Jumat, 15 September 2017

Riset Tren Pasar Obat Generik, Etikal, dan OTC 2012-2018 (Data Industri Healthcare)

Riset Tren Pasar Obat Generik, Etikal, dan OTC 2012-2018 (Data Industri Healthcare) ini dirilis pertengahan September 2017 menampilkan tren pertumbuhan pasar tiga jenis obat tersebut, riset industri farmasi, data dan analisis industri farmasi serta healthcare. Disajikan dalam tabel dan infografis yang menarik, riset ini diharapkan bermanfaat bagi pelaku industri farmasi dan healthcare serta stakeholders terkait.

Riset komprehensif ini dimulai dari makro ekonomi Indonesia, data-data dan outlook ekonomi, tren perdagangan global, hingga proyeksi sektor ekonomi di Indonesia pada 2018. (halaman 2 sampai 5) Tidak ketinggalan, ditampilkan tren ekonomi per daerah (pulau) di Indonesia beserta tren pendapatan dan pengeluaran daerah (pulau) 2016 serta target 2017. (halaman 7 sampai 10) Sedangkan tren pergerakan rupiah yang mempengaruhi kinerja industri farmasi dan healthcare dipaparkan pada halaman 11.

Halaman 12 sampai 17, masuk ke pembahasan detail, ditampilkan data tren pasar farmasi secara total (overall market), per jenis obat beserta pertumbuhannya, dikaitkan dengan tren jumlah peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pertumbuhan makro ekonomi, tingkat inflasi, serta pergerakan kurs periode 2012-2018. Data tersebut kemudian dianalisis untuk menunjukkan tren yang terjadi pada periode tersebut.

Berlanjut ke pembahasan berikutnya, ditampilkan rekam jejak (track record) tren obat generik sejak 2010 hingga 2014, target awal roadmap JNK/SJSN, serta analisis pertumbuhan pesat obat generik terhadap obat beban (OTC) pada halaman 18 hingga 22.

Pada halaman 23 hingga 46 ditampilkan kajian komprehensif terkait tren pasar obat bebas (OTC), dari mulai tren pangsa pasar 9 perusahaan terbesar, pergerakan atau perubahan pangsa pasar 9 perusahaan dari periode 2011-2015, pangsa pasar per merek obat bebas dari market leader periode 2012, 2013, dan 2014, dan daftar merek obat bebas di pasaran. Juga, dipaparkan pangsa pasar obat bebas per segmen dan per merek hingga 2015. Tidak ketinggalan, ditampilkan top 7 obat bebas paling laku di pasaran Indonesia serta analisis persaingan.

Pada halaman 47 hingga 63, ditampilkan data dan outlook industri healthcare di Indonesia. Pembahasan ini merupakan hal baru yang dinilai penting terkait dengan perkembangan industri farmasi mengingat pesatnya pertumbuhan program JKN yang mendorong konsumsi obat generik. Pada halaman 47 ditampilkan tabel perkembangan anggaran kesehatan di Indonesia periode 2012 hingga 2017, di mana anggaran naik dari Rp 41,5 triliun (2,7% dari belanja negara) menjadi Rp 104 triliun (5% dari anggaran belanja negara). Pada halaman 48, dijabarkan beberapa indikator kesehatan di Indonesia periode 2012 dan 2015, antara lain angka harapan hidup, angka kematian ibu, rasio dokter per 100.000 penduduk, rasio puskesmas per 30.000 penduduk.

Perbandingan belanja kesehatan (healthcare spending) Indonesia terhadap negara ASEAN dan rata-rata global ditampailkan pada halaman 49, disusul profil industri kesehatan di Indonesia (halaman 50), regulasi produksi dan distribusi farmasi (halaman 51), regulasi alat kesehatan (halaman 52), sebaran sarana produksi alat kesehatan di 17 provinsi (halaman 53), pengembangan jenis produk alat kesehatan di Indonesia (halaman 54), sebaran jumlah apotek dan pedagang besar farmasi (PBF) per provinsi di Indonesia (halaman 55 hingga 57), profil ketersediaan obat dan vaksin di Puskesmas tahun 2016 (halaman 58-59), profil instalasi farmasi per provinsi (halaman 60), rasio tempat tidur rumah sakit per 1.000 penduduk per provinsi (halaman 61), serta tren pertumbuhan jumlah rumah sakit berdasarkan kepemilikan periode 2013-2015 (halaman 62-63).

