHO dan Bank Dunia, dan perusahaan energi di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan) ini dirilis Desember 2016 menampilkan riset komprehensif, kompilasi dan komparasi data, analisis, serta tren market size dan potensi pertumbuhan di Indonesia.

Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan) ini dimulai dengan dengan menampilkan highlights ekonomi serta pasar Indonesia, dilengkapi tren konsumen dan tingkat daya beli. (halaman 2-4) Potensi pasar di Indonesia dengan penduduk sekitar 255 juta jiwa dipaparkan pada halaman 5-6.

Selanjutnya, ditampilkan overview pasar seluler dan industri telekomunikasi Indonesia dengan kondisi persaingan ketat, namun penetrasi SIM handphone terus meroket tajam (halaman 7-9).

Pada halaman 10-11, disajikan 12 indikator pasar seluler di Indonesia periode 2010-2020, mulai dari jumlah pelanggan seluler, penetrasi SIM handphone, hingga Average Revenue Per User (ARPU), dan lainnya. Sejumlah indikator utama itu kemudian dikomparasi dengan kondisi di negara lain (halaman 12-13). Data tersebut diperkuat dengan analisis komparasi dan analisis tren di industri seluler dan telekomunikasi di Indonesia (halaman 14-18).

Kemudian, peta persaingan dan analisis kompetisi tiga pemain telekomunikasi terbesar di Indonesia dijabarkan pada halaman 19-26, meliputi pangsa pasar dari pendapatan, pangsa pasar dari jumlah pelanggan, kinerja keuangan dan ARPU, traffic data, hingga teknologi telekomunikasi.

Masuk ke pembahasan selanjutnya, duniaindustri.com menampilkan market intelligent empat pemain telekomunikasi terbesar di Indonesia, mulai dari pohon bisnis (segmentasi anak usaha), highlights kinerja keuangan tiga tahun terakhir, peningkatan layanan data dan internet, strategi bisnis ke depan, cakupan BTS dan kota, serta jumlah pelanggan (halaman 27-56).

Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan) sebanyak 57 halaman pdf ini berasal dari BPS, sejumlah perusahaan seluler dan telekomunikasi di Indonesia, dan disajikan duniaindustri.com. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019 ini dirilis Oktober 2016 menampilkan data, tren pertumbuhan kebutuhan listrik, proyeksi kebutuhan tambahan kapasitas, rasio elektrifikasi, tren konsumsi listrik, komparasi elektrifikasi di ASEAN, dan lainnya. Periode yang jadi fokus 2019-2019, bahkan untuk beberapa pembahasan terdapat proyeksi hingga 2025.

Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019 ini dimulai dengan menampilkan highlight makro ekonomi Indonesia, meliputi pertumbuhan PDB 2014-2019, tren inflasi, populasi penduduk, tren konsumen kelas menengah, laju urbanisasi, median usia penduduk, potensi pasar lokal, serta tren PDB per kapita. (halaman 2-4) Data makro ekonomi Indonesia ini dilengkapi dengan sebaran pertumbuhan ekonomi per daerah dengan perhitungan rata-rata PDB 2010-2030 untuk melihat daerah-daerah mana saja yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tertinggi. (halaman 5)

Kemudian, data ini menampilkan highlights perkembangan sistem kelistrikan nasional 2015-2016 dengan menampilkan kapasitas terpasang pembangkit (per segmen), panjang jaringan transmisi listrik, konsumsi tenaga listrik, panjang jaringan distribusi, serta konsumsi listrik per kapita dan konsumsi listrik per golongan. (halaman 6) Perkembangan subsidi listrik dan bauran BBM serta komposisi penjualan listrik 2016 ditampilkan pada halaman 7.

Pada halaman 8, ditampilkan perkembangan biaya (cost), tarif, dan subsidi listrik periode 2003-2016. Wilayah usaha penyediaan tenaga listrik dari 24 badan usaha ditampilkan dengan infografis yang menarik pada halaman 9. Data tersebut diperkuat dengan rasio elektrifikasi negara-negara ASEAN (halaman 10). Sedangkan komparasi rasio elektrifikasi Indonesia per daerah ditampilkan pada halaman 11, lengkap dengan tren nasional periode 2010-2019. Terdapat empat daerah di Indonesia yang rasio elektrifikasi-nya di bawah 70%.

Pada halaman 12, ditampilkan infografis sistem kelistrikan nasional dengan data kapasitas terpasang tiap daerah, status pasokan listrik per daerah, serta cadangan pasokan listrik per daerah dan secara nasional. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan listrik, konsumsi listrik, elastisitas, kebutuhan tambahan kapasitas periode 2015-2034. (halaman 13)

Selanjutnya, pada halaman 14 ditampilkan kebutuhan pengembangan pasokan listrik periode 2015-2034 dibagi sistem non-PLN, independent power producer (IPP), PLN dan PLN system, serta total kebutuhan tambahan. Pada halaman 15 ditampilkan bauran energi primer dan bauran energi pembangkit listrik dengan patokan realisasi 2013-2014 dan target 2025.

