Sabtu, 18 April 2020

Terbaru, Database Buyers Asing Logam Perunggu dan Riset Data Spesifik

Riset Data Spesifik Komoditas Logam Perunggu 2015-2025 (Market Outlook dan Database Buyer Asing) ini dirilis pertengahan April 2020 menampilkan riset data komprehensif, kajian spesifik, database lengkap, market analisis, market outlook, market trend untuk periode 2015-2025. Riset data ini berisi 45 halaman berukuran 3,55 MB yang dibuat untuk menjadi panduan komprehensif serta referensi bagi investor, korporasi, peneliti, dan berbagai stakeholders secara luas.

Riset ini dimulai dengan menampilkan dengan menampilkan highlights perekonomian Indonesia, mulai dari indikator makro terpilih seperti pertumbuhan ekonomi makro, trend PDB dan laju pertumbuhan, Indeks Manufaktur, serta Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Juga, ditampilkan Indeks Kemudahan Berbisnis (Ease of Doing Business Index), tren investasi asing, info perizinan, lisensi, pajak, subsidi, serta peraturan untuk investasi asing, peraturan tentang pengadaan tanah, kepemilikan tanah dan informasi stabilitas politik. (halaman 2 sampai halaman 12)

Kemudian dilanjutkan pada bab selanjutnya, yakni riset data spesifik komoditas logam perunggu, market outlook dan database buyer asing. Kajian data ini dimulai dari defisini logam perunggu yang merupakan perpaduan antara logam tembaga dan unsur lain seperti timah ataupun aluminium. (halaman 13) Juga dijabarkan potensi bahan baku dari logam asal perunggu di Indonesia. (halaman 14)

Materi utama pembentuk logam perunggu ditampilkan dalam penjabaran di halaman 15. Disusul kemudian, karakteristik utama dan kegunaan dari logam perunggu yang banyak digunakan saat ini. (halaman 16) Secara spesifik, manfaat logam perunggu ditampilkan dengan detail di lima sektor utama kehidupan manusia. (halaman 17).

Masuk pada pembahasan inti, Riset Data Spesifik Komoditas Logam Perunggu 2015-2025 (Market Outlook dan Database Buyer Asing) ini membedah neraca pasokan dan permintaan (supply-demand) logam perunggu di Indonesia dalam market trend periode 2015-2019. (halaman 18) Tren pertumbuhan, kapasitas terpasang, kapasitas produksi riil, serta neraca ekspor-impor ditampilkan dalam grafik yang menarik sehingga memudahkan. (halaman 19)

Secara spesifik, perkembangan market demand, produksi lokal, kapasitas terpasang, utilisasi, serta neraca ekspor-impor logam perunggu di Indonesia dijabarkan pada halaman 20. Juga, ditampilkan market analysis untuk memperkuat tampilan data (halaman 21). Kemudian, market outlook demand logam perunggu di Indonesia periode 2019-2025 ditampilkan pada halaman 22. Tidak ketinggalan, ditampilkan outlook demand, produksi lokal, kapasitas terpasang logam perunggu di Indonesia dijabarkan pada halaman 23. Lebih lengkap lagi, market outlook dibuat dengan tiga skenario sehingga dapat mendekatkan pada kondisi riil.

Segmentasi pasar tujuan ekspor menjadi pembahasan di bab berikutnya. Ditampilkan top 10 negara tujuan ekspor logam perunggu dari Indonesia pada periode 2015-2019 di halaman 24 dan halaman 25. Sedangkan top 10 negara utama asal impor logam perunggu ditampilkan pada halaman 26 dan 27.
Beralih ke produksi lokal, pada halaman 28 hingga halaman 30 ditampilkan market profiling top 10 produsen lokal terbesar di Indonesia, berdasarkan kapasitas produksi dan jumlah tenaga kerjanya. Sebagai data tambahan, ditampilkan juga database importir dan database eksportir pada halaman 31 dan halaman 32.

Sebagai penutup, ditampilkan juga database perusahaan buyer (pembeli) asing yang mencapai 360 perusahaan asing untuk memudahkan pelacakan target ekspor logam perunggu dari Indonesia. Database buyer asing itu ditampilkan pada halaman 33 hingga halaman 45.

Detail penjelasan Riset Data Spesifik Komoditas Logam Perunggu 2015-2025 (Market Outlook dan Database Buyer Asing) ini meliputi sebanyak 45 halaman pdf dan berukuran 3,55 MB. Riset spesifik ini dihasilkan oleh tim duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari big data Duniaindustri.com, digital database, kementerian terkait, asosiasi industri, serta sejumlah perusahaan market leader di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

Sumber: klik di sini


Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini
Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Jumat, 17 April 2020

Covid-19 Obrak-Abrik Cash Flow Industri, Relaksasi Sektor Tekstil Kembali Buntu

Relaksasi yang diminta industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terkait dengan pandemi COVID-19 kembali menemui jalan buntu, bahkan hampir salah arah. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (Apsyfi) Redma Gita Wirawasta menyatakan bahwa saat ini seluruh produsen TPT mengalami permasalahan cash-flow akibat terhentinya pembayaran dari retail dan sektor hilirnya sehingga membutuhkan relaksasi kebijakan untuk dapat bertahan.

Utilisasi industri tekstil dan produk tekstil nasional saat ini berada di bawah 30%, bulan depan diperkirakan turun kembali hingga 20%. Sebagian besar produsen telah menutup usahanya, sebagian kecil yang masih beroperasi saat ini hanya memproduksi Alat Pelindung Diri (APD) dan bahan bakunya berupa kain atau benang serta untuk menunaikan kewajiban ekspor saja,” ujar Redma dalam keterangan tertulis kepada Duniaindustri.com, Jumat (17/4).

Redma menjelaskan bahwa relaksasi dibutuhkan tidak hanya bagi mereka yang saat ini masih berproduksi, tapi juga bagi mereka yang saat ini tutup. Relaksasi diperlukan sebagai stimulus untuk kembali beroperasi pasca pandemi COVID-19 berakhir.

Beberapa relaksasi yang diminta terkait pembayaran rekening listrik, gas, moneter, BPJS Ketenagakerjaan dan perpajakan. “Karena kita harus prioritaskan pembayaran upah karyawan dan THR-nya. Kalau semua kewajiban biaya tetap dibebankan, sedangkan pemasukan tidak ada, kita bayar pakai apa? Nanti banyak perusahaan akan pailit,” ungkap Redma.

Redma menambahkan bahwa pihaknya bersama Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) sejak akhir Maret 2020 sudah menyampaikan surat secara resmi ke beberapa kementerian dan lembaga terkait hal ini. Namun hingga saat ini masih minim tindak lanjut.

“Untuk listrik, sudah ada komunikasi dengan PLN. Namun hingga saat ini belum ada keputusan pasti dari pihak PLN. Padahal kondisinya sudah mendesak dimana akan banyak perusahaan yang tidak akan mampu bayar tagihan pemakaian minimum bulan Maret,” jelasnya. “Sedangkan untuk gas dan BPJS, sama sekali tidak ada respons baik dari PGN maupun dari BPJS Ketenagakerjaan,” tambahnya.

Sedangkan untuk moneter, Redma menjelaskan bahwa meskipun ada arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada perbankan untuk memberikan relaksasi kepada dunia usaha, hingga saat ini tindak lanjut dari masing-masing bank masih minim. “Pihak Bank menindak-lanjutinya seperti kondisi bisnis biasa, padahal ini kan kondisi bencana luar biasa,” ungkap Redma.

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya mendesak pemerintah untuk segera turun tangan memastikan agar kebijakan relaksasi bagi sektor industri khususnya tekstil dan produk tekstil bisa terimplementasi. “Jangan beri relaksasi untuk impor karena selama ini impor sudah sangat relaks. Kalau impor terus diberi relaksasi, masyarakat mau dikasih kerja apa? Bahan baku ada dan tersedia di dalam negeri,” pungkasnya.(*/tim redaksi 07/Safarudin/Indra)

Sumber: klik di sini 
Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini
Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Selasa, 14 April 2020

Kupas Tuntas Persaingan Brand Industri Semen dengan 15 Database Historis

Persaingan di industri semen dan beton pracetak makin tajam dan sengit. Penurunan dan kenaikan demand terjadi secara cepat. Tidak hanya itu, di beberapa daerah terjadi perubahan dan pergeseran dominasi market leader.

Dengan kehadiran pemain-pemain baru, pemain existing makin terusik. Mengutip azas umum persaingan, setiap pemain akan melakukan berbagai strategi untuk menghadapi serangan pemain baru ataupun mempertahankan pangsa pasar yang ada.

Bagaimana pertempuran di pasar semen dan beton pracetak, duniaindustri.com memiliki 15 database khusus di industri ini yang ditujukan untuk memotret gambaran umum dan melakukan analisis eksklusif yang paling update. Mari kita simak penjelasannya di bawah ini:

(1) Riset Tren Kapasitas Produksi Semen 1974-2020 (Komparasi Strategi Para Pemain dan Tren Harga Klinker)
(2) Data dan Outlook Industri Beton Pracetak (Riset Tren Pasar 2008-2022)
(4) Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020)
(5) Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018 (Arah Kompetisi Pasar; Pemain Baru vs Pemain Eksisting)
(6) Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018)
(7) Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019)
(8) Riset Pasar dan Analisis Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version)
(9) Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017
(10) Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019
(11) Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017
(12) Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar
(13) Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir)
(14) Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar
(15) Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia

Berikut detail outline dan penjabaran masing-masing:
(1)
Riset Tren Kapasitas Produksi Semen 1974-2020 (Komparasi Strategi Para Pemain dan Tren Harga Klinker) ini dirilis pada minggu pertama Juni 2018 menampilkan data dan kajian terbaru, analisis komprehensif, outlook dan prognosa, serta rekam jejak data dan komparasi strategi para pemain industri semen di Indonesia dalam periode yang cukup panjang yakni 1974 hingga 2020. Dalam riset kali ini, Duniaindustri.com tidak hanya menyuguhkan data proyeksi ke depan, tapi juga menghadirkan rekam jejak data yang cukup panjang sebagai acuan (benchmark) tren yang terjadi di sektor industri tertentu.

Mari kita simak detail konten per halaman. Riset data ini dimulai dengan menampilkan market overview perkembangan pasar semen pada 2017 (halaman 2). Pertumbuhan pasar semen pada 2017 tercatat cukup solid, ditopang akselerasi proyek infrastruktur pemerintah, meski dibayangi memanasnya persaingan dengan kehadiran sejumlah pemain baru. Kemudian dilanjutkan dengan proyeksi kondisi pasar semen pada 2018 (halaman 3) saat permintaan diperkirakan cenderung melambat dibanding 2017, mengingat sentimen tahun politik.

Masuk ke inti Riset Tren Kapasitas Produksi Semen 1974-2020, pada halaman 4 dijelaskan metode riset kali ini dan dukungan data penunjang yang digunakan. Mulai memasuki fokus riset, pada halaman 5 dipaparkan sejarah tiga pemain semen tertua di Indonesia, termasuk faktor keunggulannya saat itu. Selanjutnya, ditampilkan tren peningkatan kapasitas industri semen sejak 1909 hingga 1994, dalam lima kelompok periode tahun untuk menerangkan munculkan pemain-pemain industri semen yang pertama di negeri ini (halaman 5). Data kapasitas para pemain semen pertama di negeri ini dapat menjadi rekam jejak (track record) yang valid untuk mengukur tren ke depan. Data tersebut kemudian dianalisis dengan membandingkan terhadap kondisi akhir 2017 untuk melihat pertumbuhan sepanjang 43 tahun terakhir (halaman 6).