Riset Tren Pasar Obat Generik, Etikal, dan OTC 2012-2018 (Data Industri Healthcare) sebanyak 64 halaman ini berasal dari kompilasi data dan outlook Duniaindustri.com didukung data dari Binfar Kementerian Kesehatan, Kementerian Keuangan, BPS, WHO dan Bank Dunia, GP Farmasi, dan sejumlah perusahaan farmasi di Indonesia. Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 143 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Senin, 11 September 2017

Market Value Industri Mobil di Indonesia Rp 231 Triliun

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan total nilai pasar (market value) kendaraan roda empat pada tahun lalu mencapai Rp231 triliun. Dengan demikian, penerimaan pemerintah pusat maupun daerah diproyeksikan menyentuh Rp91,18 triliun.

Sekretaris Gaikindo Kukuh Kumara menjelaskan perkiraan penerimaan pemerintah itu didasarkan pada perhitungan simulasi harga jual yang dibayarkan konsumen. “Hingga Desember tahun lalu, total penjualan domestik minimal mencapai 1,052 juta unit, seperti perkiraan awal tahun," kata Sekretaris Gaikindo, Kukuh Kumara kepada pers.

Selama ini, menurut Kukuh, rata-rata harga produk mobil di Indonesia hanya berkisar Rp220 juta per unit. "Harga produk yang dipasarkan variatif, mulai dari Rp120 juta hingga miliaran rupiah. Penyumbang penjualan terbesar masih di level Rp100 juta sampai Rp300 juta," papar dia.

Berdasarkan data Gaikindo, konsumen pertama-tama menanggung biaya registrasi kepolisian berupa dokumen kendaraan sebesar 10%. Hasilnya, dari total transaksi mencapai Rp232 triliun, biaya registrasi keseluruhan mencapai Rp21,04 triliun.

Secara total, pembebanan biaya Kepolisian tersebut memangkas nilai transaksi menjadi Rp210 triliun yang merupakan omset bagi diler. Tanpa memperhitungkan margin yang disematkan diler, nilai transaksi itu mengandung pembebanan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), dan Pajak Penghasilan Konsumen (PPh Konsumen), masing-masing 10%, 20%, dan 0,45%.

Besaran pajak yang dibayarkan pada tahap ini berdasarkan basis harga pabrik. Hasilnya, total pajak yang disetorkan dari transaksi hingga tahap diler mencapai Rp49,1 triliun.

Pada urutan terakhir, nilai transaksi dari harga pabrik yang mencapai Rp140,2 triliun termasuk adanya pembebanan bea masuk. Tarif terendah bea masuk mencapai 15%, sehingga total setoran ke pemerintah terkait ketentuan tersebut mencapai Rp21,03 triliun.

Dengan menggabungkan total seluruh pungutan pemerintah tersebut, maka dari nilai transaksi mencapai Rp231 triliun, terdapat Rp91,1 triliun atau setara 39% nilai transaksi.

Rasio Kepemilikan
Sementara itu, rasio penetrasi mobil terhadap populasi penduduk di Indonesia baru mencapai 93 unit per 1.000 penduduk. Rasio itu masih di bawah Thailand yang sudah mencapai 200 unit per 1.000 penduduk.

Karena itu, Direktur Utama PT Astra International Tbk (ASII) Prijono Sugiarto mengakui potensi pasar kendaraan roda empat masih sangat tinggi. “Angka penjualan kendaraan roda empat yang stagnan merupakan indikator yang kurang baik untuk negeri yang memiliki potensi sedemikian besar karena penetrasi mobil di Indonesia masih rendah dibandingkan negara Thailand atau pun negara maju lainnya,” katanya seperti mengutip keterbukaan informasi.

Menurut dia, pasar mobil di Indonesia tahun ini diperkirakan cukup stagnan dengan potensi pasar hanya 1.100.000 unit. “Kami katakan potensi pasar tahun ini akan berkisar antara 1.050.000 – 1.100.000 unit. Jadi dapat dikatakan pasar kendaraan roda empat mengalami stagnasi,” ujarnya.

Secara GDP, Indonesia pernah mencapai US$3.500 per kapita. Tahun ini berpotensi sekitar US$ 3.500-US$ 3.600 per kapita. “Namun selama beberapa tahun belakangan ini, nominal GDP kita bertahan di angka itu,” ucapnya.

Tahun ini angka penjualan kendaraan roda dua turun sekitar 9 persen. Namun Astra beruntung, lanjut Prijono, karena pangsa pasar kendaraan roda dua Asra dapat menyentuh 74%.

Indonesia dengan transportasi publik baru akan tersedia pada tahun 2019. Untuk itu saat ini masih membutuhkan kendaraan roda empat.