Pada halaman 16-18, diulas landasan hukum pengembangan sistem ketenagalistrikan nasional. Pada halaman 19, dipaparkan proyeksi kebutuhan tenaga listrik 2016-2025 per pulau di Indonesia. Pada halaman 20-22, ditampilkan porsi tambahan kapasitas pembangkit per jenis pembangkit 2015-2025. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan bahan bakar per jenis pembangkit periode 2016-2025, dibagi dalam empat bahan bakar yakni gas, batubara, biomass, dan panas bumi. (halaman 23-24)

Sementara kebutuhan tambahan jaringan transmisi listrik periode 2016-2025 ditampilkan per golongan pada halaman 25. Kebutuhan tambahan gardu induk per golongan periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 26. Tren kebutuhan tambahan jaringan dan trafo distribusi periode 2016-2025 dipaparkan dalam infografis yang menarik pada halaman 27. Sedangkan kebutuhan investasi dari mulai distribusi, penyaluran, dan pembangkit periode 2016-2025 dipaparkan pada halaman 28. Proyeksi biaya pokok penyediaan listrik untuk periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 29.

Terkait kebijakan pemerintah, payung hukum, dan arah serta strategi pengembangan listrik ke depan ditampilkan pada halaman 30-33. Sementara tantangan dan solusi pengembangan listrik ke depan ditampilkan pada halaman 34-37.

Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019 sebanyak 38 halaman ini berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan perusahaan listrik terbesar di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019 ini berisi data, kajian, analisis, laporan, dan outlook proyek-proyek strategis di sektor infrastruktur di Indonesia. Berbagai proyek infrastruktur, mulai dari proyek prioritas, proyek strategis, dan proyek infrastruktur per provinsi ditampilkan dalam riset ini, dipadu dengan analisis bisnis infrastruktur, market size transportasi dan logistik, serta analisis anggaran infrastruktur dibanding tingkat pengangguran di Indonesia.

Riset ini dimulai dari kondisi perekonomian Indonesia tahun ini diprediksi masih diliputi ketidakpastian, terutama dari sisi global. Meski demikian ekonomi Indonesia diyakini akan lebih baik dibanding tahun lalu. Sisi eksternal yang berpengaruh pada ekonomi domestik, tak bisa dilepaskan dari harga komoditas yang masih belum pulih dan merosotnya ekonomi China yang merupakan salah satu pangsa pasar utama ekspor komoditas Indonesia. (halaman 2)

Penguatan rupiah ini selain didorong oleh faktor domestik, karena meningkatnya kepercayaan investor sejalan dengan ekonomi makro yang lebih baik, juga tidak lepas dari pengaruh eksternal. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2015 yang sebesar 5,04% telah meningkatkan kepercayaan investor, karena diyakini titik terendah pertumbuhan ekonomi telah terlewati. (halaman 3-4)

Pada halaman 5-7 dibahas data Kementerian Keuangan, anggaran infrastruktur sejak 2009 hingga 2015 memang terus menunjukkan kenaikan. Tetapi kenaikan signifikan memang baru terjadi pada 2015, dari Rp 206,6 triliun pada 2014 menjadi Rp 290,3 triliun. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya kenaikannya hanya di kisaran Rp 9,7 triliun hingga Rp 31,3 triliun. Data tersebut dipadukan dengan tren pertumbuhan ekonomi nasional dan ekspektasi ke depan periode 2007-2019. (halaman 8) Di halaman 9, terdapat riset eksklusif terkait tren kenaikan anggaran infrastruktur dibanding tingkat pengangguran di Indonesia periode 2005-2016.

Masuk pada pembahasan proyek infrastruktur, riset ini menampilkan rencana pembangunan infrastruktur laut (halaman 10), infrastruktur pangan (halaman 11), dan transportasi darat (halaman 12). Di halaman 13-14 ditampilkan secara eksklusif 38 proyek kerjasama pemerintah & swasta 2015-2016, baik yang telah ditawarkan maupun yang akan ditawarkan. Di halaman 15-16, dipaparkan 30 proyek infrastruktur prioritas 2016-2019. Pada halaman 17-19 ditampilkan proyek infrastruktur jalan dan jembatan per provinsi pada 2016. Khusus terkait kerjasama pemerintah dan swasta ditampilkan secara detail pada halaman 20-24.

Riset ini diperkuat dengan data tren pertumbuhan pasar (market size) sektor transportasi dan logistik di Indonesia 2009-2019. Pada 2014, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.810 triliun dengan pertumbuhan 13,2%. Pada 2015, market size tersebut naik 15,2% menjadi Rp 2.086 triliun. Pada 2016, angka tersebut diproyeksi tumbuh 15% menjadi Rp 2.399 triliun, dan terus naik hingga mencapai Rp 3.680 triliun di 2019. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor transportasi dan logistik di Indonesia diperkirakan 15,2% periode 2014-2019.

Selain itu, data ini dilengkapi data-data infrastruktur pendukung transportasi dan logistik di Indonesia, seperti sebaran bandara hingga 2030. Jumlah bandara umum saat ini sebanyak 189 bandara, yang terdiri atas 26 bandara komersial (dikelola PT Angkasa Pura) dan 1.643 bandara nonkomersial. Pada 2030, akan bertambah 44 bandara baru, sehingga total jumlah naik menjadi 233 bandara. Juga ditampilkan ekspansi PT Angkasa Pura I dan II dalam ekspansi bandara, meliputi: kebutuhan investasi, penambahan kapasitas, dan persentase pertumbuhan.

Di samping itu, ditampilkan infrastruktur pelabuhan yang cukup vital mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia (95.181 km). Jumlah pelabuhan saat ini mencapai 2.392 pelabuhan yang terdiri dari 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 terminal khusus. Terdapat rencana penambahan 91 pelabuhan baru di Indonesia bagian timur dengan investasi Rp 3,37 triliun.

