Kamis, 30 Juni 2016

Peta Persaingan dan Tren Market Leader Industri Biskuit di Indonesia

Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 (Peta Persaingan dan Tren Market Leader) ini dirilis Juni 2016 menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri biskuit di Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain di industri ini, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, hingga analisis pangsa pasar berdasarkan penjualan dan kapasitas produksi.

Riset pasar ini dimulai dengan highlights pasar Indonesia yang terus tumbuh ditopang besarnya konsumen kelas menengah. Pasar industri makanan termasuk biskuit di Indonesia dengan penduduk sebesar 252 juta jiwa, 50% di antaranya merupakan usia produktif, sunggulah besar. PDB per kapita Indonesia US$ 3.500 melampaui negara pesaing di Asean seperti Filipina dan Vietnam. Jumlah rumah tangga di Indonesia dengan anggaran belanja tahunan berkisar US$ 5.000-US$ 15.000 diperkirakan meluas dari 36% pada saat ini menjadi 58% pada 2020. Lebih dari 60 juta penduduk berpenghasilan rendah diproyeksikan bergabung dengan kelas menengah di dekade mendatang, dan mendorong permintaan konsumen semakin kuat. Total pasar industri consumer goods di Indonesia pada 2030 diperkirakan US$ 810 miliar.(halaman 2-3)

Riset pasar ini juga menjabarkan pertumbuhan rata-rata per tahun pasar makanan dalam kemasan dan minuman ringan selama 2013-2017 akan berada di atas angka 10%. Secara keseluruhan, packaged food selama periode tersebut akan tumbuh rata-rata 12,6% per tahun. Beberapa jenis makanan yang identik dengan lifestyle masyarakat middle class income diperkirakan tumbuh lebih tinggi, di antaranya canned/preserved food (16,7%), frozen processed food (16,6%), ice cream (18%), dan noodles (13,5%).(halaman 4)

Sementara itu, minuman ringan diperkirakan tumbuh rata-rata 12% per tahun. Pertumbuhan yang tinggi diperkirakan terjadi untuk produk ready to drink (RTD) coffee (18,8%), fruit/vegetable juice (15,6%), sports and energy drink (14,8%), dan RTD tea (13,7%).

Secara special, Duniaindustri.com membuat riset pertumbuhan pasar consumer goods dari 2009 ke 2015, khusus untuk sejumlah produk antara lain: biskuit dan wafer, mi instan, snack, jeli, permen, roti, minuman berenergi, minuman isotonik, sirup, teh siap saji, kopi siap saji, jus, susu siap saji, minuman berkarbonasi, minuman sari buah, air minum dalam kemasan. (halaman 5-8)

Di halaman 9-10, Duniaindustri.com membuat riset pasar eksklusif terkait pangsa pasar biskuit dilihat dari dua hal; penjualan per merek (halaman 9) dan kapasitas produksi per perusahaan (halaman 10). Data tersebut didukung top 15 produsen biskuit terbesar (biggest biscuit producer) di Indonesia yang dipaparkan pada halaman 11-12, lengkap dengan kapasitas produksi serta komposisi terhadap kapasitas nasional.

Di halaman 13, ditampilkan tren produksi biskuit secara nasional periode 2007-2015, lengkap dengan pertumbuhan per tahun. Data tersebut juga diperkuat dengan neraca ekspor-impor biskuit dalam volume dan nilai periode 2007-2015 (halaman 14-15).

Kemudian di halaman 16 ditampilkan tren konsumsi, produksi, dan ekspor-impor biskuit di Indonesia periode 2007-2015. Dengan data yang cukup lengkap ini dapat terlihat tren pertumbuhan konsumsi (market size) industri biskuit per tahun. Khusus di halaman 17, duniaindustri.com membuat proyeksi dan estimasi konsumsi biskuit pada 2016-2017 lengkap dengan tren produksi dan pertumbuhannya.

Pada halaman 18-35, duniaindustri.com membuat market research dan market intelligence terhadap tiga produsen biskuit yang menjadi market leader. Analisis dan intelijensi pasar itu mencakup kinerja keuangan produsen dengan pangsa pasar terbesar, strategi pemasaran, kendala yang dihadapi, target kinerja keuangan 2016, hingga ke struktur perusahaan, jumlah pekerja, serta rasio profitabilitas dan rasio solvabilitas. 

