Rabu, 08 Juni 2016

Raksasa Investasi Global Borong Saham Japfa Comfeed

KKR Jade Investment Pte Ltd, raksasa investasi global, mengakuisisi 10,44% saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Akuisisi itu dilakukan dengan cara pembelian 3,87% saham milik Japfa Ltd di Japfa Comfeed serta private placement 750 juta saham baru atau sebesar 6,57% saham Japfa Comfeed.

KKR Investment dan Japfa Comfeed menandatangani subscription agreement atas penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (private placement). KKR Investment memborong private placement Japfa sebanyak 750 juta saham baru. "Seluruh saham akan diambil oleh KKR Investment dengan harga Rp 935,60 per saham," ungkap Maya Pradjono, Sekretaris Perusahaan Japfa Comfeed dalam keterbukaan informasi.

Dengan demikian, pembelian saham Japfa Comfeed oleh KKR Investment melalui private placement diperkirakan sebesar Rp 701,7 miliar. Di sisi lain, Japfa Ltd, induk usaha Japfa Comfeed, akan menjual 441,66 juta saham atau sekitar 3,87% ke KKR Investment dengan harga sekitar US$ 28,30 juta atau setara Rp 376,39 miliar.

Secara total, KKR Investment menggelontorkan dana Rp 1,08 triliun untuk membeli saham Japfa Comfeed. Meski demikian, setelah transaksi, Japfa Ltd masih menjadi pemegang saham mayoritas dengan kepemilikan yang turun dari 58,73% menjadi 51%. Saham publik akan terdilusi dari total 31,76% menjadi 29,67%.

Japfa Comfeed merupakan emiten pakan ternak dan perunggasan dengan pangsa pasar terbesar kedua di Indonesia. Inilah enam pemimpin pasar ayam usia sehari (day old chick/DOC) di Indonesia, yakni PT Charoen Pokhpand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN), PT Sierad Produce Tbk (SIPD), PT Wonokoyo, dan PT Cheil Jedang, menurut berbagai sumber yang dikompilasi duniaindustri.com. Keenam perusahaan tersebut merupakan pemain terbesar di industri perunggasan di negeri ini.

Charoen Pokphand menjadi pemimpin pasar DOC dengan menguasai 31% pasar DOC di Indonesia, disusul Japfa Comfeed dengan 21%, Malindo Feedmill 8%, Sierad 6%, Wonokoyo 5%, dan Cheil Jedang 1%. Data tersebut merupakan perbandingan produksi masing-masing perusahaan dengan kapasitas produksi nasional. Data itu berasal dari Ditjen Peternakan Kementerian Pertanian, Japfa Comfeed, dan Maybank Kim Eng.

Berbeda dengan itu, berdasarkan data Frost and Sullivan, Charoen Pokhpand menguasai 40,5% pasar DOC di Indonesia, terbesar dibanding produsen sejenis lainnya. Sementara Japfa menguasai 25,1% pasar DOC, disusul PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) 7,6%, PT Sierad Produce Tbk (SIPD) 6%, dan sisanya produsen lain.

Saat ini kapasitas produksi DOC nasional mencapai 60 juta DOC per minggu. Dari total kapasitas tersebut, akhir tahun lalu realisasinya hanya mencapai 54 juta DOC per minggu. Sementara total permintaan tahun lalu hanya tercatat maksimal 42 juta DOC per minggu.(*)

Sumber: di sini
Butuh data industri, riset persaingan pasar, klik di sini

Foxconn Beli Sharp, Midea Akuisisi Toshiba

Persaingan elektronik global mulai berubah drastis, pasca akuisisi terbaru yang dialami raksasa-raksasa elektronik asal Jepang. Dominasi Jepang dalam kancah persaingan elektronik global mulai meredup, digantikan China dan Taiwan, untuk menyaingi Korea Selatan.

Kondisi itu terjadi setelah dua raksasa elektronik Jepang, yakni Toshiba dan Sharp, diakuisisi oleh prinsipal asal China dan Taiwan. Adalah Foxconn Technology Group yang resmi membeli 63,64% saham Sharp US$ 3,5 miliar, menyusul akuisisi Midea Group terhadap 80% saham Toshiba Home Appliances.

Pada awal Februari 2016, Foxconn dan Sharp akhirnya menandatangani perjanjian akuisisi yang akan membuat Foxconn menguasai Sharp. Akuisisi yang bernilai US$ 3,5 miliar ini diprediksi akan menghangatkan persaingan elektronik global.

CEO Foxconn Terry Gou menjelaskan Sharp akan memproduksi massal layar IGZO (Indium Gallium Zinc Oxide), yang dia klaim merupakan teknologi yang lebih superior dari layar OLED (Organic Light-Emitting Diode) yang banyak digunakan sekarang ini. IGZO adalah teknologi yang digunakan pada perangkat seperti iPad milik Apple.

“Semua orang memilih OLED,” kata Gou dalam acara yang diadakan di Sakai, Jepang. “Jika saya adalah seorang teknisi, saya akan memilih IGZO.” Dia menyebutkan, IGZO dapat lebih hemat daya daripada OLED.

Gou memperkirakan teknologi IGZO akan digunakan pada 60 persen layar SHARP dan OLED hanya digunakan pada 40 persen layar buatan SHARP. Meskipun begitu, dia mengakui bahwa membuat perusahaan yang telah mendapatkan bailout dua kali agar kembali untung bukanlah hal yang mudah. Dia menyebutkan, Foxconn harus bekerja “sangat keras” untuk melakukan hal ini.

Sementara itu, raksasa elektronik asal China, Midea Group, mengakuisisi sekitar 80% saham Toshiba Home Appliances, jaringan bisnis produk elektronik rumah tangga dari konglomerat Jepang Toshiba yang sedang menurun kinerjanya, senilai US$ 473 juta. Sedangkan sisa 19,9% saham masih tetap dipegang Toshiba Lifestyle Product & Services Corporation untuk mempertahankan namanya.

Menurut pernyataan bersama kedua perusahaan seperti dikutip AFP, dengan akuisisi tersebut, Midea dapat menggunakan lisensi merek Toshiba untuk produk elektronik rumah tangga selama 40 tahun, memperoleh lebih dari 5.000 aset properti intelektual, dan diberi wewenang untuk menggunakan hak paten Toshiba.

Akuisisi senilai US$ 473 juta atau Rp 6,15 triliun itu merupakan ekspansi terbaru perusahaan China seiring rangkaian akuisisi lainnya di luar negeri. Perusahaan China yang didukung pemerintahnya saat ini gencar mengakuisisi perusahaan di luar negeri untuk mendorong kontribusi perekonomian di luar daratan China, terutama di sektor consumer product.