Pada halaman 7 sampai 10, data rekam jejak itu dijabarkan menjadi track record tren peningkatan kapasitas market leader industri semen di Indonesia. Market leader diambil sebagai contoh yang merepresentasikan tren perubahan di industri ini. Pada halaman 11, ditampilkan kondisi terkini dari kapasitas industri semen di Indonesia, dari mulai kapasitas per perusahaan (total 15 perusahaan), kapasitas terpasang total, utilisasi pabrik, pangsa perusahaan BUMN, pangsa perusahaan asing dan swasta. Terkait pembahasan pangsa perusahaan asing dan swasta, ternyata 4 pemain raksasa asing terbesar di dunia telah memiliki fasilitas produksi di Indonesia (halaman 12). Hal itu mengakibatkan persaingan antar perusahaan raksasa semen di Indonesia makin sengit (halaman 13), mulai dari perebutan pangsa pasar, tekanan harga jual, produktivitas, utilisasi pabrik, hingga profitabilitas atau margin laba. Terkait tren profitabilitas dan kinerja keuangan tiga market leader semen, secara khusus ditampilkan pada halaman 14.

Pada halaman 15, ditampilkan proyeksi konsumsi dan kapasitas semen di Indonesia periode 2011 hingga 2020, serta distribusi kapasitas perperusahaan (baik market leader, existing player, dan new comers). Disusul kemudian, pada halaman 16 dan 17 ditampilkan grafis menarik terkait tren oversupply semen di Indonesia dilihat dari tren pertumbuhan kapasitas terpasang dibanding konsumsi, serta faktor yang mempengaruhi, untuk periode 1995 hingga 2020. Serta, ditampilkan tabel proyeksi konsumsi semen di Indonesia periode 2012 hingga 2022 seiring dengan percepatan proyek infrastruktur pemerintah.

Mulai halaman 19 sampai 21, ditampilkan market analysis perkembangan terbaru industri semen di Indonesia pada 2018, mulai dari strategi perbedaan harga jual, tekanan harga batubara, perkembangan margin laba, serta strategi ekspansi ke depan. Lebih spesifik lagi, pada halaman 22 hingga 37, Duniaindustri.com membuat kajian independen dari hasil monitoring perkembangan strategi bisnis per perusahaan semen di Indonesia, terutama market leader dan pemain baru. Strategi bisnis ini mencakup tren ekspansi dan segmen yang disasar, target kinerja ke depan, strategi harga jual, tren pangsa pasar, dan lainnya.

Berlanjut pada halaman 38 dan 39, ditampilkan grafis menarik perkembangan pemetaan fasilitas produksi masing-masing pemain semen di Indonesia, sehingga memberikan gambaran jelas pertarungan di daerah-daerah tertentu. Pada halaman 41 sampai 47, pembahasan ditekankan pada tren perubahan pangsa pasar seluruh pemain semen di Indonesia periode 2010 hingga 2018, baik untuk penjualan kantong (bag) maupun curah (bulk), serta proyeksi pangsa pasar per perusahaan pada periode 2018-2022.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persaingan pasar seperti ekspektasi peningkatan konsumsi per kapita dan akselerasi realisasi proyek infrastruktur pemerintah turut dibahas pada halaman 48 sampai 50. Disambung kemudian, pada halaman 50 sampai 56 ditampilkan pangsa pasar dari empat marketleader per daerah di Indonesia. Disusul kemudian, pada halaman 57 hingga 60 ditampilkan data-data tentang tren harga klinker di Indonesia, dari mulai komparasi harga klinker dari market leader dan new comers, biaya produksi per ton, selisih harga, serta tren impor klinker di Indonesia, asal negara impor klinker, serta asal negara impor semen di Indonesia.

Riset Tren Kapasitas Produksi Semen 1974-2020 (KomparasiStrategi Para Pemain dan Tren Harga Klinker) ini berisi 61 halaman pdf berukuran 8,5 MB, berasal dari kompilasi data komprehensif Duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

Sumber: klik di sini


(2) Data dan Outlook Industri Beton Pracetak (Riset Tren Pasar 2008-2022) ini dirilis pada minggu ketiga Januari 2018 menampilkan riset independen, data komprehensif, analisis dan ulasan, serta tren pertumbuhan volume pasar dan pangsa pasar perusahaan beton pracetak di Indonesia. Pembahasan dilakukan secara detail mulai dari tren pertumbuhan pasar industri beton pracetak secara nilai (market value) dan secara volume (market size), profil top 5 produsen, pangsa pasar, tren peningkatan kapasitas, hingga ke analisis katalis utama pendorong pertumbuhan dalam rentang waktu yang panjang.

Data dan Outlook Industri Beton Pracetak (Riset Tren Pasar 2008-2022) ini dimulai dengan paparan data makro ekonomi Indonesia, inflasi, dan nilai tukar rupiah (halaman 2-4). Dilanjutkan dengan analisis percepatan proyek infrastruktur yang menjadi salah satu katalis utama pendorong kebutuhan beton pracetak (halaman 5-11), meliputi grafis dan tabel rencana pembangunan jalan tol 2015-2019.

Pada halaman 12-14, tim Duniaindustri.com membuat kajian independen terkait tren pertumbuhan dan proyeksi pasar beton pracetak periode 2008-2022. Metode yang digunakan antara lain analisis sensitivitas percepatan anggaran infrastruktur terhadap kebutuhan beton pracetak, proyeksi eksponensial, dan proyeksi linear.

Dengan metode yang cukup komprehensif itu, ditampilkan pertumbuhan pasar secara nilai (market value) dan volume (market size) industri beton pracetak dengan rentang waktu 2008 hingga 2020 pada halaman 15 hingga halaman 17. Dari data yang disajikan dalam tabel yang menarik dapat dilihat persentase pertumbuhan pada periode tersebut. Data tersebut juga diperkuat oleh tren pertumbuhan dua market leader yang menjadi benchmarking (halaman 18-19), sehingga memberikan gambaran lebih riil.

Pembahasan dilanjutkan dengan profil industri beton pracetak secara nasional pada halaman 20. Dan profil lima market leader industri beton pracetak disajikan secara khusus pada halaman 21-25, meliputi tren ekspansi kapasitas, persentase pertumbuhan, lokasi pabrik, kinerja keuangan, hingga produk unggulan perusahaan.

Berlanjut ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 26 hingga halaman 31 ditampilkan dalam grafis dan tabel perkembangan pangsa pasar market leader industri beton pracetak berdasarkan kapasitas dan berdasarkan penjualan. Pada halaman 26-30, ditampilkan pangsa pasar market leader beton pracetak berdasarkan kapasitas produksi pada periode 2014-2017. Sementara pada halaman 31, ditampilkan pangsa pasar market leader beton pracetak berdasarkan nilai penjualan tahun 2016.

Definisi umum beton pracetak dan komposisi bahan baku produksi dipaparkan pada halaman 32-35. Tujuannya untuk memberikan insight lebih mendalam terkait produksi beton pracetak hingga jenis bahan aditif yang biasa digunakan.

Pada halaman 36 hingga halaman 79 disajikan bahan market intelligence dari kinerja seluruh aspek dari dua market leader di industri beton pracetak. Pembahasan dalam bagian ini dilakukan secara spesifik dan mendalam meliputi lokasi pabrik beserta kapasitasnya, komposisi penjualan, tren produksi per pabrik periode 2013-2016, pergerakan kontrak yang diperoleh dari sisi nilai dan periode, produk unggulan, profil pelanggan (top 10 buyers), hingga rasio keuangan teraktual.

Data dan Outlook Industri Beton Pracetak (Riset Tren Pasar 2008-2022) sebanyak 79 halaman dan berukuran 11 MB ini berasal dari riset eksklusif duniaindustri.com, didukung data penunjang dari BPS, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan sejumlah perusahaan beton pracetak di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

(3) Riset Tren Ekspansi Industri Semen 2015-2017 (Kajian Peta Kompetisi dan Strategi Penetrasi Pasar) ini dirilis pada minggu ketiga Agustus 2017 menampilkan data dan kajian terbaru, analisis komprehensif, outlook dan prognosa, serta riset pasar dan isu menarik seputar industri semen di Indonesia. Kali ini, selain memaparkan data dan riset pasar industri semen secara umum, Duniaindustri.com juga menampilkan kajian dan hasil analisis mendalam terkait dua fokus utama, yakni 1) agresivitas dua new comers dan 2) kajian peta persaingan serta strategi market leader di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Mari kita simak detail konten per halaman. Riset dan kajian ini dimulai dengan menampilkan tren perkembangan kapasitas hasil ekspansi dari masing-masing pemain semen per Agustus 2017 dalam bentuk peta Indonesia. Dengan data ini terlihat jelas lokasi pabrik dan fasilitas produksi masing-masing pemain semen beserta jumlah kapasitas teraktual untuk Agustus 2017 (halaman 2) dibandingkan posisi 2015-2016 (halaman 3).

Perbandingan data tersebut kemudian dianalisis dengan metode komprehensif dari tim Duniaindustri.com pada halaman 4 dan halaman 5. Masuk ke fokus kajian, pada halaman 6 hingga halaman 9 dijabarkan tren ekspansi dua pemain baru (new comers) di industri semen yang sangat pesat pertumbuhan kapasitas produksinya. Dijelaskan pula strategi pemilihan lokasi ekspansi, strategi pemasaran, dan strategi penetrasi pasar kedua pemain tersebut.

Pada halaman 10 hingga halaman 11, ditampilkan tabel perkembangan pangsa pasar 11 pemain semen hingga posisi terakhir Juli 2017, akumulasi 7 bulan 2017. Data tersebut kemudian dibandingkan pangsa pasar pada kuartal IV 2014 hingga kuartal IV 2016 per kuartal, sehingga menggambarkan secara jelas perkembangan pangsa pasar masing-masing pemain. Kemudian data pangsa pasar tersebut dianalisis dengan meneliti lebih jauh kiprah dari new comers di industri semen.

Selanjutnya pada halaman 13 ditampilkan tabel pangsa pasar semen per daerah untuk tiga market leader, terutama untuk periode enam bulan 2017, disertai poin utama analisis (key point analysis) pergerakan demand per daerah. Dari data tersebut dianalisis lebih dalam menjadi fokus kajian kedua yakni peta persaingan di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta, pada halaman 14 dan halaman 15 (bentuk tabel pergerakan pangsa pasar periode Januari 2016 hingga Juni 2017 per bulan). Dua daerah tersebut diperebutkan oleh 4 market leader yang terus bertempur untuk memenangi persaingan.

Khusus untuk persaingan pasar di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tim Duniaindustri.com melakukan quick survey untuk meng-capture lebih dalam persaingan 4 market leader di dua daerah tersebut. Hasilnya ditampilkan pada halaman 16 hingga halaman 19, yang menjabarkan perubahan dominasi market leader di Yogyakarta, faktor pendorong perubahan dominasi market leader, strategi penetrasi pasar dari market leader kedua sehingga mampu menumbangkan market leader pertama.

Berlanjut ke pembahasan berikutnya, ditampilkan perkembangan volume penjualan semen pada Juli 2017 per daerah. Kejutan terjadi saat pasar semen di Jawa Tengah menjadi yang terbesar di Pulau Jawa, melampaui Jawa Timur dan Jawa Barat secara bulanan pada Juni dan Juli 2017. Hal itu digambarkan jelas pada tabel halaman 20 disertai analisis pada halaman 21. Tren perkembangan Pangsa pasar empat market leader semen juga ditampilkan dari periode 2014, 2015, 2016, hingga 7 bulan 2017 pada halaman 22.