Riset Pasar dan Data Industri Biskuit 2010-2016 sebanyak 35 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain asosiasi industri, BPS, riset internal produsen biskuit, dan diolah duniaindustri.com. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

Baca selengkapnya di sini
* Cari data lebih spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini

Selasa, 28 Juni 2016

Market Research and Cosmetic Industry Analysis (5 Best Selling Brand)

Market Research and Cosmetic Industry Analysis (Growth Trends and 5 Best Selling Brand) released per June 2016 featuring independent research, data, analysis, assessment and outlook comprehensively regarding all information about the competitive landscape in the cosmetics industry in Indonesia, including highlights and profiles quick players in the industry, demand trends / needs (demand) in the local market, up to a market share analysis of cosmetic products with the highest level of competition.

This data begins by presenting economic and market highlights Indonesia, include consumer trends and purchasing power. (Page 2-4)

On page 5, presented terminology cosmetics from a Greek word meaning ornate. Followed by a brief profile of the national cosmetics industry on page 6, includes a number of companies, number of employees, export-import, as well as the cosmetic product segmentation.

On page 7, show the value of sales (market size) Indonesia cosmetic industry in the period 2009-2015 with a percentage growth. Data on page 7 being compare with the growth of cosmetics (personal care and home care) with a total growth of the consumer goods industry on page 8.

On page 9-11, duniaindustri.com make market research related lipstick market share per brand in Indonesia, the trend of the market share from 2010 to 2015, as well as the analysis of market leader. Especially for powder products, also displayed per brand and market share analysis of market leader in pages 12-13. On page 14-15, described the trend in retail sales of cosmetics and consumer behavioral.

Moving on pages 16-44 is the essence of this research is to show market intelligence to the four companies market leader in the cosmetics industry in Indonesia. Overview directed at financial performance, sales per category of products, marketing strategies, distribution network, production capacity and manufacturing facilities, as well as product development strategy. While at the end of research showing 5 brands (top 5) cosmetics with the highest sales in Indonesia.

Market Research and Industry Analysis Cosmetic (Growth Trends and Best-Selling Brand 5) as many as 45 pages of this comes from research duniaindustri.com with supporting data from BPS, WHO and the World Bank, as well as a number of cosmetic companies in Indonesia. Index of industry data is a new feature in duniaindustri.com featuring dozens of selected data according to the needs of users. All data is presented in pdf form so easily downloaded after users perform processes according to the procedure, ie click buy (purchase), click checkout, and fill out the form. Duniaindustri.com priority to the legitimacy and validity of the source of the data presented. Thank you.(*)

Sources: click here

Senin, 27 Juni 2016

Inilah Kumpulan Riset Pasar dan Data Industri Tekstil di Indonesia

Industri tekstil merupakan salah satu pendorong pertumbuhan manufaktur nasional, mengingat negeri ini cukup disegani dan menduduki peringkat kesembilan dalam jajaran produsen tekstil dunia. Namun, perkembangan industri ini dalam tiga tahun terakhir tidak begitu menggembirakan.

Padahal, selain jadi salah satu produsen terbesar dunia, Indonesia juga menjadi pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara. Tekstil sebagai kebutuhan dasar manusia mestinya mampu dimanfaatkan oleh industri demi pertumbuhan kinerja bisnis yang menjanjikan. Namun, persoalan di industri ini tidak kalah besar.

Untuk merekam track record pertumbuhan dan seluk beluk industri tekstil, industri serat tekstil, industri garmen, duniaindustri.com memiliki sedikitnya 4 data dan riset industri khusus. Mari kita simak ulasannya berikut ini:

1) Tren Fashion dan Data Industri Tekstil
2) Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir)
3) Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat Tekstil
4) Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia


Berikut ulasannya:

A) Tren Fashion dan Data Industri Tekstil. Data ini menampilkan tren fashion dan data industri tekstil, mulai dari tren industri fashion dunia. Industri fashion dunia masih tumbuh positif pada 2015 dengan tiga proyeksi: 6% (pertumbuhan rendah), 8% (pertumbuhan moderat), dan 12% (pertumbuhan tinggi). Dengan proyeksi seperti itu, nilai pasar industri fashion dunia diperkirakan US$ 550 miliar – US$ 854 miliar pada 2015.