Riset sebanyak 41 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Keuangan, Bappenas, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Logistik Indonesia, dan diolah duniaindustri.com. Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019 ini menampilkan ukuran pasar (market size) sektor transportasi dan logistik di Indonesia 2009-2019. Pada 2014, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.810 triliun dengan pertumbuhan 13,2%. Pada 2015, market size tersebut naik 15,2% menjadi Rp 2.086 triliun. Pada 2016, angka tersebut diproyeksi tumbuh 15% menjadi Rp 2.399 triliun, dan terus naik hingga mencapai Rp 3.680 triliun di 2019. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor transportasi dan logistik di Indonesia diperkirakan 15,2% periode 2014-2019.

Sektor ini tumbuh secara signifikan sejak 2009-2019. Pada 2009-2014, pertumbuhan mencapai 13,7% CAGR dari hanya Rp 770 triliun pada 2009.

Segmen pengangkutan laut masih mendominasi sebesar Rp 1.096,6 triliun di 2015, disusul kereta api Rp 31,6 triliun, dan udara Rp 1,43 triliun. Segmen pengangkutan laut diproyeksi tumbuh 6,1% di 2013, 4,3% di 2014, dan 5,1% pada 2015 secara volume. Pengangkutan kereta api tumbuh 13,3% di 2013, 8,5% di 2014, dan 7,5% pada 2015. Sementara pengangkutan melalui udara naik 19,6% di 2013, 15,3% di 2014, dan 12,2% pada 2015. Sektor komoditas menjadi salah satu pendorong sektor transportasi dan logistik mengingat besarnya investasi antara lain di sektor CPO senilai US$ 2,4 miliar.

Selain itu, data ini dilengkapi data-data infrastruktur pendukung transportasi dan logistik di Indonesia, seperti sebaran bandara hingga 2030. Jumlah bandara umum saat ini sebanyak 189 bandara, yang terdiri atas 26 bandara komersial (dikelola PT Angkasa Pura) dan 1.643 bandara nonkomersial. Pada 2030, akan bertambah 44 bandara baru, sehingga total jumlah naik menjadi 233 bandara. Juga ditampilkan ekspansi PT Angkasa Pura I dan II dalam ekspansi bandara, meliputi: kebutuhan investasi, penambahan kapasitas, dan persentase pertumbuhan.

Di samping itu, ditampilkan infrastruktur pelabuhan yang cukup vital mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia (95.181 km). Jumlah pelabuhan saat ini mencapai 2.392 pelabuhan yang terdiri dari 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 terminal khusus. Terdapat rencana penambahan 91 pelabuhan baru di Indonesia bagian timur dengan investasi Rp 3,37 triliun.

Juga, ditampilan infrastruktur jalan dan rel kereta yang menopang pergerakan transportasi darat. Data ini juga dilengkapi infrastruktur coastal shipping, Trans Sumatera Railways, rel kereta api perkotaan, high speed train network hingga 2030.

Tidak ketinggalan, data ini menampilkan rasio biaya logistik dari berbagai sektor industri di Indonesia, misalnya untuk industri pengolahan makanan rasio biaya logistik terhadap input mencapai 35%. Terdapat 24 cabang industri yang memiliki rasio biaya logistik terhadap input yang cukup tinggi.

Data sebanyak 33 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Logistik Indonesia, sejumlah riset perusahaan asing antara lain Frost & Sullivan, dan diolah duniaindustri.com.

Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

C) Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018 ini menampilkan proyeksi pasar sektor transportasi dan logistik 2014-2018. Pada 2013, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.583 triliun dengan pertumbuhan 14,5%, naik rata-rata 15% sehingga mencapai Rp 3.185 triliun di 2018. Segmen pengangkutan laut masih mendominasi sebesar Rp 1.000,6 triliun di 2013, disusul kereta api Rp 26,8 triliun, dan udara Rp 1,16 triliun. Segmen pengangkutan laut diproyeksi tumbuh 6,1% di 2013 dan 4,3% di 2014 secara volume. Pengangkutan kereta api tumbuh 13,3% di 2013 dan 8,5% di 2014. Sementara pengangkutan melalui udara naik 19,6% di 2013 dan 15,3% di 2014. Sektor komoditas menjadi salah satu pendorong sektor transportasi dan logistik mengingat besarnya investasi antara lain di sektor CPO senilai US$ 2,4 miliar. Data sebanyak 24 halaman ini berasal dari Asosiasi Logistik Indonesia, sejumlah riset perusahaan asing antara lain Frost & Sullivan, dan diolah duniaindustri.com.(*)

D) Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri ini menampilkan tren nilai investasi asing dan domestik dikaitkan dengan kebutuhan lahan industri di Indonesia. Secara kaidah baku, setiap investasi manufaktur Rp 1 triliun butuh lahan di kawasan industri setara 12,5 hektare. Selain itu, data ini menampilkan proyeksi kebutuhan lahan di kawasan industri 2013-2020. Data ini juga menggambarkan total lahan di kawasan industri yang tersisa saat ini dan proyeksi ketersediaannya.