Selanjutnya, pada halaman 23 hingga halaman 29 ditampilkan berbagai informasi dan data spesifik tentang market leader semen terbesar di Indonesia. Sementara pada halaman 30 hingga halaman 40 ditampilkan berbagai data spesifik tentang second market leader di industri semen. Dan pada halaman 41 sampai halaman 45 ditampilkan data spesifik tentang third market leader di industri semen. Data spesifik itu meliputi perkembangan tren ekspansi, peta lokasi pabrik dan fasilitas penunjang, strategi pasar dan rencana aksi ke depan.

Beralih ke data semen yang lebih umum, pada halaman 46 hingga halaman 49 ditampilkan outlook pertumbuhan pasar semen hingga 2018 dengan tiga skenario, yakni skenario pesimistis, skenario realistis, dan skenario linear. Pada halaman 50 ditampilkan tabel pengaruh pergerakan BI rate terhadap laju pertumbuhan pasar semen periode 2002 hingga 2017. Disambung kemudian pada halaman 51 dan halaman 52, tren utilisasi pabrik pemain-pemain semen per perusahaan. Dan pada halaman 53 ditampilkan tren perubahan harga jual semen secara rata-rata.

Riset Tren Ekspansi Industri Semen 2015-2017 (Kajian Peta Kompetisi dan Strategi Penetrasi Pasar)ini juga dilengkapi data-data proyeksi makro ekonomi Indonesia 2017-2018, pada halaman 54 hingga halaman 62, antara lain tren pertumbuhan ekonomi per kuartal, proyeksi pergerakan harga komoditas 2018, risiko dan tantangan global di 2018, prognosa pertumbuhan sektor usaha pada 2018 beserta katalis dari masing-masing sektor usaha, prognosa pertumbuhan ekonomi per wilayah, tingkat kemiskinan per wilayah, dan tingkat pengangguran per wilayah.

Riset Tren Ekspansi Industri Semen 2015-2017 (Kajian Peta Kompetisi dan Strategi Penetrasi Pasar)yang berisi 63 halaman ini berasal dari riset eksklusif Duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

(4) Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020) ini dirilis pada Mei 2017 menampilkan data dan kajian terbaru, analisi komprehensif, outlook dan prognosa, serta riset pasar dan isu menarik seputar industri semen di Indonesia. Analisis, data, dan proyeksi ini sangat berguna bagi peneliti, marketing, direksi, dan semua pihak yang berkepentingan dengan industri semen di Indonesia.

Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020) ini dimulai dengan menampilkan data terbaru pemetaan harga jual semen per wilayah di Indonesia secara aktual sebagai patokan tren persaingan pasar. Dari data tersebut diketahui kisaran harga semen per zak isi 50 kilogram sekitar Rp 53.000 - Rp 2.300.000,- (halaman 2)

Data tersebut diperkuat dengan sebaran harga semen secara bulanan di kawasan Indonesia bagian timur. (halaman 3) Kemudian dilanjutkan dengan jalur logistik semen ke Indonesia bagian Timur dengan rincian biaya pra-shipment, tarif tol laut, biaya post shipment, dan ongkos distribusi. (halaman 4)

Berlanjut ke halaman 5, ditampilkan simulasi angkutan semen dari timur Pulau Jawa hingga ke Indonesia bagian timur. Juga ditampilkan komparasi biaya tarif angkutan laut dan angkutan udara. Data tersebut makin diperkuat dengan simulasi total kebutuhan ongkos dan distribusi semen di Indonesia bagian timur pada halaman 6. Dari simulasi tersebut, kemudian dianalisis pada halaman 7.

Pada halaman 8, ditampilkan total harga semen di Papua, lengkap dengan total permintaan pasar per daerah. Data tersebut dianalisis kembali pada halaman 9. Disusul pembahasan mengenai harga jual semen di Papua yang dijelaskan per daerah dan per biaya pada halaman 10-15.

Pada halaman 16 dipaparkan kondisi permintaan (demand) pasar semen di Indonesia bagian timur per daerah dikomparasi dengan total Indonesia per wilayah. Kemudian pada halaman 17-18 ditampilkan proyeksi kapasitas pabrik di Indonesia bagian timur dari seluruh pemain, dilengkapi dengan tren pertumbuhan secara nasional.

Beralih ke pembahasan lain, data ini juga menampilkan peta pangsa pasar seluruh pemain semen, baik itu pemain existing (big players tier-1) maupun pemain baru (tier-2) per bulan sejak kuartal IV 2014-kuartal IV 2016. (Halaman 19) Pada halaman 20-21, tim duniaindustri.com membuat riset independen terkait proyeksi dan prognosa tren perkembangan peta pangsa pasar (market share) seluruh pemain semen untuk 2017, dengan memfaktorkan sejumlah ekspansi dan tambahan kapasitas dari masing-masing pemain. Proyeksi itu disajikan dalam skenario A pada halaman 20 dan skenario B pada halaman 21.

Tim duniaindustri.com juga membuat analisis eksklusif terkait tren perkembangan peta panga pasar seluruh pemain semen pada halaman 22-23. Dari analisis ini, terlihat tren pergerakan pangsa pasar per kuartal sejak kuartal IV 2014-kuartal IV 2016, lengkap dengan sentimen kebijakan harga jual pemain serta strategi marketing.

Pada halaman 24-25, duniaindustri.com menghimpun informasi penting, isu terkini, dan rencana ekspansi para pemain semen. Tercatat lima pemain semen berencana merealisasikan ekspansi terbaru.
Pada halaman 26, ditampilkan tren pergerakan harga jual semen dan kebijakan perang harga yang sangat mempengaruhi perkembangan pangsa pasar para pemain semen.

Pada halaman 27-28, data dan kajian ini berlanjut ke highlight pasar semen 2016 yang menampilkan kilas balik pasar semen di Indonesia sepanjang tahun lalu (halaman 27). Pada halaman 28, ditampilkan proyeksi pasar semen 2017-2018 dengan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang masih membayangi.

Pada halaman 29 dipaparkan tren pertumbuhan penjualan semen secara bag (kemasan) atau bulk (curah). Sampai saat ini penjualan semen secara kemasan (bag) masih mendominasi dibanding bulk (curah) pada halaman 30.

Faktor pendorong penjualan semen terutama peningkatan belanja infrastruktur periode 2009-2017 dipaparkan pada halaman 31. Disusul komparasi pertumbuhan penjualan semen domestik, persentase pertumbuhan, serta tren suku bunga acuan Bank Indonesia pada halaman 32. Berlanjut pada komparasi penjualan semen dan kapasitas pabrik serta tingkat rata-rata utilisasi periode 2010-2017F pada halaman 33-34.

Estimasi pergerakan harga jual semen periode 2013-2018 dipaparkan pada halaman 35, disusul tren utilisasi pabrik per perusahaan semen di Indonesia pada halaman 33-37. Munculnya pemain-pemain baru yang dilengkapi dengan kapasitas produksi, target pangsa pasar, serta market intelligence terbaru dipaparkan pada halaman 38-42.

Informasi penting ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih detail terkait peta persaingan industri semen di Indonesia ke depan. Meski pasar semen Indonesia diwarnai perlambatan pasar, persaingan ketat, serta kelebihan pasokan yang terus berlanjut, prospek industri ini ke depan masih cukup menarik untuk jangka menengah. Terlebih lagi jika melihat konsumsi semen per kapita dan proyek infrastruktur yang digencarkan pemerintah. Kedua faktor tersebut dibahas secara detail pada halaman 43-46.

Data dan Kajian Harga Jual Semen Per Wilayah (Analisis Pasar Semen di Indonesia Timur 2017-2020)
sebanyak 47 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.comyang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

(5) Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018 (Arah Kompetisi Pasar; Pemain Baru vs Pemain Eksisting) ini dirilis pada Februari 2018 menampilkan data terbaru, analisi komprehensif, outlook dan prognosa, serta riset pasar dan isu menarik seputar industri semen di Indonesia. Analisis, data, dan proyeksi ini sangat berguna bagi peneliti, marketing, direksi, dan semua pihak yang berkepentingan dengan industri semen di Indonesia.

Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018 (Arah Kompetisi Pasar; Pemain Baru vs Pemain Eksisting) ini dimulai dengan menampilkan data terbaru peta pangsa pasar seluruh pemain semen, baik itu pemain existing (big players tier-1) maupun pemain baru (tier-2) per bulan sejak kuartal IV 2014-kuartal IV 2016. (Halaman 2)

Pada halaman 3-4, tim duniaindustri.com membuat riset independen terkait proyeksi dan prognosa tren perkembangan peta pangsa pasar (market share) seluruh pemain semen untuk 2017, dengan memfaktorkan sejumlah ekspansi dan tambahan kapasitas dari masing-masing pemain. Proyeksi itu disajikan dalam skenario A pada halaman 3 dan skenario B pada halaman 4.

Tim duniaindustri.com juga membuat analisis eksklusif terkait tren perkembangan peta panga pasar seluruh pemain semen pada halaman 5-6. Dari analisis ini, terlihat tren pergerakan pangsa pasar per kuartal sejak kuartal IV 2014-kuartal IV 2016, lengkap dengan sentimen kebijakan harga jual pemain serta strategi marketing.

Pada halaman 7-8, duniaindustri.com menghimpun informasi penting, isu terkini, dan rencana ekspansi para pemain semen. Tercatat lima pemain semen berencana merealisasikan ekspansi terbaru.

Pada halaman 9, ditampilkan tren pergerakan harga jual semen dan kebijakan perang harga yang sangat mempengaruhi perkembangan pangsa pasar para pemain semen.

Pada halaman 10-11, duniaindustri.com membuat riset independen terkait fokus daerah 'pertempuran' dan persaingan pasar semen pada 2017-2018, dilengkapi dengan proyek-proyek infrastruktur yang sedang dibangun di daerah tersebut dan indikasi arah ekspansi dari para pemain.

Pada halaman 12-13, riset ini berlanjut ke highlight pasar semen 2016 yang menampilkan kilas balik pasar semen di Indonesia sepanjang tahun lalu (halaman 12). Pada halaman 13, ditampilkan proyeksi pasar semen 2017-2018 dengan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang masih membayangi.

Analisis eksklusif ini dilengkapi dengan data penjualan terupdate per bulan periode Januari 2016-Januari 2017 pada halaman 14-26. Pada halaman 27 dipaparkan tren pertumbuhan penjualan semen secara bag (kemasan) atau bulk (curah). Sampai saat ini penjualan semen secara kemasan (bag) masih mendominasi dibanding bulk (curah) pada halaman 28.

Faktor pendorong penjualan semen terutama peningkatan belanja infrastruktur periode 2009-2017 dipaparkan pada halaman 29. Disusul komparasi pertumbuhan penjualan semen domestik, persentase pertumbuhan, serta tren suku bunga acuan Bank Indonesia pada halaman 30. Berlanjut pada komparasi penjualan semen dan kapasitas pabrik serta tingkat rata-rata utilisasi periode 2010-2017F pada halaman 31-32.

Estimasi pergerakan harga jual semen periode 2013-2018 dipaparkan pada halaman 33, disusul tren utilisasi pabrik per perusahaan semen di Indonesia pada halaman 34-35.

Munculnya pemain-pemain baru yang dilengkapi dengan kapasitas produksi, target pangsa pasar, serta market intelligent terbaru dipaparkan pada halaman 36-40. Informasi penting ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih detail terkait peta persaingan industri semen di Indonesia ke depan.