Pasar fashion dan tekstil terbesar di dunia masih dipegang Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, dengan pertumbuhan yang relatif rendah, sekitar 2% hingga 2020, dipengaruhi perlambatan ekonomi global. Pasar fashion untuk wanita tumbuh paling tinggi, sekitar 4,8%, mengindikasikan kebutuhan fashion wanita terus tumbuh.

Dari segmentasi, pakaian luar (outerwear) berkontribusi terbesar, sekitar 57,2% terhadap total pasar fashion, disusul sepatu (footwear), dan pakaian dalam (underwear). Pakaian pria menyumbang kontribusi terbesar hingga 42% untuk segmen apparel (tekstil), disusul pakaian wanita 36%, dan pakaian anak-anak 22%.

Sementara di Indonesia, nilai pasar tekstil yang termasuk produk fashion pada 2015 diestimasi US$ 15,19 miliar atau setara Rp 208 triliun (kurs Rp 13.700/US$), menurut kompilasi data duniaindustri.com dari BPS, asosiasi industri, dan sumber lainnya. Perlambatan pertumbuhan di 2015 disebabkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS, perlambatan perekonomian global, serta anjloknya harga komoditas dunia.

Data ini juga dilengkapi dengan tren warna fashion 2016 yang diperkirakan masih didominasi warna cerah. Selain itu, data industri tekstil, mulai dari ekspor, impor, biaya produksi tekstil, juga dipaparkan dalam data ini. Di sisi lain, ditampilkan juga peta persaingan perusahaan produsen fashion ternama di Indonesia dan di dunia.

Data sebanyak 13 halaman pdf ini berasal dari berbagai sumber antara lain asosiasi industri, lembaga riset dunia, dan BPS. Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data Komprehensif Industri Tekstil Indonesia (periode tiga tahun terakhir) ini berisi tren konsumsi tekstil, kinerja produksi dari hulu hingga hilir, perdagangan (ekspor impor), analisis pasar ekspor dan kondisi perekonomian negara tujuan ekspor. Data yang berjumlah total 14 halaman ini berasal dari asosiasi industri mencakup Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Fiber Indonesia (Apsyfi), Badan Pusat Statistik.(*)

C) Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat Tekstil. Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat (Tekstil Hulu). Data Pangsa Pasar Top 10 Perusahaan Benang dan Serat ini menggambarkan penguasaan pasar top 10 perusahaan benang dan serat di Indonesia periode 2011-2013.(*)

D) Data Buyer Agent Tekstil Terbesar dan Representative Office di Indonesia ini berisi nama perusahaan buyer agent tekstil global dan representative office di Indonesia, contact person, nomor telepon. Buyer agent yang dimaksud antara lain Adidas Group, Columbia Sportwear Company, Contempo Limited, Easthern Fashions, Focus Far East Ltd, GAP Indonesia, H&M Internatioanl Ltd, Linmark Westman, PTE.Ltd, Marubeni Indonesia, Mitsubishi Corporation, Nike Indonesia, PT Artamenara Interindo.(*)

Baca selengkapnya, klik di sini
* Cari data spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini

Minggu, 26 Juni 2016

Kumpulan Riset Pasar, Analisis, dan Data Industri Elektronik di Indonesia

Industri elektronik menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor yang cukup signifikan. Selain itu, industri ini memiliki pasar yang sangat besar di dalam negeri.