Perusahaan China telah menjadi berita utama global dengan akuisisi multi-miliar dolar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk BUMN ChemChina yang menawar raksasa pestisida dan benih tanaman asal Swiss, Sygenta, senilai US$ 43 miliar. Jika terjadi kesepakatan, akuisisi ChemChina terhadap Sygenta menjadi yang terbesar sepanjang sejarah perusahaan China mengakuisisi perusahaan di luar negeri.

Selain ChemChina, Haier juga pada Januari 2016 mengumumkan akuisisi terhadap lini bisnis General Electric di industri peralatan dan permesinan sebesar US$ 5,4 miliar.

Midea Chairman Fang Hongbo mengatakan akuisisi unit Toshiba – yang dia disebut ikon merek – itu adalah tonggak penting dalam upaya Midea melakukan globalisasi usaha. “Akuisisi ini akan secara signifikan memperkuat daya saing kami di Jepang, Asia Tenggara, dan pasar global,” ucapnya.

Di Indonesia, Toshiba juga bernasib tidak bagus. Toshiba harus menutup salah satu pabriknya dan menjualnya kepada perusahaan China, yakni Haier dan Skywatch.(*/)

Sumber: di sini

Jumat, 03 Juni 2016

Kumpulan Data Industri Makanan dan Minuman di Indonesia

Industri makanan dan minuman saat ini merupakan penyumbang kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan industri manufaktur nasional. Dengan peran yang begitu besar, tidak heran industri ini menjadi salah satu andalan ekonomi nasional.

Untuk membedah pertumbuhan, pangsa pasar, serta persaingan pasar di industri makanan dan minuman, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 5 data dan riset khusus di industri ini. Mari kita simak ulasannya berikut ini:

1) Riset Komprehensif Industri Susu Olahan 2013-2016
2) Data dan Outlook Industri Susu & Teh Siap Minum 2013-2016
3) Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016
4) Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi
5) Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir)

Berikut ini Ulasannya:

A) Riset Komprehensif Industri Susu Olahan 2013-2016 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri susu olahan di Indonesia, mencakup pengelompokan industri dan pohon industri susu dari hulu-antara-hilir, segmentasi industri susu cair, tren konsumsi dan pertumbuhan volume produk susu, nilai penjualan produk susu, ukuran pasar (market size) industri susu nasional, hingga pangsa pasar susu cair, susu bubuk, susu ultra high temperature (UHT), susu fermentasi, susu pasteurisasi (sterilisasi), yoghurt, keju olahan, serta tantangan dan peluang industi ini ke depan.

Riset ini dimulai dengan menampilkan pengelompokan industri susu dari hulu (susu segar), industri antara (susu pasteurisasi, susu UHT, susu fermentasi), hingga industri hilir (susu bubuk, susu kental manis, makanan bayi dari susu, keju, mentega, es krim, dan yoghurt) dilengkapi pohon industri susu secara lengkap. (halaman 2-3)

Di halaman 4-5 ditampilkan segmentasi industri susu cair dan susu bubuk terhadap total pasar. Pertumbuhan volume konsumsi produk susu periode 2008-2018 (forecast) ditampilkan pada halaman 6, serta tren penjualan produk susu periode 2008-2018 dipaparkan pada halaman 7.

Di halaman 8-9 ditampilkan perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam industri pengolahan susu, lengkap dengan lokasi pabrik dan produk-produk yang dihasilkan. Terdapat 48 perusahaan di kategori industri pengolahan susu yang memproduksi susu segar, susu bubuk, susu UHT, susu steril, susu pasteurisasi, susu kental manis, susu formula, susu kemasan, ice cream, yoghurt, acidified milk drink, mentega, kopi instan, caramel, dan makanan bayi.

Pada halaman 9, pembahasan masuk pada segmen susu bubuk, mengulas pangsa pasar susu bubuk periode 2011-2013. Terdapat pergerakan pangsa pasar yang cukup signifikan untuk 10 perusahaan pemimpin pasar susu bubuk di Indonesia. Secara khusus, di halaman 10-11, duniaindustri.com membuat riset terkait pangsa pasar susu bubuk di Indonesia untuk 2014-2015. Pada halaman 13, dipaparkan pertumbuhan pasar produk susu bubuk di Indonesia secara volume dan nilai. Di halaman 14, duniaindustri.com membuat riset dan estimasi terkait pasar susu bubuk pada 2015 dan 2016.

Kategori susu cair dibahas secara komprehensif di halaman 15-16, mencakup pertumbuhan volume pasar, market size, dan tren pertumbuhan dari 2013-2016. Demikian juga susu UHT dibahas secara lengkap di halaman 17, mencakup pangsa pasar market leader, nilai pasar, serta pertumbuhan volume. Susu fermentasi juga dibahas secara khusus pada halaman 18, susu pasteurisasi di halaman 19, yoghurt cream dan drink di halaman 20-21, serta keju olahan pada halaman 22.

Riset ini juga dilengkapi dengan data produksi susu segar, impor susu, konsumsi bahan baku susu, serta pergerakan tren konsumsi susu di Indonesia. Ditambah dengan kapasitas terpasang, produksi, dan konsumsi susu cair, susu kental manis, susu bubuk.

Riset data industri sebanyak 29 halaman ini berasal dari BPS, WHO dan Bank Dunia, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan sejumlah perusahaan susu di Indonesia, diolah duniaindustri.com.

Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data dan Outlook Industri Susu & Teh Siap Minum 2013-2016 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri susu bubuk, susu cair (ultra high temperatures/UHT), serta teh siap minum (ready to drink tea/RDT) di Indonesia, mulai dari tren pertumbuhan pasar, tren permintaan/demand, nilai pasar (market size) tiga tahun terakhir dan proyeksi 2016, hingga produsen terbesar di Indonesia, strategi ekspansi ke depan, serta kinerja keuangan para pemain di industri ini.

