Selasa, 28 April 2020

Menguji Tingkat Ketahanan Perusahaan Industri Mengarungi Pandemik Corona

Guncangan pandemik global virus corona (covid-19) yang mengubah tatanan iklim usaha menguji tingkat ketahanan sektor industri berdasarkan karakternya masing-masing, terutama bagi perusahaan makanan minuman serta tekstil. Wabah virus ini yang membawa pergeseran mendasar berupa pembatasan sosial memberikan efek kejut yang luar biasa bagi sejumlah sektor industri dengan tingkat ketahanan finansial yang berbeda-beda.

Tingkat ketahanan industri itu tercermin dari tekanan keuangan yang terjadi karena perubahan karakteristik putaran arus kas. Ketika aktivitas masyarakat distop sehingga melumpuhkan denyut nadi ekonomi, transmisi gangguan itu kemudian menggetarkan perusahaan industri.

Data terbaru mengungkap bahwa mayoritas perusahaan industri di Indonesia terdampak paling keras (hard hit) oleh wabah corona, dimulai dari pembatasan sosial hingga melemahnya pasar secara dramatis. Apalagi diketahui sekitar 60% dari total perusahaan industri di Indonesia mengalami ekses negatif paling menderita (hard hit/hard suffer) akibat pandemi corona, menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Selama sebulan penuh bahkan lebih, iklim usaha diobrak-abrik pandemi global yang meluluhlantahkan tatanan bisnis yang selama ini terbina. Penjualan sejumlah perusahaan industri terguncang pembatasan aktivitas sosial, diperparah dengan guncangan cash-flow terutama bagi industri skala menengah kecil. Duniaindustri.com mencermati guncangan arus kas terutama terjadi di sektor usaha skala menengah kecil yang menggantungkan pemasukan harian ataupun mingguan. Sementara industri besar masih bisa bertahan selama 2 bulan, meski masih terkendala distribusi dan logistik terutama terkait pasokan bahan baku dan pemasok yang biasanya ukuran bisnisnya lebih kecil.

Rantai pasok industri yang merupakan hubungan antara industri skala besar dan ratusan pemasok dengan skala usaha menengah ataupu kecil juga berpotensi terganggu oleh guncangan pandemi corona. Tanpa para pemasok, industri skala besar pun tampaknya akan kesulitan untuk menunjang keberlanjutan produksi dengan utilisasi optimal. Dampaknya berantai, baik industri skala besar maupun skala menengah kecil akan beroperasi di tingkat minimum untuk mengefisienkan cost. Kondisi itu yang diperkirakan terjadi di 60% perusahaan industri yang terdampak pandemi virus corona.

Di sektor makanan minuman, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) menggelar survei internal di kalangan anggotanya. Hasilnya, cukup mencengangkan ketika 54% perusahaan makanan dan minuman hanya mampu bertahan 1-5 bulan di tengah pandemi virus corona. Artinya, lewat dari periode waktu tersebut, mereka berpotensi tak mampu bertahan.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman menjelaskan, dari 54% yang bertahan paling lama 5 bulan itu, enam persen di antaranya hanya mampu bertahan selama 1 bulan. Sedangkan 26% lainnya mampu bertahan 2-3 bulan, dan 22% sisanya dapat bertahan 4-5 bulan. "46% menyatakan masih bisa tahan sampai di atas 5 bulan. Sisanya, hanya tahan sekitar 1 sampai 5 bulan," kata Adhi dalam meeting online bersama Komisi VI DPR, Senin (27/4).

Dia juga menambahkan mayoritas perusahaan makanan minuman anggota Gapmmi atau setara 71% mengakui penjualan turun berkisar 20%-40% akibat pandemi corona. Pasalnya, pasar terbesar produk makanan dan minuman adalah pasar tradisional yang berkontribusi 71% -73% dari total pasar.