Sementara untuk rencana kenaikan pajak kendaraan bermotor hingga 15% kian menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pajak kendaraan tertinggi. Walaupun tidak setinggi pajak kendaraan di Singapura. Untuk rata-rata jenis mobil Avanza hingga mobil premium, Lexus yang Astra jual, mungkin 60%-70% masuk kas negara.

Sementara dengan mobil yang muatan lokal 80% pajak yang masuk ke kas negara hanya 30%-40%. “Biasanya jika terjadi penurunan GDP di bawah 5% pasar mengalami stagnasi,” katanya.

“Astra masih cukup beruntung karena sampai dengan semester pertama, pertumbuhan kendaraan roda empat Astra sebesar 9%, sehingga pangsa pasar kami naik menjadi 56%.”


Untuk penjualan kendaraan roda dua nasional semester I turun 9% karena ada keterlambatan panen di jawa sehingga pasarnya kemungkinan berkisar antara 5,5 juta sampai dengan 5,7 juta. “Harapan kami pangsa pasar motor Honda bisa tetap bertahan di angka 74 persen.”(*/tim redaksi 05)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 142 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Kamis, 07 September 2017

Inilah Pentingnya Survei Perusahaan bagi Pertumbuhan Bisnis

Sekilas bagi perusahaan yang terus bertumbuh, inovasi bisnis memang tidak diperlukan. Tapi, jangan salah, saat ekonomi melambat, daya beli masyarakat melemah, kue pasar menciut, barulah manajemen perusahaan berupaya untuk mencari jalan dan strategi mempertahankan pertumbuhan.

Nah, cara untuk mencari strategi mempertahankan pertumbuhan perlu mencermati kondisi secara utuh, menyeluruh, atau bahasa kerennya 360 derajat angle, helicopter view, dan lainnya. Intinya, perusahaan harus dapat menangkap tren dari ekosistem bisnis yang digelutinya, apakah terjadi pergeseran minat konsumen, bagaimana strategi kompetitor, hingga bagaimana perang harga yang terjadi di pasar.

Untuk itu, salah satu cara yang perlu diterapkan adalah melakukan riset pasar, yang mencakup survei pelanggan, survei pesaing, survei perusahaan target, dan analisis. Khusus untuk survey perusahaan target meliputi pabrik, lini produksi, jaringan distribusi, tim pemasaran, infrastruktur.

Survey ini biasanya dilakukan secara spesifik dan komprehensif melibatkan jajaran struktural perusahaan yang menjadi target. Dari mulai staf, sales, marketing, logistik, hingga tingkatan supervisor, manager, general manager, dan direksi serta top executive perusahaan dapat menjadi target survei perusahaan.

Secara umum, survey merupakan penelitian atau pemeriksaan yang dilakukan secara kompeherensif. Survey bisa dilakukan secara langsung (wawancara), dengan sambungan telepon, email, pesan singkat, maupun secara online (menyebarkan kuisioner), ataupun dalam bentuk forum diskusi terarah (FGD). Inti dari sebuah survey adalah perusahaan dapat mengambil informasi yang bermanfaat untuk kemjuan perusahaan. Dengan adanya sebuah survey menandakan bahwa perusahaan berusaha menjangkau para pelanggan, konsumen (baik personal maupun perusahaan), pesaing, jaringan bisnis, dan ekosistem bisnisnya.

Dengan survey, perusahaan dapat mendengarkan kebutuhan pelanggan, mengetahui tingkat kepuasan maupun ketidakpuasan pelanggan terhadap pelayanan perusahaan, mencari segmentasi baru dari produk yang dihasilkan, memetakan permintaan pasar, mendeteksi tren kenaikan/penurunan pasar, mencari celah baru dalam distribusi, mengefisienkan biaya dengan membandingkan dari pesaing, dan lainnya.

Survey dapat menghasilkan data riil sebenarnya yang memberikan informasi apakah produk/pelayanan perusahaan sebagai memimpin pasar atau pengikut pasar. Hasil survey juga dapat membantu perusahaan untuk fokus terhadap proses promosi produk dan menentukan sistem manajemen yang efisien untuk dilakukan.

Untuk menjawab kebutuhan itu, Duniaindustri.com--sebuah start up khusus di segmen industri yang berisi berita, riset pasar, market intelligence, dan komunitas industri--hadir dengan kompetensi dan kesiapan tim yang mumpuni. Duniaindustri.com telah menangani puluhan proyek data hingga riset persaingan pasar dari perusahaan kecil, menengah, besar di Indonesia, terutama dari Jakarta, Cikarang, Bandung, Yogya, Surabaya, Palu, Bali, dan daerah lainnya.