Bagaimana rekam jejak industri elektronik di Indonesia, tren pertumbuhan, serta pangsa pasar pemain utama, duniaindustri.com memiliki sedikitnya dua data industri elektronik, simak ulasannya berikut ini:

1) Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015
2) Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community


Berikut penjelasannya:

A) Data Industri Elektronik Home Appliances 2005-2015 ini menampilkan data, kajian, analisis, dan riset terkait seluruh informasi mengenai industri elektronik rumah tangga (home appliances) di Indonesia, mulai dari tren nilai pasar (market size) untuk industri elektronik home appliances, 14 kategori elektronik home appliances, analisis tren pertumbuhan 2005-2015, volume pasar (demand) 14 kategori elektronik home appliances, porsi kategori produk terhadap total pasar elektronik home appliances, hingga pangsa pasar, serta tren pasar elektronik global.

Data ini dimulai dari tren pertumbuhan nilai pasar industri elektronik home appliances di Indonesia periode 2005-2015, dilengkapi dengan tren pertumbuhannya, dan 14 kategori yang termasuk produk elektronik home appliances (halaman 2).

Kemudian, data market size tersebut dianalisis secara khusus pada halaman 3 untuk menghitung pertumbuhan rata-rata majemuk per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) 2005-2015. Di halaman 4, diuraikan volume pasar 14 kategori elektronik home appliances di Indonesia dan tren yang terjadi sejak 2013-2015.

Pada halaman 5, diulas kontribusi 14 kategori elektronik home appliances terhadap total pasar elektronik home appliances di Indonesia. Di halaman 6, dijabarkan tren pangsa pasar televisi di Indonesia dengan delapan pemain utama yang menguasai market share terbesar.

Di halaman 7, ditampilkan tren investasi dan ekspor produk elektronik home appliances sejak 2007-2025 (forecast). Berdasarkan riset duniaindustri.com, nilai investasi industri elektronik nasional pada 2012 ditargetkan mencapai US$ 7 miliar dengan ekspor US$ 20 miliar, rata-rata investasi kumulatif mencapai US$ 500 juta per tahun. Di halaman 8, diulas tren produksi dan serapan tenaga kerja di industri elektronik nasional.

Pada halaman 9-10, diulas strategi pengembangan industri elektronik berdasarkan rancangan pemerintah periode 2010-2025. Data ini dilengkapi dengan analisis kekuatan dan kelemahan industri elektronik nasional pada halaman 11 & 13. Data ini juga dilengkapi dengan perilaku pasar konsumen elektronik home appliances pada halaman 12.

Pada halaman 14-25, diulas tren industri elektronik secara global, mulai dari neraca perdagangan produk elektronik di negara-negara ASEAN dan porsi tujuan perdagangan produk elektronik negara ASEAN (halaman 14), negara eksportir elektronik terbesar di ASEAN beserta top 5 produk elektronik yang paling banyak diekspor (halaman 15). Indonesia menempati urutan keenam dalam eksportir produk elektronik terbesar di ASEAN, sementara produk elektronik yang paling banyak diekspor adalah electronic integrated circuits and micro-assemblies.

Pada halaman 16-18, ditampilkan matriks perbandingan daya saing sejumlah industri manufaktur dan komoditas, termasuk consumer electronics dan electronic components, dari seluruh negara di ASEAN.

Data ini dilengkapi dengan proyeksi pertumbuhan industri elektronik global per kawasan periode 2013-2015 pada halaman 19, tren nilai pasar elektronik global periode 2005-2015 beserta tren pertumbuhannya pada halaman 20. Secara khusus, data ini menampilkan tren market size elektronik global dibagi per kawasan, lengkap dengan tren pertumbuhan, jumlah populasi, serta rata-rata penduduk per rumah tangga. Asia Tenggara dan China merupakan pasar elektronik global terbesar dengan jumlah populasi 3,9 miliar orang, GDP 6,7% (2015), dan nilai pasar lebih dari US$ 70 miliar.

Tidak ketinggalan, ditampilkan juga pada halaman 24-25 top 10 global market share untuk industri elektronik home appliance lengkap dengan nilai penjualannya.

Data sebanyak 26 halaman ini berasal dari Kementerian Perindustrian, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Electronic Marketer Club (EMC), Gabungan Elektronik Indonesia (Gabel), sejumlah perusahaan elektronik terbesar, dan diolah duniaindustri.com.

Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

B) Data dan Analisis Industri Elektronik Menghadapi ASEAN Community ini menampilkan neraca perdagangan produk elektronik di negara-negara ASEAN. Nilai ekspor produk elektronik Indonesia ke negara-negara ASEAN tercatat US$ 593 juta, sementara ekspor produk elektronik Indonesia ke dunia mencapai US$ 8 miliar. Nilai ekspor produk elektronik Indonesia ke ASEAN masih jauh tertinggal dibanding Malaysia (US$ 2,5 miliar), Singapura (US$ 6,2 miliar) dan Thailand (US$ 2,3 miliar). Juga ditampilkan porsi tujuan perdagangan produk elektronik negara ASEAN.

Selain itu, ditampilkan ranking eksportir produk elektronik negara-negara ASEAN, dimana Indonesia menempati urutan 29 dengan nilai US$ 10,4 miliar dengan pertumbuhan per tahun 28,1%. Juga diperinci produk elektronik yang mendominasi ekspor dari Negara ASEAN.

Secara khusus, data dan analisis ini juga menampilkan perbandingan daya saing industri di negara ASEAN, antara lain industri makanan olahan, kayu, tekstil, kimia, elektronik, otomotif, dan mineral. Data dan analisis komprehensif yang berjumlah 45 halaman ini merupakan hasil kompilasi tim riset Duniaindustri.com, berasal dari Kementerian Perindustrian, BPS, ASEAN Trade Map, BDG Asia, Bank Dunia.

Download database industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik purchase, klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada duniaindustri.com.(*)

Baca selengkapnya di sini
* Cari data/riset pasar yang lebih spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini
** Butuh content provider andal, klik di sini

Rabu, 22 Juni 2016

Kumpulan Data dan Analisis Industri Kosmetik di Indonesia

Industri kosmetik merupakan industri dengan pertumbuhan yang cukup stabil dalam lima tahun terakhir, ditopang besarnya konsumen kelas menengah di Indonesia. Meski perekonomian negeri ini melambat dalam dua tahun terakhir, industri kosmetik cenderung dapat berinovasi dan survive dengan grwoth yang positif.

Untuk merekam pertumbuhan, peta persaingan, serta prospek industri kosmetik di Indonesia, duniaindustri.com memiliki sedikitnya dua data dan riset pasar kosmetik. Simak berikut ulasannya:

1. Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris)
2. Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir)

1) Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) ini dirilis per Juni 2016 menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri kosmetik di Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain di industri ini, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, hingga analisis pangsa pasar sejumlah produk kosmetik dengan tingkat persaingan paling tinggi.
Data ini dimulai dengan menampilkan highlights ekonomi serta pasar Indonesia, dilengkapi tren konsumen dan tingkat daya beli. (halaman 2-4)

Pada halaman 5, disajikan terminologi kosmetik dari bahasa Yunani yang berarti berhias. Dilanjutkan dengan profil singkat industri kosmetik nasional pada halaman 6, berisi jumlah perusahaan, jumlah tenaga kerja, ekspor-impor, serta segmentasi produk kosmetik.

Di halaman 7, ditampilkan nilai penjualan (market size) industri kosmetik di Indonesia periode 2009-2015 disertai persentase pertumbuhannya. Data di halaman 7 dikomparasi dengan pertumbuhan kosmetik (personal care dan home care) dengan total pertumbuhan industri consumer goods di halaman 8.

Pada halaman 9-11, duniaindustri.com membuat riset pasar terkait pangsa pasar lipstik per merek di Indonesia, tren pangsa pasar 2010-2015, serta analisis market leader. Khusus untuk produk bedak, ditampilkan juga pangsa pasar per merek serta analisis market leader di halaman 12-13.

Di halaman 14-15, dipaparkan tren penjualan kosmetik secara ritel dan consumer behavioral.
Beranjak pada halaman 16-44 merupakan intisari riset ini yang menampilkan market intelligence terhadap 4 perusahaan market leader di industri kosmetik di Indonesia. Tinjauan diarahkan pada kinerja keuangan, penjualan per kategori produk, strategi pemasaran, jaringan distribusi, kapasitas produksi dan fasilitas pabrik, serta strategi pengembangan produk.