Di sisi lain, penjualan di pasar tradisional terjun setelah kemunculan pandemi covid-19. Sementara, kontribusi penjualan dari pasar modern hanya 26% hingga 27%. "Jadi, kalau di pasar modern pada saat panic buying, tetap luar biasa penjualannya. Tetapi kontribusi secara nasional masih besar di tradisional secara total. Kalau di pasar tradisional turun, pasti secara total akan turun pasar makanan dan minumannya," kata Adhi.

Ia menambahkan kenaikan penjualan online pun tak mampu mengangkat kinerja perusahaan makanan dan minuman. Sebab, pangsa pasar online sangat tipis, yakni 1 persen sampai 2 persen bagi perusahaan makanan minuman. Beberapa produk yang masih meningkat penjualannya, antara lain minyak goreng, susu, mi instan, biskuit, makanan kering, serta daging dan ikan beku.

"Untuk pasar online, memang ada laporan meningkat di beberapa marketplace, seperti Tokopedia dan lain sebagainya, peningkatan naik antara 500 persen sampai 600 persen. Tetapi basis online itu masih sangat kecil," tandasnya.

Berbeda dengan perusahaan makanan minuman, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat kondisi perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) sudah sangat mengkhawatirkan. Ketua Umum API Jemmy Kartiwa Sastraatmaja menerangkan, jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dari industri TPT telah mencapai 80% atau 2,1 juta pekerja.

"Market kita habis, baik untuk ekspor maupun lokal, anggota kami sudah menutup industrinya, karena kita lihat sudah 2,1 juta yang dirumahkan," ujar Jemmy.

Lebih lanjut saat ini arus kas industri TPT alami gangguan karena tidak ada pemasukan maupun pembayaran yang diterima mulai dari pesanan ekspor ataupun di dalam negeri. Jika tidak ada pembayaran, maka karyawan yang di PHK bakal terus bertambah.(*/)

Sumber: klik di sini

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini
Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Senin, 27 April 2020

Tekanan Bertubi di Sektor Keuangan Akibat Dampak Covid-19

Mencuat kabar yang tidak menyedapkan di sektor finansial Indonesia akibat dampak turunan pandemik global virus corona (covid-19). Setelah koperasi mengalami kekeringan likuiditas, salah satu bank pembangunan daerah juga disebut gagal bayar.

Namun tidak sembarangan, pernyataan itu berasal dari Gubernur Banten Wahidin Halim yang menyebut bahwa PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) mengalami gagal bayar sejak 17 April 2020.

Gubernur Wahidin juga menyebut nilai gagal bayar Bank Pembangunan Banten cukup besar, yakni mencapai Rp900 miliar. Untuk itu, Gubernur Wahidin menjelaskan, pihaknya perlu segera memindahkan Rekening Kas Umum Daerah (RKUD) ke Bank Jabar Banten (bank bjb), sebagai bentuk langkah cepat dan percepatan serta memastikan ketersediaan anggaran.

"Selama ini, kas daerah sejak 2016, sebelum menjabat jadi gubernur, di mana dana pemprov dan kas daerah disimpan di Bank Banten," ujar Wahidin dalam keterangan pers, Jumat (24/4).

Gubernur Wahidin menambahkan pada 17 April 2020, Bendahara Umum Daerah (BUD) sudah memerintahkan agar Bank Banten segera menyalurkan Dana Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten dan Kota se-Provinsi Banten. Namun, dana tersebut tidak kunjung disalurkan.

Dalam siaran pers tersebut juga disimpulan kejadian tersebut sebagai "telah terjadi gagal bayar". Jumlahnya, yakni anggaran DBH Pajak untuk Februari sebesar Rp181 miliar lebih dan untuk Social Safety Net total sebesar Rp709,22 miliar. "Makanya yang terbayang oleh saya sebagai Gubernur adalah bagaimana nanti dana buat bantuan sosial, bagaimana nanti dana buat gaji pegawai, bagaimana dengan kas daerah," ujar Wahidin.

"Saya sudah sampaikan ke berbagai pihak untuk menyelamatkan Bank Banten ini dan semua telah difasilitasi oleh OJK," kata Wahidin.