Duniaindustri.com memperkenalkan fitur terbaru yakni download database industri aktual. Lebih dari 142 database industri dari berbagai sektor industri manufaktur (tekstil, agro, kimia, makanan-minuman, elektronik, farmasi, otomotif, rokok, semen, perkapalan, dan lainnya), komoditas, pertanian, perkebunan, sumber daya mineral, logistik, infrastruktur, properti, perbankan, reksadana, media, consumer, hingga makro-ekonomi.

Per awal April 2017, detektif industri juga dilengkapi tools (instrumen analisis) untuk melakukan market intelligence (competitor intelligence) dengan lebih terukur, komprehensif, dan berkesinambungan. Duniaindustri.com juga memperluas coverage basis data dan database spesifik guna menangkap seluruh aktivitas industri di seluruh sektor usaha di Indonesia.



Indeks Data Industri yang bisa didownload (142 database) update awal Agustus 2017:

Riset Tren Pertumbuhan Industri Rokok 2005-2018 (Tren PangsaPasar Market Leader)
Riset Tren Ekspansi Industri Semen 2015-2017 (Kajian Peta Kompetisi dan Strategi Penetrasi Pasar)  
Riset Eksklusif Industri Tinta Cetak (Printing Ink) 2008-2020 (Market Size and Demand Forecast)
Riset Spesifik Market Size Industri Oli Pelumas (Tren Penjualan Dua Market Leader) new version
Data dan Riset Eksklusif Industri Pipa Baja 2012-2018 (Demand Trends dan Market Leader)
Data dan Kajian Pembangunan Infrastruktur 2015-2019 (Alternatif Pendanaan dan Skema Penjaminan)
Data dan Market Brief Industri Baja (Tren Pangsa Pasar dan Demand Growth 2016-2017)
Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020)
Data Komparasi Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik Per Wilayah (RUPTL 2017-2026)
Data Komprehensif Infrastruktur Jalan 2015-2019

Riset Eksklusif Pasar Oli Pelumas Mobil Per Provinsi (Tren Pertumbuhan 2015-2017)
Riset Persaingan Merek Mobil 2016 (Tren Penjualan Per Model dan Pangsa Pasar) Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018
Outlook Industri Consumer Goods 2017 dan Tren Harga Bahan Baku
Data dan Outlook Kebutuhan Energi di Sektor Industri 2015-2050

Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018)
Riset Peta Persaingan Merek Motor Per Provinsi (Tren Penjualan Per Tipe Motor)
Riset Pasar dan Tren Harga Petrokimia 2009-2021 (Market Leader di Indonesia)
Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO)
Riset Infrastruktur Industri 2015-2019 (Peluang Basis Produksi Manufaktur 2017)
Riset Pasar Seluler dan Data Industri Telekomunikasi 2010-2018 (Peta Persaingan dan Potensi Pertumbuhan)
Riset Pasar dan Database 500 Perusahaan Tekstil (Data Industri Tekstil Hulu-Hilir)
Riset Tren Produksi Market Leader Rokok 2005-2016 (Kompetisi Pasar dan Tren Konsumsi Rokok)
Riset Tren Distribusi Sepeda Motor Per Wilayah (Data Penjualan Per Tipe Per CC Mesin)
Riset Pasar dan Data Outlook Kosmetik 2009-2017 (Top 10 Perusahaan Kosmetik di Indonesia)
Data Listrik dan Sistem Kelistrikan Nasional 2009-2019
Riset Pasar dan Data Oli Pelumas Otomotif 2011-2016
Riset Pasar dan Tren Harga Baja (Hulu-Hilir) 2010-2016
Riset Pasar Ponsel, Komputer, dan Elektronik Home Appliance (Tren Market Size dan Pangsa Pasar)
Riset Pasar dan Data Industri Sepeda Motor (Tren Penjualan Per Merek Per Daerah)
Riset Pasar dan Data Industri Mobil (2005-2019)
Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019)
Riset Pasar Consumer Goods dan Tren Online Shopping (2009-2017)
Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 (Peta Persaingan dan Tren Market Leader)
Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris)
Riset Pasar dan Analisis Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version)
Riset Eksklusif Industri Kemasan Plastik (Tren Pertumbuhan dan Analisis Cukai)
Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit (Tren Persaingan Market Leader)
Riset dan Data Industri Pariwisata Indonesia 2010-2020
Riset dan Analisis Eksklusif Farmasi (Tren Persaingan Obat Bebas, Generik, Herbal dan Daftar Obat Paling Laku) 
Riset Pasar Obat Bebas, Obat Generik, dan Obat herbal
Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015
Riset Industri Manufaktur; Peluang Investasi dan Basis Produksi 2015-2019
Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019
Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017
Riset Persaingan Brand Rokok di Indonesia 2014-2016
Riset Komprehensif Industri Baja 2007-2017
Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017
Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016
Riset Komprehensif Industri Susu Olahan 2013-2016
Data dan Outlook Industri Susu & Teh Siap Minum 2013-2016
Data dan Outlook Industri Farmasi 2010-2019
Data dan Outlook Industri Batubara 2011-2030
Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019
Data dan Outlook Industri Rokok 2005-2016
Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016
Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
Data Industri Minimarket, Supermarket, Hypermarket, dan Modern Trade di Indonesia 2012-2015
Data dan Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016
Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016
Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
Data industri sepeda motor dan velg motor di Indonesia
Outlook Industri Otomotif 2016-2018
Outlook Industri CPO 2016
Data Pasar Surat Utang di Indonesia dan ASEAN
Data Kejatuhan Harga Komoditas Ekspor Indonesia dan Depresiasi Rupiah
Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015
Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015
Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community
Data dan Analisis Industri Pakan Ternak dan Perunggasan 2007-2017
Data dan Analisis Industri Baja Periode 2000-2014
Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017
Data Market Insight Private Equity di Asia Tenggara
Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi
Data Sumberdaya Batubara, Tren Harga, serta Biaya Produksi per Ton
Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar
Data Industri Properti dan Perbandingan Harga di Indonesia
Data Industri Perbankan, Reksadana, Asuransi, dan Multifinance di Indonesia
Data Industri Televisi Berlangganan di Indonesia
Data Industri Media dan Belanja Iklan di Indonesia
Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia
Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia
Data Energi Terbarukan (Sawit dan Biofuel) Indonesia
Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia
Data Outlook Pasar Minyak Nabati China
Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia
Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
Data Pasokan dan Permintaan Batubara Termal Global
Data Pasar Minimarket dan Restoran Cepat Saji di Indonesia
Data Produksi, Defisit Pasokan, serta Harga Timah
Data Penjualan Per Merek Mobil
Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif
Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC)
Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia
Data Industri Perkapalan Indonesia
Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan
Data Produksi, Ekspor, dan Investasi 15 Komoditas Utama Indonesia
Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah
Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama
Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga
Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO
Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar
Data Daya Saing Industri Indonesia di Asean Community 2015
Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi
Data Komprehensif Sasaran, Fokus, dan Kinerja Industri Pengolahan
Data Komprehensif Industri Baja di Indonesia
Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor
Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
Data Segmentasi dan Jumlah Konsumen Kelas Menengah di Indonesia (2012-2030)
Data Industri Batubata (Brick) di Indonesia dan Malaysia
Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia
Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir)
Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir)
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Komprehensif Industri Farmasi Indonesia (Periode Lima Tahun Terakhir)
Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia
Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
Data Top 20 Produsen Obat Generik di Indonesia
Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir)
Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE
Data Omzet dan Top 10 Player Industri Makanan-Minuman
Data Pasar Alat Kesehatan di Asia Pasifik
Data Produksi dan Utilisasi 4 Produsen Kertas Terbesar di Indonesia
Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat
Data Industri Alat Musik, Mainan, dan Perhiasan
Data Permintaan Baja di Indonesia (sepuluh tahun terakhir)
Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar
Data Produksi Gula, Tebu, dan Area Lahan
Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia
Data Jumlah Kendaraan Bermotor, dan Panjang Jalan di Indonesia
Data Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Berdasarkan Jenis
Data Pangsa Pasar Lima Produsen Ban di Indonesia
Data Produksi dan Ekspor-Impor Industri Aneka
Data Penjualan dan Pangsa Pasar 4 Perusahaan Rokok Terbesar
Data Pasar Farmasi di Asia Pasifik
Data Belanja Alat Kesehatan di Indonesia
Data Kapasitas dan Utilisasi Industri Aneka
Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia
Kajian Komprehensif Industri Kertas di Indonesia
Data Produksi dan Pangsa Pasar 4 Pemimpin Pasar Baja Canai Panas (HRC)

Sumber: di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 142 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Persaingan E-commerce Makin Crowded, Ketidakpastian Profitabilitas Menguat

Persaingan bisnis di industri e-commerce makin ketat dan cenderung sesak (crowded) sehingga membuat jurang ketidakpastian yang semakin dalam terhadap tercapainya profitabilitas. Kondisi itu antara lain disebabkan datangnya perusahaan digital global yang menanamkan investasi hingga puluhan triliun di industri e-commerce lokal.