Meski pasar semen Indonesia diwarnai perlambatan pasar, persaingan ketat, serta kelebihan pasokan yang terus berlanjut, prospek industri ini ke depan masih cukup menarik untuk jangka menengah. Terlebih lagi jika melihat konsumsi semen per kapita dan proyek infrastruktur yang digencarkan pemerintah. Kedua faktor tersebut dibahas secara detail pada halaman 41-44.

Berlanjut pada pembahasan berikutnya, pada halaman 45-59, dipaparkan informasi dan penjelasan penting terkait market leader semen serta data market intelligence terkait tiga pemimpin pasar semen di Indonesia. Data tiga market leader industri semen nasional itu antara lain mulai dari sejarah berdiri, kapasitas produksi, komposisi pemegang saham, anak usaha, lokasi pabrik semen (cement mill, kiln, packing plant), strategi ekspansi ke depan, volume penjualan dan kinerja keuangan.

Analisis Persaingan Industri Semen dan Tren Harga Jual 2017-2018 (Arah Kompetisi Pasar; Pemain Baru vs Pemain Eksisting) sebanyak 60 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh  data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

(6) Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018) ini dirilis per akhir Januari 2017 menampilkan data, riset pasar, analisis, kajian, laporan, serta outlook pasar semen di Indonesia dengan rentang waktu 2015-2018F. Seluruh informasi tersebut disatukan untuk memberikan gambaran secara lebih rinci terkait tren pertumbuhan dan persaingan pasar pada periode 2015-2018F.

Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018) ini dimulai dengan pemaparan outlook ekonomi Indonesia 2017 pada halaman 2-4. Perekonomian Indonesia pada 2017 diestimasi tumbuh 5,1% dengan sejumlah tantangan baik dari dalam maupun luar negeri seperti kesenjangan infrastruktur antar daerah serta perlambatan perekonomian China.

Pada halaman 5, ditampilkan tren pertumbuhan ekonomi nasional periode 2015-2017, beserta sejumlah komponen utama seperti target nilai tukar rupiah, inflasi, dan lifting migas. Data tersebut diperkuat dengan acuan sebaran alokasi dana daerah 2017 (halaman 6), sebaran alokasi dana tranfer umum ke daerah (halaman 7), perbandingan pendapatan dan belanja daerah 2017 (halaman 8), serta komparasi pertumbuhan ekonomi daerah 2016 dengan sektor pendorongnya (halaman 9).

Dari sisi makro ekonomi, riset ini berlanjut ke highlight pasar semen 2016 yang menampilkan kilas balik pasar semen di Indonesia sepanjang tahun lalu (halaman 10). Pada halaman 11, ditampilkan proyeksi pasar semen 2017-2018 dengan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) yang masih membayangi.

Pada halaman 12-22, ditampilkan data-data penjualan semen per daerah per bulan sepanjang 2016 untuk menjadi acuan utama riset ini. Dengan acuan tersebut ditambah data makro ekonomi di atas, duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait tren pertumbuhan pasar semen pada 2017-2018 pada halaman 23-26.

Kondisi tren pertumbuhan pasar semen yang sepenuhnya belum pulih terdampak perlambatan ekonomi mesti berhadapan dengan persaingan ketat seiring adanya pemain-pemain baru. Tak heran, kondisi kelebihan pasokan (oversupply) industri semen di Indonesia yang terjadi pada 2016 akan berlanjut pada 2017-2018. Pembahasan itu ditampilkan pada halaman 27-31.

Sebagian referensi utama, duniaindustri.com juga menampilkan tren persaingan pasar di sejumlah pasar utama di Indonesia dengan kehadiran pemain-pemain baru semen. Tren persaingan pasar itu mencakup periode 2015-2017 pada halaman 32-36.

Munculnya pemain-pemain baru yang dilengkapi dengan kapasitas produksi, target pangsa pasar, serta market intelligent terbaru dipaparkan pada halaman 37-44. Informasi penting ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih detail terkait peta persaingan industri semen di Indonesia ke depan.

Meski pasar semen Indonesia diwarnai perlambatan pasar, persaingan ketat, serta kelebihan pasokan yang terus berlanjut, prospek industri ini ke depan masih cukup menarik untuk jangka menengah. Terlebih lagi jika melihat konsumsi semen per kapita dan proyek infrastruktur yang digencarkan pemerintah. Kedua faktor tersebut dibahas secara detail pada halaman 45-50.

Berlanjut pada pembahasan berikutnya, pada halaman 51-68, dijelaskan strategi market leader semen untuk mengatasi kondisi oversupply dan persaingan yang makin ketat, serta data market intelligent terkait tiga pemimpin pasar semen di Indonesia. Data tiga market leader industri semen nasional itu antara lain mulai dari sejarah berdiri, kapasitas produksi, komposisi pemegang saham, anak usaha, lokasi pabrik semen (cement mill, kiln, packing plant), strategi ekspansi ke depan, volume penjualan dan kinerja keuangan.

Riset Tren Pertumbuhan dan Persaingan Pasar Semen (Analisis Pasar dan Outlook 2017-2018) sebanyak 69 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.comyang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

(7) Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini dirilis per Agustus 2016 menampilkan seluruh informasi mengenai kondisi kelebihan pasokan (oversupply) industri semen di Indonesia. Fokus utama pembahasan dalam riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook komprehensif ini terkait kondisi oversupply semen dan strategi para pemain.

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini dimulai dengan tren permintaan (demand) semen 2003-2016, dikaitkan dengan kapasitas terpasang (instaled capacity), serta pertumbuhan konsumsi. (halaman 2) Dengan melihat tren jangka panjang sejak 2003, terlihat kapasitas semen domestik terus di atas tingkat konsumsi lokal, sehingga Indonesia tidak defisit pasokan semen. Oversupply terjadi saat pertumbuhan permintaan di bawah ekspektasi.

Pada halaman 3 ditampilkan grafis terkait proyeksi kondisi oversupply semen 2016-2020. Pertumbuhan kapasitas terpasang semen akan terjadi paling tinggi pada 2017, sementara estimasi produksi riil akan menyesuaikan. Tingkat permintaan semen diproyeksi tumbuh berkisar 4% (estimasi terendah), 6% (estimasi moderat), dan 8% (estimasi tertinggi) periode 2016-2020.

Kondisi oversupply semen juga dijabarkan lebih lanjut pada halaman 4 dengan komparasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1993-2015. Duniaindustri.com membuat analisis eksklusif terkait kondisi oversupply semen untuk proyeksi 2016-2017. (halaman 5-6)

Pada halaman 7, dipaparkan faktor kunci pendorong tingkat permintaan (demand) semen di Indonesia, antara lain anggaran infrastruktur, perumahan, potensi pasar, serta bonus demografi penduduk kelas menengah. Pengembangan proyek-proyek infrastruktur dijabarkan lebih detail pada halaman 8-9 dan dilengkapi dengan korelasinya terhadap tingkat konsumsi semen per kapita di Indonesia.

Pengaruh proyek infrastruktur terhadap konsumsi semen juga terlihat dari perubahan porsi penjualan semen dari kemasan zak (bag) kepada partai besar (bulk) periode 1997-2016. (halaman 11-12)

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) ini juga dilengkapi dengan data peta persaingan merek semen per daerah, market leader per daerah, serta perubahan dan pertumbuhannya hingga 2016. (halaman 13)

Pada halaman 14-20, dijelaskan strategi market leader semen untuk mengatasi kondisi oversupply dan persaingan yang makin ketat. Pada halaman 21 ditampilkan tingkat konsumsi semen di negara-negara ASEAN. Riset ini juga dilengkapi dengan strategi pemain dengan pangsa pasar kedua dan ketiga dalam menghadapi kondisi oversupply semen di pasar lokal.

Riset Pasar dan Analisis Oversupply Semen (2016-2019) sebanyak 32 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

(8) Riset Pasar dan Analisis Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version) ini dirilis per Juni 2016 menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri semen di Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain baru di industri ini sejak 2015-2017, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, hingga analisis prediksi persaingan pangsa pasar pemain baru dan pemain existing, serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.

Data ini dimulai dengan menampilkan highlights industri semen sejak 2014-2016, mencakup kapasitas terpasang, kapasitas produksi, pertumbuhan pasar semen domestik, utilisasi pabrik semen domestik, serta konsumsi domestik, ekspor, dan impor. Kapasitas domestik pada 2015 dengan 9 pemain mencapai 80,4 juta ton. Tambahan kapasitas dari 4 pemain baru pada 2016 sebesar 8,7 juta ton menjadi 89,7 juta ton. (halaman 2)

Pada halaman 3 ditampilkan chart (infografik) terkait lokasi pabrik-pabrik pemain baru dan pemain existing di industri semen. Data itu dijabarkan kembali pada halaman 4 dengan tabel yang lengkap terkait kapasitas terpasang pemain existing semen periode 2013-2017, terkait ekspansi pemain existing, nilai investasi, kapasitas tambahan, kapasitas terpasang, dan jenis proyek. Di samping itu, juga dijabarkan pemain baru 2013-2017 lengkap dengan lokasi pabrik, kapasitas terpasang, nilai investasi, tahapan operasional, serta mitra usaha dan jenis proyek.

Di halaman 4 ditampilkan tren pertumbuhan konsumsi semen domestik dan pangsa pasar pemain-pemain existing periode 2014-2015 per daerah. Dengan hadirnya pemain baru yang membangun pabrik baru, peta persaingan akan makin ketat seperti ditampilkan pada halaman 5-6. Persaingan pangsa pasar semen di Pulau Jawa ditampilkan lebih detail pada halaman 7. Di halaman 8-13 ditampilkan profil singkat pemain-pemain baru di industri semen Indonesia, mencakup nama perusahaan, merek semen, tahun berdiri, kapasitas produksi per tahun, hingga jaringan distribusi.

Di halaman 14-18, duniaindustri.com secara eksklusif membuat kajian atau analisis independen terkait peta persaingan dan proyeksi pangsa pasar per daerah, serta strategi pasar dari pemain baru. Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan akan menjadi fokus persaingan pangsa pasar semen antara pemain baru versus pemain existing.

Di halaman 19 ditampilkan proyeksi pertumbuhan permintaan domestik, kapasitas produksi, kapasitas terpasang, serta pergerakan laju perekonomian Indonesia periode 2014-2019. Di halaman 20-21 dijabarkan segmentasi pasar semen nasional serta tren konsumsi semen per kapita di Indonesia.

Riset ini diberi labe new version karena terdapat sejumlah pembaruan, misalnya gambaran khusus (market intelligence) terhadap pemain baru yang kinerjanya meroket, terutama karena pangsa pasarnya naik signifikan. Pada halaman 23-24, ditampilkan hasil market intelligence dari duniaindustri.com terhadap pemain baru semen yang berpotensi mengubah pangsa pasar nasional.

Kemudian, hasil market intelligence itu dikomparasi dengan strategi para market leader yang telah lebih dahulu exist sehingga memberikan gambaran terhadap perkembangan masa depan. Juga ditampilkan data market leader industri semen nasional, mulai dari sejarah berdiri, kapasitas produksi, komposisi pemegang saham, anak usaha, lokasi pabrik semen (cement mill, kiln, packing plant), strategi ekspansi ke depan, volume penjualan dan kinerja keuangan.

Riset Peta Persaingan Industri Semen (NEW Version) sebanyak 44 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.

Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

(9) Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017 (pemain existing versus pemain baru) ini menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri semen di Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain baru di industri ini sejak 2015-2017, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, perkembangan investasi atau ekspansi baru, hingga analisis prediksi persaingan pangsa pasar pemain baru dan pemain existing, serta prospek dan tantangan industi ini ke depan.