Namun, Wahidin meminta agar masyarakat tidak panik dan tidak melakukan penarikan dana secara besar-besaran. "Masyarakat agar tidak panik, dan tidak harus lakukan penarikan secara besar-besaran (rush) karena ini bukan langkah mematikan tapi sebuah langkah menyelamatkan uang negara dalam bentuk Kas Daerah yang kita simpan di Bank Banten. Semua pihak harus jujur, walaupun harus memenuhi langkah resiko," tegas Wahidin.

Wahidin menjelaskan perlunya segera memindahkan RKUD dari Bank Banten ke Bank Jabar Banten (BJB), ini adalah bentuk langkah cepat dan percepatan serta memastikan ketersediaan anggaran, karena selama ini Kas Daerah sejak tahun 2016, sebelum menjabat jadi Gubernur, di mana dana pemprov dan kas daerah disimpan di Bank Banten.

Sementara itu Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Rina Dewiyanti selaku Bendahara Umum Daerah mengatakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 Dalam rangka pengelolaan Keuangan Daerah PPKD selaku BUD membuka rekening Kas Umum Daerah pada Bank Umum yang sehat.

Rina mengungkapkan, perlu segera melakukan langkah penyelamatan atas dana pemprov yang tersimpan di RKUD, dan memastikan tidak ada SP2D yang sudah dikeluarkan tidak dapat dapat disalurkan jika ini terjadi maka Bank pemegang RKUD telah gagal bayar dan mengindikasikan bahwa rasio kecukupan dana nya tidak terjamin, ini yang harus dijaga oleh pemerintah daerah dalam hal ini oleh BUD.

Sebelumnya, pandemik global virus corona juga mempengaruhi bisnis koperasi sebagai lembaga pembiayaan rakyat. Koperasi Simpan Pinjam (KSP) di Indonesia menghadapi ancaman kekeringan likuiditas terdampak wabah virus korona. Berbagai kegiatan usaha anggota koperasi terganggu bahkan sebagaian tutup sementara waktu, sehingga pengembalian dana pinjaman ke koperasi tersendat.

Di saat yang sama, ada beberapa anggota koperasi yang melakukan penarikan dana simpanannya untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat di tengah pandemi virus korona. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan dalam video conference dengan media di Jakarta, Kamis (23/4).

Rully mengatakan, ancaman kekeringan likuiditas ini telah menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM, untuk segera dicarikan solusinya. Meskipun ada kemungkinan untuk menyuntikkan likuiditas pada KSP yang tengah kesulitan, namun saat ini pihaknya harus memastikan langkah yang mengaku pada peraturan yang berlaku.

“Kita pernah menghadapi pengalaman masa lalu saat kejadian krisis seperti ini, namun buntutnya panjang yaitu kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Nah kita tidak ingin memberi bantuan likudiitas, tapi kemudian nanti ada persoalan seperti BLBI,” kata Rully.

Oleh karena itu, untuk sementara waktu Kementeri Koperasi meminta kepada KSP-KSP di seluruh Indonesia untuk memberikan pemahaman kepada anggotanya agar melakukan penarikan dana simpanannya secara wajar, sekaligus untuk membantu menjaga kelngsungan koperasi agar etap hidup di tengah himpitan kondisi ekonomi saat ini.

Sementara itu, pemerintah akan melakukan upaya-upaya penanganan untuk mengatasi kekeringan likuiditas di koperasi, salah satunya dengan memanfaatkan Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Koperasi dan UKM yaitu Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

“Intinya kami dukung penyelesaian kekeringan likuiditas ini, tapi saya tegaskan tadi bahwa rasional sajalah dalam melakukan penarikan dana simpanan (pada koperasi). Kalau hanya butuh Rp100 juta ya jangan sampai melebihi,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama LPDB Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM), Supomo menegaskan akan terus berupaya membantu koperasi melalui penyaluran pembiayaan. Selama syarat dan ketentuannya terpenuhi, ujarnya, LPDB kapanpun akan siap untuk membantu mencukupi kekeringan likuiditas yang dibutuhkan.