Hal itu diungkapkan Presiden Direktur XL Axiata, Dian Siswarini, menanggapi pelepasan saham XL di Elevenia. Seperti diketahui, PT XL Axiata Tbk telah menjual seluruh saham yang dimilikinya di Elevenia. Langkah ini diambil XL untuk mengurangi dampak kerugian yang semakin besar dari usahanya di situs belanja online tersebut.

Dian menyampaikan dalam bisnis e-commerce, dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bisa mendapatkan keuntungan. Biasanya di lima tahun pertama, bisnis tersebut masih akan merugi. Namun, dengan masuknya pemain raksasa ke Indonesia seperti Alibaba, kompetisi akan menjadi semakin ketat, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk bisa mendapatkan keuntungan akan semakin lama.

“Dalam bisnis e-commerce, awalnya itu istilahnya bakar duit dulu. Uang yang ada banyak digunakan untuk promosi, advertising, dan sebagainya. Dari sisi business plan, lima tahun pertama itu memang bleeding atau berdarah-darah dulu. Tapi dengan lebih ketatnya kompetisi seperti saat ini, dana yang dibutuhkan tentunya akan lebih banyak, dan bleeding-nya akan tambah panjang. Makanya kita ambil keputusan untuk melepas Elevenia. Apalagi XL kan bermain di industri telekomunikasi yang juga membutuhkan dana besar,” ujar Dian.

Dian mengatakan, keputusan untuk menjual saham XL di Elevenia telah melalui perhitungan yang cermat. Masuknya investor raksasa telah menyebabkan kompetisi yang semakin keras dan jurang ketidakpastian yang semakin dalam terhadap tercapainya profitabilitas.

“Ketika masuk ke e-commerce, tentu harapanya bisa menang di industri ini dan mendapatkan keuntungan. Seiring berjalannya waktu, di tahun 2016 mulai datang pemain besar ke Indonesia, sehingga dunia e-commerce semakin crowded dengan investasi dari luar yang besar. Dalam bisnis ini, yang besarlah yang bakalan menang,” tutur Dian.

Meskipun telah melepas Elevenia, kata Dian, XL Axiata masih memiliki beberapa unit bisnis digital, di antaranya digital entertainment, digital advertising, dan juga digital money.

Seluruh saham Elevenia kini dimiliki oleh PT Jaya Kencana Mulia Lestari dan Superb Premium Pte Ltd, yang disebut-sebut sebagai anak usaha Salim Group.

Agresivitas Alibaba
Pemain digital global memang sedang agresif menanam investasi di Indonesia. Lihat saja, Alibaba menjadi pemegang saham minoritas dari Tokopedia. CEO Tokopedia William Tanuwijaya menjelaskan, modal baru dari raksasa e-Commerce Asia, Alibaba, mencapai US$ 1,1 miliar, atau sekitar Rp 14,7 triliun.

Dia menegaskan, investasi Alibaba bersifat investasi murni dan tidak mengakuisisi Tokopedia. Dengan begitu, Alibaba pun akan menjadi pemegang saham minoritas bagi Tokopedia. “Pemodalan lebih dari Rp 14 triliun akan dipimpin oleh Alibaba Group. Mereka juga akan menjadi pemegang saham minoritas kami,” kata William.

“Kami selalu menganggap bahwa Alibaba merupakan guru dan role model bagi kami. Karenanya, hari ini kami menyambut baik Alibaba sebagai salah satu pemegang saham di Tokopedia dan kami percaya bahwa kemitraan ini akan mempercepat terwujudnya misi kami dalam menggerakkan pemerataan ekonomi secara digital,” tambahnya.

“Alibaba Group dan Tokopedia memiliki kesamaan visi dalam membantu UMKM dalam kesuksesan usahanya dan kami sangat senang dapat bekerja sama bersama Tokopedia untuk melayani seluruh masyarakat Indonesia,” jelas Daniel Zhang, CEO Alibaba Group.

Untuk diketahui, Alibaba bisa dibilang sebagai e-Commerce yang paling mendominasi di Negeri Tirai Bambu. Mereka bahkan mulai ekspansi ke Tanah Air dengan mengakuisisi Lazada, yang notabene menjadi salah satu pemain besar di industri e-Commerce lokal.(*)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 142 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Rabu, 06 September 2017

Pabrikan Semen Berlomba Garap Semen Khusus Infrastruktur

Tiga pemimpin pasar (market leader) industri semen, yakni PT Holcim Indonesia Tbk, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, meluncurkan produk baru untuk menyasar semen khusus infrastruktur. Hal itu merupakan strategi perusahaan guna menangkap pasar yang lebih besar di segmen infrastruktur dan konstruksi, sejalan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi di segmen curah dibanding segmen kemasan ritel.