Data ini dimulai dengan menampilkan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2014-2019 (estimasi), kondisi perilaku konsumen di Indonesia dari total jumlah penduduk 252 juta jiwa, dengan jumlah konsumen kelas menengah hampir 50% yang berada di bawah umur 30 tahun. PDB per kapita Indonesia US$ 3.500 melampaui negara pesaing di Asean seperti Filipina dan Vietnam. Jumlah rumah tangga di Indonesia dengan anggaran belanja tahunan berkisar US$ 5.000-US$ 15.000 diperkirakan meluas dari 36% pada saat ini menjadi 58% pada 2020. Lebih dari 60 juta penduduk berpenghasilan rendah diproyeksikan bergabung dengan kelas menengah di dekade mendatang, dan mendorong permintaan konsumen semakin kuat. Total pasar industri consumer goods di Indonesia pada 2030 diperkirakan US$ 810 miliar. (halaman 2-3)

Data ini juga menjabarkan pertumbuhan rata-rata per tahun minuman diperkirakan tumbuh rata-rata 12% per tahun. Pertumbuhan yang tinggi diperkirakan terjadi untuk produk ready to drink (RTD) coffee (18,8%), fruit/vegetable juice (15,6%), sports and energy drink (14,8%), dan RTD tea (13,7%). (halaman 5-7)

Selain itu, data ini menampilkan ukuran pasar (market size) industri susu cair periode 2013-2015, konsumsi per kapita, karakteristik utama di industri susu cair. Secara khusus, Duniaindustri membuat riset proyeksi market size industri susu cair pada 2016, pertumbuhan volume penjualan, serta pangsa pasar 8 pemain di Indonesia. (halaman 8-9)

Demikian juga di industri susu bubuk, data ini menampilkan ukuran pasar (market size) serta pertumbuhannya, dan pangsa pasar 11 pemain utama di Indonesia. (halaman 9)

Di samping itu, data ini juga menampilkan ukuran pasar (market size) serta pertumbuhan industri teh siap minum (ready to drink tea/RDT) periode 2013-2016, pangsa pasar 5 pemain utama, serta karakteristik (tren) yang berkembang. (halaman 10)

Pada halaman 12-24, ditampilkan data pemimpin pasar (market leader) di segmen susu cair ultra high temperature (UHT) dan RTD kemasan di Indonesia, profil singkat, komposisi lini usaha per perusahaan, jaringan distribusi, strategi ekspansi, pangsa pasar per produk, serta kinerja keuangan.

Data sebanyak 25 halaman ini berasal dari BPS, WHO dan Bank Dunia, Kementerian Perindustrian, dan sejumlah perusahaan susu bubuk, susu cair, dan minuman teh siap saji di Indonesia, diolah duniaindustri.com.

Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

C) Data dan Outlook Industri Consumer Goods 2016 ini menampilkan pasar industri consumer goods di Indonesia dengan penduduk sebesar 252 juta jiwa, 50% di antaranya merupakan usia produktif. PDB per kapita Indonesia US$ 3.500 melampaui negara pesaing di Asean seperti Filipina dan Vietnam. Jumlah rumah tangga di Indonesia dengan anggaran belanja tahunan berkisar US$ 5.000-US$ 15.000 diperkirakan meluas dari 36% pada saat ini menjadi 58% pada 2020. Lebih dari 60 juta penduduk berpenghasilan rendah diproyeksikan bergabung dengan kelas menengah di dekade mendatang, dan mendorong permintaan konsumen semakin kuat. Total pasar industri consumer goods di Indonesia pada 2030 diperkirakan US$ 810 miliar.

Data ini juga menjabarkan pertumbuhan rata-rata per tahun pasar makanan dalam kemasan dan minuman ringan selama 2013-2017 akan berada di atas angka 10%. Secara keseluruhan, packaged food selama periode tersebut akan tumbuh rata-rata 12,6% per tahun. Beberapa jenis makanan yang identik dengan lifestyle masyarakat middle class income diperkirakan tumbuh lebih tinggi, di antaranya canned/preserved food (16,7%), frozen processed food (16,6%), ice cream (18%), dan noodles (13,5%).

Sementara itu, minuman ringan diperkirakan tumbuh rata-rata 12% per tahun. Pertumbuhan yang tinggi diperkirakan terjadi untuk produk ready to drink (RTD) coffee (18,8%), fruit/vegetable juice (15,6%), sports and energy drink (14,8%), dan RTD tea (13,7%).

Secara special, Duniaindustri.com membuat riset pertumbuhan pasar consumer goods dari 2009 ke 2015, khusus untuk sejumlah produk antara lain: biskuit dan wafer, mi instan, snack, jeli, permen, roti, minuman berenergi, minuman isotonik, sirup, teh siap saji, kopi siap saji, jus, susu siap saji, minuman berkarbonasi, minuman sari buah, air minum dalam kemasan.

Data sebanyak 15 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain asosiasi industri, lembaga riset dunia, dan BPS. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

D) Data Industri Makanan-Minuman dan Program Hilirisasi ini menampilkan kinerja pertumbuhan industri makanan-minuman 2006-2013, jumlah perusahaan, nilai investasi, jumlah tenaga kerja, dan kapasitas produksi. Selan itu, tren hilirisasi industri kelapa sawit, kakao, gula sebagai bahan baku industri makanan minuman. Data ini juga menampilkan berbagai regulasi terbaru terkait industri makanan-minuman. Data berisi 23 halaman ini dibuat oleh Kementerian Perindustrian dan diolah duniaindustri.com.(*)

E) Data Konsumsi dan Impor Susu di Indonesia (periode lima tahun terakhir) ini menampilkan pertumbuhan konsumsi dan impor susu di Indonesia periode lima tahun terakhir. Data ini berasal dari asosiasi industri, BPS, kementerian terkait.(*)

Sumber: klik di sini
Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
Butuh content provider profesional, klik di sini

Kamis, 02 Juni 2016

Kumpulan Data Otomotif di Indonesia

Industri otomotif (mobil dan motor) merupakan tulang punggung sektor transportasi yang memberikan andil besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Di era mobilisasi dan konektivitas tinggi, peranan industri otomotif makin ketara meski persaingan di sektor industri ini makin ketat.

Untuk merekam seluk beluk industri otomotif di Indonesia, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 9 data dan riset terkait perkembangan industri otomotif di Indonesia. Mari kita simak ulasannya berikut ini.

1) Outlook Industri Otomotif 2016-2018
2) Data Industri Sepeda Motor dan Velg Motor di Indonesia
3) Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia
4) Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia
5) Data Penjualan Per Merek Mobil
6) Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif
7) Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC)
8) Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan
9) Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah

1) Outlook Industri Otomotif 2016-2018 ini menampilkan proyeksi pasar industri otomotif, terutama mobil, tahun 2009-2018. Sejumlah pelaku usaha otomotif (market leader–dikumpulkan dalam person quote) memperkirakan tahun 2016 tidak akan berbeda dari 2015, dengan penjualan mobil sekitar 950 ribu unit hingga 1 juta unit, lebih rendah dari estimasi lembaga riset asing 1,2 juta unit. Penjualan mobil masih dapat tumbuh positif hingga 2016, ditopang pertumbuhan perekonomian nasional yang positif, meski relatif melambat. 70% dari penjualan mobil merupakan passenger cars, ikut ditopang segmen baru mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC). Prinsipal mobil Jepang masih mendominasi pasar otomotif lokal. Pangsa pasar mobil terbesar tetap dipegang Grup Astra dengan target pangsa pasar di atas 50%.