Sementara pada akhir riset ini menampilkan 5 merek (top 5) kosmetik dengan nilai penjualan paling tinggi di Indonesia.

Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) sebanyak 45 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari BPS, WHO dan Bank Dunia, serta sejumlah perusahaan kosmetik di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

2) Data Pasar Kosmetik Indonesia (periode empat tahun terakhir) ini menggambarkan tren pertumbuhan pasar kosmetik di Indonesia beserta nilai pasarnya dalam periode empat tahun terakhir. Data ini berasal dari asosiasi industri dan Kementerian Perindustrian yang dikompilasi oleh duniaindustri.com.(*)

Baca selengkapnya di sini
*Cari data yang lebih spesifik, ingin request data/riset pasar, klik di sini

Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris)

Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) ini dirilis per Juni 2016 menampilkan riset independen, data, analisis, kajian, dan outlook secara komprehensif terkait seluruh informasi mengenai peta persaingan di industri kosmetik di Indonesia, mencakup highlights dan profil ringkas pemain-pemain di industri ini, tren permintaan/kebutuhan (demand) di pasar lokal, hingga analisis pangsa pasar sejumlah produk kosmetik dengan tingkat persaingan paling tinggi.

Data ini dimulai dengan menampilkan highlights ekonomi serta pasar Indonesia, dilengkapi tren konsumen dan tingkat daya beli. (halaman 2-4)

Pada halaman 5, disajikan terminologi kosmetik dari bahasa Yunani yang berarti berhias. Dilanjutkan dengan profil singkat industri kosmetik nasional pada halaman 6, berisi jumlah perusahaan, jumlah tenaga kerja, ekspor-impor, serta segmentasi produk kosmetik.

Di halaman 7, ditampilkan nilai penjualan (market size) industri kosmetik di Indonesia periode 2009-2015 disertai persentase pertumbuhannya. Data di halaman 7 dikomparasi dengan pertumbuhan kosmetik (personal care dan home care) dengan total pertumbuhan industri consumer goods di halaman 8.

Pada halaman 9-11, duniaindustri.com membuat riset pasar terkait pangsa pasar lipstik per merek di Indonesia, tren pangsa pasar 2010-2015, serta analisis market leader. Khusus untuk produk bedak, ditampilkan juga pangsa pasar per merek serta analisis market leader di halaman 12-13.

Di halaman 14-15, dipaparkan tren penjualan kosmetik secara ritel dan consumer behavioral.

Beranjak pada halaman 16-44 merupakan intisari riset ini yang menampilkan market intelligence terhadap 4 perusahaan market leader di industri kosmetik di Indonesia. Tinjauan diarahkan pada kinerja keuangan, penjualan per kategori produk, strategi pemasaran, jaringan distribusi, kapasitas produksi dan fasilitas pabrik, serta strategi pengembangan produk.

Sementara pada akhir riset ini menampilkan 5 merek (top 5) kosmetik dengan nilai penjualan paling tinggi di Indonesia.

Riset Pasar dan Analisis Industri Kosmetik (Tren Pertumbuhan dan 5 Merek Paling Laris) sebanyak 45 halaman ini berasal dari riset duniaindustri.com dengan dukungan data yang berasal dari BPS, WHO dan Bank Dunia, serta sejumlah perusahaan kosmetik di Indonesia. Indeks data industri merupakan fitur terbaru di duniaindustri.com yang menampilkan puluhan data pilihan sesuai kebutuhan users. Seluruh data disajikan dalam bentuk pdf sehingga mudah didownload setelah users melakukan proses sesuai prosedur, yakni klik beli (purchase), klik checkout, dan isi form. Duniaindustri.com mengutamakan keabsahan dan validitas sumber data yang disajikan. Terima kasih.(*)

Baca selengkapnya di sini

Selasa, 21 Juni 2016

Wajib Bangga, Indonesia Miliki Satelit Bank Pertama di Dunia

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), emiten BUMN perbankan dengan aset terbesar, mencetak sejarah baru sebagai bank pertama yang memiliki satelit di dunia. BRI meluncurkan satelit BRI sat pada Sabtu 18 Juni 2016 waktu Kourou, Guiana, Amerika Selatan.