Holcim Indonesia berinovasi lewat produk semen khusus dengan merek Solid Road. Gary Schutz, CEO PT Holcim Indonesia Tbk mengatakan, dengan merek Solid Road, Holcim menawarkan produk untuk mengatasi masalah stabilisasi tanah sebagai pondasi jalan.

“Pemilik proyek ingin membangun jalan yang memiliki ketahanan tinggi, kontraktor ingin mengatasi potensi masalah pemeliharaan. Sedangkan pengguna jalan ingin mendapatkan kenyamanan dan menghindari kemacetan karena perbaikan jalan yang memakan waktu lama,” katanya dalam keterangan tertulis.

Menurut Schutz, Solid Road merupakan semen khusus formula untuk mendapatkan stabilisasi tanah, sehingga mampu membantu menurunkan biaya konstruksi maupun pemeliharaan jalan. “Solid Road menyasar proyek-proyek pembangunan jalan nasional, daerah, maupun swasta di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Tidak ketinggalan, Semen Indonesia meluncurkan produk varian semen baru dengan merek Max Strength Cement yang merupakan semen portland slag pertama di Indonesia. Tujuannya untuk menjawab permintaan khusus di sektor infrastruktur dan konstruksi yang membutuhkan semen dengan kekuatan tinggi, daya tahan lama, kuat lentur tinggi, dan cocok untuk mega proyek.

Plt Direktur Utama Semen Indonesia Johan Samudra mengatakan bahwa Max Strength Cement diformulasikan khusus bagi industri ready mix dan precast beton untuk kebutuhan pembangunan mega structure seperti konstruksi jembatan, flyover, terowongan bawah tanah, skyscrapper, dan tower sesuai dengan kebutuhan bangunan masyarakat modern saat ini.

“Max Strength Cement yang merupakan semen portland slag diluncurkan untuk menjawab permintaan khusus di sektor infrastruktur yang sedang digalakkan pemerintah. Terutama untuk MRT di bawah tanah, sangat rentan kebocoran, harus menggunakan semen khusus. Semen yang tidak boleh retak sehelai rambut pun,” ujarnya saat memberikan sambutan pada launching dan talk show Max Strength Cement, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Rabu (30/8).

Pembangunan bendungan, lanjut dia, juga harus menggunakan slag cement yang memiliki kekuatan melebihi semen biasa. “Precast beton di Tol Jagorawi misalnya, terlihat tipis saja betonnya, tapi itu kuat sekali. Kekuatan itu diperoleh dari slag cement,” paparnya.

Secara khusus, Johan menjabarkan, Max Strength Cement memiliki beberapa keunggulan yaitu semen dengan kuat tekan dan kuat Ientur yang tinggi, memiliki panas hidrasi yang Iebih rendah sehingga meningkatkan keawetan beton terhadap kondisi lingkungan yang agresif, seperti serangan karbonasi, chloride, dan sulfat tinggi. Max Strength Cement mampu memperpanjang usia beton atau bangunan.

“Dengan Max Strength Cement, struktur bangunan Iebih awet sehingga bisa mengurangi biaya perawatan,” jelas Johan.

Menurut dia, Max Strength Cement akan diproduksi dari fasilitas produksi Semen Indonesia di Cigading, Banten, dengan kapasitas lebih dari 1,5 juta ton. Bahan bakunya berasal dari limbah B3 PT Krakatau Steel (KS) dan PT Krakatau Steel Posco. Untuk tahun ini, Semen Indonesia memperoleh kuota slag dari KS Posco sebanyak 350 ribu ton.

“Bahan baku slag dari KS Posco akan digiling menjadi slag powder, dan dicampur dengan OPC yang dihasilkan di Ciwandan untuk menghasilkan slag cement,” ucapnya.

Semen jenis portland slag telah banyak digunakan di dunia terasuk di negara maju untuk pembangunan berbagai bangunan monumental seperti Buruj Al Arab, Lotte Tower di Seoul, Jembatan Humbridge di Inggris, Bendungan Koyama di Jepang, dan TV Tower Florian di Jerman.

Merek Baru
Sementara itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa (Indocement) meluncurkan produk semen terbaru, yakni Semen Rajawali. Menurut Direktur Utama PT indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Wijaya, diluncurkannya Semen Rajawali ini adalah untuk memenuhi permintaan pasar akan semen tipe Portland Pozzolan Cement (PPC).