Data ini juga menjabarkan tren penjualan mobil sejak 1997-2015. Hingga kuartal III 2015, Toyota menguasai 32%, Daihatsu 17%, Honda 15%, Suzuki 12%, Mitsubishi 11%, others 8%, Nissan 3%, dan Isuzu 2%. Di segmen penjualan motor, Honda merajai dengan pangsa pasar 68%, Yamaha 28%, disusul Suzuki dan Kawasaki masing-masing 2%.

Juga ditampilkan arah kebijakan pemerintah sejak 2010-2025, strategi investasi, program mobil low carbon emission, dan pajak serta bea masuk. Tidak ketinggalan penetrasi mobil per 1.000 penduduk yang mencapai 43 unit, dan rasio kepemilikan motor yang mencapai 140 unit per 1.000 penduduk.

Selain itu, ditampilkan kapasitas produksi dan kapasitas terpasang pemain otomotif di Indonesia, termasuk Astra Group, Indomobil Group, Kramayudha Group. Serta persaingan pasar industri otomotif di ASEAN, mencakup Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Data sebanyak 21 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di Indonesia. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com. (*)

2) Data Industri Sepeda Motor dan Velg Motor ini menampilkan peta persaingan merek motor di Indonesia yang masih dikuasai Honda (68%), Yamaha (28%), Suzuki (2%), Kasawaki (2%), dan sisanya produsen lain. Juga ditampilkan, populasi motor di Indonesia hingga 2015 diestimasi 93,25 juta unit, menurut prediksi duniaindustri.com. Estimasi itu berdasarkan data terbaru, Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia mencatat, ada 86,253 juta unit sepeda motor di seluruh Indonesia pada April 2014, naik 11 % dari tahun sebelumnya 77,755 juta unit.

Selain itu, dipaparkan juga pada 2015 penjualan motor di Indonesia diperkirakan 6,4 juta unit – 6,5 juta unit, menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Penetrasi motor di Indonesia atau biasa dikenal rasio kepemilikan motor banding jumlah penduduk mencapai 140 unit motor vs 1.000 penduduk (data 2013).

Di samping itu, dijabarkan juga nilai pasar industri sepeda motor di Indonesia, penjualan per segmen (motor bebek, skutik, sport, dan lainnya), top 10 provinsi dengan penjualan sepeda motor terbesar, top 10 motor terlaris di Indonesia, dan top 10 daerah dengan populasi motor terpadat di Indonesia.

Sebagai tambahan, data ini menampilkan industri velg motor di Indonesia, mulai dari persaingan produsen dan merek velg, struktur pasar industri velg di Indonesia, serta nilai pasar industri velg motor di negeri ini.

Data sebanyak 15 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain asosiasi industri, regulator, dan Polri. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com. (*)

3) Data Tingkat Kepemilikan dan Minat Beli Mobil di Indonesia ini menampilkan tingkat kepemilikan mobil di Asia Tenggara cenderung rendah, di Indonesia hanya 44% rumah tangga yang memiliki satu mobil, 9% bermobil lebih dari satu, dan 46% rumah tangga belum memiliki mobil. Secara global, 54% rumah tangga memiliki satu mobil, 20% bermobil lebih dari satu, dan 25% belum memiliki mobil. Karena itu, tidak heran jika 63% rumah tangga di Indonesia berminat membeli mobil dalam dua tahun ke depan, 18% akan membeli mobil bekas, dan hanya 19% yang tidak berminat membeli mobil. Di Indonesia, kepemilikan mobil masih menjadi patokan kesuksesan seseorang dan menunjukkan derajat sosial yang lebih tinggi. Data sebanyak 26 halaman ini berasal dari berbagai survei dan diolah duniaindustri.com.(*)

4) Data Industri Angkutan Darat (Taksi) di Indonesia ini menampilkan perbandingan kebutuhan dan pasokan angkutan darat, terutama taksi di Indonesia. Rata-rata pertumbuhan penumpang taksi sebesar 12,3% sejak 2007-2011 dan diproyeksikan tumbuh 18,2% pada 2012-2016. Sementara rasio taksi per 1.000 orang di Asean, Indonesia cenderung terendah dengan rasio 0,24%, sementara Malaysia 3,12%, dan Singapura 5,2%. Pasokan taksi di Indonesia juga diperkirakan tumbuh rata-rata 16% (CAGR) periode 2012-2016, lebih tinggi dibanding periode 2007-2011 sebesar 4,3%. Data sebanyak 24 halaman ini juga menampilkan strategi bisnis dan kinerja keuangan perusahaan pemegang pangsa pasar terbesar di Indonesia.(*)

5) Data Penjualan Per Merek Mobil ini menampilkan tren penjualan mobil di Indonesia per merek per bulan pada 2013. Misalnya, total penjualan Mini Cooper di Indonesia 460 unit, Januari 28 unit, Februari 37 unit, Maret 38 unit, Mei 38 unit, dan seterusnya. Total penjualan Mercedes Benz 4.877 unit. Total penjualan Lexus 622 unit, Landrover 94 unit. Data ini berasal dari Gaikindo dan diolah duniaindustri.com. (*)

6) Data dan Analisis Outlook Industri Otomotif ini menampilkan tren penjualan mobil dan motor di Indonesia dibandingkan dengan global market dan ASEAn market periode 2006-2012. Ditampilkan juga data produksi mobil di negara ASEAN, Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam, Singapura, dan total ASEAN. Juga disuguhkan, produksi 13 ATPM di Indonesia antara lain PT Astra Daihatsu Motor (500 ribu unit per tahun dengan jumlah pekerja 11 ribu orang), Suzuki, PT Kramayudha Tiga Berlian (Mitsubishi), Toyota, Isuzu, Nissa, PT Gaya Motor, Mercedes Benz, GM. Data yang terdiri atas 21 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh Gaikindo dan diolah duniaindustri.com.(*)

7) Data dan Analisis Penjualan Motor dan Mobil (LCGC) ini menampilkan tren penjualan mobil dan motor di Indonesia. Untuk mobil, juga ditampilkan analisis munculnya segmen low cost and green car (LCGC). Perbandingan penjualan tiap merek mobil, antara lain Toyota, Daihatsu, Suzuki, Mitsubishi, Honda, Nissan dan lainnya 2011-2013. Penjualan mobil di Indonesia pada 2013 naik 10% menjadi 1,23 juta unit. Juga, ditampilkan car models positioning by price gap di Indonesia. Serta, outlook 6 faktor yang akan mempengaruhi sektor otomotif di 2014. Data ini terdiri atas 30 halaman microsoft powerpoint.(*)