Ia mengungkapkan, saat ini LPDB telah melakukan berbagai penyederhanaan persyaratan bagi koperasi dalam mengajukan pinjaman. “Kita lakukan reformasi melalui penyederhanaan persyaratan tanpa meninggalkan kredibilitas. Intinya kita siap salurkan pembiyaan, namun jangan sampai salah sasaran,” papar Supomo.

Menurutnya saat ini LPDB sedang melakukan pemetaan kebutuhan likuiditas KSP-KSP secara nasional. Tahun ini LPDB memiliki pagu anggaran sebesar Rp 1,8 triliun. Sekitar 70% dari pagu tersebut ditargetkan dapat disalurkan ke koperasi produktif.

“Hampir semua KSP datang berbondong-bondong untuk memenuhi kebutuhan likuditasnya, kita masih menghitung berapa likuiditas yang mereka butuhkan,” ujar Supomo.(*/)

Sumber: klik di sini

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Jumat, 24 April 2020

Angin Segar bagi Perkebunan Sawit, Penyerapan Biodiesel Tetap Tinggi

Meski di tengah wabah pandemi global virus corona, sektor perkebunan sawit masih mendapat angin segar berupa penyerapan biodiesel yang tinggi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penyerapan biodiesel pada kuartal I 2020 mencapai sebesar 2,17 juta kiloliter. Angka tersebut setara 90,4 persen dari permintaan pembelian (purchase order/PO) sebesar 2,4 juta kiloliter.

Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Hariyanto dalam keterangannya yang diperoleh di Jakarta, Kamis mengungkapkan penurunan permintaan B30 (campuran 30 persen minyak sawit ke dalam solar) menjadi penyebab utama melesetnya target realisasi penyerapan biodiesel yang sudah dicanangkan. "Terjadi penurunan demand dari penggunaan B30 yang secara langsung mengurangi penggunaan biodiesel," ungkapnya dalam keterangan tertulis, kemarin.

Pada Januari 2020, menurut Hariyanto, volume penyerapan biodiesel sebesar 699,5 ribu kiloliter atau 87,53 persen dari PO, yaitu 789,64 ribu kiloliter. Februari, realisasi sempat mengalami pertumbuhan yang positif dengan menyentuh angka 756,96 ribu kiloliter atau 94,72 persen dari PO, yaitu 799,3 ribu kiloliter.

Sementara Maret 2020, pemanfaatan biodiesel kembali mengalami penurunan dengan hanya terserap 713,86 ribu kiloliter atau 89,32 persen dari PO, yaitu 809,95 ribu kiloliter. Konsumsi biodiesel sejak 2017 terus mengalami peningkatan.

Pada 2018, konsumsinya sebesar 3,55 juta kiloliter atau meningkat 49 persen dibandingkan 2017 sebesar 2,37 juta kiloliter. Peningkatan ini dilatarbelakangi perluasan pemanfaatan B20 ke sektor non public service obligation (PSO). Kebijakan tersebut berlanjut hingga 2019 sehingga konsumsi biodiesel berada pada angka 6,37 juta kiloliter. Realisasi ini belum termasuk tambahan volume biodiesel untuk kebutuhan uji coba B30 pada akhir 2019.

Tingginya realisasi penyerapan biodiesel menjadi ‘angin segar’ bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit di tengah pelemahan ekspor yang drastis. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) pada Januari 2020 mengalami penurunan sebesar 35,6 persen menjadi 2,39 juta ton, dari Desember 2019 sebesar 3,72 juta ton.
Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan penurunan ekspor CPO antara lain dipengaruhi karena harga minyak bumi yang tidak menentu akibat ketidaksepakatan antara OPEC dengan Rusia, serta terjadinya pandemi Virus Corona baru (COVID-19) di sejumlah negara.

"Terjadinya pandemi Corona yang melanda hampir ke seluruh dunia menyebabkan perlambatan kegiatan ekonomi global, yang berakibat pada penurunan konsumsi minyak nabati, terutama minyak nabati yang diimpor," kata Mukti.