Di samping itu ditampilkan penjualan 10 besar kawasan industri di Indonesia, tren keseimbangan pasokan dan permintaan, tren harga jual lahan di kawasan industri di berbagai kota di Indonesia 2006-2012. Perbandingan harga jual lahan di kawasan industri di Indonesia juga dibandingkan dengan 11 negara lain di dunia. Penyebaran kawasan industri di luar Pulau Jawa, komposisi peran pemerintah dan swasta dalam mengembangkan kawasan industri. Data ini juga menggambarkan program pemerintah dalam mengembangkan kawasan industri di koridor Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan sektor industri sasarannya. Data berisi 41 halaman ini dibuat oleh Kementerian Perindustrian dan diolah duniaindustri.com.(*)

E) Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional ini menampilkan berbagai data mengenai sasaran dan akselerasi industrialisasi tahun 2012-2014. Selain itu, daya saing logistik Indonesia dibanding dengan negara Asia dan secara global. Juga, rasio biaya logistik terhadap semua jenis industri seperti industri makanan, minuman, rokok, tekstil, kertas, pupuk, kimia, semen, baja, mesin, dan pengilangan minyak bumi. Di samping itu, dijabarkan rencana interkoneksi KEK Sei Mangkei, hub port Bitung.(*)

F) Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia ini menampilkan berbagai proyek investasi infrastruktur pemerintah baik yang sedang berjalan maupun yang akan dilakukan pada periode 2013-2030. Dimulai dari data Investasi Infrastruktur Transportasi (selain jalan) di  Masing-masing Koridor Ekonomi, Rencana Pengembangan Bandara-bandara Komersial Oleh AP I & AP II, Pembangunan 24 Bandar Udara Baru (APBN), Sebaran bandara tahun 2030, Struktur Pelabuhan Indonesia, daftar pelabuhan pemerintah yang beroperasi tahun 2013, Pembangunan Jalur Ganda KA Jawa, Pengembangan Coastal Shipping Di Pantura, Rencana Pengembangan Trans Sumatera Railways, Jaringan perkeretaapian tahun 2030, Pembangunan Trans Maluku. Data berisi 16 halaman ini berasal dari Kementerian Perhubungan, Kadin, Pelindo, diolah duniaindustri.com.(*)

G) Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030) ini menampilkan Persebaran PDB Indonesia per Daerah, Urban Area, dan Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030). Data terbaru yang dirilis Oktober 2013 ini berasal dari Kementerian Perhubungan, asosiasi terkait, serta BPS.(*)

H) Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia ini menampilkan analisis komprehensif tentang rasio biaya logistik terhadap biaya penjualan di Indonesia dibanding negara maju, porsi biaya transportasi (meliputi transportasi darat, laut, dan udara), perbandingan biaya logistik di Indonesia Barat dan Timur, dwelling time and logistic cost, dan lainnya. Data yang berisi 9 halaman dan dibuat Oktober 2013 ini disusun Kementerian Perdagangan dan dikompilasi oleh duniaindustri.com.(*)

Sumber: di sini
* Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
** Cari content provider profesional, klik di sini 
*** Butuh jasa market intelligence dan request data spesifik, klik di sini

Data dan Outlook Energi 2015-2050

Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) ini dirilis Februari 2017 menampilkan data, outlook, proyeksi, estimasi, dan tren produksi energi di Indonesia serta kebutuhan energi di sektor industri periode 2015-2050. Data ini bermanfaat bagi para pelaku industri, investor, pengusaha di sektor energi, akademisi, pemilik perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) ini dimulai dengan dengan pemaparan outlook ekonomi Indonesia 2017 pada halaman 2-4. Perekonomian Indonesia pada 2017 diestimasi tumbuh 5,1% dengan sejumlah tantangan baik dari dalam maupun luar negeri seperti kesenjangan infrastruktur antar daerah serta perlambatan perekonomian China. Pada halaman 5, ditampilkan tren pertumbuhan ekonomi nasional periode 2015-2017, beserta sejumlah komponen utama seperti target nilai tukar rupiah, inflasi, dan lifting migas.

Pada halaman 6 ditampilkan highlight kondisi energi di Indonesia. Ketergantungan bahan bakar fosil masing tinggi. Bauran energi di Indonesia dapat diklasifikasi minyak bumi (46%), batubara (26%), gas bumi (23%), serta energi baru dan terbarukan (EBT) (5%).

Pada halaman 7 dijabarkan kondisi konsumsi listrik per kapita di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Konsumsi listrik per kapita di Indonesia lebih rendah dibanding Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dilanjutkan dengan pembahasan energi sebagai modal pembangunan negara pada halaman 8-10.

Potensi minyak mentah Indonesia 2015-2050 ditampilkan pada halaman 11, disusul potensi produksi batubara Indonesia 2015-2050 ditampilkan pada halaman 12. Potensi batubara Indonesia 2015-2050 itu dilengkapi dengan porsi ekspor, dan porsi domestik terutama untuk kebutuhan industri, pembangkit, dan gasifikasi.

Khusus untuk gas dibahas pada halaman 13, terutama produksi gas LPG 2015-2050, total kebutuhan di Indonesia dan proyeksi impor hingga 2050. Lebih khusus lagi, pembahasan energi sebagai bahan baku dan bahan penunjang industri ditampilkan pada halaman 15, terutama untuk gas, bahan bakar minyak (BBM), liquid petroleum gas (LPG), batubara, bahan bakar nabati (BBN), biomassa, dan listrik terkait kebutuhan industri periode 2015-2050.

Selain sektor industri, ditampilkan juga kebutuhan energi untuk sektor transportasi terutama untuk BBG (gas), bahan bakar minyak (BBM), BBN, dan listrik.

Pada halaman 17, ditampilkan komparasi kebutuhan energi untuk industri pada 2025 dan 2050. Kebutuhan energi itu mencakup gas bumi, LPG, syngas, BBM, batubara, BBN, energi terbarukan, dan listrik. Pembahasan itu kemudian di-breakdown lebih spesifik pada gas bumi di halaman 18.
Pada halaman 19-27, ditampilkan proyeksi konsumsi energi di sektor sejumlah sektor mencakup industri, transportasi, rumah tangga, komersial, dan lainnya serta analisisnya.