Peluncuran satelit tersebut dilakukan oleh Arianespace asal Prancis dengan menggunakan roket Ariane5. Satelit BRI tersebut dirakit oleh perusahaan SSL. Nilai investasi sekitar Rp 3,3 triliun. Direktur Utama BRI Asmawi Syam pernah mengatakan, satelit tersebut merupakan yang pertama di dunia. Dia bilang, hingga saat ini belum ada bank yang memiliki satelit.


Dia menerangkan, ‎satelit tersebut diproduksi Space System/Loral (SS/L) USA. Asmawi mengatakan setelah diluncurkan maka satelit akan mengorbit di 150.5 BT atau di atas langit Papua. “Dia akan mencari orbit 150.5 BT antara 15-20 hari,” kata dia.

Setelah mengorbit, operasional akan diserahkan ke BRI. Dia bilang, satelit tersebut akan bisa beroperasi penuh 50 hari setelah peluncuran atau sekitar pada Agustus 2016.

“Begitupun operasional satelit kita sudah punya groundstation di Ragunan kita memiliki groundstation sudah selesai. Kemudian terkait SDM telah disiapkan 53 orang. Jadi yang akan mengoperasikan 53 orang untuk mengelola 45 transponder, tentunya hal yang sangat membanggakan bukan hanya BRI tapi seluruh Indonesia,” jelas dia.

Asmawi mengatakan, salah satu manfaat satelit ini ialah untuk meningkatkan jaringan di seluruh Indonesia. Apalagi, BRI tengah mendorong adanya digital banking. “‎Kita ingin berikan layanan sama cepatnya, baiknya, baik di kota dan desa‎,” ujar dia.

Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyatakan pengoperasian satelit BRIsat dapat memberikan kesempatan perseroan untuk menciptakan produk baru terutama digital dan meningkatkan efisiensi bisnis.

Wakil Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Sunarso menuturkan pihaknya telah menyewa 23 transponder. Kini pihaknya memiliki 45 transporder. Dari 45 transponder tersebut, ada 36 transponder yang masuk kategori C-band. C-band ini bermanfaat untuk aplikasi transaksi keuangan. Sisanya 9 transponder merupakan KU-band yang bermanfaat untuk audio visual.

“Dengan transponder itu jadi kesempatan besar untuk kembangkan inovasi produk layanan dan layanan jadi efisien. Selain itu, lewat transponder yang kategori C-band ini transaksi bisa melalui video banking kirim gambar,” ujar Sunarso.

Lebih lanjut ia menuturkan, perseroan menciptakan produk baru kompetitif setelah memiliki satelit tersebut terutama produk digital. Selain itu, perseroan juga dapat menghemat biaya terutama dari penyewaan.
“Dengan sewa 23 transporder maka biayanya sekitar Rp 500 miliar setiap tahun. Itu hanya 23 transponder. Kini punya 45 transponder dengan investasi sekitar Rp 3,2 triliun maka kami dapat efisiensi sekitar 50 persen dari sewa saja,” tutur Sunarso.

Sunarso menambahkan, pihaknya juga akan memperbesar branchless banking lewat agen BRILink yang merupakan agen branchless banking BRI. Saat ini BRI memiliki sekitar 63 ribu agen BRILink. “Tahun ini ditargetkan jadi 75 ribu, dan tahun berikutnya menjadi ratusan ribu,” ujar dia.

Sunarso menambahkan, dengan program itu juga mendukung program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) untuk financial inclusion atau keuangan inklusif. Artinya semua pihak dapat mengakses layanan keuangan. Namun, sosialisasi dan edukasi juga sangat dibutuhkan untuk mewujudkan keuangan inklusif.

“Perlu financial literacy juga untuk keuangan inklusif. Sosialisasi terhadap masyarakat luas terus dilakukan. Dengan melakukan financial literacy, financial inclusion maka mewujudkan digital banking. Kami kini sudah memiliki alat dan sdm untuk mewujudkannya ke arah sana. Kami akan terus melakukan sosialisasi baik di kota dan desa‎,” ujar dia.(*)

Baca selengkapnya di sini