Selain itu, penurunan ekspor yang cukup drastis dalam bulan Januari dikarenakan masih tersedianya stok di negara-negara importir utama atau importir menunggu respons pasar terhadap program B30 yang diterapkan Indonesia.

Mukti merinci bahwa penurunan ekspor CPO terjadi hampir ke semua negara tujuan yaitu ke China turun 381.000 ton (turun 57 persen), Uni Eropa turun 188.000 ton (turun 30 persen), ke India turun 141.000 ton (turun 22 persen), dan ke Amerika Serikat turun 129.000 ton (turun 64 persen).

Sementara itu ekspor CPO ke Bangladesh meningkat 40.000 ton atau sebesar 52 persen dari bulan sebelumnya. Penurunan ekspor ini terjadi pada komoditas CPO, PKO, biodiesel, sementara oleokimia naik dengan 22,9 persen.

Meski kinerja ekspor turun, saat memasuki awal tahun 2020 harga CPO meningkat dengan rata-rata harga CPO CIF Rotterdam sebesar 830 dolar AS per ton, dibandingkan harga pada Desember 2019 adalah 787 dolar AS per ton.

"Harga yang baik ini diharapkan akan menjadi penyemangat bagi pekebun dan perusahaan perkebunan untuk memelihara kebun dengan lebih baik agar mendapatkan produktivitas yang tertinggi," kata Mukti.

Ada pun produksi CPO pada bulan Januari 2020 sedikit mengalami kenaikan yaitu 3,48 juta ton, dibandingkan dengan produksi bulan Desember 2019 sebesar 3,45 juta ton. Konsumsi domestik juga sedikit meningkat dari 1,45 juta ton menjadi 1,47 juta ton.(*/)

Sumber: klik di sini

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Rabu, 22 April 2020

Market Trend Pandemi Corona: Cepat Beradaptasi atau Tergilas

Makin luasnya dampak pandemi virus corona (covid-19) terhadap aktivitas bisnis di Indonesia menyisakan pergeseran pasar secara dramatis dan mendasar. Perubahan drastis market trend iklim usaha selama sebulan terakhir menyiratkan dua hal fundamental, yakni cepat beradaptasi atau tergilas.

Data terbaru mengungkap bahwa mayoritas perusahaan industri di Indonesia terdampak paling keras (hard hit) oleh wabah corona, dimulai dari pembatasan sosial hingga melemahnya pasar secara dramatis. Apalagi diketahui sekitar 60% dari total perusahaan industri di Indonesia mengalami ekses negatif paling menderita (hard hit/hard suffer) akibat pandemi corona, menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Selama sebulan penuh bahkan lebih, iklim usaha diobrak-abrik pandemi global yang meluluhlantahkan tatanan bisnis yang selama ini terbina. Penjualan sejumlah perusahaan industri terguncang pembatasan aktivitas sosial, diperparah dengan guncangan cash-flow terutama bagi industri skala menengah kecil. Duniaindustri.com mencermati market trend dari guncangan arus kas terutama terjadi di sektor usaha skala menengah kecil yang menggantungkan pemasukan harian ataupun mingguan. Sementara industri besar masih bisa bertahan selama 2 bulan, meski masih terkendala distribusi dan logistik terutama terkait pasokan bahan baku dan pemasok yang biasanya ukuran bisnisnya lebih kecil.

Rantai pasok industri yang merupakan hubungan antara industri skala besar dan ratusan pemasok dengan skala usaha menengah ataupu kecil juga berpotensi terganggu oleh guncangan pandemi corona. Tanpa para pemasok, industri skala besar pun tampaknya akan kesulitan untuk menunjang keberlanjutan produksi dengan utilisasi optimal. Dampaknya berantai, baik industri skala besar maupun skala menengah kecil akan beroperasi di tingkat minimum untuk mengefisienkan cost. Kondisi itu yang diperkirakan terjadi di 60% perusahaan industri yang terdampak pandemi virus corona.