Data ini dimulai dengan menampilkan highlights industri semen sejak 2014-2016, mencakup kapasitas terpasang, kapasitas produksi, pertumbuhan pasar semen domestik, utilisasi pabrik semen domestik, serta konsumsi domestik, ekspor, dan impor. Kapasitas domestik pada 2015 dengan 9 pemain mencapai 80,4 juta ton. Tambahan kapasitas dari 4 pemain baru pada 2016 sebesar 8,7 juta ton menjadi 89,7 juta ton. (halaman 2)

Pada halaman 3 ditampilkan chart (infografik) terkait lokasi pabrik-pabrik pemain baru dan pemain existing di industri semen. Data itu dijabarkan kembali pada halaman 4 dengan tabel yang lengkap terkait kapasitas terpasang pemain existing semen periode 2013-2017, terkait ekspansi pemain existing, nilai investasi, kapasitas tambahan, kapasitas terpasang, dan jenis proyek. Di samping itu, juga dijabarkan pemain baru 2013-2017 lengkap dengan lokasi pabrik, kapasitas terpasang, nilai investasi, tahapan operasional, serta mitra usaha dan jenis proyek.

Di halaman 4 ditampilkan tren pertumbuhan konsumsi semen domestik dan pangsa pasar pemain-pemain existing periode 2014-2015 per daerah. Dengan hadirnya pemain baru yang membangun pabrik baru, peta persaingan akan makin ketat seperti ditampilkan pada halaman 5-6. Persaingan pangsa pasar semen di Pulau Jawa ditampilkan lebih detail pada halaman 7. Di halaman 8-13 ditampilkan profil singkat pemain-pemain baru di industri semen Indonesia, mencakup nama perusahaan, merek semen, tahun berdiri, kapasitas produksi per tahun, hingga jaringan distribusi.

Di halaman 14-18, duniaindustri.com secara eksklusif membuat kajian atau analisis independen terkait peta persaingan dan proyeksi pangsa pasar per daerah, serta strategi pasar dari pemain baru. Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan akan menjadi fokus persaingan pangsa pasar semen antara pemain baru versus pemain existing.

Di halaman 19 ditampilkan proyeksi pertumbuhan permintaan domestik, kapasitas produksi, kapasitas terpasang, serta pergerakan laju perekonomian Indonesia periode 2014-2019. Di halaman 20-21 dijabarkan segmentasi pasar semen nasional serta tren konsumsi semen per kapita di Indonesia.
Riset Peta Persaingan Industri Semen 2015-2017 sebanyak 23 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), BPS, WHO dan Bank Dunia, dan sejumlah perusahaan semen di Indonesia.(*)

(10) Data dan Outlook Industri Semen 2003-2019ini menampilkan data dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai industri semen di Indonesia, mulai dari tren pertumbuhan pasar semen di Indonesia, pangsa pasar, kompetisi pasar, pemain baru dan ekspansi pemain existing, segmentasi pasar, harga jual rata-rata semen, pasar semen Asean (supply-demand), hingga pemimpin pasar, para pemain terbesar, strategi ekspansi ke depan, serta kinerja keuangan para pemain semen di negeri ini.

Data ini dimulai dari informasi umum terkait perkembangan Indonesia, mulai dari proyeksi pertumbuhan ekonomi periode 2014-2019, jumlah penduduk, segmentasi penduduk, dan peluang pasar di Indonesia (halaman 2). Selanjutnya, ditampilkan tren pertumbuhan infrastruktur sebagai salah satu penyerap semen terbesar, mulai dari anggaran belanja infrastruktur 2015-2019 (halaman
3). Juga, pertumbuhan infrastruktur jalan (roads) dan pelabuhan (ports) di Indonesia dibanding negara-negara Asean serta China, Taiwan, Jepang, dan Korea (halaman 4). Indonesia masih dikategorikan kurang belanja infrastruktur (underspending on infrastucture development). Meski anggaran infrastruktur Indonesia meningkat hingga di atas 2% dari PDB dari 1,7% pada 2011, dana tersebut masih relatif rendah dibanding kompetitor dengan rata-rata 4,1%. Selain itu ditampilkan proyek-proyek infrastruktur yang sedang dilakukan pemerintah hingga 2019 (halaman 5).

Di halaman 6, secara khusus ditampilkan tren kapasitas terpasang, kapasitas produksi, pertumbuhan pasar industri semen sejak 2014-2019. Semen kantong mendominasi pasar pengguna semen dengan komposisi 90% untuk perumahan dan 10% semen untuk industri, sedangkan semen curah mendominasi 23,3% di antaranya beton jadi (infrastruktur) 60%, beton pracetak, semen fiber, dan paving 35%, mortar dan render 5%. Ikut ditampilkan perbandingan konsumsi semen domestik, pertumbuhan konsumsi, serta kapasitas domestik semen periode 2003-2015 di halaman 8.

Di halaman 9, ditampilkan pertumbuhan konsumsi semen per kapita yang tumbuh dari 172 kilogram per kapita pada 2010 menjadi 238 per kapita pada 2015. Di halaman 10, dijabarkan rasio konsumsi semen dan pertumbuhannya terhadap laju ekonomi nasional periode 2002-2015. Di halaman 11, ditampilkan rasio konsumsi semen kantong dan semen curah periode 1997-2015.

Selanjutnya, pada halaman 12 ditampilkan pangsa pasar produsen semen per daerah. Di halaman 13, pangsa pasar tersebut dijabarkan secara lebih detail per daerah dan per pulau di Indonesia.
Kemudian di halaman 14, ditampilkan kapasitas semen beserta lokasi pabrik masing-masing produsen. Pada 2015, kapasitas semen domestik mencapai 80,4 juta ton, dan diperkirakan naik menjadi 89,7 juta ton pada 2016 dengan tambahan pabrik dari Semen Merah Putih, Anhui Conch, Siam Cement, dan Semen Pan Asia. Penambahan kapasitas produksi dari pemain baru dijelaskan lebih detail pada halaman 15 dengan total penambahan 9 pemain baru dan 6 ekapnsi dari pemain existing. Dengan adanya penambahan kapasitas pabrik baru, kompetisi pasar semen lokal makin ketat seperti ditampilkan pada halaman 16. Tidak heran jika produsen semen lokal mulai melirik pasar semen di ASEAN yang ikut dijelaskan pada halaman 17.

Pada halaman 18 mulai ditampilkan data market leader industri semen nasional, mulai dari sejarah berdiri, kapasitas produksi, komposisi pemegang saham, anak usaha, lokasi pabrik semen (cement mill, kiln, packing plant), strategi ekspansi ke depan, volume penjualan dan kinerja keuangan. Juga ikut ditampilkan struktur beban produksi (beban pabrikasi) produsen semen serta harga jual rata-rata semen. Data sebanyak 48 halaman ini berasal dari BPS, Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia (ASI), sejumlah perusahaan semen di Indonesia, dan diolah duniaindustri.com.(*)

(11) Data Investasi Baru, Kapasitas, serta Tren Penjualan Semen 2013-2017 ini menampilkan tren investasi baru dan investasi tambahan produsen semen 2013-2017. Menurut data ini, total investasi tambahan dari produsen semen existing senilai US$ 4,13 miliar periode 2013-2017 dengan total rencana kapasitas 36,2 juta ton. Sementara rencana investasi pemain baru dari 9 produsen senilai US$ 4,47 miliar dengan total kapasitas 40,3 juta ton periode 2013-2017. Selain itu, ditampilkan komparasi konsumsi semen per kapita di Indonesia 2013 sebesar 229 kilogram, dibanding negara tetangga. Juga dipaparkan populasi distribusi penjualan semen berdasarkan daerah di Indonesia, Pulau Jawa menyerap semen sebesar 57,5%, disusul Sumatera 21,3%, dan daerah lainnya. Data berjumlah 29 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Semen Indonesia, serta sejumlah produsen semen terbesar di Indonesia.(*)

(12) Data Industri Semen di Asia Tenggara, Pangsa Pemain, dan Pertumbuhan Pasar ini menampilkan perbandingan kapasitas produsen semen di Asia Tenggara (7 negara) dan pangsa pasarnya. Di 7 negara Asia Tenggara, terdapat 7 pemain besar yang menguasai 99% pasar. Holcim sebelum merger dengan Lafarge memiliki kapasitas 41,9 juta ton di Asia Tenggara dan memiliki basis produksi di Indonesia (9,9 juta ton), Malaysia (1,2 juta ton), Filipina (9,1 juta ton), Thailand (16,5 juta ton), serta Vietnam (5,2 juta ton). Disusul PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) yang memiliki kapasitas 31,8 juta ton terdiri atas di Indonesia (29,5 juta ton) dan Vietnam (2,3 juta ton).

Siam Cement menguasai 23,5 juta ton kapasitas dari Thailand (23 juta ton) dan Kamboja (0,5 juta ton). Lafarge memiliki kapasitas 21,1 juta ton di Asia Tenggara, yakni Indonesia (1,6 juta ton), Malaysia (12,5 juta ton), Filipina (6,5 juta ton), dan Vietnam (0,5 juta ton). Sedangkan Heidelberg menguasai 21,05 juta ton kapasitas di Asia Tenggara terdiri dari Indonesia (20,5 juta ton) dan Brunei (0,55 juta ton). Selain itu, ditampilkan data pertumbuhan pasar semen Indonesia serta pangsa pasar pemain lokal, yakni Semen Indonesia, Indocement, Holcim, Semen Bosowa, Semen Andalas, Semen Baturaja, dan Semen Kupang. Data sebanyak 25 halaman ini berasal dari salah satu penguasa pasar semen di Asia Tenggara diolah duniaindustri.com.(*)

(13) Data Komparasi Konsumsi Semen dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 tahun terakhir) ini menampilkan pertumbuhan konsumsi semen di Indonesia sepuluh tahun terakhir dikomparasikan dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Data ini berasal dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI) dan lembaga pemerintah terkait.(*)

(14) Strategi Ekspansi dan Kapasitas Produksi BUMN Semen Terbesar (1957-2015). Data ini menggambarkan desain kapasitas dan strategi ekspansi BUMN semen periode 1957-2015.(*)

(15) Kajian Komprehensif Tiga Pemimpin Pasar Semen Indonesia. Kajian mencakup design capacity, domestic growth, utilization, supply, market by geography, kinerja penjualan dan margin keuntungan. Periode lima tahun terakhir.(*)


Sumber: klik di sini


* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 156 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:



Kupas Tuntas Industri Perkebunan Sawit dalam 19 Database Historis

Industri perkebunan kelapa sawit Indonesia memiliki peranan penting di dunia mengingat negeri ini merupakan produsen dan eksportir minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Untuk mengetahui seluk-beluk industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia, duniaindustri.com menghimpun sedikitnya 19 riset dan data industri perkebunan kelapa sawit.

Mari simak ulasannya di bawah ini:

Berikut ini uraian singkat dari masing-masing data di atas:

1) Data Sebaran Luas Kebun Kelapa Sawit Per Provinsi (Top 20 Provinsi dengan Lahan Sawit Terluas) ini dirilis minggu ketiga Juni 2018, menampilkan data komprehensif, tren pasar, laporan terbaru, data pemetaan perprovinsi, dan informasi teraktual terkait lahan kelapa sawit beserta produksi dan ekspor komoditas tersebut di Indonesia. Data komprehensif ini dibuat sebagai acuan (benchmark) bagi industriawan yang terkait dengan industri perkebunan kelapa sawit dan turunannya beserta stakeholders lainnya.