8) Data Penjualan Mobil Per Segmen Kendaraan ini menampilkan tren penjualan tiap segmen kendaraan dan tiap merek mobil di Indonesia sepanjang 2013, dibagi per bulan. Merek mobil yang ditampilkan dalam data ini antara lain Daihatsu, Isuzu, Toyota, Peugeot, Mitsubishi, Suzuki, Nissan, Honda, dan merek lainnya. Selain itu, ditampilkan produksi dan ekspor mobil di Indonesia periode 2006-2012. Data penjualan dibagi beberapa segmen seperti tipe sedan, 4×2, 4×4, bus, pick up/truck, double cabin. Selain itu ditampilkan data ekspor impor CBU, CKD, dan komponen periode 2006-2012. Juga digambarkan tren pasar mobil domestik dan proyeksinya dari 1997-2015 dengan menggunakan dua asumsi; pesimistis dan optimistis. Sedangkan di bagian kebijakan pemerintah, ditampilkan kebijakan bea masuk dan pajak penjualan barang mewah (luxury tax), kebijakan dalam berinvestasi, insentif untuk ekspor, serta kemudahan impor bahan baku. Data yang terdiri atas 18 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh Gaikindo dan diolah duniaindustri.com. (*)

9) Data Komprehensif Industri Otomotif dan Kebijakan Pemerintah ini menampilkan tren penjualan, produksi, dan ekspor mobil di Indonesia periode 2006-2012. Data penjualan dibagi beberapa segmen seperti tipe sedan, 4×2, 4×4, bus, pick up/truck, double cabin. Selain itu ditampilkan data ekspor impor CBU, CKD, dan komponen periode 2006-2012. Juga digambarkan tren pasar mobil domestik dan proyeksinya dari 1997-2015 dengan menggunakan dua asumsi; pesimistis dan optimistis. Sedangkan di bagian kebijakan pemerintah, ditampilkan kebijakan bea masuk dan pajak penjualan barang mewah (luxury tax), kebijakan dalam berinvestasi, insentif untuk ekspor, serta kemudahan impor bahan baku. Data yang terdiri atas 18 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh Gaikindo dan diolah duniaindustri.com. (*)

Sumber: di sini
Butuh data/riset lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
Butuh content provider profesional, klik di sini

Kumpulan Data Infrastruktur, Logistik, dan Transportasi di Indonesia

Indonesia sebagai negara berkembang sangat membutuhkan pembangunan di bidang infrastruktur, logistik, dan transportasi. Karena itu, tidak heran titik fokus pemerintah saat ini masih berkutat pada tiga sektor tersebut.

Untuk membedah data-data di tiga sektor tersebut, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 8 data dan riset terkait pertumbuhan, titik fokus, dan korelasi tiga sektor tersebut terhadap pertumbuhan industri di negeri ini. Mari simak ulasannya berikut ini:

1) Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019
2) Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019
3) Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018
4) Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri
5) Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional
6) Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia
7) Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030)
8) Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia

A) Riset Peluang Kerjasama Pemerintah dan Swasta di Proyek Infrastruktur 2015-2019 ini berisi data, kajian, analisis, laporan, dan outlook proyek-proyek strategis di sektor infrastruktur di Indonesia. Berbagai proyek infrastruktur, mulai dari proyek prioritas, proyek strategis, dan proyek infrastruktur per provinsi ditampilkan dalam riset ini, dipadu dengan analisis bisnis infrastruktur, market size transportasi dan logistik, serta analisis anggaran infrastruktur dibanding tingkat pengangguran di Indonesia.

Riset ini dimulai dari kondisi perekonomian Indonesia tahun ini diprediksi masih diliputi ketidakpastian, terutama dari sisi global. Meski demikian ekonomi Indonesia diyakini akan lebih baik dibanding tahun lalu. Sisi eksternal yang berpengaruh pada ekonomi domestik, tak bisa dilepaskan dari harga komoditas yang masih belum pulih dan merosotnya ekonomi China yang merupakan salah satu pangsa pasar utama ekspor komoditas Indonesia. (halaman 2)

Penguatan rupiah ini selain didorong oleh faktor domestik, karena meningkatnya kepercayaan investor sejalan dengan ekonomi makro yang lebih baik, juga tidak lepas dari pengaruh eksternal. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2015 yang sebesar 5,04% telah meningkatkan kepercayaan investor, karena diyakini titik terendah pertumbuhan ekonomi telah terlewati. (halaman 3-4)

Pada halaman 5-7 dibahas data Kementerian Keuangan, anggaran infrastruktur sejak 2009 hingga 2015 memang terus menunjukkan kenaikan. Tetapi kenaikan signifikan memang baru terjadi pada 2015, dari Rp 206,6 triliun pada 2014 menjadi Rp 290,3 triliun. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya kenaikannya hanya di kisaran Rp 9,7 triliun hingga Rp 31,3 triliun. Data tersebut dipadukan dengan tren pertumbuhan ekonomi nasional dan ekspektasi ke depan periode 2007-2019. (halaman 8) Di halaman 9, terdapat riset eksklusif terkait tren kenaikan anggaran infrastruktur dibanding tingkat pengangguran di Indonesia periode 2005-2016.

Masuk pada pembahasan proyek infrastruktur, riset ini menampilkan rencana pembangunan infrastruktur laut (halaman 10), infrastruktur pangan (halaman 11), dan transportasi darat (halaman 12). Di halaman 13-14 ditampilkan secara eksklusif 38 proyek kerjasama pemerintah & swasta 2015-2016, baik yang telah ditawarkan maupun yang akan ditawarkan. Di halaman 15-16, dipaparkan 30 proyek infrastruktur prioritas 2016-2019. Pada halaman 17-19 ditampilkan proyek infrastruktur jalan dan jembatan per provinsi pada 2016. Khusus terkait kerjasama pemerintah dan swasta ditampilkan secara detail pada halaman 20-24.

Riset ini diperkuat dengan data tren pertumbuhan pasar (market size) sektor transportasi dan logistik di Indonesia 2009-2019. Pada 2014, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.810 triliun dengan pertumbuhan 13,2%. Pada 2015, market size tersebut naik 15,2% menjadi Rp 2.086 triliun. Pada 2016, angka tersebut diproyeksi tumbuh 15% menjadi Rp 2.399 triliun, dan terus naik hingga mencapai Rp 3.680 triliun di 2019. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor transportasi dan logistik di Indonesia diperkirakan 15,2% periode 2014-2019.

Selain itu, data ini dilengkapi data-data infrastruktur pendukung transportasi dan logistik di Indonesia, seperti sebaran bandara hingga 2030. Jumlah bandara umum saat ini sebanyak 189 bandara, yang terdiri atas 26 bandara komersial (dikelola PT Angkasa Pura) dan 1.643 bandara nonkomersial. Pada 2030, akan bertambah 44 bandara baru, sehingga total jumlah naik menjadi 233 bandara. Juga ditampilkan ekspansi PT Angkasa Pura I dan II dalam ekspansi bandara, meliputi: kebutuhan investasi, penambahan kapasitas, dan persentase pertumbuhan.