Kemenperin telah mengelompokkan tiga kelas industri yang terdampak wabah corona di Indonesia, masing-masing industri yang paling terdampak (hard hit/suffer), kelas moderat dan kelas dengan demang yang tinggi. Meski banyak industri yang terkena dampak buruk dari wabah ini, namun ternyata terdapat beberapa industri yang justru memetik berkah dari wabah tersebut.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menerangkan, untuk kelas yang paling menderita (suffer) sebanyak 60 persen dari total industri dan 40 persennya kelas moderat dan demand tinggi. Beberapa contoh kelompok industri yang masuk dalam kelas suffer di antaranya adalah industri logam, industri otomotif, industri peralatan listrik, industri semen, keramik, industri pariwisata, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan lainnya. Sementara kelas yang moderat adalah industri petrokimia. Sedangkan kelas dengan demand tinggi industri kesehatan, farmasi dan makanan - minuman.

Dengan tiga kelas yang dikelompokkan tersebut, Agus menegaskan bahwa kelompok suffer adalah industri yang harus paling mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah. Sebab selain banyak jumlahnya, kontribusi industri-industri tersebut terhadap PDB industri cukup besar.

"Industri TPT terpaksa memang kita masukkan dalam kategori suffer karena walalaupun sektor TPT dia bisa melakukan diversifikasi produk bahkan masih bisa ekspor, tetapi karena dalam data per hari ini sektor TPT telah merumahkan 1,5 juta karyawannya," kata Agus Gumiwang dalam teleconference, Selasa (21/4).

Agus menambahkan dengan berbagai paket stimulus yang diberikan pemerintah khususnya dalam penanganan wabah corona ini diharapkan secara perlahan-lahan industri-industri yang masuk dalam kategori suffer dapat kembali bergairah. Namun begitu dari klasifikasi industri kecil, menengah dan besar, Agus memperkirakan apabila wabah corona ini tidak segera berakhir akan banyak sektor industri yang masuk dalam kategori industri kecil menengah (IKM) yang akan gulung tikar.

"Untuk perusahaan yang gulung tikar sedang kami data yang pasti IKM menjadi sektor yang paling suffer dan setelah covid lenyap maka IKM menjadi sektor yang mungkin terbanyak melakukan gulung tikar termasuk PHK dan perumahan karyawannya," pungkas Agus.(*/)

Sumber: klik di sini

Mari Simak Coverage Riset Data Spesifik Duniaindustri.com:

Market database
Manufacturing data
Market research data
Market leader data
Market investigation
Market observation
Market intelligence
Monitoring data
Market Survey/Company Survey
Multisource compilation data
Market domestic data
Market export data
Market impor data
Market directory database
Competitor profilling
Market distribution data
Company database/directory
Mapping competition trend
Profiling competitor strategy
Market data analysist
Historical data
Time series data
Tabulation data
Factory directory database
Market segmentation data
Market entry strategy analysist
Big data processor
Financial Modeling/Feasibility Study
Price trend analysist
Data business intelligence
Customized Direktori Database

* Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
** Butuh competitor intelligence, klik di sini
*** Butuh copywriter specialist, klik di sini
**** Butuh content provider (branding online), klik di sini
***** Butuh jasa medsos campaign, klik di sini

Database Riset Data Spesifik Lainnya:
  • Butuh data spesifik atau riset pasar, total ada 181 database, klik di sini
  • Butuh 24 Kumpulan Database Otomotif, klik di sini
  • Butuh 18 Kumpulan Riset Data Kelapa Sawit, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Semen dan Beton, klik di sini
  • Butuh 8 Kumpulan Riset Data Baja, klik di sini
  • Butuh 15 Kumpulan Data Transportasi dan Infrastruktur, klik di sini
  • Butuh 9 Kumpulan Data Makanan dan Minuman, klik di sini
  • Butuh 6 Kumpulan Market Analysis Industri Kimia, klik di sini
  • Butuh 3 Kumpulan Data Persaingan Pasar Kosmetik, klik di sini
  • Butuh competitor intelligence ataupun riset khusus (survei & observasi), klik di sini
  • Butuh copywriter specialist, klik di sini
  • Butuh content provider (online branding), klik di sini
  • Butuh market report dan market research, klik di sini
  • Butuh perusahaan konsultan marketing dan penjualan, klik di sini
  • Butuh menjaring konsumen korporasi dengan fitur customized direktori database perusahaan, klik di sini