Data Sebaran Luas Kebun Kelapa Sawit Per Provinsi (Top 20 Provinsi dengan Lahan Sawit Terluas) ini dimulai dengan menampilkan highlight dan outlook perekonomian Indonesia. Pada 2016 dan 2017, perekonomian Indonesia mampu bertumbuh positif di tengah tantangan perlambatan ekonomi global (halaman 2 dan 3).

Proyeksi ekonomi dan perdagangan global pada 2018 diringkas dalam infografis yang menarik pada halaman 4. Pada halaman 5 sampai 7, diulas proyeksi pertumbuhan masing-masing sektor ekonomi di Indonesia meliputi industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, informatika dan telekomunikasi, jasa keuangan, pertanian, transportasi, pertambangan, listrik, minyak dan gas. Juga dilengkapi dengan katalis masing-masing sektor. 

Masuk ke fokus pembahasan, pada halaman 8 ditampilkan data pemetaan luas lahan perkebunan kelapa sawit per provinsi di Indonesia periode 2017, dalam bentuk grafis yang menarik. Pada halaman 9 ditampilkan detail luas lahan perkebunan kelapa sawit per provinsi di Indonesia dalam bentuk tabel. Pada halaman 10, ditampilkan data top 20 provinsi dengan luas lahan perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Diharapkan dengan data ini, pelaku industri sawit dan stakeholders terkait dapat mencermati tren terbaru.

Sebagai komparasi, pada halaman 11 ditampilkan data pemetaan luas lahan perkebunan kelapa sawit per provinsi di Indonesia periode 2014. Kemudian, distribusi kepemilikan lahan sawit serta tren luas lahan sawit di Indonesia periode 2009-2015 dipaparkan dalam data grafis pada halaman 12. Disusul pembahasan tentang produktivitas CPO Indonesia yang dijelaskan dalam tren produksi berdasarkan kepemilikan lahan serta tren pertumbuhannya periode 2009-2015 pada halaman 13. 

Selanjutnya, perbandingan lahan yang ditanami dengan output CPO berdasarkan kepemilikan lahan ditampilkan dalam data pada halaman 14. Beralih ke data produksi, konsumsi, dan ekspor, pada halaman 15 ditampilkan data outlook dan proyeksi produksi, konsumsi, dan ekspor CPO Indonesia periode 2010-2025. Selanjutnya, pada halaman 16, ditampilkan data tabel pie chart berisi top 11 negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia periode 2017. 

Tak ketinggalan, profil industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dijabarkan pada halaman 17, antara lain berisi pendapatan devisa ekspor, jumlah tenaga kerja, serta jumlah petani kecil sawit. Mata rantai (supply chain) industri kelapa sawit ditampilkan pada halaman 18 sampai 20, memaparkan jumlah industri hulu, jumlah UKM pemasok barang dan jasa, jumlah industri pendukung (pupuk, pestisida, alat dan mesin), serta jumlah industri hilir (minyak goreng, shortening, detergen, sabun, oleokimia, biodiesel).

Khusus terkait pasar ekspor, pada halaman 21 sampai 25, ditampilkan data tren impor CPO oleh Uni Eropa dan komposisi negara eksportir CPO ke Uni Eropa. Disusul kemudian dengan target pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia pada 2030 (halaman 26), bagan pengembangan dari upstream, onfarm, downstream, serta penyedia jasa.

Pada data komprehensif kali ini, duniaindustri.com ingin menampilkan data spesifik yang lebih mendalam. Pada halaman 28 sampai 34, ditampikan data grafis gurita bisnis perusahaan-perusahaan sawit Malaysia di Indonesia, sayap bisnis dua korporasi terbesar asal Malaysia yang berlokasi di kebun sawit di Indonesia, luas lahan sawit dari 9 perusahaan Malaysia di Indonesia, serta porsi ekspor minyak sawit Indonesia berdasarkan grup usaha dan korporasi negara asal.

Data Sebaran Luas Kebun Kelapa Sawit Per Provinsi (Top 20 Provinsi dengan Lahan Sawit Terluas) ini berisi 35 halaman pdf dengan ukuran file 7 MB. Data komprehensif ini dioleh oleh tim Duniaindustri.com didukung data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, lembaga negara yang kompeten, asosiasi industri, serta data-data pendukung dari sejumlah perusahaan kelapa sawit di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan.(*)

2) Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dirilis pada awal Mei 2018 menampilkan data, analisis, dan outlook industri perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi, tren ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai industri kelapa sawit, dan lainnya. Dalam data kali ini ditampilkan juga overview kebijakan ataupun pandangan Eropa yang menjadi salah satu pasar utama.

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini dimulai dengan menampilkan executive summary. Dalam executive summary dipaparkan terkait isu Eropa yang menjadi hangat di kalangan pelaku usaha kelapa sawit karena masifnya kampanye negatif dan rencana pembatasan penggunaan minyak sawit, yang diduga sebagai ekses dari persaingan minyak nabati global. Dalam bagian pertama (halaman 2 sampai 16), ditampilkan perkembangan pandangan Eropa terhadap bisnis kelapa sawit di Indonesia.

Pada halaman 3, ditampilkan kerangka pemikiran yang berkembang di Eropa, dari mulai isu  lingkungan dan deforestasi, tren perdagangan kelapa sawit di Eropa, standar bagi petani kelapa sawit, serta suistanable development goals (SDG). Pada halaman 4, ditampilkan data tabel terkait produksi kelapa sawit di Indonesia, demand (konsumsi), ekspor, dan keseimbangannya pada periode 2010 sampai 2015, 2020, dan 2025. Angka produksi dan ekspor diestimasikan tumbuh dua kali lipat dalam 15 tahun tersebut, ditopang kenaikan tajam ekspor.

Pada halaman 5, ditampilkan data tabel terkait pergerakan nilai perdagangan kelapa sawit ke Eropa, khususnya untuk kelapa sawit untuk pangan dan industri, periode 2008 sampai 2017. Tarif impor di Eropa cenderung sangat rendah dan tidak terdapat hambatan nontarif.

Selanjutnya, Pada halaman 6, disajikan data proyeksi konsumsi minyak nabati (vegetable oil) dunia untuk periode 2015-2050, yang pertumbuhannya diekspektasi berkisar 2%-3% per tahun. Dari data tersebut, di-breakdown berdasarkan pasar utamanya yakni India, Eropa, China, dan Pakistan. Data tersebut didukung dengan data perbandingan luasan lahan, produksi, serta produktivitas 4 minyak nabati utama, yakni soybean, sunflower, rapeseed, dan kelapa sawit (palm oil).

Pada halaman 7, ditampilkan grafis tentang luas lahan kelapa sawit di Indonesia sejak 1978-2017, lengkap dengan komposisi milik petani, BUMN, dan swasta. Data ini juga didukung dengan tren pergerakan CPO yield sejak 2005-2015 untuk perusahaan swasta dan petani sawit.

Berikutnya, pada halaman 8 sampai 12, dipaparkan perkembangan terbaru di pasar Eropa, antara lain inisiatif Parlemen Eropa untuk mengecualikan biofuels berbasis sawit dalam program energi terbarukan, penghentian bea masuk anti dumping, serta pelacakan kelapa sawit dengan standar keberlanjutan. Pada halaman 13 ditampilkan infografis terkait pemetaan hutan dan lahan lainnya di Indonesia dalam konteks bebas deforestasi. Pada halaman 14 sampai 17, disajikan data-data konversi lahan di Indonesia periode 2000-2015, konflik yang terjadi, dan hal lainnya.

Masuk ke pembahasan selanjutnya, pada halaman 18 hingga 30, dipaparkan tentang sejumlah kajian yang dilakukan Komisi Eropa terkait isu lingkungan, deforestasi, dan peran petani sawit di Indonesia. Juga diulas secara mendalam terkait perbandingan 4 sertifikat utama di kelapa sawit yakni ISCC (International Sustainability Carbon Certification), RSPO, ISPO, dan MSPO. Pada halaman 30, disajikan data tabel terkait peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor kelapa sawit di Indonesia periode 2000-2015 untuk segmen pemilik lahan dari petani, BUMN, dan swasta. Pada halaman 31, ditampilkan data perbandingan pendapatan sebelum dan sesudah perkembangan perkebunan kelapa sawit, menyesuaikan dengan studi high carbon stock.

Selanjutnya, pada halaman 31 ditampilkan data perubahan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit di 3 kawasan, yakni Indonesia, Malaysia, dan Afrika Barat. Pada halaman 34, ditampilkan tren perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak terpengaruh harga di pasar internasional periode 1988-2014. Sementara di halaman 35-37, ditampilkan data perbandingan kebutuhan lahan dari 4 jenis minyak nabati utama.

Pada halaman 38 hingga 48, diulas tentang profil industri kelapa sawit di Indonesia, nilai ekspor, jumlah tenaga kerja, komposisi petani skala besar dan skala kecil serta program energi terbarukan. Juga ditampilkan infografis pemetaan lahan petani kecil sawit di sejumlah wilayah di Indonesia, komposisi lahan, peran petani kecil dalam ekspansi lahan, profil petani kecil sawit, program peremajaan lahan, serta target program replanting per daerah periode 2017-2022.

Data Produksi, Konsumsi, dan Ekspor Kelapa Sawit 2010-2025 (Overview Kebijakan Eropa dan Peran Petani) ini berisi sebanyak 48 halaman berukuran 10,3 MB, berasal dari berbagai  sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian), serta asosiasi industri, seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Komisi Uni Eropa, FAO, diolah duniaindustri.com. Data ini disajikan 95% dalam bahasa Inggris dan hanya 5% dalam bahasa Indonesia.

Indeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

3) Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) ini dirilis pada awal Januari 2017 menampilkan data, analisis, dan outlook industri perkebunan kelapa sawit Indonesia, dari mulai tren produksi, tren ekspor, perkembangan luas lahan, tren produktivitas, mata rantai industri kelapa sawit, dan lainnya.

Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) ini dimulai dengan menampilkan tren produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia periode 2009-2017F beserta komposisi produksi rakyat, BUMN, dan swasta pada halaman 2. Data tersebut diperkuat dengan komparasi produksi dan ekspor CPO Indonesia periode 2008-2018 dengan skenario optimis pada halaman 3.

Pada halaman 4, dipaparkan analisis singkat tentang proyeksi produksi CPO Indonesia 2017, faktor-faktor yang mempengaruhi yakni tren ekspor dan mandatori biodiesel, serta estimasi harga per ton. Pada halaman 5, ditampilkan tren mandatori bioethanol dan biodiesel periode 2013-2025 menurut regulasi terkini, dilengkapi dengan alur proses biodiesel pada halaman 6, serta analisis penyerapan biodiesel pada 2016.

Masih terkait biodiesel berbasis kelapa sawit, pada halaman 8-9 ditampilkan tren kapasitas produksi biodiesel, konsumsi domestik, dan ekspor periode 2015-2017, serta estimasi peralihan impor diesel dengan biodiesel berbasis kelapa sawit hingga 2025.

Berlanjut ke halaman 10, ditampilkan luas lahan kelapa sawit di Indonesia periode 2009-2017F, berdasarkan komposisi BUMN, rakyat, dan swasta. Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan menjadi provinsi dengan lahan sawit terluas di halaman 11. Data tersebut diperkuat dengan tren komposisi penguasaan lahan kelapa sawit di Indonesia pada halaman 12. Kemudian, produktivitas CPO Indonesia ditampilkan berdasarkan kepemilikan lahan pada halaman 13.