Kemudian, data ini menampilkan highlights khusus untuk perkembangan energi listrik dan proyeksi kebutuhan industri mulai halaman 28-54. Dimulai dari sistem kelistrikan nasional 2015-2016 dengan menampilkan kapasitas terpasang pembangkit (per segmen), panjang jaringan transmisi listrik, konsumsi tenaga listrik, panjang jaringan distribusi, serta konsumsi listrik per kapita dan konsumsi listrik per golongan. (halaman 35)

Perkembangan subsidi listrik dan bauran BBM serta komposisi penjualan listrik 2016 ditampilkan pada halaman 36. Pada halaman 37, ditampilkan perkembangan biaya (cost), tarif, dan subsidi listrik periode 2003-2016. Wilayah usaha penyediaan tenaga listrik dari 24 badan usaha ditampilkan dengan infografis yang menarik pada halaman 38. Data tersebut diperkuat dengan rasio elektrifikasi negara-negara ASEAN (halaman 39).

Sedangkan komparasi rasio elektrifikasi Indonesia per daerah ditampilkan pada halaman 40, lengkap dengan tren nasional periode 2010-2019. Terdapat empat daerah di Indonesia yang rasio elektrifikasi-nya di bawah 70%.

Pada halaman 41, ditampilkan infografis sistem kelistrikan nasional dengan data kapasitas terpasang tiap daerah, status pasokan listrik per daerah, serta cadangan pasokan listrik per daerah dan secara nasional. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan listrik, konsumsi listrik, elastisitas, kebutuhan tambahan kapasitas periode 2015-2034. (halaman 42)

Selanjutnya, pada halaman 43 ditampilkan kebutuhan pengembangan pasokan listrik periode 2015-2034 dibagi sistem non-PLN, independent power producer (IPP), PLN dan PLN system, serta total kebutuhan tambahan. Pada halaman 44 ditampilkan bauran energi primer dan bauran energi pembangkit listrik dengan patokan realisasi 2013-2014 dan target 2025.

Pada halaman 46, dipaparkan proyeksi kebutuhan tenaga listrik 2016-2025 per pulau di Indonesia. Pada halaman 49-50, ditampilkan porsi tambahan kapasitas pembangkit per jenis pembangkit 2015-2025. Data tersebut dilengkapi dengan proyeksi kebutuhan bahan bakar per jenis pembangkit periode 2016-2025, dibagi dalam empat bahan bakar yakni gas, batubara, biomass, dan panas bumi. (halaman 48-50)

Sementara kebutuhan tambahan jaringan transmisi listrik periode 2016-2025 ditampilkan per golongan pada halaman 50. Kebutuhan tambahan gardu induk per golongan periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 51. Tren kebutuhan tambahan jaringan dan trafo distribusi periode 2016-2025 dipaparkan dalam infografis yang menarik pada halaman 52. Sedangkan kebutuhan investasi dari mulai distribusi, penyaluran, dan pembangkit periode 2016-2025 dipaparkan pada halaman 53. Proyeksi biaya pokok penyediaan listrik untuk periode 2016-2025 ditampilkan pada halaman 54.

Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050 (minyak bumi, gas, batubara, energi terbarukan, listrik) sebanyak 55 halaman ini berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dewan Energi Nasional (DEN), Kementerian Perindustrian, BPS, WHO dan Bank Dunia, dan perusahaan energi di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Sumber: di sini
* Butuh data dan riset pasar lainnya, klik di sini
** Butuh jasa market intelligence dan request data spesifik, klik di sini

Minggu, 05 Februari 2017

127 Kumpulan Bahan Riset & Data Industri

Di era globalisasi dan digitalisasi seperti sekarang, data sudah dianggap sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan secara profesional. Seluruh rantai bisnis industri (supply-demand chain) membutuhkan data untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan efisien.

Di setiap lini usaha, mulai dari pembelian bahan baku, pencarian vendor, proses pengolahan, marketing, distribusi, ekspor-impor, semua membutuhkan data, analisis, dan riset. Bahkan, persaingan pasar juga membutuhkan data, analisis, dan riset untuk mengintip kekuatan-kelemahan pesaing (market intelligence), mempelajari strategi kompetitor, mengakuisisi pelanggan, mempertahankan pangsa pasar, edukasi pasar, edukasi konsumen, brand awareness, dan lainnya.


Namun, di Indonesia sering terjadi pencarian data, analisis, dan riset sulit dilakukan karena terbatasnya akses informasi, ruang publik, ekosistem yang belum berkembang, serta ketiadaan forum/ajang interaksi jual-beli data. Karena itu, tidak heran, harga (nilai) sebuah data dapat melambung tinggi karena keterbatasan pasokan, sementara kebutuhan tergolong tinggi.

Jika Anda sedang mencari data industri yang spesifik dan khusus, maka detektif industri siap membantu. Dengan dukungan tim profesional dan multisources, detektif industri dapat membantu mencari data spesifik sesuai kebutuhan Anda. Harga mulai dari Rp 500 ribu, buka 24 jam sehari – 7 hari seminggu.

Duniaindustri.com memperkenalkan fitur terbaru yakni download database industri aktual. Lebih dari 126 database industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi.

Duniaindustri.com memberikan diskon paket pembelian data industri 30%-50% dengan menjadi member tahunan. Segera hubungi kami untuk kebutuhan data industri, analisis, riset, kajian, dan market research lainnya.