Di samping itu, ditampilkan infrastruktur pelabuhan yang cukup vital mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia (95.181 km). Jumlah pelabuhan saat ini mencapai 2.392 pelabuhan yang terdiri dari 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 terminal khusus. Terdapat rencana penambahan 91 pelabuhan baru di Indonesia bagian timur dengan investasi Rp 3,37 triliun.

Riset sebanyak 41 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Keuangan, Bappenas, Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Logistik Indonesia, dan diolah duniaindustri.com. Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data dan Outlook Transportasi, Logistik, dan Infrastruktur 2009-2019 ini menampilkan ukuran pasar (market size) sektor transportasi dan logistik di Indonesia 2009-2019. Pada 2014, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.810 triliun dengan pertumbuhan 13,2%. Pada 2015, market size tersebut naik 15,2% menjadi Rp 2.086 triliun. Pada 2016, angka tersebut diproyeksi tumbuh 15% menjadi Rp 2.399 triliun, dan terus naik hingga mencapai Rp 3.680 triliun di 2019. Rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sektor transportasi dan logistik di Indonesia diperkirakan 15,2% periode 2014-2019.

Sektor ini tumbuh secara signifikan sejak 2009-2019. Pada 2009-2014, pertumbuhan mencapai 13,7% CAGR dari hanya Rp 770 triliun pada 2009.

Segmen pengangkutan laut masih mendominasi sebesar Rp 1.096,6 triliun di 2015, disusul kereta api Rp 31,6 triliun, dan udara Rp 1,43 triliun. Segmen pengangkutan laut diproyeksi tumbuh 6,1% di 2013, 4,3% di 2014, dan 5,1% pada 2015 secara volume. Pengangkutan kereta api tumbuh 13,3% di 2013, 8,5% di 2014, dan 7,5% pada 2015. Sementara pengangkutan melalui udara naik 19,6% di 2013, 15,3% di 2014, dan 12,2% pada 2015. Sektor komoditas menjadi salah satu pendorong sektor transportasi dan logistik mengingat besarnya investasi antara lain di sektor CPO senilai US$ 2,4 miliar.

Selain itu, data ini dilengkapi data-data infrastruktur pendukung transportasi dan logistik di Indonesia, seperti sebaran bandara hingga 2030. Jumlah bandara umum saat ini sebanyak 189 bandara, yang terdiri atas 26 bandara komersial (dikelola PT Angkasa Pura) dan 1.643 bandara nonkomersial. Pada 2030, akan bertambah 44 bandara baru, sehingga total jumlah naik menjadi 233 bandara. Juga ditampilkan ekspansi PT Angkasa Pura I dan II dalam ekspansi bandara, meliputi: kebutuhan investasi, penambahan kapasitas, dan persentase pertumbuhan.

Di samping itu, ditampilkan infrastruktur pelabuhan yang cukup vital mengingat Indonesia memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia (95.181 km). Jumlah pelabuhan saat ini mencapai 2.392 pelabuhan yang terdiri dari 111 pelabuhan komersial, 1.481 pelabuhan nonkomersial, dan 800 terminal khusus. Terdapat rencana penambahan 91 pelabuhan baru di Indonesia bagian timur dengan investasi Rp 3,37 triliun.

Juga, ditampilan infrastruktur jalan dan rel kereta yang menopang pergerakan transportasi darat. Data ini juga dilengkapi infrastruktur coastal shipping, Trans Sumatera Railways, rel kereta api perkotaan, high speed train network hingga 2030.

Tidak ketinggalan, data ini menampilkan rasio biaya logistik dari berbagai sektor industri di Indonesia, misalnya untuk industri pengolahan makanan rasio biaya logistik terhadap input mencapai 35%. Terdapat 24 cabang industri yang memiliki rasio biaya logistik terhadap input yang cukup tinggi.

Data sebanyak 33 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Logistik Indonesia, sejumlah riset perusahaan asing antara lain Frost & Sullivan, dan diolah duniaindustri.com.

Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

C) Data Outlook Sektor Transportasi dan Logistik 2014-2018 ini menampilkan proyeksi pasar sektor transportasi dan logistik 2014-2018. Pada 2013, pasar sektor transportasi dan logistik diestimasi Rp 1.583 triliun dengan pertumbuhan 14,5%, naik rata-rata 15% sehingga mencapai Rp 3.185 triliun di 2018. Segmen pengangkutan laut masih mendominasi sebesar Rp 1.000,6 triliun di 2013, disusul kereta api Rp 26,8 triliun, dan udara Rp 1,16 triliun. Segmen pengangkutan laut diproyeksi tumbuh 6,1% di 2013 dan 4,3% di 2014 secara volume. Pengangkutan kereta api tumbuh 13,3% di 2013 dan 8,5% di 2014. Sementara pengangkutan melalui udara naik 19,6% di 2013 dan 15,3% di 2014. Sektor komoditas menjadi salah satu pendorong sektor transportasi dan logistik mengingat besarnya investasi antara lain di sektor CPO senilai US$ 2,4 miliar. Data sebanyak 24 halaman ini berasal dari Asosiasi Logistik Indonesia, sejumlah riset perusahaan asing antara lain Frost & Sullivan, dan diolah duniaindustri.com.(*)

D) Data Prospek Investasi dan Kebutuhan Lahan Kawasan Industri ini menampilkan tren nilai investasi asing dan domestik dikaitkan dengan kebutuhan lahan industri di Indonesia. Secara kaidah baku, setiap investasi manufaktur Rp 1 triliun butuh lahan di kawasan industri setara 12,5 hektare. Selain itu, data ini menampilkan proyeksi kebutuhan lahan di kawasan industri 2013-2020. Data ini juga menggambarkan total lahan di kawasan industri yang tersisa saat ini dan proyeksi ketersediaannya.

Di samping itu ditampilkan penjualan 10 besar kawasan industri di Indonesia, tren keseimbangan pasokan dan permintaan, tren harga jual lahan di kawasan industri di berbagai kota di Indonesia 2006-2012. Perbandingan harga jual lahan di kawasan industri di Indonesia juga dibandingkan dengan 11 negara lain di dunia. Penyebaran kawasan industri di luar Pulau Jawa, komposisi peran pemerintah dan swasta dalam mengembangkan kawasan industri. Data ini juga menggambarkan program pemerintah dalam mengembangkan kawasan industri di koridor Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan sektor industri sasarannya. Data berisi 41 halaman ini dibuat oleh Kementerian Perindustrian dan diolah duniaindustri.com.(*)

E) Data Daya Saing Industri dilihat dari Sistem Logistik Nasional ini menampilkan berbagai data mengenai sasaran dan akselerasi industrialisasi tahun 2012-2014. Selain itu, daya saing logistik Indonesia dibanding dengan negara Asia dan secara global. Juga, rasio biaya logistik terhadap semua jenis industri seperti industri makanan, minuman, rokok, tekstil, kertas, pupuk, kimia, semen, baja, mesin, dan pengilangan minyak bumi. Di samping itu, dijabarkan rencana interkoneksi KEK Sei Mangkei, hub port Bitung.(*)