Pada halaman 14 dijabarkan tren volume ekspor dan nilai ekspor CPO pada periode 2009-2017F. Dilanjutkan dengan tren produksi inti sawit di Indonesia periode 1986-2014, berdasarkan komposisi kepemilikan lahan pada halaman 15. Mata rantai industri sawit yang menaungi 2 juta unit usaha perkebunan keluarga, 1.320 perusahaan perkebunan, 74 industri minyak goreng, 37 industri oleokimia, dan lainnya ditampilkan pada halaman 16.

Selain itu, target pengembangan industri CP0 Indonesia hingga 2030 serta tren perkembangan industri sawit modern dijabarkan pada halaman 17-18. Dilanjutkan dengan pemetaan kawasan khusus industri kelapa sawit di Indonesia pada halaman 19.

Pada halaman 20-21, dijabarkan sejarah perkembangan industri CPO Indonesia menjadi produsen terbesar di Indonesia, dilengkapi tren investasi pada halaman 22-23, tren produktivitas berdasarkan luas lahan pada halaman 24, serta tren peningkatan nilai tambah pada halaman 25. Pada halaman 26-27 dijelaskan masing-masing asosiasi industri yang menaungi industri ini dari hulu-hilir.

Pada halaman 28 ditampilkan tren produksi oleokimia periode 2004-2015, disusul tren produksi pengolahan CPO, fractionation, modification pada halaman 29, profil produksi biodiesel pada halaman 30, dan profil industri CPO hulu-hilir pada halaman 31.

Kemudian, pada halaman 32-45 ditampilkan analisis pasar ekspor CPO Indonesia di Amerika Serikat, mulai dari perkembangan pangsa pasar CPO Indonesia di pasar AS, perbandingan dengan pangsa pasar CPO Malaysia, tren volume impor minyak nabati AS periode 2010-2014, perkembangan pangsa volume impor empat jenis minyak nabati di AS periode 2010-2014, perkembangan harga empat jenis minyak nabati di AS periode 2010-2014, perkembangan nilai impor 15 komoditas minyak nabati di pasar AS, hingga regulasi tarif bea masuk minyak nabati di pasar AS.

Selain pasar AS, riset ini juga menampilkan analisis pasar minyak nabati China. Pada halaman 46-53 ditampilkan analisis dan tren pasar minyak nabati China dari mulai, tren impor soybean China periode 1992-2013, tren impor soybean di Taiwan, China daratan, dan Taiwan daratan periode 1965-2013, tren impor minyak sawit China periode 1996-2013, hingga pangsa pasar CPO Indonesia di China periode 2002-2013.

Riset Tren Produksi Kelapa Sawit 2009-2017 (Analisis Pasar Ekspor CPO) sebanyak 54 halaman ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait (Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian), serta asosiasi industri, seperti Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), serta perusahaan China, diolah duniaindustri.comIndeks database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)


4) Riset Eksklusif dan Data Industri Minyak Goreng Sawit 2005-2015 ini menampilkan riset eksklusif, data, analisis, dan outlook industri minyak goreng sawit di Indonesia, dari mulai tren produksi, tren investasi, peningkatan kapasitas produksi, para pemain besar, persebaran lokasi pabrik, tren market leader (pemimpin pasar berdasarkan merek dan berdasarkan kapasitas produksi), serta berbagai informasi lain seperti regulasi dan target 2030.

Di halaman 7 dipaparkan dalam chart tentang peta penyebaran pabrik minyak goreng di Indonesia. Sumatera Utara menjadi daerah dengan populasi pabrik minyak goreng terbesar di Indonesia, mencakup 30,46% dari total jumlah pabrik minyak goreng di negeri ini. Disusul Riau dengan 24,83%.

Pada halaman 8, dipaparkan tren produksi minyak sawit goreng yang tumbuh 80% dari 2011 ke 2014. Data tersebut dilengkapi dengan tren investasi, tren pertumbuhan produksi, konsumsi, serta ekspor minyak goreng sawit periode 2011-2017 (estimasi) pada halaman (9-10).

Duniaindustri.com membuat riset eksklusifterkait pangsa pasar produsen minyak goreng sawit berdasarkan kapasitas terpasang untuk periode 2013 dan 2015, lengkap dengan masing-masing kapasitas 5 pemain terbesar (halaman 11-13). Sementara pada halaman 14-15, duniaindustri.com membuat riset eksklusif terkait tren perubahan pangsa pasar merek minyak goreng periode 2005-2015.(*)

5) Riset Tren Produksi Oleokimia dan Biodiesel 2011-2017 ini menampilkan data, analisis, dan outlook industri oleokimia (fatty acid, fatty alcohol, minyak goreng) serta biodiesel di Indonesia, dari mulai tren produksi, tren investasi, peningkatan kapasitas produksi, para pemain besar, persebaran lokasi pabrik, tren ekspor, impor, serapan tenaga kerja, serta berbagai informasi lain seperti regulasi dan target  2030.

Riset ini dimulai dengan tren kenaikan kapasitas produksi yang signifikan pada empat industri, yakni refinery (fraksionasi) atau minyak goreng, fatty acid, fatty alcohol, dan methyl ester (biodiesel). (halaman 2)

Pada 2014 dan 2015 terjadi peningkatan investasi yang signifikan di industri oleokimia dan biodiesel hingga Rp 24 triliun yang mendorong kapasitas produksi nasional tumbuh rata-rata 55% (minyak goreng 80%, fatty acid 47%, fatty alcohol 85%, dan methyl ester atau biodiesel 66%). Duniaindustri.com secara eksklusif membuat riset tren produksi stearic acid, glycerine, fatty acid, dan fatty alcohol dari 1995-2016. (halaman 3)

Data tersebut kemudian dianalisis lebih mendalam pada halaman 4. Demikian juga pada halaman 5 dibuat riset khusus terkait tren produksi biodiesel di Indonesia periode 2011-2016.

Untuk memperkuat riset tersebut, duniaindustri.com menampilkan persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di Indonesia, terutama untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk akhir. Fokus persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera Utara. Total kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599 juta ton per tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas  dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.(*)

6) Data Outlook Industri Oleokimia dan Biodiesel 2015-2016 ini menampilkan persebaran kapasitas produksi industri oleokimia di Indonesia, terutama untuk produksi fatty acid, fatty alcohol, dan produk akhir. Fokus persebaran industri oleokimia didominasi di Sumatera Utara. Total kapasitas industri oleokimia di Indonesia mencapai 1,599 juta ton per tahun. Terdapat 9 pemain besar di antaranya PT Musim Mas  dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun, PT Ecogreen 419 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia 132 ribu ton per tahun, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik perusahaan tersebut.

Data ini juga menjabarkan peta persebaran industri biodiesel Indonesia periode 2014-2016. Pada 2014, total kapasitas industri biodiesel di Indonesia mencapai 4,99 juta ton atau setara 5,67 juta kiloliter, dengan perincian Riau dan Kepri 2,61 juta ton, Jawa Bagian Timur 1,57 juta ton, Jawa Bagian Barat 364 ribu ton, dan daerah lain-lain 233 ribu ton. Terdapat 17 pemain skala besar di antaranya PT Wilmar Bioenergy Indonesia di Riau dengan kapasitas 1,3 juta ton per tahun, PT Musim Mas di Medan dengan kapasitas 235 ribu ton per tahun, PT Eterindo Whanatama Gresik dengan kapasitas 80 ribu ton per tahun, PT Wilmar Nabati Indonesia di Gresik (1,3 juta ton per tahun), PT Sumi Asih Oleochem di Bekasi (100 ribu ton  per tahun), PT Darmex Biofuels di Cikarang (150 ribu ton per tahun), dan lainnya, lengkap dengan peta lokasi masing-masing pabrik.

Pada 2015, terjadi penambahan kapasitas biodiesel sebesar 2,32 juta ton per tahun sehingga total kapasitas nasional naik menjadi 7,32 juta ton. Terdapat 11 pemain skala besar yang melakukan penambahan kapasitas pada 2015 antara lain PT Oleokimia Sejahtera Mas di Dumai dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun, PT Darmex Biofuels di Dumai sebesar 410.500 ribu ton per tahun, PT Indo Biofuels Energy di Kalbar (100 ribu ton/tahun), PT Permata Hijau Palm Oleo di Medan (140 ribu ton/tahun), PT Nusa Energy di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Bits Energy di Kaltim (100 ribu ton/tahun), PT Multi Biofuel Indonesia di Sulut (160 ribu ton/tahun). (*)

7) Outlook Industri CPO 2016 menampilkan proyeksi produksi CPO Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia pada 2016. Produksi CPO Indonesia pada 2016 diestimasi mencapai 35 juta ton, tumbuh 9,3% dibanding proyeksi tahun ini 32 juta ton, menurut data United State Department of Agriculture (USDA). Kenaikan tersebut akan mendorong peningkatan produksi CPO global sebesar 5,96% menjadi 65,1 juta ton pada 2016 dibanding proyeksi tahun ini 61,44 juta ton.

Dengan demikian, produksi CPO Indonesia tahun depan diperkirakan menyumbang 53,7% dari total produksi CPO global. Sementara Malaysia, produsen CPO terbesar kedua setelah Indonesia, diperkirakan memproduksi CPO sebanyak 21 juta ton pada 2016, dengan kontribusi 32,25% terhadap pasar global.

Selain itu, ditampilkan data proyeksi harga CPO dunia pada 2016, pengaruh El-Nino dan sentimen program biodiesel. Serta, dampaknya terhadap perkembangan ekspor dan tren permintaan global.

Juga ditampilkan cakupan lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, dengan komposisi provinsi terbesar berdasarkan kebun sawit. Luas lahan kebun kelapa sawit di Indonesia pada 2015 diperkirakan mencapai 11,4 juta hektare, dengan komposisi 5,9 juta hektare lahan swasta, 4,7 juta hektare lahan rakyat, dan 0,8 juta hektare lahan BUMN.

Di sisi lain, ditampilkan juga tren investasi di sektor hulu dan sektor hilir industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dalam lima tahun terakhir, insentif investasi yang disiapkan pemerintah, serta proyeksi tren ke depan. Tidak ketinggalan, dipaparkan kawasan industri khusus industri kelapa sawit yang sedang dibangun pemerintah, target 2030, dan tren mata rantai industri sawit modern.

Data sebanyak 21 halaman ini berasal dari berbagai sumber antara lain regulator di Indonesia, BPS, BKPM, kementerian terkait, serta asosiasi industri, diolah duniaindustri.com.(*)

8) Data Investasi, Insentif, serta Kawasan Ekonomi Khusus Perkebunan Sawit 2010-2015 ini menampilkan realisasi investasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia 2010-2015, baik PMA maupun PMDN, tren yang terjadi, serta dampaknya terhadap produksi CPO nasional. Selain itu, dijabarkan insentif dan posisi investasi perkebunan sawit dalam prioritas pemerintah.

Rata-rata pertumbuhan realisasi PMA industri minyak sawit dalam 5 (lima) tahun terakhir sebesar 140%, sedangkan perkebunan kelapa sawit sebesar 15%. Rata-rata pertumbuhan realisasi PMDN industri minyak sawit dalam 5 (lima) tahun terakhir sebesar 145%, sedangkan perkebunan kelapa sawit sebesar 1,3%.

Untuk menopang pertumbuhan investasi, pemerintah akan membangun 8 kawasan ekonomi khusus di industri pengolahan kelapa sawit. Delapan KEK itu tersebut di Maloy Batuta (557,34 hektare), Palu, Bitung, Morotai, Sei Mangkei, Tanjung Lesung, dan Mandalika. Serta diulas bagaimana upaya pemerintah untuk menyederhanakan perizinan di sektor perkebunan kelapa sawit.