Database industri sangat bermanfaat bagi perusahaan maupun perorangan, investor, pemangku kebijakan, direksi perusahaan, marketer, lembaga pemerintahan, institusi asing, lembaga pembiayaan, mahasiswa, dan lainnya.

Duniaindustri.com menyediakan indeks data industri yang bisa didownload user untuk memberikan gambaran atau acuan perkembangan sektor industri tertentu. Saat ini duniaindustri.com menghimpun lebih dari 1000 ukm dan lebih dari 10.000 basis user baik secara perorangan maupun perusahaan, serta industrial agent dari 10 negara di dunia, seperti Korea Selatan, Jepang, Eropa, Dubai.
Indeks Data Industri yang bisa didownload:

Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018)
Riset Peta Persaingan Merek Motor Per Provinsi (Tren Penjualan Per Tipe Motor)
Riset Pasar dan Tren Harga Petrokimia 2009-2021 (Market Leader di Indonesia)
Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO)
Riset Infrastruktur Industri 2015-2019 (Peluang Basis Produksi Manufaktur 2017)
Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan)
Riset Pasar dan Database 500 Perusahaan Tekstil (Data Industri Tekstil Hulu-Hilir)
Riset Tren Produksi Market Leader Rokok 2005-2016 (Kompetisi Pasar dan Tren Konsumsi Rokok)
Riset Tren Distribusi Sepeda Motor Per Wilayah (Data Penjualan Per Tipe Per CC Mesin)
Riset Pasar dan Data Outlook Kosmetik 2009-2017 (Top 10 Perusahaan Kosmetik di Indonesia)
Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019
Riset Pasar dan Data Oli Pelumas Otomotif 2011-2016
Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016
Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size dan Pangsa Pasar)
Riset Pasar dan Data Industri Sepeda Motor (Tren Penjualan Per Merek Per Daerah)
Riset Pasar dan Data Industri Mobil (2005-2019)
Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019)
Riset Pasar Consumer Goods dan Tren Online Shopping (2009-2017)
Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 (Peta Persaingan dan Tren Market Leader)
Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris)
Riset Pasar dan Analisis Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version)
Riset Eksklusif Industri Kemasan Plastik (Tren Pertumbuhan dan Analisis Cukai)
Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit (Tren Persaingan Market Leader)
Riset dan Data Industri Pariwisata Indonesia 2010-2020
Riset dan Analisis Eksklusif Farmasi (Tren Persaingan Obat Bebas, Generik, Herbal dan Daftar Obat Paling Laku)
Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat herbal
Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015
Riset Industri Manufaktur; Peluang Investasi dan Basis Produksi 2015-2019
Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019
Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017
Riset Persaingan Brand Rokok di Indonesia 2014-2016
Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017
Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017
Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016
Riset Komprehensif Industri Susu Olahan 2013-2016
Data dan Outlook Industri Susu & Teh Siap Minum 2013-2016
Data dan Outlook Industri Farmasi 2010-2019
Data dan Outlook Industri Batubara 2011-2030
Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019
Data dan Outlook Industri Rokok 2005-2016
Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016
Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
Data Industri Minimarket, Supermarket, Hypermarket, dan Modern Trade di Indonesia 2012-2015
Data dan Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016
Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
Data industri sepeda motor dan velg motor di Indonesia
Outlook Industri Otomotif 2016-2018
Outlook Industri CPO 2016
Data Pasar Surat Utang di Indonesia dan ASEAN
Data Kejatuhan Harga Komoditas Ekspor Indonesia dan Depresiasi Rupiah
Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015
Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community
Data dan Analisis Industri Pakan Ternak dan Perunggasan 2007-2017
Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014
Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017
Data Market Insight Private Equity di Asia Tenggara
Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
Data Sumberdaya Batubara, Tren Harga, serta Biaya Produksi per Ton
Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar
Data Industri Properti dan Perbandingan Harga di Indonesia
Data Industri Perbankan, Reksadana, Asuransi, dan Multifinance di Indonesia
Data Industri Televisi Berlangganan di Indonesia
Data Industri Media dan Belanja Iklan di Indonesia
Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia
Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia
Data Energi Terbarukan (Sawit dan Biofuel) Indonesia
Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia
Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
Data Pasokan dan Permintaan Batubara Termal Global
Data Pasar Minimarket dan Restoran Cepat Saji di Indonesia
Data Produksi, Defisit Pasokan, serta Harga Timah
Data Penjualan Per Merek Mobil
Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif
Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC)
Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
Data Industri Perkapalan Indonesia
Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan
Data Produksi, Ekspor, dan Investasi 15 Komoditas Utama Indonesia
Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah
Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar
Data Daya Saing Industri Indonesia di Asean Community 2015
Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi
Data Komprehensif Sasaran, Fokus, dan Kinerja Industri Pengolahan
Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia
Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
Data Segmentasi dan Jumlah Konsumen Kelas Menengah di Indonesia (2012-2030)
Data Industri Batubata (Brick) di Indonesia dan Malaysia
Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia
Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir)
Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir)
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Komprehensif Industri Farmasi Indonesia (Periode Lima Tahun Terakhir)
Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia
Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
Data Top 20 Produsen Obat Generik di Indonesia
Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir)
Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
Data Omzet dan Top 10 Player Industri Makanan-Minuman
Data Pasar Alat Kesehatan di Asia Pasifik
Data Produksi dan Utilisasi 4 Produsen Kertas Terbesar di Indonesia
Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat
Data Industri Alat Musik, Mainan, dan Perhiasan
Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir)
Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar
Data Produksi Gula, Tebu, dan Area Lahan
Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia
Data Jumlah Kendaraan Bermotor, dan Panjang Jalan di Indonesia
Data Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Berdasarkan Jenis
Data Pangsa Pasar Lima Produsen Ban di Indonesia
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Penjualan dan Pangsa Pasar 4 Perusahaan Rokok Terbesar
Data Pasar Farmasi di Asia Pasifik
Data Belanja Alat Kesehatan di Indonesia
Data Kapasitas dan Utilisasi Industri Aneka
Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia
Kajian Komprehensif Industri Kertas di Indonesia
Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas (HRC)