F) Data Investasi Infrastruktur, Proyek Pembangunan Pelabuhan, Jalan, Bandara, Kereta Api di Indonesia ini menampilkan berbagai proyek investasi infrastruktur pemerintah baik yang sedang berjalan maupun yang akan dilakukan pada periode 2013-2030. Dimulai dari data Investasi Infrastruktur Transportasi (selain jalan) di  Masing-masing Koridor Ekonomi, Rencana Pengembangan Bandara-bandara Komersial Oleh AP I & AP II, Pembangunan 24 Bandar Udara Baru (APBN), Sebaran bandara tahun 2030, Struktur Pelabuhan Indonesia, daftar pelabuhan pemerintah yang beroperasi tahun 2013, Pembangunan Jalur Ganda KA Jawa, Pengembangan Coastal Shipping Di Pantura, Rencana Pengembangan Trans Sumatera Railways, Jaringan perkeretaapian tahun 2030, Pembangunan Trans Maluku. Data berisi 16 halaman ini berasal dari Kementerian Perhubungan, Kadin, Pelindo, diolah duniaindustri.com.(*)

G) Data Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030) ini menampilkan Persebaran PDB Indonesia per Daerah, Urban Area, dan Masterplan Konektivitas Nasional (2010-2030). Data terbaru yang dirilis Oktober 2013 ini berasal dari Kementerian Perhubungan, asosiasi terkait, serta BPS.(*)

H) Data Komprehensif Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Indonesia ini menampilkan analisis komprehensif tentang rasio biaya logistik terhadap biaya penjualan di Indonesia dibanding negara maju, porsi biaya transportasi (meliputi transportasi darat, laut, dan udara), perbandingan biaya logistik di Indonesia Barat dan Timur, dwelling time and logistic cost, dan lainnya. Data yang berisi 9 halaman dan dibuat Oktober 2013 ini disusun Kementerian Perdagangan dan dikompilasi oleh duniaindustri.com.(*)

Sumber: di sini
Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini
Cari content provider profesional, klik di sini

Rabu, 01 Juni 2016

Kumpulan Data Industri Kimia dan Petrokimia di Indonesia

Industri kimia dan petrokimia merupakan turunan dari industri minyak dan gas (migas) yang juga memiliki peranan penting terhadap sektor industri manufaktur di Indonesia. Seperti industri baja, industri kimia juga merupakan induk industri hilir seperti plastik, kemasan fleksibel, peralatan, dan penunjang industri elektronik serta otomotif.

Untuk mengetahui database industri kimia, duniaindustri.com memiliki sedikitnya tiga data dan riset khusus di industri ini. Simak ulasannya, berikut ini:

1) Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016
2) Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016
3) Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar


A) Data dan Outlook Industri Petrokimia 2009-2016 ini menampilkan pemain-pemain utama di industri petrokimia nasional, antara lain PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), PT Kaltim Methanol Industri, dan PT Kaltim Pasifik Amoniak. Selain itu, ditampilkan tren produksi industri petrokimia hulu olefin, yakni ethylene, propylene, butadiene, benzene, toluene, xylene, ammonia, methanol, periode 2009-2016F (mencakup produksi, ekspor, dan impor). Tidak ketinggalan data konsumsi dan impor produk petrokimia hulu olefin sejak 2009-2015.

Juga ditampilkan tren supply-demand (pasokan-permintaan) produk petrokimia aromatik, meliputi benzen, p-xylene, o-xylene, cyclohexene, toluen, alkylbenzene, phtalic anhydride, caprolactam, benzoat acid, purified terephtalic acid periode 2011-2015.

Ikut ditampilkan tren pasokan-permintaan produk hulu petrokimia 2015-2019, di mana sepanjang waktu tersebut Indonesia diperkirakan kekurangan pasokan ethylene dalam jumlah cukup besar. Pada 2013, kekurangan pasokan (shortage) ethyelene sudah lebih dari maksimum kapasitas industri dalam negeri dan pada 2019 shortage diperkirakan mencapai 1,5 kali dari kapasitas nasional. Sementara untuk propylene, kekurangan pasokan masih dalam jumlah yang relatif kecil. Kekurangan pasokan propylene pada 2019 diperkirakan mendekati 200 ribu ton.

Secara khusus, dalam data ini dibedah kinerja produksi, utilisasi, dan keuangan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) sebagai produsen petrokimia terbesar di Indonesia dan acuan kinerja produksi dan utilisasi dari industri petrokimia nasional. Pada 2011, utilisasi produksi ethylene mencapai 78%, dan cenderung naik di tahun-tahun berikutnya: 89% (2012), 99% (2013), 94% (2014), dan 74% (2015). Chandra Asri juga telah merampungkan ekspansi cracker untuk meningkatkan produksi ethylene hingga 43% menjadi 860 ribu ton per tahun.

Di samping itu, ikut ditampilkan data tren dan proyeksi harga ethylene serta naptha periode 2008-2021.

Data sebanyak 22 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Industri Olefin dan Aromatik Indonesia (INAPLAS), sejumlah perusahaan petrokimia nasional, dan diolah duniaindustri.com.

Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data dan Analisis Industri Oli Pelumas 2007-2016 ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri oli pelumas di Indonesia, mencakup highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, ukuran pasar (market size) industri oli pelumas, hingga pangsa pasar pemain lokal dan perusahaan internasional (multi national company/MNC), serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.

Data ini dimulai dengan menampilkan highlights perkembangan industri ini sejak 2007-2016, regulasi sejak 1998-2016. (halaman 2-5) PT Pertamina Lubricants–anak usaha PT Pertamina (Persero) di bisnis pelumas–pernah menguasai pangsa pasar oli nasional sebesar 90% sebelum 1997. Pada masa itu, penjualan oli masih diatur oleh Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18 tahun 1988 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas Serta Penanganan Oli Bekas yang memberikan hak monopoli kepada Pertamina. Namun, hak monopoli tersebut kemudian dicabut melalui Keppres 21 tahun 2001 tentang Pelayanan Penyediaan Pelumas, yang memperbolehkan adanya pemain baru di pasar pelumas.

Di halaman 6-9, duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset terkait persaingan pasar di bisnis oli pelumas di Indonesia. Peta persaingan itu dijabarkan dalam chart (infografik) terkait pangsa pasar 10 pemain utama di industri ini. Selain itu ditampilkan perkembangan pangsa pasar periode 2007, 2011, dan 2015. Tidak ketinggalan ditampilkan estimasi penjualan oli pelumas masing-masing pemain disertai pangsa pasarnya.