“Semen Tiga Roda yang merupakan produk utama Indocement dan merupakan semen tipe Portland Composite Cement (PCC). Dan Semen Rajawali merupakan semen tipe Portland Pozzolan Cement (PPC) yang diluncurkan untuk menjawab permintaan pasar,” ungkapnya kepada wartawan.

Dalam proses produksinya, kata dia, Semen Rajawali menggunakan penambahan zat adiktif material pozzolan alami, sehingga dapat mengurangi emisi karbon ke udara akibat proses produksi. “Inilah yang membedakan Semen Rajawali dengan merek semen lainnya,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa, peluncuran Semen Rajawali adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang menginginkan produk bermutu dengan harga terjangkau. “Semen Rajawali menawarkan semen berkualitas tak kalah dengan semen tiga roda, namun harga lebih terjangkau,” lanjutnya.

Saat ini, Semen Rajawali telah tersedia di lebih dari 900 toko bangunan yang tersebar di 13 kota di Pulau Jawa, yaitu Kota Serang, Karawang, Purwakarta, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Subang, Tegal, Pekalongan, Banyumas Purwokerto, dan Kebumen.

Dia menambahkan bahwa sejauh ini, permintaan akan Semen Rajawali terus bertumbuh dengan compounded annual grouwt rate (CAGR) mencapai lebih dari 13 persen. “Hal ini menunjukan bahwa Semen Rajawali diminati oleh masyarakat, karena kami melihat masyarakat Indonesia juga memiliki keperluan untuk semen-semen yang harganya terjangkau, namun kualitasnya tetap tinggi,” tandasnya.(*)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 142 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini

Senin, 04 September 2017

Pasar Obat Generik Tumbuh 18,9%, Tertinggi Dibanding Obat Etikal dan OTC

Pasar obat generik di Indonesia mencatatkan pertumbuhan 18,9% sepanjang 2016 menjadi Rp 8,6 triliun dibanding 2015 sebesar Rp 7,24 triliun, menurut data IMS Health. Pertumbuhan obat generik menjadi yang tertinggi dibanding obat etikal 5,9% dan obat bebas (over the counter/OTC) 6,1%.

Total pasar farmasi Indonesia pada 2016 mencapai Rp 67,21 triliun, tumbuh sekitar 7,5% dibanding 2015 sebesar Rp 62,28 triliun. Pertumbuhan pasar farmasi Indonesia pada 2016 sebesar 7,5% merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir, setelah sebelumnya sempat melambat pada 2015 sebesar 4,6% dan 2014 sebesar 7,13%. Pertumbuhan rata-rata majemuk (compound annual growth rate/CAGR) pasar farmasi di Indonesia periode 2012-2016 mencapai 11,7%.

Berdasarkan kompilasi data duniaindustri.com, pada level ASEAN, pasar farmasi Indonesia berkontribusi 27% dari total pasar farmasi di ASEAN. Dari jumlah tersebut, sekitar 73% didominasi oleh pemain nasional yang menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara di ASEAN yang didominasi oleh industri lokal.

Tantangan pertumbuhan industri farmasi nasional terutama terjadi karena fluktuasi nilai kurs pada 2015, perlambatan perekonomian nasional, serta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pemerintah yang belum berjalan optimal.

Pada 2017, pasar industri farmasi diperkirakan sama dengan tahun 2016 sekitar Rp 67-70 triliun. "Pasar industri farmasi tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2016," ujar Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) Tirto Kusnadi.

Pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia selama ini ditopang tiga faktor yaitu besarnya jumlah penduduk, program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, dan penambahan jumlah rumah sakit. "Industri farmasi selalu tumbuh karena industri ini sangat berhubungan dengan kesehatan masyarakat," ujar dia.

Meski tumbuh positif, menurut dia, industri farmasi masih terkendala bahan baku dimana 70 persen masih bergantung pada impor. Ia menjelaskan, pembangunan pabrik bahan baku industri farmasi tidak mudah karena harus didukung kesiapan industri pendukungnya seperti industri kimia dasar. Saat ini, industri kimia dasar di Indonesia belum terlalu maksimal. "Jika pabrik bahan baku baku dibangun maka hasil produksinya kurang berkualitas," kata dia.(*)

Sumber: klik di sini
* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 142 database, klik di sini
** Butuh 18 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
*** Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
**** Butuh copywriter specialist, klik di sini
***** Butuh content provider, klik di sini