Sumber: di sini

Rabu, 01 Februari 2017

Data Produksi Minyak Sawit Indonesia 34,5 Juta Ton di 2016

Produksi minyak sawit Indonesia sepanjang 2016 hanya turun 3% menjadi 34,5 juta ton dibanding tahun 2015 sebanyak 35,5 juta ton, menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki). Realisasi tersebut lebih baik dari perkiraan sebelumnya yang mengestimasi penurunan produksi hingga 30%.

"Secara garis besar produksi minyak sawit pada 2016 masih relatif baik. Banyak kekhawatiran bahwa produksi minyak sawit Indonesia akan anjlok hingga 30%, namun akhirnya penurunan hanya 3% dibanding tahun sebelumnya. Untuk 2017, diharapkan kondisi akan lebih baik dibanding 2016," kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dalam jumpa pers "Refleksi Industri Kelapa Sawit 2016 dan Prospek 2017" di Jakarta.

Menurut dia, penurunan produksi CPO Indonesia akibat El Nino yang terjadi di negeri ini dengan periode cukup panjang. Berdasarkan data Gapki, total produksi minyak sawit Indonesia pada 2016 sebanyak 34,5 juta ton yang terbagi dari crude palm oil (CPO) sebanyak 31,5 juta ton dan palm kernel oil (PKO) sebanyak 3 juta ton. Sementara pada 2015, produksi CPO Indonesia sebanyak 32,5 juta ton dan PKO sebanyak 3 juta ton, sehingga total produksi minyak sawit sebanyak 35,5 juta ton.

Hingga akhir 2016, stok CPO Indonesia sebanyak 1 juta ton, atau yang terendah, dimana rata-rata stok pada akhir tahun sebanyak 4,5 juta ton.

Berdasarkan catatan Gapki, beberapa permasalahan yang dihadapi pada 2016 antara lain wacana pemerintah untuk moratorium penanaman sawit yang dinilai akan menghambat industri minyak sawit dalam negeri. Selain itu, belum ada kepastian hukum menyangkut lahan atau tata ruang. Industri sawit masih belum mendapatkan dampak signifikan dari program deregulasi pemerintah.

Masalah lain adanya kampanye hitam dari dalam dan luar negeri, terutama saat terjadi kebakaran lahan. Kampanye negatif juga mulai masuk pada ranah hak asasi manusia seperti mempekerjakan anak di bawah umur serta perampasan hak masyarakat adat.

"Tahun 2017, harapannya pemerintah membantu dalam menyelesaikan hambatan perdagangan di berbagai negara, dan berharap pasar Amerika tetap naik meskipun masih tergantung kebijakan Donald Trump," kata Joko.

Duniaindustri.com menilai salah satu faktor yang menjadi alternatif penopang produksi CPO Indonesia adalah efektif berjalannya program mandatori biodiesel (B20). Sebelumnya diberitakan, pProgram mandatori biodiesel sebesar 20% (B20) untuk dicampur dengan minyak diesel (solar) sebagai solusi energi terbarukan telah menyerap 2,7 juta kiloliter (KL) biodiesel sawit sepanjang 2016, melampaui target 2,5 juta kiloliter. Selain itu, program ini menghemat devisa negara senilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 14,8 triliun.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi menjelaskan penyerapan mandatori biodiesel pada tahun lalu juga lebih tinggi dibanding 2014 yang hanya 1,84 juta kiloliter. Program mandatori biodiesel B20 tahun 2016 telah memberikan manfaat besar dalam bentuk pengurangan greenhouse gas emissions (GHG) sekitar 4,49 juta ton CO2.

Menurut dia, utilisasi bahan bakar nabati berbasis produk dalam negeri 45.500 barel/hari, menciptakan nilai tambah industri Rp4,4 triliun, dan penyerapan tenaga kerja 385.000 orang. ”Ada penghematan devisa dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil senilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp14,8 triliun,” ujar Bayu. Dia menuturkan, pada tahun lalu BPDP Kelapa Sawit mengelola dana sebesar Rp11,7 triliun dari hasil pungutan ekspor minyak sawit.

Dia melihat, dengan semakin bertambahnya penyerapan mandatori biodisel, industri sawit ke depan memiliki prospek cukup kuat. ”Program mandatori biodiesel tahun lalu juga menyerap dana sawit yang digunakan untuk mendukung program B20 tahun 2016 mencapai Rp10,6 triliun,” ujarnya. Selain untuk dukungan program B20, lanjut Bayu, pemanfaatan dana sawit selama 2016 digunakan untuk program strategis lainnya seperti peremajaan kebun sawit rakyat, riset, pendidikan, dan pelatihan petani, serta promosi dan diplomasi sawit.

”Seperti pelatihan 2.784 petani sawit, pelatihan 723 anak petani sawit, pelatihan 300 guru SMK pertanian tentang sawit, pelatihan 540 anggota dan pengurus koperasi perkebunan sawit dan diberikan 330 beasiswa pendidikan D1 dan D3 untuk anak-anak petani dan buruh pabrik sawit,” paparnya.