Pada halaman 10-14, duniaindustri.com secara eksklusif membuat analisis peta persaingan yang terjadi di industri ini, perkembangan pemain baru sejak 2003, serta kabar terbaru investasi dan ekspansi dari sejumlah market leader di industri ini.

Di halaman 15 ditampilkan nilai pasar (market size) industri oli pelumas di Indonesia periode 2013-2016 (forecast) serta neraca perdagangan (ekspor-impor) di industri ini. Selain itu, di halaman 16, ditampilkan tren permintaan (demand) di pasar lokal pada periode 2011-2016 serta pertumbuhannya, dilengkapi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Data ini dilengkapi penetrasi populasi otomotif (motor dan mobil) di Indonesia yang menjadi konsumen terbesar oli pelumas. Di halaman 18, ditampilkan prospek (peluang) dan kendala di industri oli pelumas di Indonesia.

Data dan analisis industri oli pelumas sebanyak 19 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, BPS, WHO dan Bank Dunia, Kementerian ESDM, dan sejumlah perusahaan oli pelumas di Indonesia, diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.

C) Data Industri Petrokimia, Kimia Dasar, dan Logam Dasar ini menampilkan perbandingan pasokan dan permintaan produk petrokimia mencakup PE, PP, PS, PVC, PET periode 2009-2015. Selain itu, struktur industri petrokimia yang belum terintegrasi dan produk yang masih tergantung impor. Kebutuhan investasi untuk memenuhi kebutuhan produk petrokimia. Ditampilkan juga proyek-proyek investasi baru di industri petrokimia nasional. Di industri logam dasar, data ini menampilkan 14 sumberdaya mineral dan cadangannya di Indonesia mencakup tembaga, bauksit, nikel, pasir besi, mangan, emas, perak, seng, dan timah. Berbagai investasi baru di industri berbasis mineral juga ditampilkan dalam data ini. (*)

Sumber: di sini
Butuh data lebih spesifik, ingin request data/riset, klik di sini

760 Perusahaan Kosmetik Perebutkan Pasar Rp 64,3 Triliun

Sebanyak 760 perusahaan kosmetik di Indonesia tercatat menyerap tenaga kerja sebesar 675 ribu orang. 760 perusahaan kosmetik itu memperebutkan pasar dalam negeri dengan market size Rp 64,3 triliun, tumbuh 9% dibanding 2014 sebesar Rp 59,03 triliun, menurut perhitungan data duniaindustri.com.

Kementerian Perindustrian terus memacu industri kosmetik agar terus berkembang, menguasai pasar dalam negeri dan memperluas ekspor. Integrasi hulu hingga hilir menjadi upaya penting akselerasi industri ini.

Kosmetik juga termasuk industri strategis dan potensial mengingat terdapat 760 perusahaan kosmetik yang tersebar di Indonesia serta mampu menyerap 75.000 tenaga kerja langsung dan 600.000 tenaga kerja tidak langsung.

“Indonesia memiliki potensi industri kosmetik yang kuat, mempunyai pasar domestik yang besar dan menjadi produsen kosmetik untuk diekspor, SDM mumpuni dan bahan-bahan herbal sebagai material bahan baku. Khusus ekspor, nilainya pada tahun 2015 mencapai US$ 818 juta atau sekitar Rp11 triliun,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam keterangan tertulis.

Kinerja ekspor itu lebih besar dibandingkan nilai impor yang sebesar US$ 441 juta sehingga neraca perdagangan produk kosmetik mengalami surplus sekitar 85 persen.

Laju pengembangan industri kosmetik, diakui Menperin, juga memiliki tantangan yang harus dihadapi karena lebih dari 90 persen bahan baku kosmetik masih harus diimpor. Saat ini industri kosmetik di Indonesia masih terbatas pada formulasi dan pencampuran (compounding).

“Oleh karena itu kita juga mengembangkan industri kosmetik yang terintegrasi dari hulu ke hilir dengan meningkatkan produksi bahan baku sehingga menekan impor, lalu memacu R&D di dalam negeri, inovasi produk, riset pasar dan memperlebar pasar ekspor,” ujar Menteri Saleh.

Kementerian Perindustrian tentunya tidak bisa berjalan sendiri mengawal kebijakan pembangunan industri tersebut. Sehingga Menperin menegaskan peran asosiasi dunia usaha seperti PPA Kosmetika sangat penting sebagai mitra pemerintah dalam memberikan masukan serta evaluasi kebijakan.

Ketua Umum PPA Kosmetika Putri K Wardhani mengatakan pelaku industri kosmetika tengah memperkuat daya saing antara lain dengan turut menuntaskan masalah pasokan, harga energi yang dinilai mahal, hingga pembiayaan investasi di dalam negeri.

“Guna memperkuat pemasaran, industri kosmetik nasional terus melakukan inovasi dan branding. Khusus branding ini, kita sangat menyadari bahwa bangsa yang memenangi persaingan ekonomi nasional adalah bangsa yang memiliki merek-merek yang kuat,” ujarnya.

Nilai pasar (market size) industri kosmetik di Indonesia tahun 2015 diestimasi tumbuh 9% menjadi Rp 64,3 triliun dibanding 2014 sebesar Rp 59,03 triliun, menurut perhitungan data duniaindustri.com. Pertumbuhan tersebut dikategorikan relatif tinggi seiring perlambatan perekonomian nasional.

Pendorong pertumbuhan pasar industri kosmetik terutama karena adanya pergeseran tren kecantikan yang menumbuhkan diversifikasi produk kosmetik yang lebih luas serta peningkatan kesadaran terkait kecantikan untuk konsumen pria maupun wanita dalam berbagai kategori umum.

Nilai pasar industri kosmetik yang dihitung berdasarkan kompilasi data dan estimasi duniaindustri.com mencakup produk kosmetik buatan lokal maupun impor. Produk kosmetik itu meliputi produk berbasis kecantikan mulai dari bedak dan produk make up, pelembab kulit, produk pemutih kulit, sabun kecantikan muka, krim wajah, produk spa, minyak wangi dan deodorant, produk perawatan tubuh, produk pewarna rambut, pil diet dan obat langsing, jamu kecantikan, hingga produk pewangi.

Perhitungan nilai pasar industri kosmetik ini lebih tinggi dibanding data dari Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi). Perkosmi sebelumnya memperkirakan pada 2013 penjualan kosmetik tumbuh 15% menjadi Rp 11,22 triliun dibanding 2012 sebesar Rp 9,76 triliun. Sementara produk kecantikan dan perawatan tubuh global pada 2012 mencapai US$ 348 miliar, tumbuh tipis US$ 12 miliar dibanding tahun sebelumnya, berdasarkan data Euro Monitor.(*)

Sumber: di sini