Senin, 20 April 2020

Ikut Ringankan Dampak Covid-19, Duniaindustri Buka Akses Lebih Besar

Duniaindustri.com–pionir startup big data di sektor industri yang meliputi digital database, riset pasar, direktori perusahaan, survei perusahaan, hingga produk turunannya–ikut memberikan keringanan sebagai dampak pandemi covid-19 yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Untuk itu, Duniaindustri.com membuka akses lebih besar dan promo diskon lebih untuk seluruh 181 database spesifik, riset data industri, serta seluruh fitur yang tersedia.


Pada awal 2019, Duniaindustri.com mengembangkan fitur baru terkait survei dan market observasi perusahaan industri di Indonesia. Strategi ini dilakukan seiring dengan upaya pengembangan 15.000 database/direktori perusahaan industri di Indonesia. Dan pada akhir 2019, Duniaindustri.com mengembangkan tools atau perangkat yang dapat memonitor ekspor-impor per entitas sebagai salah satu benchmark peta persaingan pasar.

Selain itu, untuk memperkuat basis data metodologi pencarian, penyusunan, pengolahan data, detektif industri juga memperluas sumber database dengan forum group discussion (FGD), market investigation, market observation, monitoring data online, hingga survei lapangan secara berkala. Diharapkan penambahan sumber ini memberikan pelayanan yang terbaik bagi user dari sisi akurasi dan kecepatan pengolahan data.

Saat ini duniaindustri.com menghimpun lebih dari 1.000 ukm dan lebih dari 10.000 basis user baik secara perorangan maupun perusahaan, serta industrial agent dari 10 negara di dunia, seperti Korea Selatan, Jepang, Eropa, Dubai.

Program Keringanan Covid-19

Contoh Kumpulan Riset dan Database Spesifik Diskon 30% dalam bentuk print eksklusif (eksemplar terbatas)

No
Daftar Judul
Harga Reguler (di web)
Diskon
Harga Diskon
Stok Print Eksklusif
1
US$ 500
50%
US$ 250
10
2
US$ 800
50%
US$ 400
10
3
US$ 350
30%
US$ 245
10
4
US$ 250
30%
US$ 175
10
5
US$ 200
30%
US$ 140
10 eksemplar
6
US$ 700
30%
US$ 490
10 eksemplar
7
US$ 300
30%
US$ 210
10 eksemplar
8
US$ 300
50%
US$ 150
10 eksemplar
9
US$ 150
50%
US$ 75
10 eksemplar
10
US$ 200
50%
US$ 100
10 eksemplar
11
US$ 225
50%
US$ 112,5
10 eksemplar
12
US$ 175
50%
US$ 87,5
10 eksemplar
13
US$ 175
50%
US$ 87,5
10 eksemplar
14
US$ 175
50%
US$ 87,5
10 eksemplar
Syarat dan ketentuan:
* Program ini hanya berlaku selama bulan April, Mei 2020.
** Data, Database Spesifik, ataupun Riset yang diperoleh dalam bentuk print eksklusif (hardcover, art carton 150 miligram)
*** Program ini tidak disertai data, database spesifik, dan riset dalam bentuk softcopy. Untuk versi softcopy, silakan download di web duniaindustri.com
**** Harga di atas sudah termasuk biaya ongkos kirim se-Jabodetabek. Di luar itu, dikenai tarif biasa.
***** Proses print eksklusif sekitar 1-2 hari kerja dari penyerahan bukti pembayaran.
****** Untuk mengetahui outline/isi konten dan jumlah halaman, klik judul riset yang dikehendaki
******* Segera hubungi kami di sini