Menurutnya, masalah yang masih dihadapi dalam penyaluran dana sawit adalah replanting perkebunan rakyat. Dari usulan kegiatan peremajaan seluas 26.500 hektare, sebanyak 61% masih menghadapi kendala kejelasan status lahan. Bayu menambahkan, tahun ini BPDP menyiapkan dana sawit Rp9,6 triliun untuk mendukung program mandatori B20 dan target penggunaan biodiesel berbahan baku sawit dalam negeri.

Selama 2016, Indonesia sebagai penguasa pangsa pasar dunia dengan total ekspor dan ISPO terbesar di dunia melakukan dua strategi, yakni 1) implementasi program B20 diesel dan 2) mengaktifkan secara penuh pemanfaatan dana sawit melalui BPDP, baik untuk mendukung program B20 maupun program strategis lain, seperti peremajaan kebun sawit rakyat, riset sawit, pendidikan dan latihan petani sawit serta promosi dan diplomasi sawit.(*)

Sumber: di sini
* Butuh data industri atau riset pasar, klik di sini
** Mau request data industri atau riset pasar, klik di sini

Penjualan Minuman Anjlok Paling Dalam di Akhir 2016


Penjualan minuman (beverages) pada akhir 2016 tercatat mengalami penurunan baik secara volume maupun nilai dibanding periode yang sama tahun 2015. Penurunan tersebut tercatat paling buruk dibanding segmen consumer goods lainnya, yakni makanan (food), dairy, personal care, dan home care.

Penjualan minuman anjlok -10% secara nilai (value growth) dan -12% secara volume (volume growth) periode 12 minggu hingga Oktober 2016 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu terekam dalam riset dan survei Kantar Worldpanel yang hasilnya diterima duniaindustri.com.

Menurut Kantar Worldpanel, penjualan makanan juga turun -3% secara nilai dan anjlok -4% secara volume. Berbeda halnya dengan penjualan produk dairy yang tumbuh 4% secara nilai, tapi turun -3% secara volume.

Dua segmen industri consumer goods lainnya, yakni personal care dan home care, justru tumbuh signifikan pada akhir 2016. Penjualan produk personal care tumbuh 15% secara nilai, tertinggi dibanding segmen lainnya, dan tumbuh 8% secara volume. Sementara penjualan produk home care juga tumbuh 7% secara nilai, dan tumbuh 2% secara volume.

Dilihat porsinya, penjualan makanan berkontribusi 38% dari total pasar fast moving consumer goods (FMCG) di Indonesia, disusul kontribusi 18% dari penjualan minuman, 18% dari penjualan personal care, 15% dari penjualan dairy, dan 12% dari penjualan produk home care.

Pada semester I 2016, pasar produk consumer goods juga belum mampu bangkit, seiring perlambatan ekonomi nasional yang memukul daya beli konsumen. Pelemahan demand produk consumer goods secara volume menjadi yang terburuk dalam tujuh kuartal terakhir, menandakan tekanan berat bagi produsen.

Di semester I 2016, penjualan produk makanan anjlok -7% secara volume, namun naik 2% secara nilai. Sedangkan produk dairy tumbuh 2% secara volume dan meningkat 6% secara nilai. Penjualan produk minuman juga turun -1% secara volume, tapi tumbuh 7% secara nilai. Penjualan produk home care tumbuh 1% secara volume dan naik 9% secara nilai. Penjualan produk personal care tumbuh paling tinggi di antara kategori consumer goods, yakni tumbuh 7% secara volume dan naik 11% secara nilai.

Meski penjualan produk makanan dan minuman masih dalam teritori negatif secara volume, terjadi perbaikan di kategori-kategori lain terutama produk personal care. Kondisi di akhir Juni 2016 juga lebih baik dibanding Februari 2016 saat seluruh kategori produk consumer goods menderita pertumbuhan negatif per Februari 2016 mengindikasikan tekanan berat dialami daya beli konsumen. Dilihat dari tren makro ekonomi, inflasi pada Juni 2016 naik menjadi 3,45% dari inflasi Mei 2016 sebesar 3,33%.

Perekonomian Indonesia tumbuh 4,92% pada kuartal I 2016, sedikit di atas ekspektasi 4,91%. Sementara nilai mata uang rupiah menguat sekitar 0,5% pada Juni 2016 di level Rp 13.422/US$ dibanding bulan sebelumnya.

Fast moving consumer goods mencakup barang-barang konsumsi yang dibutuhkan sehari-hari atau dibutuhkan secara berkala dalam periode waktu tertentu yang singkat. Barang konsumsi jenis itu mencakup produk-produk makanan (food), peralatan rumah tangga (household), dan perawatan tubuh (personal care). Berbeda dengan barang tahan lama (durable goods), barang-barang fast moving consumer goods memiliki umur simpan yang singkat, baik sebagai akibat dari permintaan konsumen tinggi maupun karena produk yang cepat rusak.

Pasar FMCG di Indonesia tumbuh rata-rata per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) sebesar 16,6% periode 2004-2010, di tengah fluktuasi inflasi yang dapat menahan maupun menggerus daya beli masyarakat. Sementara periode 2011 hingga saat ini, pertumbuhan pasar diperkirakan sekitar 13%. Namun, tekanan berat yang dihadapi konsumen mengubah tren pasar pada 2015-2016.(*)

Sumber: di sini
* Butuh riset pasar dan data industri spesifik, klik di sini
** Kesulitan request data untuk keperluan market intelligence atau penelitian pasar, klik di sini