Data berjumlah 12 halaman ini berguna bagi investor, pemodal kelapa sawit, marketing, peneliti dan periset, akademisi, praktisi, dan regulator. Data ini berasal dari asosiasi industri, BKPM, BPS, dan diolah duniaindustri.com. (*)

9) Data Luas Lahan Sawit, Produksi, serta Ekspor CPO 2009-2015 ini menampilkan luas lahan perkebunan sawit tahun 2014 sebesar 10,9 juta hektare. Riau, Sumatera Utara, dan Kalimantan merupakan provinsi dengan lahan sawit terluas. Sekitar 51,6% dari 10,9 juta hektar lahan sawit di Indonesia dimiliki oleh perusahaan perkebunan swasta (besar), dan 41.5% dimiliki oleh perkebunan rakyat.

Produktivitas CPO perkebunan rakyat dan BUMN menunjukkan tren penurunan dari tahun 2009-2014, sementara perusahaan perkebunan swasta justru meningkat. Produktivitas CPO perkebunan rakyat juga 20% lebih rendah dibandingkan perusahaan swasta.

Produktivitas CPO rakyat pada tahun 2014 hanya sebesar 2,3 ton/ha, atau 20% di bawah produktivitas CPO perusahaan perkebunan swasta. Dengan asumsi harga CPO sebesar US$ 550/ton, peningkatan produktivitas CPO rakyat dari 2,3 ton/ha menjadi 2,9 ton/ha akan memberikan tambahan kesejahteraan sebesar US$ 1 milyar kepada seluruh petani.

Selain itu, data ini menampilkan kondisi perekonomian Indonesia 2015, mata utang rupiah yang melemah terhadap dolar AS, posisi utang luar negeri Indonesia, perbedaan krisis ekonomi 1997 dengan kondisi saat ini. Data ini diperoleh dari sumber terkemuka, regulator, BPS, diolah duniaindustri.com. (*)

10) Data Hilirisasi Industri Sawit, dari Regulasi hingga Persebaran Investasi ini menampilkan luas area kebun sawit di Indonesia 2011-2015, produksi CPO nasional 2011-2015, serta produktivitas kebun rakyat. Selain itu, ditampilkan juga pohon industri pengolahan CPO, baik yang sudah diproduksi di Indonesia maupun belum diproduksi. Juga dipaparkan peningkatan nilai tambah dari CPO, CPKO, minyak goreng, margarine, biodiesel FAME, confectionaries, fatty acid, fatty alcohol, surfaktan, kosmetik. Serta dijelaskan skema pemberian insentif investasi di sektor ini, seperti tax allowance, tax holiday, pembebasan bea masuk mesin, restrukturisasi bea keluar, dan lainnya. Dampak dari program hilirisasi; ragam Produk Hilir pada Tahun 2011 hanya 54 Jenis, berkembang menjadi 149 jenis pada awal tahun 2014 dan diperkirakan meningkat menjadi 169 jenis pada Tahun 2015. Juga ditampilkan persebaran investasi di industri oleokimia (masing-masing perusahaan dan kapasitasnya), industri biodiesel, serta proyeksi tambahan kapasitas biodiesel hingga 2015.

Sebaran investasi industri oleokimia antara lain PT Musim Mas, PT Soci Mas, PT Domba Mas, PT Flora Sawita, PT Sumi Asih, PT Ecogreen, PT Wilmar Nabati. Sementara sebaran investasi industri biodiesel antara lain PT Darmex Biofuels, PT Nusa Energy, PT Indo Biofuels Energy, PT Bits Energy, PT Multi Biofuels, PT Permata Hijau Palm Oleo, PT Oleokimia Sejahtera Mas, dan PT Wilmar Bioenergy Indonesia. Data berjumlah 18 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia, Asosiasi Produsen Oleokimia, Gapki serta sejumlah produsen CPO terbesar di Indonesia. (*)

11) Data Perkebunan Sawit dan Produsen Hilir Terbesar Dunia ini menampilkan sejak 2012 Indonesia menjadi produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar dunia dan ditargetkan pada 2030 Indonesia menjadi produsen terbesar dunia untuk oleofood, bio-oleokimia, bio-energi, bio-lubricant, bio-surfactant, bio-detergent. Juga, ditampilkan tren data produksi CPO Indonesia sejak 1980-2012/2013, dengan dukungan jumlah perusahaan perkebunan sawit mencapai 1.320 perusahaan, 74 industri minyak goreng, 46 industri margarin shortening, 44 industri detergen dan sabun, 37 industri oleokimia, dan 20 industri biodiesel. Dengan devisa ekspor yang besar mencapai US$ 21,3 miliar pada 2012, penerimaan negara dari bea keluar juga terus meningkat menjadi Rp 79,4 triliun di 2012. Pangsa pasar CPO Indonesia di dunia juga terus naik dari 22% pada 1990, menjadi 30% pada 2000, dan 48% pada 2010. Selain itu, dipaparkan data perbandingan produktivitas minyak nabati di dunia dengan keunggulan CPO sebesar 4,27 ton/hektare. Data sebanyak 38 halaman ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan diolah duniaindustri.com. (*)

12) Data Outlook Pasar Minyak Nabati China ini menampilkan impor soybean China terus meningkat dari 10.000 ribu ton pada 1996 menjadi 65.000 ribu ton pada 2013/2014. China mulai defisit soybean sejak 2003 karena produksi domestiknya tidak mencukupi kebutuhan. Impor soybean China terus meningkat seperti kereta yang sulit berhenti. Juga ditampilkan komposisi impor soybean China yang dilakukan BUMN, swasta, dan perusahaan multinasional. Selain itu, dipaparkan impor palm oil China dari sejumlah negara, terutama Indonesia. Impor China untuk komoditas olein, stearin, dan PKO asal Indonesia masing-masing sebesar 63%, 47%, dan 30%. Juga ditunjukkan tren impor bulanan China untuk komoditas olein periode 2008-2013. Jumlah impor palm oil China pada 2011/2012 mencapai 5.859 ribu ton, naik menjadi 6.589 ribu ton pada 2012/2013, dan diprediksi naik lagi menjadi 6.600 ribu ton pada 2013/2014. Data sebanyak 25 halaman ini berasal dari makalah Jeffery (Jianfei) XU, Dongling Grain & Oil Co Ltd dan diolah duniaindustri.com. (*)

13) Data Perubahan Iklim Terkait Sektor Perkebunan di Indonesia ini menampilkan teori perubahan iklim (climate change) termasuk peningkatan emisi karbon di Indonesia, yang salah satunya disebabkan deforestasi sekitar 13 juta hektare per tahun. Meski demikian, sektor perkebunan di Indonesia mampu menghasilkan biodiesel sebagai salah satu alternatif bahan bakar yang dapat diperbaharui. Data sebanyak 56 halaman ini berasal dari makalah Dr. Edvin Aldrian APU, Director of the Center for Climate Change and Air Quality Meteorology Climatology and Geophysics Agency (BMKG) IPCC Working Group 1 AR 5 Lead Author dan diolah duniaindustri.com. (*)

14) Data Strategi Pengembangan Sawit dan Batubara di Indonesia ini menampilkan strategi pengembangan dua komoditas utama Indonesia, yakni kelapa sawit dan batubara, dikaitkan dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Di antaranya ditampilkan tulang punggung pengembangan industri minyak sawit mentah (CPO) di empat daerah, yakni Sei Mangkei, Dumai, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Pengembangan industri hilir CPO di Sei Mankei karena PT Unilever Indonesia dan Ferrostaal telah berinvestasi US$ 1 miliar. Sedangkan pengembangan industri batubara diarahkan ke Sumatera Selatan yang menyimpan 39% dari cadangan batubara nasional, sekitar 18,13 miliar ton. Selain itu, ditampilkan 56 proyek MP3EI senilai US$ 29 miliar yang diperinci per proyek, skema pendanaan, dan kaitannya dengan program pemerintah. Data yang terdiri atas 21 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) dan diolah duniaindustri.com. (*)

15) Data Tren Harga dan Produksi Minyak Nabati Utama ini menampilkan tren harga dari minyak nabati utama (sawit, soybean, dan lainnya) periode 2008-2013. Selain itu ditampilkan data tujuan ekspor CPO Indonesia ke dunia, antara lain India 47%, Malaysia 14%, dan lainnya. Juga dibahas kendala dan tantangan industri CPO di Indonesia serta perbandingan dengan soybean, meliputi impor soybean Indonesia, harga soybean, produksi soybean dunia. Data yang terdiri atas 20 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh lembaga riset, dan praktisi pertanian. (*)

16) Data Keseimbangan Pasokan-Kebutuhan Sawit dan Dampaknya ke Harga ini menampilkan perbandingan produksi dan ekspor CPO di Indonesia 2008-2018. Selain itu, outlook produksi minyak mentah Indonesia 2009-2020 yang menampilkan potensi penurunan produksi, sementara kebutuhan naik 4%-5% per tahun. Di 2020, impor minyak mentah Indonesia bisa mencapai 1 juta barel per hari. Karena itu, Indonesia harus mendiversifikasi produksi energi. Bagaimana caranya? Produksi biodiesel mesti ditambah. Juga ditampilkan data skenario pengubahan minyak mentah ke biodiesel. Data ini juga menggambarkan skenario untuk memproduksi 100 ribu barel minyak mentah diperlukan 5,25 juta ton CPO per tahun atau 5,8 juta kiloliter biodiesel dari 1 juta hektare lahan dan 1,57 juta pekerja. Data yang terdiri atas 18 halaman microsoft powerpoint ini dibuat oleh pelaku usaha dan produsen biodiesel dan diolah duniaindustri.com. (*)

17) Data Komprehensif Industri Biofuels dan Produk Hilir CPO ini menampilkan perbandingan populasi, PDB per kapita, konsumsi minyak, di Indonesia, AS, China, Eropa, dan Rusia. Selain itu, dijabarkan 100 produk turunan CPO serta kapasitas produksi pengolahan, fractionation, dan modifikasi produk turunan CPO sejak 2011-2013. Ditampilkan juga kapasitas produksi oleokimia (fatty alcohol dan fatty acid) periode 2004-201, kapasitas produksi biodiesel 2006-2013, proyeksi investasi hingga US$ 2,7 miliar, regulasi mandatori biodiesel. Ekspor CPO juga ditampilkan secara mendetail, dari mulai ekspor CPO, ekspor biodiesel, serta komparasinya dengan kebutuhan domestik periode 2009-2013. Data yang terdiri atas 20 halaman ini dibuat oleh Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) dan diolah duniaindustri.com. (*)

18) Data Peranan Industri Sawit sebagai Penghasil Devisa Ekspor ini menampilkan peranan industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam struktur ekspor nasional, seiring terjadinya defisit neraca perdagangan yang melemahkan rupiah terhadap dolar AS. Data yang berisi 9 halaman ini dilengkapi tabel dan grafis perkembangan nilai ekspor dan volume ekspor CPO serta produk turunannya dalam sepuluh tahun terakhir. Data ini berasal dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), BPS, dan Bank Indonesia. (*)

19) Data Volume dan Nilai Ekspor CPO, Tarif Bea Keluar, HPE ini berisi tren volume dan nilai ekspor CPO dan produk turunannya, tarif bea keluar, harga patokan ekspor, harga Rotterdam per bulan selama dua tahun terakhir. (*)

Sumber: di sini

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 157 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider, klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini


Database Riset Data Spesifik Lainnya: